
Mereka tiba di lab tersebut. Muhammad yang melihat Ranum dan Himari, segera mendekat. “Biarkan aku yang mengurus Ranum, Himari.” Muhammad meminta.
Ranum menggeleng. “Biarkan Himari yang mengurusku Mad.”
“Baiklah jika itu keinginanmu.”
Himari melet ke arah Muhammad. Muhammad hanya menatap wajah wanita itu, heran.
Sesampainya di ruang perawatan, Himari membantu Ranum kembali naik ranjangnya. “Terima kasih.” Ranum tersenyum menatap Himari.
“Dengan senang hati.” Himari membalas senyum Ranum dengan senyum yang lebih manis.
Seorang dokter masuk ke ruangan tersebut. “Selamat siang Nona Muda Himari dan Tuan Muda Ranum, maaf mengganggu waktunya. Saya harus memeriksa kondisi Tuan Muda Ranum.” Dokter itu berbicara, segera memeriksa kondisi Ranum dan memberinya beberapa butir obat.
“Apa malam ini aku bisa pergi dari pulau ini dok?” Ranum bertanya.
“Maaf Tuan Muda, dengan kondisi anda saat ini, mungkin kami baru memperbolehkan anda keluar dari sini sekitar tiga hari lagi.” Dokter itu berkata.
“Aku tidak bisa menunggu selama itu dok, aku sudah merasa lebih baik. Lihatlah.” Ranum bangkit secara tiba - tiba, Ranum berteriak kesakitan. “Apa yang terjadi padaku, kenapa tubuhku terasa sakit sekali!” Ranum meringis kesakitan.
Dokter itu segera menahan tubuh Ranum. “Jangan dipaksakan Tuan Muda. Anda mengalami cedera yang cukup parah akibat ledakan tersebut. Dari diagnosa kami, anda mengalami combustio grade II 30 % TBSA. Beberapa serpihan debris logam juga di temukan di tubuh anda. Kabar baiknya, anda tidak sesak napas, tidak memiliki masalah paru, tidak ada tulang yang patah, suara serak ataupun kelainan lainnya. Frekeunsi pernapasan anda 20 - 22 kali permenit dan persentase saturasi anda berada di 99% saat di periksa menggunakan oksigen nasal 2 lpm, hemodinamik anda juga stabil, termasuk tekanan darah anda. Yang dimana itu semua menunjukkan bahwa anda tidak mengalami cedera organ dalam. Kami juga sudah memberikan beberapa injeksi yang dibutuhkan. Jadi anda akan baik – baik saja selama anda tidak memaksakan diri dan mendapatkan perawatan yang baik. Kami juga harus kembali memasang infus anda Tuan Muda.”
Ranum menggeleng. “Aku baik – baik saja.”
“Baiklah kalau begitu, setidaknya anda mau meminum obat yang kami berikan. Nanti sore jadwal anda untuk mencuci luka anda. Saya permisi dulu Tuan Muda Ranum dan Nona Muda Himari.” Dokter itu sedikit membungkuk, keluar dari ruangan tersebut.
“Kamu terjebak selama beberapa hari di laboratiorium ini bersamaku.” Himari menyeringai, bahagia.
Ranum mengacuhkan ocehan Himari. “Perasaan tadi aku baik – baik saja saat kita pergi dari sini. Kenapa sekarang jadi terasa sakit sekali.” Ranum bingung.
Himari mengangkat bahunya, tidak tahu. “Mungkin penyakitmu itu ingin kamu berada disini lebih lama lagi untuk menemaniku.” Lanjut Himari tersenyum.
“Atau mungkin tubuhku ini jadi manja ketika bertemu dokter, tubuh sialan!” Ranum menggerutu.
“Wajahmu semakin lucu jika sedang kesal seperti itu.” Himari tertawa. “Apalagi di tambah luka – luka di wajahmu itu.” Lanjut Himari masih tertawa.
Ranum hanya diam, bingung dengan kondisi tubuhnya.
“Mau aku buatkan makanan?” Himari bertanya.
“Aku tidak lapar.” Ranum menjawab singkat.
“Baiklah, aku akan menyuruh dokter untuk kembali memasang semua alat – ala itu ke tubuhmu.” Himari tersenyum.
“Oke – oke aku akan makan.” Ranum berbicara ketus.
“Baiklah, tunggu sebentar ya.” Himari segera keluar dari ruangan tersebut.
Ranum yang melihat Himari sudah keluar, segera bangkit dari ranjangnya secara perlahan. wajahnya meringis, menahan sakit. “Sial! Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku!” Ranum menggerutu kesal. Ranum meraih tiang infus untuk membantunya berjalan. Ranum keluar dari ruang perawatan tersebut, menemui Muhammad.
