Ranum

Ranum
KARTU NAMA


__ADS_3

Setelah Ranum menyerang Villa milik keluarga Wu di Violin Island, Singapura. Ranum membawa beberapa orang wanita yang tidak bisa mengendarai kapal ke teluk Keppel. Salah seorang wanita menunduk, berdiri di depan Ranum.


“Terima kasih.” Wanita itu berkata.


Ranum mengangguk. Melangkah turun dari kapal. Tiba – tiba tangan wanita itu menggenggam tangan Ranum. Ranum menatap tajam wanita yang berusia 21 tahun itu. “Aku tidak tahu harus kemana.” Wanita yang mirip dengan JU Jingyi itu akhirnya berbicara.


“Pergilah kemanapun kamu mau, selalu ada tempat untuk pulang.” Ranum menarik tangannya dari genggaman wanita itu. Berjalan meninggalkan wanita itu.


Wanita itu mengejar Ranum, menyejajari langkah Ranum. “Aku tidak memiliki tempat untuk pulang. Atau lebih tepatnya aku tidak akan diterima saat pulang.” Lanjut wanita itu berbicara ke Ranum.


“Bukan masalahku.” Ranum mempercepat langkahnya.


Wanita itu berhenti melangkah. “Aku hamil.” Lanjut wanita itu berseru.


Langkah Ranum terhenti. Wanita itu berjalan ke sebelah Ranum. “Aku tidak akan di terima dimanapun dengan kondisi seperti ini. Tempatku bekerja akan mencampakkanku saat mengetahui aku mengandung anak ini, juga orang tuaku. Mereka akan mengusirku saat mengetahui aku mengandung anak ini.” Wanita itu menunduk menjelaskan.


Ranum tetap menatap barisan kapal yang ada di dermaga. “Lalu apa maumu?”


“Aku ingin meminjam uangmu untuk aborsi. Dan aku juga butuh seseorang untuk menemaniku ke rumah sakit, ini pertama kali aku akan melakukan aborsi. Aku takut.”


“Kamu yakin ingin mengaborsi anak itu?” Ranum mengangkat wajah wanita tersebut.


Wanita itu mengangguk sambil meneteskan air mata. “Aku tidak punya pilihan lain. Aku juga tidak mengetahui siapa ayahnya. Mungkin ayahnya adalah salah satu orang yang kamu bunuh di villa itu. Pun jika anak ayah ini masih hidup atau aku mengetahui ayah anak ini, dia akan melakukan hal yang sama.”


Ranum menyeka pipi wanita tersebut. “Kamu punya pilihan.” Ranum memberikan 1000 USD ke wanita tersebut. “Jika kamu tetap ingin mengaborsi kandunganmu, pergilah ke rumah sakit. Suruh dokter itu membunuh bayi yang sedang kamu kandung. Maaf aku hanya bisa membantumu sampai disini dengan pilihan itu.”


“Tadi kamu bilang bahwa aku punya pilihan.” Wanita itu bingung.


Ranum mengangguk kemudian melangkah pergi. Wanita itu kembali menyejajari langkah Ranum. “Aku tidak mengerti apa maksudmu, kamu juga tidak memberikanku pilihan apapun.” Wanita itu berbicara ke Ranum. Ranum menghentikan sebuah taksi, segera masuk ke taksi tersebut.


“Tolong jelaskan sesuatu kepadaku.” Wanita itu berbicara dari luar taksi.


“Jawabannya ada di tanganmu.” Ranum tersenyum ke wanita tersebut. “Antarkan aku ke bandara tuan.” Lanjut Ranum berbicara ke supir taksi tersebut. Taksi itu melaju cepat, hilang di kelokan. Wanita itu mengalihkan pandangannya dari taksi yang membawa Ranum, melihat ke uang yang diberikan Ranum. Wanita itu menghitung uang tersebut, di antara lembaran uang itu terdapat sebuah kartu nama.


***


Ranum tiba di bandara Melbourne pukul 18.45 waktu setempat. Ranum tidak segera pulang ke rumahnya atau pacuan kuda, dia memutuskan untuk pergi ke makam Miranda menggunakan taksi. Setelah menempuh perjalanan sejauh 29,2KM akhirnya taksi yang membawa Ranum tiba di tempat pemakaman. Ranum menaruh bunga di makam Miranda.


“Maafkan aku baru sempat menjengukmu. Aku baru selesai melewati hari – hari yang menyulitkan. Aku sempat di penjara beberapa hari. Di dalam penjara sangat membosankan, aku tidak melakukan apapun disana selain melukai orang lain. Sama seperti yang aku lakukan tadi malam di Violin Island. Setidaknya beberapa masalah sudah selesai hari ini. Aku jadi bisa menemuimu disini.” Ranum tersenyum. “Aku sangat merindukanmu sayang, aku sangat rindu celotehanmu, manjanya kamu yang selalu menggemaskan, kelakuan kamu yang seperti anak kecil, aku benar – benar sangat merindukanmu. Aku rindu hangatnya pelukmu yang kamu berikan kepadaku setiap harinya, ciuman pagi dan malam hari yang selalu membuatku tenang. Aku merindukan semua tentangmu. Aku sangat mencintaimu Miranda Rose.” Ranum tersenyum, matanya meneteskan air mata. “Malam ini dingin sekali. Jika kamu ada disampingku saat ini, pasti kamu akan segera memelukku.” Ranum menyeka pipinya. “Kepergianmu benar – benar membuatku hilang arah. Aku benar – benar tidak lagi memiliki tujuan hidup, aku butuh kamu untuk menuntun hidupku. Apa kamu bisa kembali untuk menemaniku? Aku sangat membutuhkanmu. Kembalilah, walau hanya menjadi bayangan atau sekedar bertemu dalam mimpi.”


