Ranum

Ranum
Bagian 5


__ADS_3

Senja menggantikan surya di ufuk barat. Kumandang adzan terdengar di setiap penjuru desa. Ranum bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu, bersiap melaksanakan sholat. Bu Ratih menyusul Ranum ke tempat sholat setelah wudhu. Sholat berjama’ah dilakukan di rumah seperti biasa, hanya berdua. Selesai sholat dan mengaji, seperti yang sering dilakukan, Ranum masuk ke kamar dan membuka laptopnya untuk mengerjakan tugasnya. Sedangkan Bu Ratih selesai sholat langsung berangkat ke jama’ah kumpulan yasinan Ibu-ibu.


Ranum mulai membuka file yang harus dikerjakan, beberapa kali Ranum melihat ponselnya. Tak dipungkiri, dia berharap Zaviyar menghubunginya. Tak ingin larut dalam lamunan, gadis itu kembali menekuri tugasnya. Merasa sedikit lelah. Bukan hanya karena tugasnya, tapi juga karena yang diharapkan tak kunjung muncul. Akhirnya, Ranum membuka media sosialnya yang sudah lama tak dibuka untuk sedikit membunuh kejenuhan. Baru membuka aplikasi facebook, angka satu muncul di pojok kanan aplikasi Facebooknya menandakan ada inbox yang masuk. Gadis itu membukanya, terlihat foto dua orang laki-laki dengan nama Arvin.


[Hai. Boleh kenal?] Ranum membuka Inbox dari akun bernama Arvin.


[Hey] Balas Ranum.


ainbox yang didapat dijawab dengan singkat.


Setelah membalas inbox, Ranum segera keluar dari aplikasi itu dan kembali fokus pada tugasnya. Baru beberapa menit, muncul notifikasi di layar ponselnya. Dengan cepat Ranum mengambilnya, tapi sayang raut wajahnya berubah kecewa karena bukan pesan dari orang yang diharapkan.


[Kenalkan, aku Arvin. Kalau boleh tahu nama kamu siapa?] Inbox dari lelaki di facebook tadi dengan akun Arvin.


[Namaku sesuai di profil]


[Ranum?]


[Iya]


Secepatnya Ranum keluar dari aplikasi sebelum laki-laki itu membalas inboxnya kembali. Ia berusaha kembali fokus pada pekerjaan. Namun, sama halnya dengan Zaviyar di seberang sana yang terbayang akan sosok Ranum. Gadis desa itu juga, entah rasa itu benar atau salah tapi dirinya tak bisa mengelak.


Ada dorongan kuat dari dalam yang membuatnya ingin lebih mengenal sosok Zaviyar, tapi di sisi lain ia merasa takut untuk berharap lebih pada lelaki yang menurutnya nyaris sempurna itu. Ranum berusaha menghalau rasa itu agar tidak tumbuh subur di hati, takut kecewa yang begitu besar selalu muncul tiap kali hatinya berbunga saat mendapat perhatian dari Zaviyar walau sebatas chat. Logika mengatakan untuk menghindar, tapi hati menolak. Jemarinya selalu saja lebih cepat bergerak untuk membalas chat Zaviyar dibanding logikanya untuk sekedar berpikir.


Ranum masih menatap layar laptop di depannya saat adzan Isya’ terdengar. Ia beranjak dari duduk untuk sholat terlebih dulu sebelum melanjutkan tugas. Selesainya, kembali menekuri file-file di laptop yang harus segera diselesaikan. Dia tak ingin lagi memikirkan lebih dalam tentang Zaviyar, biar waktu saja yang menjawab karena Allah tahu yang terbaik. Di tengah keseriusannya merevisi beberapa laporan, kembali ponsel bergetar dan terlihat notifikasi chat whatsapp, tapi gadis manis itu masih fokus pada layar laptopnya. Karena tak ingin lagi berharap lalu kecewa. Selang beberapa menit, barulah Ranum mengambil ponsel dan membuka chatnya.


[Assalamu’alaikum] Pesan dari laki-laki uang sedari tadi ditunggu. Dengan senyum tersungging, jemarinya begitu lincah bergerak di atas layar benda pipih.


[Wa’alaikumussalam]


[Lagi ngapain, Ra?]


[Revisi laporan tadi, Mas]


[Oh. Gimana, ada yang sulit nggak?]


