Ranum

Ranum
PENEMUAN BERBAHAYA


__ADS_3

Pilatus PC-24 yang membawa Ranum dan Alexa telah tiba di markas pusat keluarga Loshad. Beberapa orang sudah menunggu kedatangan Ranum. Ranum menggendong Alexa turun dari pesawat, menaruh Alexa di kursi roda yang telah disiapkan. Semua orang menyambut kepulangan Ranum dengan hangat.


“Terima kasih semuanya, tapi aku tidak memiliki banyak waktu. Aku butuh bantuan kalian untuk menyembuhkan Alexa. Tuan Sam, kemarilah.” Ranum memanggil Samuel. Samuel Alexander adalah tangan kanan Bos Besar.


“Tolong rawat Alexa hingga dia benar – benar normal kembali. Aku tidak ingin dia mengalami cacat sedikitpun. Aku mempercayakan Alexa kepada kalian.” Ranum berbisik.


“Baik Tuan Muda, akan aku panggilkan dokter terbaik untuk menyembuhkan Alexa.” Samuel tersenyum.


Ranum mengangguk. “Alexa, aku harus meninggalkanmu disini. Kamu tenang saja, mereka akan merawatmu dengan baik disini. Aku janji.” Ranum tersenyum menatap Alexa yang berada di kursi roda.


“Heri, setelah Alexa sembuh total, dia akan menjadi asisten pribadiku menggantikanmu. Berikan ruanganmu dan apapun kebutuhan Alexa. Gajimu akan tetap sama, hanya tugasmu saja yang akan berkurang, kamu akan menjadi asisten Alexa,” Ranum berbicara ke Heri.


“Apapun yang anda inginkan Tuan Muda.” Heri tersenyum, mengangguk takzim.


“Tolong jaga Alexa dengan baik semuanya. Aku mempercayakan Alexa kepada kalian. Terima kasih semuanya.” Ranum tersenyum. Semua orang mengiyakan perintah Ranum. Ranum balik kanan, kembali masuk ke pesawatnya. Samuel membawa Alexa ke rumah sakit pribadi keluarga Loshad di markas pusat dan mendapatkan perawatan medis paling mutakhir milik keluarga Loshad.


***


Ranum sudah kembali ke rumahnya. Ranum terkejut saat melihat rumahnya yang sudah tertata rapi. Ranum pergi ke dapur karena mencium bau masakan, dia melihat Chen yang sedang memasak di dapurnya.


“Hai. Kamu sudah pulang. Maaf aku tidak menyadarinya” Chen membersihkan tangannya di apron yang ia kenakan.


Ranum mengangguk. “Kamu yang membersihkan seluruh rumah ini?” Ranum bertanya datar.


Chen mengangguk. “Aku bingung harus melakukan apa. Jadi lebih baik aku merapikan rumahmu untuk mengisi waktu luangku.”


“Terima kasih.” Ranum menjawab singkat.


“Di karpet yang ada di kamarmu terdapat bekas darah kering. Itu darahmu?”


Ranum menggeleng. “Darah istriku.”


“Oh iya, kemana istrimu? Dia tidak pernah kelihatan. Apa kalian sudah berpisah?”


Ranum mengangguk.


“Apa kamu yang melukai istrimu makanya dia pergi meninggalkanmu?” Chen bertanya dengan wajah polos.


Ranum tersenyum. “Bisa dibilang seperti itu.”


“Maafkan aku telah menanyakan pertanyaan bodoh seperti itu.”


“Tidak masalah.”


“Wanita yang tadi malam, apakah itu kekasih barumu? Bagaimana keadaannya saat ini?”


Ranum menggeleng. “Namanya Alexa. Dia sudah ditangani dengan orang yang ahli di bidang tersebut. Dia akan baik – baik saja.” Ranum mengambil kaleng beer di dalam kulkas kemudian meminumnya. “Bagaimana dengan kandunganmu? Apa perlu diperiksa?”


Chen menggeleng. “Aku tidak tahu.”


“Sudah berapa lama kamu mengandung bayi itu?” Ranum kembali bertanya.


“Sekitar tiga minggu.”


“Aku tidak mengetahui apapun tentang kehamilan. Lebih baik kamu periksa kandunganmu ke dokter, itu jauh lebih baik untuk mengetahui perkembangannya. Masalah biaya, aku yang akan menanggung semuanya. Yang penting anak itu sehat.” Ranum berjalan menuju halaman belakang.


