Ranum

Ranum
Bagian 1


__ADS_3

Awal minggu yang juga menjadi awal mula kisah dua insan yang tak saling mengenal. Hari di mana dipertemukannya seorang gadis dan pemuda dari tempat yang berbeda dan pada akhirnya menimbulkan benih-benih indah di hati mereka. Pertemuan singkat pagi itu, menjadi awal bertumbuhnya rasa bagi dua anak Adam.


Seorang gadis desa bernama Ranum, tenaga pengajar di salah satu TK swasta. Berpenampilan sederhana dan ramah. Kehidupan yang memang tidak selalu mulus bagi gadis manis itu membuatnya menjadi sosok gadis mandiri. Semenjak ditinggal bapak ia berusaha kuat dan selalu tegar dengan apapun masalah yang Allah berikan. Seperti halnya saat ini, karena ucapan di masa lalu yang terlontar tanpa sengaja harus menggores secuil asa yang terangkai indah bersama mimpinya kini.


Pagi itu, seorang pemuda datang ke desa Ranum. Pertemuan yang diawali kesalahpahaman, lalu menghadirkan ketertarikan di hati dua insan berbeda jenis itu.


Sebuah mobil melaju begitu pelan. Terlihat seorang pemuda mengemudikan mobil tersebut sedang melihat kanan dan kiri seperti mencari sebuah alamat, hingga ia melihat sosok gadis berjalan berlawanan arah dengan mobil yang ditumpangi.


Melihat Ranum yang tengah berjalan santai, ia seketika menghentikan mobil dan menyapa yang akhirnya sampailah pada tujuan utama yaitu bertanya dimana tempat anak-anak yang sedang melaksanakan tugas dari kampus untuk mengabdi ke masyarakat.


Zaviyar, pemuda yang berasal dari kota yang berjuluk kota pahlawan. Berprofesi sebagai dosen muda di salah satu Universitas ternama Surabaya. Ia datang ke desa Ranum untuk menemui mahasiswa yang sedang melakukan pengabdian masyarakat. Satu hari setelah para mahasiswa berangkat menuju desa, Zaviyar menyusul dan membawanya pada pertemuan dengan seorang gadis dari desa tersebut.


Zaviyar yang memang memiliki jadwal padat di hari keberangkatan para mahasiswa, memilih untuk menyusul di hari selanjutnya. Tujuannya ke sana untuk melihat persiapan dan program yang akan dikerjakan para mahasiswa selama melakukan pengabdian beberapa minggu ke depan.


Meski diawali dengan obrolan biasa, tapi pertemuan pertama itu cukup memberi kesan yang mendalam bagi Zaviyar. Rasa ingin tahu dan mengenal lebih jauh pada sosok gadis yang baru ia temui membuatnya sedikit merubah rencana.


Percakapan antara Ranum dengan pemuda itu akhirnya berakhir dengan menunjukkan tempat dimana mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN itu menginap. Pak Tomo, sesepuh desa yang rumahnya terletak di samping sekolah dasar. Di rumah beliaulah mahasiswa KKN itu ditampung.


Ranum segera kembali ke rumah setelah mobil pemuda tersebut berlalu meninggalkannya. Tanpa ia sadari bahwa pengemudi mobil masih memperhatikan langkahnya melalui spion yang ada di mobil yang ditumpangi.


“Kok lama kamu, Nduk?” tanya Bu Ratih, ibu Ranum.


“Maaf, Bu. Tadi ada yang tanya tempat anak-anak KKN, sepertinya dia tertinggal dari rombongan dan menyusul teman-temannya ke sini sendiri.” Ranum menjelaskan pada Bu Ratih.


“Oh, gitu. Tak pikir belum beres laporanmu karo Bu Sri.”


“Mboten, Bu. Insya Allah sudah beres semuanya, nanti sama Bu Sri biar disetor ke kecamatan laporannya.”


Usai sarapan dan mengatakan pada Bu Ratih bahwa ia ingin beristirahat di rumah setelah lembur beberapa hari ini. Ranum memilih masuk ke kamar dan segera merebahkan tubuhnya yang sudah cukup lelah.


Bu Ratih yang akan keluar rumah pun akhirnya membiarkan putrinya beristirahat. Dengan sangat perlahan Bu Ratih menutup dan mengunci pintu supaya tidak mengganggu Ranum.


Ranum dan Bu Ratih memang menjadi seorang pengajar TK swasta di desanya, di tempat yang sama tak jauh dari rumah. Seharian Ranum habiskan dengan bersantai di kamar hingga tertidur. Hingga saat Bu Ratih pulang pun ia tak tahu.