[Nggak kok. Cuma ada format yang dirubah sedikit, untuk isi menurutku masih sama]


[Hmm… nggak butuh bantuan dong?]


[Insya Allah enggak]


Hening, cukup lama tak ada lagi chat. Ranum yang tak ingin jatuh lebih dalam mulai menahan keinginannya untuk memancing obrolan. Namun, rupanya sang lawan juga tidak ingin berhenti begitu saja.


[Ra?]


[Iya, Mas]


[Udah tidur?]


[Belumlah]


[Kok diem?]


[Kata siapa aku diem?]


[Lah, barusan kamu diem aja nggak chat lagi?]


[Yah, kan tadi udah aku balas]


[Gitu doang?]


[ Maunya? ]


[Ya, gimana gitu]


[Gimana, gimana?]


[Nggak gimana-gimana]


[Mas Zaviyar lagi ngapain?]


[Chat kamu]


Jawaban singkat yang sontak membuat jantung Ranum seperti melompat-lompat.


‘Ranum, ayolah! Gak usah ge er! Cuma gitu doang. Bisa aja dia bilang chat kamu tapi sebenarnya keluar sama temennya, kan kamu nggak tau juga. Lagian cuma chat, Ranum. Itu cuma chat,' bisik Ranum dalam hati.


Ranum yang masih belum bisa mengendalikan degup jantungnya, kembali hilang fokus. Bukan hanya dengan tugasnya, tapi juga pada balasan yang harus ia kirim pada Zaviyar.


[Ranum?]


[Dicuekin lagi]


Ponsel yang bergetar ditangannya membuat Ranum tersentak dari lamunannya. Dua pesan Zaviyar telah masuk karena Ranum yang tak kunjung membalas.


[Iya, Mas maaf dari belakang] Ranum berkilah.


[Oh, kirain ditinggal tidur]

__ADS_1


[Mas Zaviyar nggak capek apa habis dari kampus tadi?]


[Enggak, kan udah ada obatnya]


[Apa?]


[Ada deh] Emotikon senyum muncul setelahnya.


[Bagi resep dong, aku juga butuh]


[Loh, emang kamu lagi capek?]


[Iya]


[Capek kenapa?]


[Ya ini, revisi laporan. Kemarin udah lembur-lembur ngerjain, eh sekarang masih revisi]


[Sini, sini aku kasih obat]


[Apa sih obatnya, Mas?]


[Kamu gak tahu?]


[Kalau tahu ngapain nanya] Emotikon cemberut menemani pesan Ranum.


[Yah, kok nggak tahu, sih]


[Mas Zaviyar nggak ngasih tahu, gimana aku bisa tahu?]


[Kecewa aku, Ra]


[Kok, jadi Mas Zaviyar yang kecewa? Harusnya kan aku]


[Beneran kamu nggak tahu?]


[Ya Allah, nanya lagi. Apa sih?]


[R A H A S I A !]


Ranum hanya membalas dengan emoticon sedih.


[Salah sendiri nggak tahu]


[Kok, salah aku? Kalau ada orang nggak tahu itu ya mbok di kasih tahu, katanya mau bantu kalau aku butuh bantuan. Ini nyatanya apa? Baru tanya gitu doang, malah rahasia segala] Ranum meracau dalam chatnya pada Zaviyar.


[Untuk yang ini aku nggak mau bantu, apalagi kasih tahu. Coba aja tebak sendiri]


[Ya wes apa?]


Ranum tak membalas, antara senang dan kesal beradu jadi satu dalam hatinya. Ia senang bisa bercanda dengan Zaviyar, tapi juga kesal dengan sikap dosen muda yang main rahasia padanya.


‘Hey, Ranum kenapa juga kamu kesal? Siapa kamu buat dia? Emang pantas kamu kesal sama dia cuma karena dia nggak ngomong jujur sama kamu? Hak kamu apa? Terserah dialah mau jujur kek, mau rahasia-rahasiaan kek, bukan urusan kamu!’ Ranum kembali berdebat dengan dirinya sendiri.


[Ra?]


[Hmmm]


[Ngambek?]


[Enggak]


[Tapi, kok diem?]


[Ngantuk, Mas. Mau tidur]


[Baiklah, selamat malam. Assalamu’alaikum]


[Wa’alaikumussalam]


“Udah, cuma gitu aja? Dasar cowok! Nggak peka banget sih," gerutu Ranum.


