
Kini di dalam rumah hanya ada Marvel dan Shara saja. Suasana hening.
"Apa kabarmu?" tanya Shara mengawali percakapan.
"Seperti yang kau lihat," balas Marvel.
"Kau tidak pernah mengunjungi mereka?" tanya Shara pelan.
Marvel menggeleng.
"Aku malas bertemu dengan mereka. Aku pun malas untuk pulang ke sana," ujar Marvel.
"Janganlah begitu, bagaimana pun mereka adalah keluargamu," kata Shara.
"Bukan keluarga kandung. Mereka hanya memanfaatkan diriku saja. Mereka juga hanya ingin uangku. Buat apa aku memperdulikan mereka," ucap Marvel datar.
"Seandainya kejadian waktu itu tidak terjadi. Bahkan kita juga pasti masih bersama-sama," lirih Shara selaku kakak dari Marvel ini.
"Semua adalah takdir."
"Memang kita tidak bisa menyalahkan takdir. Ya mau bagaimana lagi. Sudah terjadi juga. Aku bahkan rindu dengan kehangatanmu kepada kakakmu ini," kekeh Shara.
"Rupanya sejak itu kamu banyak berubah,Marvel. Marvel di depanku bukanlah Marvel yang dulu. Aku tak menemukan dirimu yang dulu di sini. Bahkan untuk mengunjungiku saja kau tak pernah lagi," ucap Shara sambil mengusap air matanya yang mengalir begitu saja.
Marvel hanya diam. Ia tidak mampu untuk berkata-kata. Ia juga hanya mendengarkan isi hati kakaknya, Shara.
"Maaf ternyata aku begitu cengeng. Aku sedih Marvel. Kamu tahu? Aku begitu kesepian di sini. Tiap hari hanya sendirian. Aku juga tidak dapat melakukan apa pun. Aku lemah. Siapa lagi coba orang yang akan datang untuk melindungiku selain dirimu? Aku tiap hari menunggu kehadiranmu. Tapi apa? Kau bahkan tak pernah datang. Bahkan untuk sekedar telepon saja tidak," ujar Shara panjang lebar.
"Maaf," ujar Marvel.
__ADS_1
Hanya satu kata itu yang mampu ia ucapkan.
"Maafmu tidak berguna Marvel. Seperti katamu, ini takdir. Aku tidak bisa menyalahkan semuanya. Mungkin memang takdirku seperti ini."
"Aku juga merindukanmu kak. Maaf jika tidak pernah datang untuk melindungimu, merawatmu, menjagamu. Aku hanya..."
"Tidak perlu minta maaf, Marvel. Kau sudah datang sekarang saja aku sudah senang. Bahkan sangat senang. Lain kali kau kalau mau datang membawa orang lain, bilang aku dulu. Untung saja aku tidak pakai kursi roda tadi. Kalau iya, pasti aku bisa-bisa dipandang sangat lemah dan tak berdaya," kata Shara.
"Raina orang yang baik kak. Bahkan aku menemukan dirimu di dalam dirinya. Dia orang yang lemah lembut dan peduli terhadap orang lain," ujar Marvel menatap langit-langit rumah sambil membayangkan Raina.
"Raina sangat-sangat baik. Ia bahkan lebih memikirkan keselamatan orang lain dari pada dirinya," batin Marvel.
"Sepertinya ada yang sedang jatuh cinta nih. Jarang-jarang adikku tersayang ini memuji orang lain terutama perempuan," goda Shara mencoba melupakan kesedihannya tadi.
"Jika boleh jujur, sepertinya benar aku memang sudah mencintainya," ujar Marvel tersenyum tipis.
"Ya, aku merestuinya. Dari awal aku melihatnya, aku sudah sangat menyukai perilakunya. Dia juga anak yang sopan. Bahkan aku bisa mengetahui dari matanya, bahwa ia tidak ingin pergi ke taman sebenarnya. Pasti ia ingin memberi waktu kita berdua untuk mengobrol seperti ini. Peka sekali," ujar Shara.
"Pokoknya, kamu harus sesekali mengunjungi keluarga baru Ayah, Marvel. Sampaikan juga salamku pada Ayah. Aku merindukannya, walau pun aku tahu dia tak akan pernah merindukanku. Untuk sekedar mengingat pun mungkin tidak," lirih Shara.
"Baiklah jika itu permintaanmu. Aku akan mengabulkannya."
"Kalau boleh saran, lebih baik kamu tidak usah memperkenalkan Raina pada Ayah. Aku takut responnya tidak baik."
"Aku tahu itu. Aku akan berusaha sebisa mungkin menjaga Raina agar tidak bertemu dengan satu pun keluarga Ayah. Tapi, aku tidak menjamin kalau Ayah belum tahu soal Raina. Bisa saja dia sudah memata-mataiku sejak lama," ujar Marvel.
"Ya sudah kalau seperti itu. Jemputlah Raina ke taman. Kasian ia sendirian di sana. Apalagi di daerah sini sepi sekali," ujar Shara sambil menepuk pundak Marvel.
"Aku pergi dulu."
__ADS_1
Di taman..
Terlihat Raina sedang melamun sendirian.
"Lebih baik tadi aku di dalam aja deh, tamannya sepi banget tidak seru," batin Raina.
Saat sedang asik dengan lamunannya, tiba-tiba ada orang yang menutup mata Raina dengan tangannya.
Raina langsung bergetar. Ia takut kejadian yang menimpanya belakangan ini terulang. Apalagi ia lagi sendiri sekarang.
"Siapa nih?" tanya Raina terbata-bata.
"Menurutmu?" ujar Marvel dingin.
Ya, orang itu adalah Marvel.
"Marvel? Astaga ku kira siapa. Kau menakutiku!" kesal Raina.
"Maaf aku hanya berniat mengangetkanmu."
"Tidak apa-apa. Ngapain ke sini? Kakak kamu kok ditinggal sih," ujar Raina.
"Mau ketemu sama kamulah," kata Marvel.
"Oh," jawab Raina.
"Mau ke sana lagi? Apa mau di sini dulu?" tanya Marvel.
"Ke sana saja. Kasian kakakmu sendirian," kata Raina peduli.
__ADS_1
Tanpa disadari, hari ini Marvel banyak mengucapkan kata maaf.