“Num, bangun. Sudah dzuhur ini. Sholat dulu, makan terus kalau mau tidur lagi ndak apa-apa.” Bu Ratih berusaha membangunkan Ranum yang masih terlelap.


Ranum menggeliat dan mencoba membuka matanya meski terasa berat.


“Jam berapa ini, Bu?”


“Sudah setengah satu siang, cepet sholat sana.”


“Sebentar, Bu. Mata Ranum rasanya susah melek ini.”


“Wudhu’ sana biar ngantuknya hilang, habis itu makan. Setelah itu, kalau kamu mau tidur lagi nggak apa-apa.”

__ADS_1


“Iya, Bu.” Ranum beranjak dari tempat tidur dengan sedikit gontai menahan kantuknya.


Meski di luar Ranum merupakan sosok yang tegas dan bisa diandalkan dalam pekerjaannya, tapi berbeda saat di rumah. Dia memang tidak bisa berbagi cerita atau berkeluh kesah pada Bu Ratih sepeninggal bapaknya, tapi dalam beberapa hal dia pun tak bisa lepas dari peran Bu Ratih.


***


Hari berganti dan matahari telah tersenyum dengan pesonanya kepada dunia. Namun ternyata Ranum kalah cepat, dia bangun terlambat padahal hari ini seharusnya dia masuk sekolah. Seperti sapuan angin ****** beliung, dia mengerjakan segala sesuatu dengan begitu cepat. Sampai Bu Ratih berkali kali harus menggelengkan kepala melihat kelakuan sang putri.


Ranum yang tergesa-gesa ke sekolah berjalan setengah berlari turun dari rumah. Rumah Ranum yang terletak di kaki gunung hingga jalanan di daerahnya berliku dan naik turun. Begitupun jalan ke rumah gadis manis itu. Langkahnya yang terlanjur cepat membuatnya tak bisa menghindar dari sosok yang tiba-tiba keluar dari arah yang tak terlihat.


Tanpa sengaja ia menabrak seseorang yang tengah berjalan di depannya. Ranum bergetar dan tergesa mengambil ponsel terjatuh milik orang yang ditabraknya.


“Maaf, saya tidak se--” Kalimatnya terputus setelah sadar siapa orang yang ditabraknya.


“Oh, Mas. Maaf, maaf, saya benar-benar minta maaf tadi saya gak lihat jalan," lanjutnya sambil memberikan ponsel pada pemuda itu.


Pemuda itu hanya tersenyum simpul sembari menerima ponsel yang diberikan Ranum.


“Nggak apa-apa, lalu kamu tadi lihat apa kalau nggak lihat jalan?” tanyanya ramah.


Ranum yang masih sedikit kaget berusaha menenangkan diri.


“Saya tergesa-gesa, Mas. Tadi pas jalan sedikit kurang fokus terus tiba-tiba nabrak Masnya, padahal tadi perasaan nggak ada orang lewat,” ujarnya.


“Terus, kamu pikir aku muncul tiba-tiba seperti hantu gitu?”


“Maaf, bukan seperti itu maksud saya,” jawab Ranum.


Ranum mulai menyadari bahwa pemuda itu tidak lagi memakai kata ‘saya’ ataupun panggilan ‘Mbak’ pada dirinya seperti kemarin pertama bertemu. Sedikit heran. Netranya menatap tajam ke arah pemuda itu. Namun, tak mungkin ia bertanya pada sosok yang baru dua kali ia temui. Hanya gumaman dalam hati yang terus bertanya-tanya.


“Ya, sudah. Nggak apa-apa, aku maafin kok dan kamu bisa melanjutkan aktivitas kamu,” ucap pemuda itu yang melihat tatapan Ranum penuh selidik.


“Terimakasih dan sekali lagi maaf. Mari, saya pergi dulu. Assalamu'alaikum."


“Wa'alaikumussalam. Oh… tunggu sebentar.”


Langkah Ranum terhenti dan ia kembali berbalik.


“Ada apa, Mas?” tanya Ranum.


“Namaku Zaviyar. Sebagai permohonan maaf kamu, izinkan aku tahu namamu.”


Ranum kembali menatap pemuda yang baru dikenalnya itu dengan sorot mata yang sama tajam seperti sebelumnya. Matanya menyipit dan keningnya mengernyit.


“Untuk apa, Mas? Apa nantinya Mas mau minta ganti rugi pada saya?”