“Tapi, tunggu. Kenapa juga sih aku kesal? Sadar dong, Num! Kamu itu siapa? Kamu bukan siapa-siapa buat dia.” Ranum mencecar diri sendiri.


Setelah chat ditutup, Ranum sudah tidak lagi berminat melanjutkan pekerjaan. Ia memilih menutup laptop, meletakkan dimeja rias lalu kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuh di sana. Matanya menatap langit-langit kamar yang sederhana itu, pikirannya menerawang jauh memikirkan apa yang baru saja dilakukan. Kamar Ranum memang tidak cukup besar. Hanya mampu menampung satu ranjang ukuran kecil, meja rias, rak buku yang menempel di dinding, dan lemari baju yang juga tidak besar. Cukup lama termenung, hingga kedua netranya tak lagi mampu menahan kantuk dan ia pun tertidur dengan pikiran yang masih berkecamuk.


***


Kokok ayam mulai terdengar, suara adzan subuh memecah keheningan. Ranum mengerjap, pelan-pelan membuka mata dan segera beranjak menuju kamar mandi serta bersiap menunaikan kewajiban, bersujud pada Sang Khalik. Selesai menunaikan kewajiban, ia segera membantu ibunya bersih-bersih rumah dan memasak lalu bersiap berangkat ke sekolah.


Tiba di sekolah, Ranum menyambut anak-anak yang datang sebelum mereka masuk kelas. Lalu, ia dan pengajar lainnya memimpin dan mendampingi anak-anak melakukan senam pagi sebelum memulai kegiatan selanjutnya di dalam kelas. Senam pun usai, anak-anak berbaris rapi di depan kelas dan masuk satu per satu. Ranum yang memang tugasnya lebih banyak berurusan dengan data dan laporan, harus kembali berada di depan layar persegi berukuran 14” saat pengajar lain masuk kelas.


Ranum yang masih disibukkan dengan revisi laporan, sesekali melihat ponselnya. Entah kenapa hari itu dia begitu berharap Zaviyar mengirim pesan seperti biasa setelah yang terjadi semalam.


“Ih, dasar cowok. Habis gitu udah deh gak ada kabar. Kemarin aja dia yang selalu minta dikabarin, sekarang udah ngilang. Baru ngambek dikit udah kabur, salah dia juga kan gak ngasih tahu," omel Ranum.


“Ah, kamu kenapa sih, Num? Kamu juga yang ke-ge er-an, baru kenal udah berharap banyak. Ngaca, ngaca dong kamu itu.” Ranum masih saja ngomel pada diri sendiri.


Hingga jam sekolah usai, tak ada satu pesan pun dari Zaviyar yang diterima. Ranum pulang dengan wajah kusut, bukan lelah karena pekerjaan melainkan hati yang tak tahu diri mengharapkan sesuatu yang belum tentu pasti. Sampai di rumah, Ranum segera melaksanakan sholat kemudian makan siang.

__ADS_1


“Kamu kenapa? Wajahnya kok kayak kertas habis di remas gitu?” tanya Bu Ratih.


“Capek, Bu," kilah Ranum.


“Yo wes, cepet selesaikan makannya terus istirahat.”


“Nggeh, Bu.”


Selesai makan, ia beranjak menuju kamar. Di dalam kamar, Ranum tak bisa istirahat dengan tenang. Pikirannya entah pergi kemana, seakan tidak lagi bisa dikendalikan oleh dirinya. Kegelisahan yang tak jelas membuat dia jengkel sendiri dan akhirnya membuka kembali facebook. Lagi, dia melihat pesan masuk facebooknya.


[Aku asli Malang, kalau kamu asli mana?] Pesan yang masuk dari akun Arvin.


Ranum mendesah membaca dua pesan itu, lalu jemarinya perlahan mulai mengetik balasan.


[Aku Pasuruan. Kamu Malang mana?] Ranum membalas pesan Arvin.


Setelah membalas pesan tersebut, Ranum berselancar mencoba mencari akun dengan nama “Zaviyar.” Entah apa yang membuatnya melakukan itu, tapi jemarinya mengetik nama Zaviyar begitu saja di kolom pencarian. Namun, sayang ia yang hanya tahu nama panggilan saja, tidak bisa menemukan akun dengan nama yang kini merajai pikirannya. Kembali kecewa yang didapat. Karena hingga saat itu, lelaki dari kota pahlawan itu pun tak memberi atau bertanya kabar pada Ranum.


