
“Kamu yakin ini rumahmu?” Ranum bertanya, memastikan.
Kaitlyn mengangguk. Ranum segera menekan bel yang ada di sebelah pintu. Kurang dari lima menit, seorang wanita membuka pintu rumah tersebut. “Maaf mengganggu malammu. Aku bertemu dengan Kaitlyn di taman dekat sini. Apa kamu ibunya?” Ranum berbicara ke wanita tersebut.
“Iya, aku ibunya. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu dan terima kasih sudah mengantarnya pulang.” Wanita itu tersenyum, tapi matanya tidak bisa berbohong, jelas wanita ini terlihat habis nangis. Dan Ranum melihat memar di wajah wanita tersebut.
“Kemari Kaitlyn.” Wanita itu berbicara ke anaknya. Kaitlyn berlari kemudian memeluk wanita tersebut.
Ranum berlutut untuk berbicara dengan Kaitlyn. “Kaitlyn, simpan bunga ini didalam sebuah vas atau gelas, kemudian isi vas atau gelas tersebut dengan sedikit air.” Tangan Ranum gesit memotong miring batang bunga gerbera tersebut menggunakan pisau tempur. “Letakkan bunga – bunga ini dikamarmu dan jangan lupa ganti airnya setiap hari ya.” Ranum tersenyum memberikan bunga – bunga gerbera yang sudah di potong miring bagian batangnya.
Kaitlyn mengangguk, tersenyum menatap Ranum. “Terima kasih.” Kaitlyn memeluk Ranum. Kemudian berlari kedalam rumahnya membawa bunga – bunga tersebut.
“Terima kasih telah menemani Kaitlyn.” Ibu Kaitlyn tersenyum.
Ranum berdiri, tersenyum. “Tidak masalah, dia anak yang baik dan sangat menggemaskan. Berapa usianya?” Ranum sibuk membersihkan lututnya.
“Lima tahun.”
“Sulit untuk anak seusianya melihat seluruh luka dan tangis ibunya setiap malam.” Ranum tersenyum. “Aku pamit dulu.” Ranum sedikit membungkukkan badannya. Balik kanan kemudian melangkah. Ibu Kaitlyn terdiam mendengar kalimat Ranum.
“Tunggu dulu.” Kaitlyn yang habis berlari dari dalam rumah berseru dari pintu rumahnya membuat langkah Ranum terhenti, Ranum kembali menghadap ke Kaitlyn.
“Siapa namamu?” Kaitlyn bertanya.
“Kamu bisa memanggilku Ranum.” Ranum tersenyum.
“Kapan kita bisa main bersama lagi Ranum?” Kaitlyn bertanya antusias.
“Aku cukup sibuk, tapi akan aku usahakan untuk memiliki waktu menemuimu.” Ranum tersenyum. “Sampai jumpa Kaitlyn.” Ranum melambaikan tangan ke Kaitlyn.
“Sampai jumpa Ranum.” Kaitlyn balik melambaikan tangannya, tersenyum lebar membuat gigi – gigi mungilnya terlihat. Ranum meninggalkan rumah Kaitlyn, kembali pulang ke rumahnya.
***
Ranum membuka pintu rumahnya, berjalan masuk menuju dapur. Ranum terkejut melihat lemari kaca tempat dia menyimpan whiskey terbuka. Ranum bergegas ke ruang keluarga. Di ruangan tersebut Ranum melihat Chen yang sedang mabuk memegang segelas whiskey dan sebatang rokok. Ranum segera merebut gelas whiskey dan rokok yang ada di tangan Chen.
“Sudah berapa kali aku melarangmu untuk tidak menyentuh alkohol dan rokok?” Ranum bertanya, tangannya gesit meremas rokok milik Chen.
“Aku hanya minum sedikit, tidak akan berpengaruh pada kesehatan bayiku dan rokok itu juga masuknya ke paru – paru bukan rahim.” Chen tertawa kecil, kepalanya bergerak kesana kemari akibat mabuk.
Ranum menggendong Chen ke kamarnya. “Kamu mau membawaku kemana?” Chen bertanya.
__ADS_1
Ranum tidak menjawab tetap membawa wanita itu ke kamarnya. Ranum meletakkan Chen di kasur. Setelah itu Ranum balik kanan, ingin melangkah keluar dari kamar Chen. Tapi langkah Ranum terhenti saat Chen menahan tangannya. “Apa lag-“ Belum selesai kalimat Ranum, Chen menariknya hingga jatuh ke kasur.
“Bercintalah denganku.” Chen berbisik, sedikit mendesah.
Ranum segera bangkit dan menahan tangan Chen. “Berhentilah memaksaku, jawabanku akan selalu sama seperti sebelum – sebelumnya.”
Chen berdiri di hadapan Ranum, bibirnya cepat menyentuh bibir Ranum membuatnya terkejut. Ranum mendorong Chen dengan lembut. “Maafkan aku, aku tidak bisa.” Ranum menahan tubuh Chen.
“Sudah hampir tujuh bulan aku tidak bercinta, aku sangat bergairah saat ini Ranum. Ayolah kali ini saja.” Chen memaksa.
