
Malam pun tiba. Ranum yang telah mendapat pesan dari Zaviyar, mulai dari ba’da Maghrib matanya berulang kali melirik ponsel yang ia letakkan tak jauh dari tempatnya duduk di kasur. Selepas sholat Isya pun, gadis itu langsung kembali ke kamar menunggu kabar dari lelaki yang telah membuat hati tak karuan.
Jarum jam terus berdetak, semakin lama Ranum menunggu, rasa kesal kian bertambah. Entah kenapa tetes bening tiba-tiba jatuh membasahi pipi mengingat Zaviyar yang tak kunjung ada kabar.
“Mau kamu apa sih, Mas?”
“Pehape?”
“Lebih baik tadi nggak usah ngomong mau bicara kalau akhirnya kayak gini. Menunggu itu capek, membosankan, dan … menyakitkan .”
Ranum berdialog sendiri menumpahkan kekesalan dengan air mata yang sesekali kembali keluar. Tak ingin Ibunya mendengar, ia mengunci pintu kamarnya lalu kembali duduk di kasur. Beberapa kali menyeka air mata yang tak tahu kenapa terus saja keluar.
“Kamu kenapa sih, Num? Gitu aja nangis, emang dia siapa? Nggak seharusnya kamu kayak gini.”
Di saat Ranum berusaha menenangkan diri, ponselnya bergetar. Ranum mengambilnya.
[Assalamu’alaikum. Sibuk nggak?] Pesan whatsapp dari Arvin.
“Ah … kenapa kamu sih yang chat?” Ranum malas untuk membalas. Tapi mengingat Arvin yang tidak tahu apa-apa tentang masalahnya, ia pun memilih membalasnya.
[Wa’alaikumussalam. Nggak]
[Lagi ngapain?]
[Tiduran aja.]
[Sakit?]
[Enggak, cuma pingin istirahat aja]
[Oh, ya udah. Aku ganggu nggak?]
[Boleh ngobrol bentar?]
[Voice call?]
Tiga pesan beruntun masuk dari Arvin, membuat ponselnya tak henti bergetar. Ranum yang merasa kesal, melempar ponselnya ke samping dan hampir saja terjatuh dari atas kasur.
"Astaghfirullahal 'adziim. Ranum kamu ngapain sih? Kalau jatuh beneran dan rusak kamu sendiri yang repot. Harga ponsel nggak murah, Num. Butuh gaji berbulan-bulan biar bisa beli yang baru," rutuknya.
Lalu ia kembali melihat chat pada WhatsApp.
[Mau ngapain?]
[Kan tadi udah bilang, mau ngobrol.]
[Iya, ngobrol apa maksudnya? Sampek mau voice call segala]
[Nggak mau ya? Ya udah, nggak apa-apa.]
[Chat aja, lagi males ngobrol.]
[Kenapa? Ada masalah?]
Ranum tak membalas, malah meletakkan ponsel sedikit menjauh dari posisi duduk. Hatinya tak lagi dalam kondisi yang baik untuk sekedar berbasa-basi dengan Arvin. Ia berbaring, menutup wajahnya dengan bantal. Ingin berteriak tapi takut ada yang mendengar.
Terdengar lagi getar ponselnya. Ranum abaikan, hingga tiga kali bergetar. Akhirnya tangan kanannya berusaha meraih ponsel dengan kepala yang tetap tertutup bantal.
__ADS_1
“Bodoh amat, Mas. Udah capek nungguin," ucap Ranum saat melihat pesan WhatsApp yang muncul, lalu ia letakkan lagi ponselnya tanpa membalas pesan yang masuk.
Cukup lama berselang, Ranum hampir saja tertidur saat ponselnya bergetar kembali. Ia melirik, terlihat nama lelaki yang sedari tadi ditunggu muncul pada layar ponsel.
Ranum yang masih kesal tak langsung menerima panggilan telepon Zaviyar, hingga dua kali panggilan. Panggilan ketiga baru ia angkat, itu pun setelah cukup lama ponselnya bergetar.
