
Selama perjalanan, Marvel terngiang dengan ucapan satpam tadi. Apalagi tadi perdebatan dengan Ayahnya masih sangat membekas diingatan Marvel.
"Ah biarkan saja dulu, nanti aku selidiki pelan-pelan," ujar Marvel dalam hatinya.
Marvel menghembuskan napasnya kasar seraya menjalankan mobilnya ke rumah Shara. Ia ingin mengecek sebentar keadaan keduanya.
"Loh kamu sudah pulang?" tanya Raina sambil menyiram bunga.
Marvel mengangguk.
"Kok sendirian?" tanya Marvel.
"Iya, tadi Kak Shara ke dalam duluan. Capek banget kelihatannya, jadi aku suruh istirahat," jelas Raina.
"Mau ke mana lagi?" tanya Raina saat melihat Marvel mau masuk ke mobil lagi.
"Ngambil handphone, tadi ketinggalan di mobil," jawab Marvel.
"Belum selesai nyiram bunganya?" tanya Marvel.
"Sudah," balas Raina sambil meletakkan selang air yang ia gunakan untuk menyiram.
"Kamu mau masuk?" tanya Raina.
"Tidak, aku harus pergi lagi. Kamu di sini sampai besok tidak apa-apa kan? Temani Kak Shara dulu. Nanti aku suruh orang juga buat berjaga di sini," jelas Marvel.
"Kenapa?" tanya Raina pelan.
"Aku masih banyak urusan yang harus diselesaikan," jawab Marvel.
"Baiklah, aku akan di sini sampai besok. Eh Marvel, kamu tahu tidak kalau Kak Shara sepertinya sakit? Kok aku ngelihat Kak Shara kayak lemas dan pucat sekali ya."
"Aku tidak tahu. Mungkin kelelahan saja," balas Marvel.
"Kamu mau langsung pergi nih?" tanya Raina.
"Iya," balas Marvel sambil mengusap rambut Raina.
"Hati-hati."
"Pasti."
Raina pun beranjak masuk ke dalam. Ia mencari keberadaan Shara di kamarnya, tapi tidak ada. Ia pun mencari ke sudut yang lain, tapi belum juga menemukan keberadaan Shara.
"Loh? Kak Shara ke mana sih?" tanya Raina cemas.
__ADS_1
"Kak Shara!" panggil Raina dengan sedikit berteriak.
"Oh iya, aku belum mengecek ke belakang!" batin Raina.
Tanpa basa-basi, Raina langsung pergi mengecek ke belakang.
"Astaga! Kak Shara kenapa?" tanya Raina khawatir saat melihat Shara yang duduk lemas di lantai sambil memegangi hidungnya.
"Raina? Aku baik-baik saja," jawab Shara lirih.
"Kak hidung kakak berdarah loh!" panik Raina.
"Aku tidak apa-apa Raina, ini sudah biasa. Tidak perlu khawatir," balas Shara tenang dengan suara yang pelan.
"Sudah biasa? Terus kalau kayak gini biasanya kakak ngapain?"
"Tolong ambilkan obat di kamarku Raina!" kata Shara meminta tolong.
"Bentar kak," ujar Raina sambil lari ke arah dalam.
Saat sampai di kamar Shara, Raina bingung di mana tempat Shara menyimpan obat yang dimaksud.
"Sok tahu kamu Raina, bukannya tadi tanya dulu obat apa dan di mana," ujar Raina dalam hatinya.
"Kalau orang mimisan gitu diapain ya? Aduh, obatnya juga di mana sih?" ucap Raina sendiri dengan nada khawatirnya.
Lalu mata Raina tertuju pada pinggiran kasur yang agak sedikit menganga. Raina pun mendekat. Saat ia buka, benar dugaannya. Banyak obat-obatan yang ada di sana.
"Kak Shara ngapain naruh obat di sini ya? Kok banyak banget lagi obatnya. Obat apaan aja ini?" tanya Raina penasaran.
"Sebenarnya kamu sakit apa kak?" batin Raina.
Raina pun teringat dengan Shara yang lagi kesakitan di belakang. Ia langsung segera membereskan obat-obatan itu dan mengumpulkannya menjadi satu. Raina pun berlari kembali menuju belakang.
"Kak ini bukan obatnya?" tanya Raina panik.
"Iya, terima kasih."
"Oh iya minumnya, sebentar aku ambilkan air putih," ujar Raina sambil berlari lagi.
