
Hari selanjutnya..
"Marvel, kamu ingin mengajakku ke mana?" tanya Raina penasaran.
"Aku ingin mengajakmu ke rumah seseorang," ujar Marvel menjawab pertanyaan Raina.
Raina merasa tidak puas dengan jawaban Marvel. Rasa penasarannya masih ada. Tapi, ia tidak ingin bertanya lagi.
"Memangnya ke rumah siapa ya? Penasaran sih, tapi tidak ada hak juga untuk bertanya terus," batin Raina.
"Ayok ke mobil sekarang!" ajak Marvel.
Raina pun mengangguk. Ia mengikuti Marvel dari belakang. Saat di perjalanan pun, keheningan menyelimuti mereka. Tidak ada satu pun yang berbicara atau memulai topik pembicaraan.
Sesampainya di sana, Marvel langsung turun dan membukakan pintu mobil untuk Raina. Lalu Marvel menggandeng tangan Raina. Raina hanya diam saja.
"Ini rumah siapa?" tanya Raina saat berada di depan rumah seseorang yang pastinya tidak dikenal olehnya.
Marvel tidak menjawab. Ia mengetuk pintu pelan. Tidak lama kemudian, terlihat seorang wanita yang cantik membukakan pintu.
"Siapa dia? Apa hubungan Marvel dengan wanita ini?" batin Raina.
"Marvel?" tanya wanita itu terkejut.
"Hm."
"Mari masuk," ajak wanita itu.
Marvel pun masuk ke dalam dan Raina hanya mengikutinya. Rumah yang ia masuki memang terlihat kecil dari luar. Tapi saat masuk ke dalam, rumah itu besar isinya dengan dekorasi yang bagus.
__ADS_1
Marvel menuntun Raina untuk duduk di sofa.
"Kalian mau minum apa? Biar aku buatkan," tawar wanita itu ramah.
"Tidak perlu," jawab Marvel.
"Sudah lama ya, Marvel. Kau tidak pernah ke sini lagi semenjak kejadian itu. Aku jujur, aku merindukanmu," lirih wanita itu.
"Dia siapa sih sebenarnya? Apa mereka punya hubungan spesial? Semenjak kejadian apa?" tanya Raina dalam hatinya.
"Ya, aku juga merindukanmu. Maaf jika aku jarang ke sini," ucap Marvel datar.
Walau pun Marvel berucap datar tapi bisa didengar bahwa dalam ucapannya tersirat kerinduan yang mendalam.
"Tidak apa-apa. Dari tadi aku penasaran siapa gadis cantik ini?" tanya wanita itu antusias.
Marvel melihat Raina hanya diam saja. Ia mengerti kenapa Raina diam saja.
"Perkenalkan nama aku Raina Crystal Alvania. Panggil saja Raina," kata Raina memperkenalkan dirinya disertai senyuman.
"Cantik sekali dirimu. Salam kenal Raina. Namaku Shara Aulia. Panggil saja Shara."
"Terima kasih pujiannya. Kamu juga tak kalah cantiknya," ujar Raina ramah.
"Baru pertama kali aku melihat Marvel membawa perempuan," kekeh Shara.
Marvel hanya memutar bola matanya malas.
"Maaf jika lancang, bolehkah aku tahu kalian ini ada hubungan apa? Sepertinya kalian sangat akrab," tanya Raina untuk memenuhi rasa penasarannya itu.
__ADS_1
"Kau berhak menanyakannya. Aku adalah kakak dari Marvel," jawab Shara.
"Kakak?" kata Raina bingung.
"Ya. Dia memang kakakku," kata Marvel buka suara.
Raina menatap Marvel tak percaya.
"Terserah kalau tidak percaya," ujar Marvel.
"Sudah-sudah kalian ini," kata Shara menengahi.
"Marvel, kamu mau apa datang ke sini? Pasti ada maunya kan? Kamu kan sudah tidak pernah ke sini," tuduh Shara.
"Tidak astaga. Aku hanya merindukan kakakku, apa itu salah?" jawab Marvel.
"Tumben."
Raina merasa tidak enak di sana. Ia merasa seperti pengganggu.
"Sepertinya mereka ingin berbicara berdua saja, aku pergi dulu deh," batin Raina.
"Ehm, apa di sini ada taman? Aku ingin ke sana saja," kata Raina.
"Ada taman sebelah rumah. Kenapa tidak di sini saja? Banyak hal yang mau aku tanyakan," kata Shara ramah.
"Tidak usah. Aku ingin pergi ke taman saja. Kalian berbicaralah berdua," kata Raina mantap.
"Hati-hati," kata Marvel.
__ADS_1
Marvel langsung mengiyakan karena dia memang ingin berbicara empat mata saja dengan kakaknya. Ia tentunya juga sudah menyuruh orang untuk mengawasi Raina. Raina pun beranjak dari sofa menuju ke taman.