Ranum

Ranum
Bagian 26 (END)


__ADS_3

Berat hati, Zaviyar menerima keinginan Ranum. Lelaki itu tidak ingin berdebat, sedangkan wanitanya belum sembuh total.


Hari berganti minggu, hingga bulan pun dilalui. Dengan sabar menunggu keyakinan dari sang wanita. Selama itu, hubungan mereka juga tetap baik. Waktu yang ada digunakan Zaviyar dengan baik, menata masa depannya bersama Ranum.


Tentu saja tidak ingin egois. Zaviyar selalu melibatkan Ranum. Mereka cukup sering berdiskusi mengenai rencana pernikahan. Juga, kehidupan selanjutnya. Tidak lupa mempertimbangkan saran orang tua.


Bu Ratih, Bu Dini, dan Pak Qosim sudah menyerahkan sepenuhnya keputusan pada anak-anak mereka. Bagi para orang tua, Zaviyar dan Ranum sudah dewasa dan cukup mengerti bagaimana baiknya. Lagi pula, kebahagian anak-anak lah yang terpenting.


Entah sudah berapa purnama dilalui. Usai sujudnya di sepertiga malam, seperti ada bisikan yang meyakinkan hati. Pikiran pun sudah jauh lebih tenang. Ranum merasa bahwa benar Zaviyar lah jodohnya. Lelaki itu sudah cukup sabar menunggu dirinya yang berulang kali diliputi kebimbangan.


Rasa bersalah menyergap. Ranum menyesal sudah mengulur waktu hingga berminggu-minggu. Beruntung Zaviyar tetap menunggu dengan setia, tanpa sekali pun protes. Malam itu juga, tak peduli pukul berapa. Wanita manis itu meraih gawainya dan mencari nomor lelaki pujaan hati.


Panggilan pertama tidak dijawab hingga sambungan berakhir. Kembali dicoba, kedua, tiga, dan baru keempat kalinya sang empu mengangkat.


"Ada apa, Ra? Kenapa kamu telepon malam-malam?" Tanpa salam, terdengar nada khawatir dari seberang telepon.


"Mas, aku siap menikah denganmu." Tidak lagi berbasa-basi, Ranum dengan tegas menyatakan kesanggupannya.


"Ra, aku nggak lagi mimpi 'kan?"


"Aku serius, Mas. Maaf, sudah membuatmu menunggu lama. Maaf, karena sudah egois. Sekarang, aku siap kapanpun Mas Zav melamar dan menikahiku." Suara Ranum mulai terdengar parau karena genangan air mata yang telah tumpah. "Aku juga siap kemanapun kamu mau membawaku, Mas."


Zaviyar tidak bisa menggambarkan bagaimana hatinya kini. Ia tidak peduli, bulir bening pun menetes pelan dari sudut mata teduhnya. Haru, juga bahagia. Serasa mimpi yang begitu indah, hingga dirinya tak ingin lagi bangun.


"Besok malam, aku dan keluarga akan ke rumahmu. Bersiaplah." Tak lama setelah itu, usai berbincang sejenak. Keduanya memutuskan mengakhiri sambungan telepon dan kembali istirahat. Menyiapkan hari esok.


Pagi-pagi sekali, tepat usai salat Subuh. Zaviyar mengutarakan maksud hati. Kejadian semalam pun ia ceritakan dengan lugas pada kedua orang tuanya dengan penuh binar.


Pak Qosim dan Bu Dini menyambutnya dengan ucapan Hamdalah dan tentu mereka bersuka cita atas keputusan Ranum.


Tidak lupa. Di kota lain, Ranum melakukan hal yang sama. Ia segera memberitahukan pada Bu Ratih kabar gembira itu dan mereka bergegas pergi ke pasar, berbelanja lalu menyiapkan hidangan untuk tamu spesial malam nanti.


Dua keluarga tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Bu Ratih dan Ranum terpaksa meminta izin dari kepala sekolah. Sedangkan di kota Pahlawan, Zaviyar masih beraktivitas seperti biasa. Pergi ke kampus dan mengajar, hanya saja hari itu mata dan bibirnya tidak bisa lagi menyembunyikan kebahagiaan yang ada.


