
Raina pun kembali tersadar dari lamunan dan tatapannya ke Marvel.
"Sudah ah. Jangan tatap aku kayak gitu, Marvel!" ujar Raina karena ia tidak tahan dengan tatapan lembut dari seorang Marvel.
"Hm."
"Kakak kamu sakit, apa tetap kita harus pulang hari ini?" tanya Raina mengingat keadaan Shara yang sedang sakit ditambah lagi Raina yang telah mengetahui tentang penyakit yang bersarang di tubuh Shara.
Marvel tampak berpikir sejenak. Ia harus pulang, tapi kasihan juga dengan kakaknya. Sendirian lagi.
"Kita tetap pulang," putus Marvel.
Raina membulatkan matanya tak percaya. Ia tak menyangka jawaban Marvel akan seperti itu.
Plak..
Raina memukul punggung Marvel dengan kuat. Ia kesal dengan jawaban yang diberikan Marvel.
"Aw, kenapa kamu main mukul aja sih?" tanya Marvel sembari memegangi punggungnya yang terkena pukulan Raina.
"Ya lagian sih kamu, aku kesal tahu tidak? Masa kakaknya lagi sakit bukannya dirawat malah mau ditinggalin sendirian," gerutu Raina.
"Aku tidak tahu. Kan kamu yang nanya sih," jawab Marvel polos.
"Tau ah! Kalau kamu mau pulang, pulang saja sana sendiri. Aku masih mau di sini," galak Raina.
"Ih kenapa kamu jadi galak gini? Ya sudah, kita di sini saja dulu sampai Shara sembuh," ujar Marvel santai.
"Tidak sopan Marvel, panggil pakai embel-embel kak lah. Dia itu kakak kamu. Sopan sama orang yang lebih tua," ucap Raina memperingati.
"Iya-iya," ujar Marvel seraya mengacak-ngacak rambut Raina.
Di sisi lain..
"Saya ingin melaporkan bahwa tadi Marvel pergi ke sebuah acara yang telah dipersiapkan oleh Ayahnya beserta sahabat dari Ayahnya," kata seseorang disertai dengan seringaian misteriusnya.
"Acara apa?" tanya orang bertopeng seraya membalikkan kursinya karena tertarik dengan arah topik pembicaraan.
"Ini sungguh menarik, Tuan. Ternyata seorang Marvel dijodohkan oleh Ayahnya dengan seseorang bernama Felicia. Bahkan kini mereka sudah bertunangan," balasnya.
"Menarik! Cari tahu tentang Felicia yang statusnya sebagai tunangan Marvel itu. Aku penasaran."
"Baik nanti saya akan cari tahu."
"Hm kenapa Marvel mau menerima perjodohan itu? Apa karena Ayahnya? Tapi setahuku, dia mempunyai hubungan yang tidak baik dengan Ayahnya. Bagaimana bisa dia langsung menurut seperti itu?"
"Sepertinya Ayahnya menggunakan Raina dan kakaknya Marvel, Shara sebagai ancaman. Itu membuat Marvel langsung menurut. Semua pasti sudah ia pertimbangkan."
__ADS_1
"Kau benar. Aku setuju itu. Memang kelemahan Marvel adalah mereka berdua. Aku jadi punya rencana untuk menghancurkan kehidupan Marvel."
"Apa itu Tuan?"
"Lihat saja nanti. Aku tidak akan berlama-lama lagi. Mereka harus segera mendapatkan kehancuran. Aku sungguh tidak sabar dengan rencanaku ini."
"Rencana Tuan pasti berhasil. Saya yakin itu."
Pagi harinya..
"Marvel! Ih aku seneng banget, akhirnya kakak kamu demamnya turun juga. Semalaman aku tidak tenang karena demamnya yang tak kunjung turun," ujar Raina sambil melompat-lompat seperti anak kecil.
Marvel terkekeh. Di sisi lain, hati Marvel juga menghangat. Walau pun Raina bukan siapa-siapa dan ia baru saja kenal dengan Shara, ia sudah sangat peduli terhadap Shara.
"Terus?" tanya Marvel singkat.
"Hah? Terus apa?" bingung Raina.
"Kita pulang berarti hari ini," gumam Marvel pelan.
"Kakak kamu tuh butuh teman, Marvel. Kasihan ih sendirian terus. Aku pernah ngerasain di posisi itu tahu," ujar Raina dengan suara yang dipelankan.