Ranum ingin keluar dari facebook, tapi sebelum dia menekan tombol, kembali ada pesan yang ia terima dari akun Arvin.


[Oh, Pasuruan. Aku Malang Kota. Pasuruan mana? Dekat alun-alun?]


[Enggak. Aku nggak di Pasuruan Kota, tapi Kabupaten]


Balasan terkirim dan Ranum segera menekan tombol keluar.


***


Malam pun tiba, matahari yang sudah seharian merajai cakarawala, kini digantikan sang rembulan. Ranum yang masih berharap, sudah tak terhitung berapa kali dia mengambil ponsel lalu meletakkannya kembali. Pesan yang ditunggu tak kunjung muncul di ponsel, hatinya semakin bimbang. Ada rasa jengkel, khawatir, dan tentu rindu. Sesekali Ranum membuka chat dengan Zaviyar, mengetik kata per kata. Namun, ia hapus dan terus berulang seperti itu.


“Ah, masa iya aku chat dia dulu? Malu lah. Iya kalau dia berkenan, kalau nggak?” Ranum menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Mas, kamu kenapa sih? Marah karena semalam atau kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?” Ranum berbicara sambil menatap ponselnya.


Malam itu, Ranum yang sudah tak bisa mengendalikan logika, sama sekali tak menyentuh pekerjaannya seperti biasa. Ia hanya berbaring di tempat tidur memegang ponsel dan kadang bergulung dengan selimut atau bantal dan guling menjadi sasaran tinju meluapkan kekesalan, yang ia sendiri pun tak tahu pada siapa merasa kesal. Adegan itu pun akhirnya berhenti saat mata tajamnya sudah tak bisa berkompromi lagi.


***


Adzan subuh berkumandang, Ranum masih terlelap hingga Bu Ratih masuk ke kamarnya dan membangunkan.


“Num, sudah subuh. Tumben belum bangun.” Bu Ratih mengusap lengan Ranum.


Ranum menggeliat, meraih ponsel melihat jam di layar ponselnya.


“Astaghfirullohal'adziim. Maaf, bu," ucapnya.


“Ya sudah, cepat ambil wudhu. Ibu tunggu.”


Bu Ratih keluar dari kamar yang kemudian diikuti Ranum. Seperti biasa, mereka berkolaborasi menyelesaikan tugas rumah masing-masing sebelum berangkat ke sekolah. Ibu dan anak itu berangkat bersama dan menjalankan aktivitas di sekolah sesuai tugas dan kewajiban masing-masing.


“Masih sama," ucap Ranum pada layar ponselnya.


“Hmmm…” Ranum mendesah.


Ranum yang tak ingin menyia-nyiakan waktunya lagi, segera membuka laptop dan melanjutkan pekerjaan yang semalam sudah tertunda karena pikiran yang melayang-layang tak jelas. Ranum dengan sigap menyelesaikan tugas dan segera mencetaknya.


Ia mengecek kembali hasil pekerjaannya sebelum disetor ke kecamatan. Saat sibuk dengan semua itu, ponsel Ranum bergetar. Ranum yang memang dari kemarin berharap-harap cemas, tanpa dikomando tangannya dengan cepat meraih ponsel.


[Assalamu’alaikum] Senyum Ranum mengembang membaca pesan yang ia terima.


Jemarinya begitu semangat mengetik balasan pesan tersebut, tapi belum selesai mengetik, sebuah pesan kembali masuk.


[Nungguin ya?] Emotikon senyum yang nampak giginya berjajar tiga di samping pesan yang Ranum terima.


[Nggak]


[Masa?]


[Iya]


[Itu kok, sampai lupa jawab salam?] Kali ini emotikon tertawa diluncurkan Zaviyar pada pesannya.


“Aduh, Ranum. Kok bisa lupa sih?” Ranum mengusap wajahnya dengan kedua tangan.


[Iya, lagian Mas Zaviyar. Pesan satu belum dijawab, udah kirim lagi pesan lain] Ranum memberi alasan.


[Gitu, ya?]


[Hmmm]


[Bener nggak nungguin?]


[Iya]


[Oh, ya udah]


Ranum menatap ponselnya dengan mulut sedikit terbuka saat membaca pesan balasan terakhir dari Zaviyar.


“Udah gitu aja?” ucap Ranum yang masih menatap ponselnya.

__ADS_1


“Nyebelin!”


🌷🌷🌷


__ADS_2