Cincin tunangan dan barang-barang lain memang sudah lama disiapkan. Jadi, Bu Dini tinggal menatanya di rumah sembari menunggu waktu. Sesuai permintaan Ranum, seserahan hari itu cukup sederhana dan tidak banyak. Hanya sebagai simbol ikatan mereka. Selebihnya, akan diberikan di hari pernikahan.

__ADS_1


Kabar bahagia segera diberitakan pada Radit serta Arvin, yang sudah ikut andil dalam kisah asmara mereka. Zaviyar dan Ranum tidak ingin melupakan jasa kedua sahabatnya. Dua lelaki itu pun hadir dan membersamai kedatangan Zaviyar di rumah Ranum.


Usai penyambutan dan ucapan selamat datang dari pihak keluarga Ranum, yang diwakili kakak laki-laki dari almarhum bapaknya. Kini, giliran pihak keluarga Zaviyar menyampaikan maksud dan tujuan mereka datang malam itu.


Dengan hati berdebar, Ranum mendengarkan semuanya sembari tertunduk. Sesekali, ekor matanya mencuri pandang pada Zaviyar yang duduk berhadapan dengannya. Mata teduh lelaki itu tak henti memandang kagum pada wanita, yang sebentar lagi akan sah menjadi miliknya.


Cincin telah disematkan di jari manis Ranum. Hari dan tanggal pun sudah ditetapkan untuk hari bersejarah dua sejoli itu. Semua nampak bahagia, termasuk Arvin. Meski sepotong hatinya hilang, lelaki maskulin itu cukup tegar dan realistis.


Tepat satu bulan setelah lamaran, akad dan pesta pernikahan digelar dalam sehari di tempat Ranum. Dua hari berselang, baru semuanya berangkat ke Surabaya untuk acara berikutnya.


Begitu lantang dan hanya dalam satu kali napas. Zaviyar mengucapkan ikrar sucinya di depan penghulu dan para saksi. Senyum lega terkulum sempurna, menghias wajah tampannya. Pun Ranum, yang menunggu di ruang berbeda. Hingga akhirnya, di dampingi Bu Ratih dan Bu Dini, pengantin wanita berjalan dengan anggun melewati para tamu.


Gaun pengantin berwarna pastel membalut tubuh wanita manis itu. Hijab senada dengan make up natural yang nampak pas di wajahnya. Tatapan Zaviyar begitu lekat, hingga Ranum duduk di sisinya.


Sepasang pengantin itu membubuhkan tanda tangan di surat-surat yang telah disiapkan. Cincin kembali tersemat di jari manis tangan kanan Ranum. Do'a terlantun lirih dari bibir Zaviyar lalu satu kecupan lembut mendarat sempurna di pucuk kepala Ranum.


"Apa kamu bahagia, Sayang?" tanya Zaviyar saat semua acara telah rampung.


Ranum mengangguk samar lalu bergumam.


"Makasih, Mas sudah menunggu. Makasih, tidak lelah dan berhenti di tengah jalan," lirih Ranum berkata. "Makasih juga sudah menerimaku apa adanya." Ranum mengangkat kepalanya dan menengadah, menatap suami terkasih. "I love you, Mas."


Menit berikutnya, Zaviyar melayangkan kecupan lembut di bibir Ranum, sebagai balasan ungkapan hati wanitanya.


Ya, Zaviyar tidak ingin lagi banyak kata. Cukup dengan sikap dan perbuatan, akan ia tunjukkan seberapa besar kasih serta sayangnya pada Ranum. Dibelainya pipi wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya. Dengan tatapan teduhnya, Zaviyar berkata, "Aku akan berusaha menjadi imam terbaik untukmu. Terima kasih sudah memilihku."


Lagi, mereka menyatukan bibir. Kali ini, lebih lama dan mulai membakar hasrat dalam diri masing-masing. Do'a pun segera dirapalkan Zaviyar menyadari lampu hijau yang diberikan Ranum.