“Jika kamu mencintai Miranda, kamu akan selalu tahu bahwa Miranda tidak pernah menghilang atau bahkan meninggalkanmu. Kita tidak pernah kehilangan orang yang kita cintai. Miranda selalu ada menemanimu hingga saat ini. Miranda tidak menghilang dari kehidupanmu, dia hanya berada di ruangan yang berbeda darimu.” Alexa menaruh bunga di makam Miranda. “Hingga saat ini, Miranda masih mencintaimu. Dia selalu ada untukmu disaat kamu membutuhkannya, kamu hanya perlu merasakannya.” Alexa memegang lengan Ranum.


“Dulu kamu selalu belajar untuk mencintai Miranda setiap harinya. Tugasmu saat ini adalah menjaga cinta itu agar tetap hidup di dalam dirimu. Tapi kamu harus membayar dengan rasa rindu yang tidak akan pernah ada habisnya. Itu harga yang harus kamu bayarkan.” Alexa menyeka air mata di pipi Ranum. “Jadilah semakin kuat, tetap tersenyum. Miranda selalu ingin melihat senyummu setiap harinya.” Alexa tersenyum menatap Ranum. Ranum tersenyum.


“Ini kunci rumahmu.” Alexa memberikan kunci rumah Ranum. “Mau aku antarkan pulang? Aku pikir kamu tidak membawa kendaraan kesini.”

__ADS_1


Ranum mengangguk, mereka pergi ke rumah Ranum.


“Mau minum?” Ranum bertanya ke Alexa.


Alexa mengangguk. Ranum menuang whiskey ke dalam dua buah gelas, mereka duduk di sofa ruang keluarga.


“Kalian memiliki rumah yang sangat indah.” Alexa menatap sekitar rumah itu. “Kamu memiliki istri yang sangat cantik.” Alexa tersenyum menatap bingkai foto besar yang ada di dinding ruang keluarga tersebut.


Ranum tersenyum, mengangguk. “Itu foto pernikahan kami. Tepat satu minggu setelah aku melamarnya.”


“Penata rias yang merias wajahmu pasti sangat kesulitan menutup memar di wajahmu.” Alexa tertawa kecil.


“Sepertinya.” Ranum ikut tertawa. “Aku menyuruh Muhammad untuk membawamu kembali ke Indonesia. Kenapa kamu berada disini?” Lanjut Ranum bertanya sambil membakar rokoknya.


Alexa mengeluarkan sebuah koin emas berbentuk kepala serigala pemberian Ranum. “Karena ini.”


“Itu bukan sebuah petunjuk.” Ranum berbicara datar.


Alexa menggeleng. “Memang bukan. Tapi aku melihat cerminan dirimu di koin ini.”


Ranum menatap Alexa dengan wajah bingung. Alexa tertawa kecil melihat ekspresi Ranum. “Kamu sama seperti serigala. Memiliki penglihatan yang sangat tajam, selalu fokus pada tujuanmu, semua orang segan terhadapmu, dan selalu setia pada pasangan.” Alexa tersenyum menatap Ranum.


“Tidak ada hubungannya dengan kamu mengetahui bahwa aku akan kembali kesini.” Ranum menghisap rokoknya.


“Selalu setia pada pasangan.” Alexa tersenyum. “Kenapa kamu memberikan koin ini kepadaku?” Lanjut Alexa bertanya.


“Dari mana kamu mendapatkan koin ini?”


“Aku menemukannya di saku celanaku saat keluar dari penjara.”


Alexa mengembalikan koin tersebut kepada Ranum. “Simpanlah.” Alexa tersenyum. “Siapapun orang yang memberikan koin ini kepadamu. Orang itu ingin kamu menjaga koin ini.”


Ranum mengangguk, mengambil koin tersebut, menyimpan koin itu di sakunya. Kemudian obrolan antara Alexa dan Ranum terus berlanjut, hingga waktu berjalan begitu cepat.


Pukul 21.48 waktu setempat, seseorang mengetuk pintu rumah Ranum. Ranum membuka pintu rumahnya, diikuti Alexa di belakangnya. Seorang wanita berdiri di depan pintu tersebut. Wanita itu adalah wanita yang ingin mengaborsi kandungannya saat di Singapura.


“Aku tidak jadi menggugurkan kandunganku.” Wanita itu menunduk.


Alexa terkejut mendengar kalimat tersebut.