"Apa Raina curiga dengan obat-obat ini ya? Harus bilang apa aku jika ia bertanya? Apakah sudah saatnya aku jujur? Aneh kamu Shara, Raina itu baru aja aku kenal, masa sih aku bisa terbuka dengannya?" tanya Shara dalam hatinya.
"Nih kak minumnya," ujar Raina sambil menyerahkan gelas berisi air putih itu.
Shara pun mengambilnya dan menegak obat bersamaan dengan air putih. Ia juga mengelap darah di hidungnya menggunakan tisu.
__ADS_1
"Sudah baikan kak?" tanya Raina dengan raut wajah khawatirnya.
"Sudah mendingan, kepalaku masih nyeri sedikit," jawab Shara.
Raina mengambil posisi duduk di sebelah Shara.
"Jawab aku kak. Sebenarnya kakak itu sakit apa sih?" tanya Raina penasaran.
Deg!
"Aa..Aku tidak sakit apa-apa kok," jawab Shara terbata-bata.
"Jangan bohong kak. Aku tahu kakak tidak bisa berbohong. Terus itu obatnya juga banyak banget kak," ujar Raina.
"Maaf Raina, aku belum bisa ngasih tahu kamu," lirih Shara.
"Kak, aku ini ingin tahu karena aku khawatir dengan keadaan kakak sekarang. Aku juga bisa jaga rahasia. Jika kakak sakit, aku bisa merawat kakak. Jangan buat aku dihantui rasa khawatir kak," kata Raina panjang lebar.
"Terima kasih atas perhatian dan kepedulian kamu, Raina. Benar kata Marvel kamu adalah orang yang sangat baik. Aku ingin jujur denganmu, tapi kau harus janji tidak memberitahukannya ke siapa-siapa," ujar Shara.
"Iya kak aku janji. Kakak bisa percaya sama aku," tegas Raina.
"Aku punya penyakit yang mematikan Raina. Aku sakit kanker darah sejak lama. Sungguh rasanya aku sudah tidak kuat," kata Shara.
Tangis Shara pecah. Siapa pun yang mendengarnya pasti meringis sedih.
"Kanker darah? Leukimia? Bagaimana bisa?" ujar Raina tak percaya.
"Dulu keluarga kami adalah keluarga yang sangat bahagia. Bahkan aku juga sangat bahagia. Tapi semenjak terjadi suatu kejadian, semua menjadi berbeda. Marvel pun seperti itu. Tidak ada yang mengunjungiku, tidak ada yang menemaniku ke rumah sakit. Akhirnya aku memutuskan untuk merawat sendiri di rumah. Aku tak sanggup membayar biaya perawatanku. Aku bertahan karena adikku. Aku masih ingin melihat Marvel," lirih Shara.
Raina pun ikut meneteskan air matanya mendengar penuturan dari Shara. Ia rasanya masih tak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Bertahun-tahun aku sendirian. Aku berjuang sendirian, Raina. Apalagi Ayahku, dia tidak pernah sama sekali mengingatku. Aku juga mencari uang sendiri, aku bekerja. Itu semua demi melawan penyakitku ini."
"Kenapa kakak tidak memberitahu kepada Marvel saja? Apalagi soal biaya, kakak harusnya tidak perlu bekerja lagi," ujar Raina sembari mengelap air matanya yang tidak mau berhenti.
"Aku tiap hari harus pakai kursi roda. Tapi belakangan ini, aku ingin mencoba berjalan sendiri. Aku lemah ya, baru gini sudah tumbang. Sebenarnya Marvel sudah tahu perihal ini, tapi bukan kanker darah yang dia tahu. Dia hanya tahu kalau aku fisiknya lemah," ujar Shara panjang.
"Soal uang ya. Aku tidak mau merepotkan Marvel. Aku ingin uang berobatku dengan uangku sendiri. Lagipula aku sudah biasa sendiri," lanjut Shara.
Raina langsung memeluk Shara.
"Kamu baik banget kak, aku kagum. Tolong jangan pernah nyimpan sesuatu sendirian. Itu akan menjadi beban pikiran kakak. Seandainya kita bertemu dari awal, pasti aku akan menjadi teman untuk kakak. Kalau soal biaya pun, aku akan usahakan membantu."
Bahagia itu mudah, yang susah adalah ketika kita bersedih tapi harus pura-pura bahagia.
__ADS_1