Dua insan itu benar-benar menghabiskan malam pertamanya dengan memadu kasih. Meluapkan seluruh cinta yang mereka punya bersama do'a dari para malaikat.


Seulas senyum terbit di bibir Zaviyar usai mencurahkan tenaganya, beradu peluh dengan Ranum. Dilihatnya wanita yang sudah pulas tepat di sampingnya.


Rengkuhan hangat ia berikan pada kekasih hati. "Makasih, Ra. Aku mencintaimu lebih dari yang kamu tahu." Tak lupa satu kecupan di kening Ranum, yang membuat istrinya menggeliat.


"Tidurlah, Sayang. Kamu pasti lelah."

__ADS_1


Tidak beberapa lama, Zaviyar pun terlelap juga dengan tangan memeluk Ranum. Lelaki itu seperti tak ingin kehilangan orang yang begitu berharga. Ia sungguh bersyukur telah dipertemukan dan dipersatukan dengan gadis desa berwajah manis itu.


Hari-hari mereka lalui bersama. Tidak selalu mulus, terkadang ada pula kerikil-kerikil kecil mewarnai rumah tangga Ranum dan Zaviyar. Pertemuan yang tidak setiap hari bisa terjadi, mengharuskan keduanya harus sama-sama mengerti. Komunikasi dan saling terbuka satu sama lain, menjadi kunci keharmonisan pasangan itu.


Waktu libur memang selalu ditunggu dan akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Quality time bagi Ranum dan Zaviyar tidak harus jalan-jalan. Kadang, mereka cukup menikmati waktu berdua di rumah, baik di Surabaya maupun di desa. Bertukar cerita dan keluh kesah, menjadi agenda mereka tiap malam, menjelang tidur. Saat terpisah, komunikasi udara tetap dilakukan dan itu cukup berhasil.


Saat libur sekolah, Ranum mengalah dan ikut Zaviyar tinggal di Surabaya beberapa hari. Keliling kota Pahlawan dan mengenalnya lebih dekat, itu yang dilakukan wanita manis itu saat Zaviyar senggang.


"Mas, makasih sudah terus sabar menghadapi aku," ucap Ranum di suatu malam saat berdua di kamar.


"Makasih juga kamu sudah jujur sama aku, apa pun kondisimu."


"Maaf, aku belum bisa menjadi istri sempurna."


"Siapa bilang?"


Ranum menunduk.


"Jangan terlalu dipikirkan. Kita baru lima bukan menikah. Masih banyak waktu yang kita punya untuk berusaha. Yang penting jangan pernah putus asa. Tetap berdo'a, minta sama Allah karena keturunan juga rezeki yang mutlak dari-Nya. Tapi, selain do'a ... jangan lupa juga usahanya." Zaviyar memainkan kedua alisnya dengan senyum jahil.


"Ih, Mas Zav. Dasar! Bilang aja kalau mau."


Zaviyar terkekeh lalu membawa Ranum dalam pelukannya. Beberapa menit mereka menyalurkan rasa melalui pelukan, tanpa kata hingga Zaviyar merenggangkan tangannya.


Dengan lembut, tangan kanannya mengelus perut Ranum seraya berdo'a, "Ya Allah, jika memang kelak Kau izinkan benihku tumbuh di rahim istri tercinta. Jadikanlah benih-benih itu anak-anak yang soleh dan solehah. Dan tolong berikanlah kesehatan untuk Ranum."


"Aamiin," jawab Ranum dengan setetes air mata yang jatuh membasahi punggung tangan Zaviyar.


"Jangan sedih. Kita usaha lagi, yuk, Sayang."


Tidak perlu jawaban, Zaviyar menarik tubuh ramping Ranum hingga terhempas di atas ranjang. Malam itu, kembali mereka melakukan ritual yang tercatat sebagai ibadah. Menuntaskan rindu yang menggebu bersama do'a dan harap yang melambung.


🌷🌷🌷🌷🌷


Terima Kasih bagi para pembaca yang sudah menyisihkan waktunya. Semoga secuil cerita ini bisa menghibur.

__ADS_1


Jangan lupa vote dan komen, ya..😁🙏


__ADS_2