Ranum

Ranum
ANAK BUNGSU KELUARGA KANG


__ADS_3

Ranum dan Himari sudah tiba di sebuah ruangan yang menyimpan serum – serum tersebut. Ranum mengambil masing – masing satu tabung berukuran 10ml yang berisi serum regenerasi dan pengatur sistem limbik. “Hati – hati dengan serum – serum ini. Tes yang kami lakukan kepada manusia belum pernah ada yang berhasil. Serum regenerasi ini baru berhasil pada heman mamalia, sedangkan serum pengatur sistem limbik ini membuat emosi penggunanya jadi kacau balau. Belum ada yang berhasil memiliki emosi seperti yang diinginkan ayahku.” Himari menjelaskan.


Ranum mengangguk. “Terima kasih Himari.” Ranum tersenyum.


Himari mencium pipi Ranum. “Aku sangat mencintaimu Ranum.” Lanjut Himari tersenyum.


Ranum mengangguk, segera keluar dari laboratorium tersebut. Tapi keadaan berubah saat pintu utama laboratorium itu terbuka. Sebuah bom meledak, tepat saat pintu utama laboratorium itu terbuka. Ranum yang berada di paling depan, segera lompat mundur dan melindungi Himari.


“Hanya segitu saja kemampuanmu Ranum Anatoly?” Pria berkulit putih mendekati Ranum. “Aku pikir hanya akan melawan keluarga Jin disini, ternyata kelaurga Loshad sudah bertamu lebih dulu.” Pria itu menyeringai. Di belakangnya ada 20 orang yang mengacungkan senjata ke arah Ranum dan Himari.


“Apa yang kamu inginkan?” Himari berseru, napasnya tersengal akibat tubuhnya tertindih tubuh Ranum yang sedang tak sadarkan diri.


Pria yang memiliki tinggi 185cm itu tertawa geli. “Apa yang kuinginkan? Apa yang kuinginkan?” Pria itu mengulang kalimatnya. “Mungkin yang aku inginkan adalah serum ini.” Pria itu mengambil serum milik Ranum yang tergeletak di lantai.


“Kenapa keluarga Kang menginginkan serum itu?” Himari kembali bertanya.


Pria itu menyeringai. “Semua orang pasti menginginkan serum ini gadis cantik.” Pria itu mengayun – ayunkan tabung serum tersebut.


Ranum mulai sadarkan diri, membuka matanya perlahan. Mengamati suara pria tersebut.


“Aku pikir disini akan terjadi pertempuran karena keluarga Loshad mencuri serum ini. Tapi tampaknya di sini terlalu tenang.” Pria itu tersenyum menatap Himari.


“Ranum tidak mencurinya. Aku memberikan serum itu secara sukarela. Kamulah yang mencuri serum tersebut!” Himari berseru kesal, tubuhnya masih tertimpa tubuh Ranum.


“Memang aku mencurinya, tapi dari keluarga Loshad. Bukan dari keluarga Jin.” Pria itu kembali menyeringai.


“Kamu salah telah memulai perang dengan keluarga kami!” Himari berseru.

__ADS_1


“Aku bisa mengarang cerita apapun, pun disini ditemuk-“ Kalimat pria itu terpotong. Ranum yang sudah mengetahui posisi pria itu dari suaranya, segera mengambil tindakan. Posisi pria itu tepat berada sangat dekat dengan jangkauan kaki Ranum, Ranum dengan cepat menendang kaki pria tersebut, membuat pria itu terjatuh dengan posisi berlutut. Ranum segera bangkit dan menodongkan pistol ke kepala pria tersebut.


“Turunkan senjata kalian semua atau otak manusia ini akan berceceran!” Ranum berseru ke semua anak buah pria tersebut.


Pria tersebut tertawa. “Memang benar kabar yang beredar bahwa keluarga Loshad memiliki monster.”


Ranum menembak telapak tangan pria tersebut. “Jatuhkan senjata kalian ke tanah!” Ranum kembali berseru. Seluruh anak buah pria tersebut melemparkan senjatanya ke depan Ranum. “Apa maumu Sung?” Lanjut Ranum bertanya. Pria tersebut bernama Sung Kang, dia adalah anak bungsu keluarga Kang, salah satu keluarga black Economy dari Korea Utara.


“Sepertinya keinginan kita sama.” Sung tertawa sambil menahan rasa sakit di tangannya.


Ranum meraih satu pistolnya lagi dari gun holster, dengan cepat menghujani anak buah Sung dengan peluru 10mm auto. “Sepertinya pelurumu habis. Dan menyisakan empat anak buahku.” Sung tersenyum, segera menghajar punggung lutut Ranum dengan sikunya. Ranum terjatuh dengan posisi satu lutut menyentuh lantai laboratorium. Sung kembali melancarkan pukulan ke arah kepala bagian belakang Ranum, membuat Ranum tersungkur ke lantai. Belum sempat berdiri, satu pukulan kembali melayang ke wajah Ranum, membuatnya terpental keluar dari laboratorium.