Sengaja Ranum mengangkat, tapi tak bersuara, ia masih menahan kesal. Berusaha sebaik mungkin untuk menutupinya. Belum lagi suaranya yang pasti akan terdengar berbeda akibat tangisan tadi.
Ranum yang memang tak bisa menyembunyikan raut wajah dan suara sehabis menangis, meski hanya setetes air mata yang keluar. Membuatnya sering kali berusaha untuk kuat dan menahan tangis agar tidak tumpah, terlebih setelah kepergian Ayahnya beberapa tahun silam.
Hal itu menjadikan Ranum belajar untuk semakin menguatkan hatinya agar tidak sampai menangis dan membuat Ibunya khawatir. Tapi, entah kenapa kehadiran Zaviyar sepertinya membuat gadis itu sedikit rapuh.
Suara Zaviyar terdengar mengucap salam yang kemudian dijawab oleh Ranum. Percakapan melalui telepon itu pun berlanjut meski Ranum hanya menjawab seperlunya. Hingga sampai pada waktu keduanya tak lagi menemukan kata untuk mencairkan suasana yang terasa kaku, karena keegoisan masing-masing yang terjadi sebelumnya. Ranum pun memberanikan diri bertanya.
“Tapi, kenapa Mas Zaviyar tiba-tiba marah sama aku? Aku yang memang sudah melakukan kesalahan besar hingga Mas Zaviyar semarah itu atau …?”
“Aku akan jelasin semuanya sama kamu saat kita ketemu nanti. Karena itu, tolong tunggu aku, Ra."
Mendengar itu, Ranum hanya mengiyakan dan tak lama sambungan telepon pun diakhiri.
***
Waktu terus berputar, hari berganti. Dua insan di kota yang berbeda melaluinya dengan hati yang sama-sama tak menentu. Ranum yang terkadang menebak-nebak akan apa yang ingin dikatakan si pemuda, sedangkan Zaviyar sibuk berpikir bagaimana merangkai kata untuk mengatakan semuanya saat nanti bertemu.
Minggu telah tiba, cuaca sepertinya cukup tahu akan dua hati yang sedang berbunga menanti hari itu.
Pagi itu, sebelum berangkat menuju desa, Zaviyar mengirim pesan WhatsApp. Ia ingin memastikan apakah hari itu Ranum memang menunggunya atau keluar untuk jalan-jalan. Tapi, Zaviyar tidak tahu bagaimana ia harus bertanya.
[Assalamu'alaikum]
[Pagi-pagi gini ngapain?]
[Bantu Ibu aja]
[Mas Zaviyar jadi ke sini?]
Senyum Zaviyar mengembang. Akhirnya pertanyaan yang diharapkan pun datang dari Ranum. Ia tak perlu bertanya lebih dulu ke mana si gadis hari itu.
[Insya Allah]
[Kalau nggak jadi, aku mau keluar.]
[Yakin mau keluar?]
[Ya ... kalau Mas Zaviyar nggak jadi ke sini, ngapain aku diam di rumah aja]
[Insya Allah, tunggu aja]
[Insya Allah]
Zaviyar hanya tersenyum membaca balasan terakhir Ranum. Ia kemudian beranjak dari duduk, masuk ke kamar mandi. Bersiap untuk bertemu dengan sang penguasa hati. Meski tugas utamanya adalah untuk melihat progress mahasiswanya, tapi saat itu Ranumlah yang utama di pikirannya.
Pak Qosim dan Bu Dini menatap putranya dengan senyum. Zaviyar yang saat itu pasti terlihat bahagia karena akan bertemu gadis desa bermata tajam itu.
"Hati-hati di jalan, jangan ngebut. Bicara yang tegas, jangan sampai ada kesalahpahaman lagi," nasehat Pak Qosim.
"Kapanpun kami siap menyusul untuk melamar," celetuk Bu Dini.