“Bagaimana kamu bisa kesini?” Ranum bertanya.


“Uang yang kamu berikan untuk mengaborsi anak ini, aku gunakan untuk membeli tiket pesawat.” Wanita itu menjulurkan kartu nama milik Ranum. “Kartu namamu terselip di antara lembaran uang yang kamu berikan. Disitu tertulis alamat rumah ini, jadi aku memutuskan untuk kemari.”


Alexa yang sudah tidak tahan dengan arah percakapan ini, memutuskan untuk pulang. “Aku rasa aku harus pamit. Aku akan menghubungimu jika ada keperluan mendesak.”

__ADS_1


Ranum mengangguk. Alexa melangkah cepat keluar dari rumah Ranum, segera memacu mobilnya keluar dari komplek tersebut. Alexa mendongakkan kepalanya, berusaha membendung air matanya yang berusaha keluar.


Tidak bisa. Alexa tidak mampu menahan air mata itu, segera air mata mengalir di pipi Alexa.


“Bodoh! Bodoh!” Alexa berseru, memukul kemudi mobilnya berkali – kali. “Ranum tidak akan pernah bisa menyukaimu! Dia hanya melihatmu sebagai wanita lemah yang dia bawa dari krowned towers! Kamu tidak pantas bersama dia Alexa! Kamu hanya wanita lemah yang terlalu berharap!” Alexa berseru, menangis dalam perjalanan pulang. Alexa memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Tanpa dia sadari mobilnya menerobos lampu merah, dengan kecepatan tinggi mobil Alexa menabrak sebuah mobil SUV yang sedang melintas di persimpangan jalan. Tubuh Alexa terlempar keluar dari jendela mobil.


Ranum yang mendengar kabar tersebut segera pergi ke rumah sakit. Didepan ruang UGD Ranum melihat Gabriel yang sedang berbicara dengan seorang pria. Ranum melangkah cepat mendekati Gabriel. “Bagaimana keadaan Alexa?” Ranum bertanya, panik.


“Saya belum tahu Tuan Muda. Belum ada kabar terbaru.” Gabriel menjelaskan. Tapi seorang pria terus mengoceh di hadapan Gabriel.


“Siapa orang ini?” Ranum bertanya ke Gabriel.


“Orang yang mobilnya di tabrak Alexa Tuan Muda.”


Ranum mengangguk. “Biar aku yang menyelesaikannya, kembalilah ke pacuan kuda.”


Gabriel mengangguk, melangkah pergi dari rumah sakit tersebut.


“Aku yang akan bertanggung jawab atas semua kerugian yang anda alami tuan.” Ranum tersenyum.


“Apa kamu tidak tahu bahwa mobil itu baru keluar dari dealer! Wanita ****** itu apa tidak memakai matanya saat berkendara!” Pria itu masih protes atas kejadian yang menimpanya.


“Jaga mulut anda tuan.” Ranum tersenyum “Aku sudah bilang, bahwa aku aka-“


“Suruh jalangmu itu berpikir saat bekendara, jangan seenaknya di jalan! Apa dia baru belajar mengendarai mobil! Wanita murahan itu sa-“ Pria itu memotong kalimat Ranum.


Tapi tidak memakan waktu lama, Ranum melayangkan tinju ke wajah pria tersebut. membuat kalimatnya terhenti. Pria itu terkapar dilantai. Ranum mengangkat kerah pria tersebut, membuat pria itu melayang di udara. “Jaga mulutmu, atau nasibmu akan sama dengan mobilmu.” Kemudian Ranum melempar pria tersebut hingga jatuh ke lantai. Pria itu langsung lari terbirit – birit dengan hidung yang mengeluarkan darah.


Hari berganti, Alexa sudah di pindahkan ke kamar rawat inap. Ranum duduk di sebelah Alexa yang mulai sadarkan diri. Alexa terbangun dengan keadaan shock. “Aku dimana?” Alexa berseru, terkejut. “Apa yang terjadi padaku!” Lanjut Alexa.


Ranum menahan pergerakan Alexa. “Tenanglah, kamu berada di rumah sakit. Kamu aman disini. Aku akan menjagamu.” Ranum tersenyum menatap Alexa.


“Apa yang terjadi padaku?” Alexa mengulangi kalimatnya.


Ranum menggeleng. “Kamu tidak apa, hanya mengalami sedikit cedera. Beristirahatlah lagi, aku akan menjagamu.” Ranum mengelus kepala Alexa.


Alexa menangis, kembali teringat kejadian di rumah Ranum.


“Kamu kenapa?”


Alexa menggeleng, tidak ingin menjelaskan.


“Kamu bisa bercerita apapun kepadaku jika ada sesuatu yang membebanimu. Mungkin dengan bercerita bisa sedikit membantu.” Ranum menyeka air mata Alexa.


Alexa tetap menggeleng, menggigit bibirnya.

__ADS_1


“Ya sudah kalau begitu, kamu harus tenang ya. Jangan memikirkan hal – hal berat. Aku akan menjagamu disini.” Ranum yang sedang memegang tangan Alexa tersenyum.


__ADS_2