__ADS_1


“Kalau kamu tidak memberi tahu namamu, maka aku akan mencari dan meminta ganti rugi padamu. Tapi jika kamu memberi tahu namamu, maka itu cukup mengganti ponselku yang sudah terjatuh tadi.”


Pemuda itu mengamati penampilan Ranum dari atas ke bawah yang tengah memakai seragam sekolahnya. Setelan baju keki dengan kerudung segi empat bercorak abstrak bernuansa abu-pink, serta sepatu kerja berwarna hitam membalut tubuhnya dari ujung kepala hingga kaki.


“Aku rasa mudah untuk mencarimu. Dari penampilan pastinya kamu seorang pengajar dan di daerah ini tidak banyak sekolah, jadi mudah saja.” Pemuda itu berkata dengan tenang tapi penuh penekanan di bagian akhir kalimatnya.


Ranum menghela napas mendengar kata-kata pemuda itu.


‘Siapa sebenarnya pemuda ini? Dari bicaranya tidak seperti anak kuliahan, seperti sudah matang,’ gumamnya dalam hati.


“Bagaimana?” Suara pemuda itu mengagetkan Ranum.


“Ranum,” ucap Ranum singkat.


“Okey, Ranum. Tidak usah berbicara formal denganku. Aku rasa kita seumuran jadi santai saja saat bicara denganku.”


‘Apa? Seumuran katanya? Hmm…. Berarti masih pantes dong aku jadi anak kuliahan.’ Ranum berdialog dalam hati dengan bangga.


"Oh baik, Mas. Kalau tidak ada yang lainnya, saya permisi dulu. Sudah hampir telat soalnya. Assalamu'alaikum." Ranum berkata dengan cepat dan berjalan meninggalkan pemuda itu tanpa menunggu jawaban lagi. Pemuda itu hanya tersenyum melihat Ranum yang berlalu begitu saja.


Ranum tiba di sekolah tepat saat bel masuk berbunyi, ia semakin mempercepat langkah menuju kantor. Sekolah tempatnya mengajar tidaklah besar, hanya memiliki empat ruangan dengan tiga ruang kelas dan satu ruang digunakan sebagai kantor.


Kegiatan sekolah berjalan seperti biasa, sama halnya dengan kegiatan Ranum yang masih berkutat pada data administrasi sekolah baik online maupun offline, baik manual maupun yang harus diketik. Hari itu Ranum harus mencetak data nama siswa yang diminta Bu bidan setempat, tapi printer di sekolahnya sedang bermasalah. Ia pun harus ke gedung sekolah tsanawiyah untuk mencetak data yang dibutuhkan.


Gedung Tsanawiyah dan TK memang berdekatan sehingga mudah bagi Ranum untuk meminta bantuan ke pihak Tsanawiyah. Di tengah kesibukannya yang sedang mencetak data, tiba-tiba terdengar beberapa orang mengucap salam.


"Wa'alaikumussalam,” jawab beberapa pengajar yang berada di dalam kantor.


"Oh, ini mahasiswa yang sedang KKN itu ya? Mari, silakan masuk." Pak Ilyas selaku kepala sekolah mempersilakan masuk.


Ranum yang masih serius dengan pekerjaannya tak peduli dengan kedatangan mereka, ia hanya berusaha menyelesaikan tugas secepat mungkin. Selesai mencetak data yang dibutuhkan, Ranum berniat segera kembali ke TK. Namun akan keluar langkahnya terhenti di ruang tamu tempat para mahasiswa KKN dan pak Ilyas berada.


"Bu, ini mahasiswa yang KKN di sini dan ini mau minta izin untuk membantu kita di sekolah. Mungkin nanti juga bisa bantu di TK,” tutur Pak Ilyas.


"Oh iya, Pak,” jawab Ranum.


Ranum yang tadinya tergesa-gesa sepertinya lupa dengan waktunya. Matanya tertuju pada sosok yang tidak asing. Sosok pemuda yang sudah dua kali ditemui. Pemuda dengan tinggi sedang bagi ukuran laki-laki namun memiliki bentuk tubuh yang ideal serta kulit bersih dan wajah yang meneduhkan.


'Siapa sebenarnya Zaviyar? Kenapa dia tidak memakai almamater seperti mahasiswa lainnya?' bisiknya dalam hati.


"Oh iya, dan ini ..." ucapan Pak Ilyas terputus.


“Perkenalkan, saya Zaviyar. Saya dosen yang membimbing mahasiswa KKN di desa ini.”


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2