Ya, selama bertahun-tahun Raina hidup mandiri. Ia hidup sendiri. Mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhannya. Ia juga tidak merasakan kasih sayang keluarga. Ia hanya dipedulikan oleh Aileen dan keluarganya. Tentu ia tahu bagaimana perasaan Shara.
"Hey kenapa sedih? Kalau masih mau di sini tidak apa-apa," ucap Marvel lembut dengan suara yang menenangkan. Matanya teduh. Siapa pun yang melihat mata Marvel saat itu pasti akan menghangat dan tenang.
Marvel tidak menanggapi.
"Apa yang Raina tahu?" batin Marvel.
"Apanya yang terlihat menyedihkan?" pancing Marvel.
"Ya soal penya..."
Raina merutuki mulutnya yang hampir saja keceplosan tentang penyakit Shara. Ini semua karena Marvel yang memancing dirinya.
"Penya apa?" tanya Marvel.
"Bukan, aku salah. Soal hidup sendiri maksudnya," gugup Raina.
Mata Marvel memicing tidak percaya.
"Kamu nyembunyiin sesuatu dari aku?" tanya Marvel lagi dengan suara yang datar.
"Aduh mati aku! Ini mulut memang ya ngeselin, main ceplos aja. Harus bilang apa nih biar Marvel percaya?" panik Raina dalam hatinya.
"Apa? Mana ada aku nyembunyiin sesuatu dari kamu. Sudahlah lagian tadi aku salah ngomong doang kok," ujar Raina sembari menutup-nutupi rasa gugupnya.
__ADS_1
"Terus kenapa gugup?" kata Marvel terus memancing Raina agar jujur.
"Raina.. Raina.. Aku ini bisa membedakan mana yang bohong dan jujur. Apa sih yang kamu tutup-tutupin dari aku?" tanya Marvel dalam hatinya.
"Siapa lagi yang gugup, tidak ada tuh. Sudahlah aku mau tidur saja, sudah malam," ujar Raina tanpa sadar karena gugup melandanya.
"Malam? Ini sudah pagi tuh," ujar Marvel semakin curiga.
Raina merutuki mulutnya sekali lagi.
"Kalian ngapain di situ dari tadi?" tanya Shara yang baru keluar dari kamarnya.
"Oh ya, aku mau masak. Iya mau masak," ujar Raina berlari ke arah dapur.
"Untung Kak Shara datang," batin Raina.
Shara mengernyitkan dahinya.
"Apa ada sesuatu hal yang baru saja terjadi, Marvel?" tanya Shara bingung dengan kelakuan Raina yang aneh menurutnya.
"Tidak ada," jawab Marvel.
Shara hanya mengangguk.
"Kamu masih berniat untuk pulang?" tanya Shara lagi.
"Tidak. Aku dan Raina akan di sini sampai kau sehat," ujar Marvel.
"Kumat dah dinginnya," batin Shara melihat cara bicara adiknya.
"Aku sudah sehat kok, kalau kalian mau pulang, pulang saja. Aku tidak apa-apa," kata Shara.
"Hm."
Tiba-tiba Raina datang dengan membawa minuman berjumlah tiga gelas.
"Nih pada minum dulu," kata Raina cengengesan.
"Raina, aku sudah sehat. Terima kasih ya kamu sudah mau merawat aku. Apalagi semalaman, kamu sampai tidurnya hanya sebentar. Aku merasa sangat merepotkan. Sekali lagi terima kasih ya," ujar Shara tulus.
"Tidak perlu sungkan kak, aku ikhlas merawat kakak kok. Aku sudah menganggap kakak sebagai kakak kandung aku sendiri," jawab Raina.
"Iya, kamu sama Marvel pulang saja. Aku tidak apa-apa sendiri lagi. Kalian pasti ada kesibukkan lain, selain merawatku di sini. Aku memakluminya kok," ucap Shara.
Raina menengok ke arah Marvel. Mata Raina menyiratkan seakan-akan bertanya pada Marvel.
"Terserah kamu saja Raina. Kalau masih di sini, tidak apa-apa," ujar Marvel yang peka akan mata Raina.
__ADS_1
"Kita lihat saja situasinya kak. Kalau Marvel harus balik, aku juga ikut. Tapi kalau kita masih bisa di sini lebih lama, kita akan menetap lagi," kata Raina sembari tersenyum manis.