Ranum

Ranum
JANGAN PERGI


__ADS_3

Masa kini.


Aston Martin Vulcan yang dikendarai Ranum tiba di hanggar milik keluarga Loshad di salah satu bandara di kota Bandung. Ranum dan Alexa keluar dari mobil, seorang pilot datang menghampiri mereka, menyambut dengan hangat. “Selamat datang kembali Tuan Muda Ranum Anatoly, senang bisa berjumpa dengan anda.” Pilot itu menjulurkan tangannya.


“Senang bisa kembali bertemu dengan anda Pak Asep.” Ranum menjabat tangan pilot berusia 56 tahun tersebut.


“Maafkan saya Tuan Muda, markas pusat melarang saya untuk memberikan akses kepada anda. Seluruh anggota keluarga Loshad dilarang membawa anda pergi dari kota ini.” Pak Asep menjelaskan.


“Sial! Orang tua itu!” Ranum meremas tangannya.


“Bos besar ingin anda kem-“ Kalimat pak Asep terputus.


Tiba – tiba puluhan peluru melesat cepat ke arah Ranum, beberapa peluru berhasil mengenai pak Asep, tepat di kepalanya. Ranum dengan gesit menarik Alexa, bersembunyi di balik mobil. Peluru terus menghujani Ranum, hingga empat menit kemudian helikopter yang menembaki Ranum bergegas pergi. Melihat helikopter itu berhenti menembaki, Ranum segera mengambil tindakan. “Alexa, kamu tunggu disini, aku akan mengejar helikopter itu.” Ranum berbicara cepat, langsung berlari masuk ke mobilnya.


Lamborghini Huracan dan Ferrari F8 Tributo berhenti di depan hanggar. Kripala dan Dayana keluar dari mobil – mobil tersebut. Ranum memacu mobilnya ke depan hanggar, mengambil ferrari F8 Tributo yang dikendarai Kripala. “Kak pakai Vulcan ini dan kita adu mobil kita dengan cepat! Gunakan barrier di depannya agar mobilku bisa terbang!” Ranum berseru cepat, langsung masuk ke ferrari tersebut.


Kripala yang paham maksud Ranum segera masuk ke dalam Aston Martin Vulcan. Kripala memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, Ranum sedikit memperlambat lajunya, memberi ruang untuk Kripala memimpin di depan. Ketika Kripala sudah dekat dengan helikopter itu, Kripala langsung memutar mobilnya 180 derajat, lalu memacu Aston Martin Vulcan itu berjalan mundur. Melihat Kripala yang sudah berputar, Ranum segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Kripala mengeluarkan barrier runcing dari mobilnya, Ranum yang melihat barrier itu langsung menekan gasnya lebih dalam lagi. Kripala menginjak remnya sangat dalam, mobil Ranum menanjak di barrier runcing tersebut dengan kecepatan penuh.

__ADS_1


Ferrari F8 Tributo yang dikendarai Ranum terbang di udara, menabrak baling – baling helikopter tersebut. Helikopter dan mobil yang dikendarai Ranum, jatuh secara bersamaan di ujung landasan pacu bandara tersebut. Ranum keluar dari jendela mobilnya, tulang selangka kirinya patah. Ranum berjalan tertatih ke helikopter itu. Baru tiba di depan pintu helikopter, satu orang lompat menyerang Ranum, orang itu menyerang Ranum secara membabi buta. Ranum tidak tinggal diam, saat menerima pukulan ke delapan belas, Ranum segera menahan tinju orang tersebut menggunakan tangan kanannya kemudian Ranum mengantam wajah orang itu dengan kepalanya, membuat orang tersebut terjatuh. Ranum segera berdiri sambil meraih pistol dari gun holsternya, menembak orang itu tepat di kepalanya.


Ranum kembali mendekati helikopter tersebut, pilot helikopter itu berbicara lirih meminta bantuan Ranum, tapi Ranum segera menembak pilot itu tepat di kepalanya sebanyak dua kali dan menembak satu orang lagi yang pingsan di kabin belakang helikopter tersebut. Ranum menyeret satu orang yang tersisa, orang itu meringis kesakitan, tulang belakangnya patah.


Kripala menjemput Ranum. “Cepat naik.” Kripala berbicara dari dalam mobil.