Ranum mengangkat tubuh Chen, menaruhnya kembali di kasur. Ranum menarik selimut, kemudian menyelimuti tubuh Chen. “Lebih baik kamu istirahat. Kamu sedang mabuk berat.” Ranum melangkah cepat keluar dari kamar Chen.
Chen terus berbicara, memaksa Ranum untuk bercinta dengannya, tapi dia tidak bangkit dari tempat tidurnya akibat mabuk hingga akhirnya jatuh terlelap. Ranum tidak memperdulikan ocehan Chen, mengambil botol whiskeynya kemudian ke halaman belakang.
Ponsel Ranum berdering, dia menatap layar ponselnya tersebut. Itu panggilan dari Melvin. Ranum segera mengangkat ponselnya tersebut. “Yo Mel, ada apa?” Ranum bertanya.
“Apa kamu bisa membantuku Mark?” suara Melvin terdengar di seberang telepon.
“Mungkin.” Ranum menjawab singkat.
“Aku sedang berada di Melbourne. Kamu dimana?”
“Aku berada di rumah.” Ranum menjawab datar.
“Langsung ke intinya saja, apa maumu?”
“Apa kamu bisa datang ke sebuah tempat di Melbourne? Aku akan mengirimkan lokasinya lewat pesan.”
Ranum memeriksa pesannya. “Sudah aku terima. Aku akan tiba di tempatmu sekitar 15 menit.”
“Terima kasih Mark, aku sangat menghargai bantuanmu.”
Ranum mengangguk, mematikan ponselnya.
Lokasi yang dikirimkan Melvin adalah daerah pinggiran kota Melbourne, St Kilda West. Ranum tiba di lokasi tersebut tepat seperti yang dia bicarakan dengan Melvin, 15 menit. Ranum berhenti tepat di depan bangunan sesuai alamat yang diberikan Melvin. Ranum mengambil ponselnya, menghubungi Melvin.
“Aku sudah berada di lokasi.” Ranum berbicara.
“Apa kamu melihat pintu kecil yang berada di bagian timur bangunan?” Melvin bertanya.
Ranum mengangguk. “Aku melihatnya.” Ranum melihat pintu yang di maksud Melvin. Ranum segera memarkirkan mobilnya di depan gedung tersebut.
__ADS_1
“Masuklah ke pintu itu, ikuti terus lorongnya. Kamu akan menemukanku.”
Tanpa banyak bertanya, Ranum segera mematikan ponselnya, cepat bergerak memasuki pintu tersebut. Ranum melewati lorong panjang sekitar 100 meter hingga akhirnya menemukan Melvin. Ranum terkejut melihat tempat tersebut. “Apa – apaan ini!” Ranum terkejut menatap sekitar.
“Selamat datang di MUFC, Melbourne Underground Fight Club!” Melvin berseru mengenalkan tempat itu ke Ranum. Terlihat satu ring tinju, lebih tepatnya seperti kandang petarung UFC, tapi tidak berbentuk octagon seperti ring UFC, ring tinju di tempat ini tetap kotak. Sekeliling ring dipenuhi ratusan orang yang bersorak menyemangati petarung andalannya.
“Kenapa kamu menyuruhku kemari?” Ranum bertanya bingung. “Dan apa - apaan ini, di zaman modern seperti ini masih ada pertarungan seperti ini?”
“Kamu jangan salah sangka Mark, tempat ini adalah tempat terbaik untuk menghasilkan uang. Semua kalangan petarung ada disini, mulai dari petarung jalanan hingga profesional.” Melvin menjelaskan sambil tertawa kecil.
“Lalu kenapa kamu menyuruhku ke tempat ini?”
“Maafkan aku Mark, aku benar – benar membutuhkan bantuanmu untuk bertarung di tempat ini. Petarung andalanku sedang sibuk, jadi tidak bisa datang ke pertandingan ini. Aku benar – benar sangat membutuhkanmu disini, aku bertaruh besar di pertandingan kali ini.”
Ranum menggeleng. “Lebih baik aku melakukan hal yang sama padamu.”
“Hal yang sama? Apa maksudmu?”
“Meledakkanmu, seperti aku meledakkan kepala Octo.”
“Oh sial! Kamu membunuh Octo?” Melvin terkejut.
Ranum mengangguk. “Dia terlalu berbahaya untuk hidup. Aku sudah melihat semua berkas dan kejahatan yang dilakukannya.” Ranum menjawab datar.
Melvin terdiam sejenak. “Baiklah, jadi bagaimana. Apa kamu mau membantuku?” Lanjut Melvin bertanya.
“Berapa orang yang harus aku lawan?” Ranum bertanya.
“Hanya satu.”
“Aku tidak tertarik.” Ranum balik kanan, melangkah pergi.
“Baiklah, baiklah. Kamu mau berapa?” Melvin bertanya.
Ranum berhenti melangkah. “Berapa uang yang dapat dihasilkan kalau aku melawan semua petarung yang ada disini?”
“sekitar 500 ribu dollar.”
“Apa peraturan di klub petarung ini?” Lanjut Ranum bertanya.
“Tidak ada.” Melvin menjawab singkat.
__ADS_1
“Aku ikut.”
“Itu yang ingin aku dengar kawan!” Melvin berseru kegirangan.