“Kamu mau kemana?” Chen bertanya.


“Merokok.” Jawab Ranum singkat.

__ADS_1


Jarrett datang ke rumah Ranum. Chen membukakan pintu untuk Jarrett dan memberitahu Jarrett bahwa Ranum ada di halaman belakang. Jarret segera menemui Ranum yang sedang merokok di halaman belakang.


“Hai kawan!” Jarrett berseru senang melihat Ranum.


“Hai.” Ranum membalas pelukan Jarrett.


“Aku dengar kamu masuk ke penjara di Goulburn dan membunuh ratusan orang disana, termasuk kepala sipir.”


Ranum menggeleng. “Tidak seperti yang kamu pikirkan.”


“Kamu memang benar – benar gila kawan! Di dalam penjara dengan keamanan tertinggi pun bisa membuat kekacauan sebesar itu. Dan semua orang mendengar kabar bahwa kamu juga membunuh Jose Phillips. Apa berita itu benar?” Jarrett bertanya.


Ranum mengangguk.


“Oh iya, wanita yang tadi membukakan pintu untukku. Siapa dia? Apa dia kekasih barumu?” Jarrett bertanya penasaran.


Ranum menggeleng. “Aku bertemu dengannya di Singapura.”


“Kamu sudah menemukan Aiguo Wu?” Jarrett bertanya.


Ranum mengangguk.


“Memang benar yang dibicarakan semua orang. Kamu sangat cepat dalam menyelesaikan segala hal.” Jarrett menepuk – nepuk pundak Ranum. “Tapi kenapa dia tidak mengetahui nama aslimu?” lanjut Jarrett bertanya.


“Dia hanya tahu namaku dari sebuah kartu nama.”


“Lalu kenapa kamu membawanya kemari? Apa kamu menyukainya?”


Ranum menggeleng. “Dia tidak memiliki tempat untuk tinggal. Jadi aku membiarkannya tinggal disini.”


“Pun kalau kamu mau menjadikannya sebagai kekasihmu itu tidak masalah. Wanita itu sangat cantik.” Jarrett tertawa.


Ranum menggeleng, menghisap rokoknya.


Jarrett mengangguk cepat. “Dengan senang hati nona.” Jarrett duluan masuk ke dalam rumah.


“Maafkan kelakuannya.” Ranum berbicara datar ke Chen, kemudian beranjak dari kursinya.


“Tidak masalah.” Chen tersenyum.


Jarrett sudah sibuk melahap hidangan yang ada di meja makan. Ranum dan Chen ikut menyantap hidangan yang ada di meja.


“Masakanmu sangat lezat. Ranum sangat beruntung dengan keberadaanmu disini.” Jarrett berbicara dengan mulut yang penuh dengan makanan.


“Syukurlah kalau kamu menyukai masakanku.” Chen tersenyum.


“Oh iya, namaku Jarrett Barnes. Panggil saja Jarrett atau apapun sesukamu.” Jarrett memperkenalkan diri.


“Aku Chen Xiuhuan. Senang berkenalan denganmu.” Chen tersenyum ke arah Jarrett. “Oh iya tuan Mark. Jika aku boleh bertanya, siapa namamu sebenarnya?” Chen bertanya ke Ranum.


“Panggil saja aku Ranum.” Ranum menjawab singkat.


“Di kartu nama milikmu, kenapa namamu Mark Kelly?” Chen bertanya penasaran.


Ranum mengangguk. “Aku hanya tidak suka jika nama asliku diketahui banyak orang.”


“Dia pria yang sangat misterius. Kamu akan mengetahui kehidupannya setelah kamu sudah menerimanya sebagai kekasihmu.”


Chen tersedak, dia segera meraih gelas, lalu meminum air di dalam gelas tersebut.

__ADS_1


“Apa kamu baik – baik saja?” Jarrett bertanya.


“Dia tidak akan baik – baik saja setelah mendengar kalimat bodohmu.” Ranum berbicara datar sambil menyendok makanan yang ada di piringnya.


“Memang apa salahnya? Kalian terlihat sangat cocok. Yang satu cantik, yang satunya.. ya sebenarnya biasa saja, tapi karena aku sayang dengan nyawaku, aku akan bilang bahwa kamu tampan.” Jarrett tertawa. Chen ikut tertawa mendengar ucapan Jarrett. Ranum tidak peduli dengan ocehan Jarrett.