Ranum segera masuk ke dalam mobil tersebut dan memangku tubuh pria yang terus mengerang kesakitan. Kripala membawa Ranum kembali ke hanggar. “Tidak, tidak, tidak.” Ranum berbicara tidak percaya, dia melihat Alexa yang sedang terbaring di pangkuan Dayana sambil memegangi perutnya. Ranum berjalan ke arah Alexa dan Dayana secara perlahan sambil menyeret tubuh musuhnya dengan tangan kanannya.


Ranum berlutut, memegang luka tembak di tubuh Alexa. “Maafkan aku Alexa, maafkan aku.” Ranum meneteskan air matanya.


Alexa tersenyum, memegang tangan Ranum. “Ini bukan salahmu Ranum, ini memang sudah takdirku.” Alexa tersenyum, membelai tangan Ranum.


Dayana menggeleng pelan, ikut meneteskan air matanya.


Alexa tersenyum, memegang wajah Ranum. “Tidak masalah Ranum, aku baik – baik saja. Aku hanya ingin bilang kalau aku sangat mencintaimu. Setidaknya sekarang aku tahu jawaban atas dari doaku, aku tidak mendapatkan kesempatan untuk memilikimu di dunia ini.” Alexa tersenyum, membelai wajah Ranum. “Aku mencintaimu sejak di kebun binatang itu, aku melihat sisi pria sempurna di dalam dirimu. Tapi kamu tetap tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu. Aku tidak pernah menyesal untuk mencintaimu, karena cintaku tepat untukmu.” Alexa tersenyum.


“Alexa, kamu masih bisa selamat. Kita bisa perbaiki semuanya. Kamu bisa bicara tentang ini nanti ketika keadaanmu sudah membaik.” Ranum menggenggam tangan Alexa. “Aku mohon.” Air mata semakin deras keluar dari mata Ranum.

__ADS_1


Alexa tersenyum, menggeleng. “Setidaknya kamu sudah tahu tentang perasaanku padamu, aku bisa tenang dan merasa lega.” Alexa berbicara lirih, penglihatannya semakin meredup. “Ranum, aku ingin kamu berjanji padaku.” Lanjut Alexa berbicara.


Ranum mengangguk, menangis.


“Tolong berhenti membunuh orang, sejatinya setiap nyawa itu berharga. Apa yang kamu rasakan ketika kehilangan Miranda, bisa jadi juga dirasakan keluarga korbanmu. Aku ingin kamu menjadi lebih baik, aku tidak menuntut kamu untuk berhenti secepatnya, tapi aku ingin kamu berhenti.” Alexa mengelus pipi Ranum. “Dan aku mohon cobalah untuk mencintai sesuatu, mungkin cinta itu akan menuntunmu ke kehidupan yang lebih baik. Sebentar lagi, aku dan Miranda bisa mengawasimu seharian penuh dari surga, jangan pernah kecewakan kami.” Alexa tersenyum, wajahnya semakin pucat. “Aku beruntung bisa mengenalmu dan aku sangat beruntung bisa mencintaimu.” Lanjut Alexa tersenyum.


Ranum mengelus wajah Alexa. “Jangan pergi Alexa, aku mohon.” Ranum menangis.


“Aku sangat mencintaimu Ranum, terima kasih telah memberikan peng-“ Suara Alexa makin lama semakin mengecil hingga menghilang. Alexa wafat.


“Tidak, tidak, tidak!” Ranum menggoyangkan tubuh Alexa. “Alexa bangun, kamu masih bisa sembuh Alexa!” Ranum berseru. “Tidak, tidak, tidak! Ini Tidak boleh terjadi!” Ranum bangkit, mendekati tubuh pria yang diseretnya tadi.


Ranum menghajar pria itu habis – habisan, meninju, menendang, menginjak wajah dan tubuh pria tersebut sambil berteriak – teriak, meluapkan emosinya. Tidak ada bagian tubuh pria itu yang masih utuh, semua bagian tubuh luar dan organ dalam pria itu hampir rata dengan lantai hanggar tersebut. Hancur seperti habis di cincang.


Satu pilot dan enam awak pesawat menatap Ranum jeri. Dayana dan Kripala tidak berani menghentikan adiknya itu. Dayana menyuruh beberapa awak pesawat untuk membawa mayat Alexa dan Pak Asep ke dalam helikopter AS350BA.


Ranum terduduk lesu setelah hampir dua jam meluapkan emosinya, membakar rokoknya. Kripala dan Dayana duduk di sebelah Ranum. “Maafkan kami karena tidak bisa membantu apa - apa.” Dayana berbicara.

__ADS_1


Ranum hanya diam menghisap rokoknya, menatap kosong lantai hanggar tersebut.


__ADS_2