Ranum berada dekat dengan senapan serbu G36K milik anak buah Sung. Ranum segera meraih senapan serbu tersebut, menyerang sisa anak buah Sung yang berdiri di luar laboratorium. Ranum membalikkan tubuhnya untuk menembak Sung, tapi Ranum kalah cepat. Sung sudah melayangkan tinjuan uppercut ke arah Ranum, kembali terpental. Ranum tergeletak di tanah, menyeka ujung bibirnya kemudian berusaha bangun.


Sung tidak ingin melewatkan momen sedikitpun, dia langsung mencengkram leher Ranum. mengangkat tubuh Ranum, kemudian membantingnya ke tanah. Sung menghajar wajah Ranum yang tergeletak di tanah berkali – kali, membabi buta hingga wajah Ranum babak belur nyaris tidak dikenali.


Pesawat pilatus PC-24 mendarat di dekat laboratorium tersebut. Muhammad dan dua awak pesawat berlari menghampiri Ranum yang sudah tergeletak di emergency stretcher. “Lepaskan dia!” Muhammad menodongkan pistol ke arah Himari. “Himari, kita akan selesaikan urusan ini lain kali. Tapi kali ini biarkan kami membawa Ranum.” Muhammad mengatur intonasinya, berusaha berbicara baik – baik dengan Himari. Dua awak pesawat juga membidik dua anak buah Himari yang sedang mendorong stretcher.


Himari tertawa kecil. “Bukan aku yang melakukan ini kepada Ranum. Ini ulahnya.” Himari menunjuk mayat Sung. “Kami akan merawat Ranum, dia membutuhkan perawatan medis secepatnya.” Lanjut Himari memberi kode ke anak buahnya untuk tetap membawa Ranum masuk ke dalam laboratorium.


“Pesawat kami juga memiliki alat medis.” Muhammad menurunkan senjatanya. Diikuti dua awak pesawat, menurunkan senjata mereka.


“Aku ingin merawat Tuan Muda kalian.” Himari tersenyum, berjalan masuk ke lab, memunggungi Muhammad.


“Lalu bagaimana dengan kita Mad?” Salah satu awak pesawat bertanya.


“Kalian kembalilah duluan ke pesawat. Aku akan menjaga Ranum.” Muhammad berjalan cepat, mengikuti Himari.

__ADS_1


Dua awak pesawat itu mengangguk, kembali ke pesawat.


***


Mata Ranum mulai terbuka perlahan. Himari yang melihat Ranum siuman segera berdiri dari sofanya, menghampiri Ranum. “Hai.” Himari menyapa Ranum.


“Hei.” Ranum tersenyum, melihat sekitar. “Aku dimana?” Lanjut Ranum bertanya.


“Kamu sedang menjalankan perawatan di labku.”


“Dimana Muhammad? Aku harus memberitahunya. Dia pasti menungguku.” Ranum berusaha bangun, gerakannya terhenti karena seluruh tubuhnya terasa sakit.


“Muhammad sedang minum kopi dengan yang lainnya.” Himari memegang tangan Ranum. “Semua anak buahmu ada di lab ini. Kamu tenang saja.” Lanjut Himari menjelaskan.


“Minum kopi?” Ranum bertanya bingung. “Apa ini sudah pagi?” Lanjut Ranum bertanya.


Himari mengangguk tersenyum lebar. “Kamu sudah melewati dua malam di pulau ini.”


“Oh sial.” Ranum menggerutu. “Lalu bagaimana dengan Sung?” Lanjut Ranum bertanya.


“Semuanya sudah beres, kamu tidak perlu memikirkan hal seperti itu untuk saat ini.” Himari mengambil baki berisi cupcake yang ada di meja. “Aku buatkan spesial untukmu.” Himari tersenyum manis, tangannya menyodorkan baki tersebut ke arah Ranum.


“Astaga.” Ranum tersenyum, menutup wajahnya dengan tangan.


Himari mengangguk. “Cupcake yang dulu sering aku buatkan untukmu, cupcake stroberi.” Himari tersenyum. “Dulu kamu selalu bilang kalau cupcake stroberi buatanku tidak enak. Lalu sengaja aku taruh di dekatmu, kemudian aku pergi bersembunyi, mengintipmu dari jauh.”


“Dan kamu mengintip aku sedang menghabiskan semua cupcake buatanmu.” Ranum memotong, tertawa kecil. “Jadi selama ini kamu tahu kalau aku sangat menyukai cupcake stroberi buatanmu?” Lanjut Ranum bertanya, tersenyum.

__ADS_1


Himari mengangguk, tersenyum lebar. “Walaupun kamu selalu bilang kalau tuan Suseno yang menghabiskan semua cupcake yang tiba – tiba hilang itu.” Himari tertawa. Ranum ikut tertawa.


__ADS_2