Semua orang telah selesai dengan makanan masing – masing dalam waktu lima belas menit. Jarrett segera meraih rokoknya kemudian membakar rokok tersebut. Ranum merebut rokok Jarrett yang berada di mulut Jarrett, Ranum meremas rokok itu. “Jangan merokok disini. pergilah ke halaman belakang.” Ranum membuang rokok tersebut ke piring kotor.


“Memang kenapa?” Jarrett bertanya bingung.


“Didalam rumah ini sudah jadi area bebas asap rokok. Jadi tidak ada satupun orang yang boleh merokok di dalam sini.” Ranum mengambil sebuah kaleng beer kemudian melemparkannya ke Jarrett.


“Peraturan di rumahmu semakin aneh.” Jarrett bersungut – sungut berjalan ke halaman belakang, membawa sekaleng beer.


“Kenapa kamu melarangnya merokok didalam rumah?” Chen bertanya ke Ranum.


“Karena bayi di dalam kandunganmu.” Ranum menjawab datar, tangannya gesit mengangkat piring kotor di meja makan.


“Biar aku saja yang melakukannya. Kamu pergilah merokok dengan temanmu.” Chen menahan tangan Ranum.


“Pergilah beristirahat, ini hanya pekerjaan kecil. Aku sudah biasa mengerjakannya.”


“Tapi ini tugasku.” Chen berbicara.


Ranum menggeleng. “Tidak ada yang memberikanmu tugas di rumah ini.” Ranum membelakangi Chen, tangannya gesit mencuci piring.


“Terima kasih.” Chen menatap punggung Ranum. “Aku akan pergi ke ruang keluarga.” Lanjut Chen.


“Tidurlah di kamar, pilih salah satu kamar. Selama itu bukan kamar yang berada di atas sebalah kiri, kamu bebas memilihnya.”


Chen mengangguk, melangkah pergi.


Setelah selesai mencuci piring, Ranum mengambil sekaleng beer dari dalam kulkas kemudian menuju halaman belakang menemui Jarrett. Ranum membakar rokoknya.


“Kamu sangat beruntung. Selalu bisa memikat hati wanita cantik.” Jarrett tertawa kecil.


“Aku tidak berusaha memikat hati siapapun.” Ranum menjawab datar, menghisap rokoknya. “Berhentilah membahas soal wanita, ganti dengan topik yang lebih berguna.”


“Baiklah, baiklah.” Jarrett menenggak beernya. “Seseorang berhasil menemukan penemuan baru. Apa kamu tahu berita tersebut?” Lanjut Jarrett bertanya.


Ranum menggeleng, menghisap rokoknya.


“Orang ini menciptakan alat yang dapat meninggalkan bekas saat menggores sesuatu. Tapi sayang percobaan pertamanya dalam membuat alat tersebut gagal total. Tapi dia tidak putus asa dengan eksperimennya, dia berulang kali mencoba untuk membuat alat yang dapat meninggalkan bekas saat menggores sesuatu ini. Hingga pada akhirnya orang ini mendapatkan solusi, dengan menaruh di ujung alat ini sebuah bola kecil. Ketika alat tersebut di coba dengan ujung menggunakan sebuah bola, ternyata perpaduan ini berhasil dan dapat menghasilkan bekas goresan yang sempurna. Akhirnya orang ini berani memamerkan penemuannya ini di ajang Budapest International Fair. Setelah alat ciptaannya berhasil dilirik banyak orang, penemu ini mematenkan temuannya yang spektakuler tersebut.” Jarrett berbicara dengan serius.


“Seberbahaya apa alat penemuannya ini? Apa sangat mematikan?” Ranum bertanya.


Jarrett mengangguk. “Sangat mematikan.”


“Siapa nama penemu alat tersebut?” Ranum bertanya penasaran.


“Laszlo Jozsef Biro.” Jarrett menatap Ranum serius.


“Apa nama alat ciptaannya?”


“Pulpen.” Jarrett masih menatap Ranum dengan serius, mengangguk pelan.


“Bajingan! Aku kira ceritamu serius.” Ranum berseru, tertawa.


Jarrett yang wajahnya serius seketika berubah menjadi tawa. “Memang penemuan itu sangat mematikan, kamu tidak memikirkan penemu pulpen sebelumnya yang menggunakan bulu? Penemu pulpen bulu itu pasti kalah dengan pulpen penemuan Biro yang menggunakan bola di ujungnya. Membuat bisnis pulpen bulunya mati akibat penemuan Biro.”

__ADS_1


__ADS_2