__ADS_1
Zaviyar menatap Bundanya. "Tunggu ya, Bun. Zaviyar juga ingin ngasih mantu yang baik buat Bunda."
"Feeling Bunda bilang, Insya Allah dia gadis yang baik dan cukup baik untuk jadi mantu Bunda."
"Jangan cari yang sempurna, Nak. Karena nggak akan kamu temuin yang seperti itu. Kamu pun masih banyak kekurangan. Tugasmu dan istri nanti saling melengkapi, menutupi kekurangan satu sama lain. Istri adalah pakaian terbaik seorang suami, begitupun suami yang juga menjadi pakaian terbaik istrinya. Jadi, baik-buruknya kalian, tergantung dari kalian sendiri," tutur Pak Qosim panjang.
Matanya nampak seperti sedang memikirkan sesuatu. Tak ada kata yang keluar dari mulut Zaviyar untuk menanggapi ucapan Ayahnya, hanya anggukan dari kepala menjadi jawaban.
"Iya, Yah. Zaviyar berangkat dulu, Yah, Bun." Zaviyar mencium tangan kedua orang tuanya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Mobil silver itu meluncur, membelah jalanan Kota Surabaya menuju Pasuruan. Zaviyar mengendarai mobil seperti biasa, tak terlalu cepat. Pukul 08.40 Zaviyar memasuki desa tempat Ranum dan mahasiswanya berada. Jantung Zaviyar mulai berdetak lebih kencang dari sebelumnya.
Mobil berbelok ke kiri, masuk sebuah gang. Saat melewati rumah Ranum, tanpa aba-aba kepalanya menoleh mencari keberadaan gadis itu. Tapi, tak ia temukan.
Mobil Zaviyar sampai di halaman rumah Pak Tomo, tempat di mana mahasiswanya tinggal selama KKN. Para mahasiswa telah menunggu. Saat keluar dari mobil, sang dosen muda melempar senyum pada para mahasiswa dan juga Pak Tomo serta istrinya yang baru keluar dari rumah.
Zaviyar melakukan tugas dengan baik, satu per satu ia selesaikan hingga mengunjungi TBM yang menjadi tugas proyek mahasiswa KKN saat itu pun dikelarkan. Setelah memastikan semuanya beres, jam di tangan dilirik. Ternyata sudah cukup siang, adzan Dzuhur sudah terdengar beberapa waktu yang lalu. Ia merogoh sakunya, mengambil ponsel.
[Aku udah selesai. Setelah ini, bisa kita ketemu? Tempatnya terserah kamu di mana.]
[Lho ... Mas Zaviyar udah sampai?]
[Udah dari tadi, ini tugasku baru selesai. Bisa, kan ketemu?]
[Mas Zaviyar kok, nggak ngabari dari tadi?]
[Emang kenapa? Jangan bilang kamu keluar rumah]
[Hmm ... Iya, Mas. Ini Ranum keluar nganter Ibu ke rumah saudara.]
[Kamu jangan becanda, Ra!]
[Iya, Mas. Ini aku lagi di rumah saudara antar Ibu.]
[Beneran, Ra?]
[Iya, bener]
'Ya Allah, Ra ... tega kamu,' gumam Zaviyar.
Zaviyar mengusap kasar rambutnya, membuat rambutnya sedikit berantakan.
[Ya Allah, Ra. Aku, kan udah minta kamu nungguin aku. Sekarang malah ditinggal keluar]
[Siapa suruh nggak ngabarin lagi. Tadi emang aku nunggu, tapi Mas Zaviyar nggak ada kabar. Ibu minta antar keluar, ya udah aku antar aja. Capek nungguin Mas Zaviyar nggak jelas. Lagian masa iya aku biarin Ibu keluar sendiri?]
[Okey, okey, maaf. Lama nggak?]
[Nggak tahu. Iya, sampai urusan Ibu selesai]
[Okey, aku tunggu. Nanti kabari kalau udah selesai.]
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1