“Hai bos, sudah mendingan?” Muhammad menyapa Ranum, berdiri dari bangkunya.
Ranum mengangguk.
“Apa kamu ingin kembali ke Australia sekarang?”
“Tidak bisa. Dokter menyuruhku untuk tetap tinggal disini. Aku tidak tahu apa yang di jelaskannya. Yang pasti aku masih memerlukan perawatan disini sekitar tiga hari lagi.” Ranum duduk di bangku. “Apa kamu memiliki rokok Mad?” Lanjut Ranum bertanya.
Muhammad meraih bungkus rokok di sakunya, memberikan bungkusan tersebut ke Ranum. “Aku rasa kamu sudah tidak betah di tempat ini.” Muhammad tertawa kecil.
“Begitulah.” Ranum membakar rokoknya.
“Jika dilihat dari keadaanmu pada malam itu memang sangat wajar dokter itu menyuruhmu untuk tetap tinggal disini beberapa hari lagi.”
“Aku tidak selemah itu Mad.” Ranum berbicara datar.
“Karena kamu tidak lemah makanya dokter itu hanya menyuruhmu bertahan disini selama beberapa hari. Kalau aku yang berada di posisimu akan jauh lebih lama dokter itu menyuruhku untuk tetap tinggal disini.” Muhammad tertawa. “Oh iya, aku lupa menyampaikan. Kemarin Nona Dayana menghubungiku, dia sangat mengkhawatirkanmu.” Lanjut Muhammad.
Muhammad mengangguk.
“Cukup jangan lakukan itu. Jangan pernah menghubungi siapapun saat segala kondisi buruk menimpaku. Aku bisa mengatasinya.” Ranum menghisap rokoknya.
“Lalu apa yang harus aku katakan kepada mereka?”
“Apapun selain kondisi burukku.” Ranum menjawab singkat singkat.
“Kenapa kamu disini!” Himari berseru ketus, tangannya membawa baki berisi makanan. “Kamu kenapa tidak bisa diam di kamar sih Ranum?” Lanjut Himari memarahi Ranum.
“Sebaiknya aku pergi. Aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian.” Muhammad segera lari, menjauh dari Ranum dan Himari.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar.” Ranum berkelit.
“Memang rokok menghasilkan udara segar?” Himari bertanya ketus.
“Mungkin.” Ranum tersenyum melihat wajah masam Himari. “Kamu membuat makanan apa untukku?” Lanjut Ranum bertanya.
Himari menaruh bakinya di meja. “Aku membuatkanmu makizushi dan ebi furai.” Wajah Himari seketika kembali ceria. Ranum segera mengambil sepotong makizushi.
__ADS_1
“Ini sangat lezat.” Ranum kembali mengambil sepotong makizushi.
“Baguslah kalau kamu suka daging penguin yang ada di dalamnya.” Himari tersenyum.
Ranum terkejut, melepehkan makizushinya. “Kamu memakai daging penguin!” Ranum berseru, terkejut.
Himari tertawa, menggeleng. “Aku hanya bercanda. Wajahmu lucu sekali kalau sedang terkejut seperti itu.” Himari tertawa geli.
“Astaga, aku pikir serius. Jadi terbuang satu potong makizushi ini.” Ranum menyesal, kembali memakan lepehan makizushi yang berada di tangannya.
“Astaga Ranum! Itu bekas lepehanmu, kenapa dimakan lagi?” Himari terkejut melihat kelakuan Ranum.
“Tetap terasa enak.” Ranum tidak peduli, tangannya gesit meraih ebi furai.
“Aku bisa membuatkannya lagi jika ini kurang Ranum, kamu tidak perlu melakukan itu.” Himari tertawa kecil.
Ranum tidak peduli, tetap menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. Himari diam menatap Ranum, tersenyum. Himari senang Ranum sangat suka dengan masakannya.
“Apa kamu sering memasak disini?” Ranum bertanya.
“Lumayan. Ketika aku bosan dengan makanan instan, aku pasti memasak.”
“Pasti semua orang disini sangat menyukai masakanmu.” Ranum berbicara dengan mulut penuh makanan.
Himari menggeleng. “Aku tidak pernah masak untuk orang lain selain untuk diriku sendiri dan kamu.”
“Benarkah?” Ranum menatap Himari dengan pipi menggembung, penuh makanan.
Himari tertawa kecil, mengangguk. “Mungkin guru memasakku yang sering mencicipi masakanku. Itupun dengan alasan untuk menilai rasa masakanku, bukan aku buatkan khusus untuknya.” Lanjut Himari menjelaskan.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
“Karena tujuanku belajar memasak hanya untuk membuatkan makanan yang lezat untukmu kelak ketika kita sudah menikah.”
Ranum tersedak, meraih gelas minumannya.
Himari tertawa. “Aku serius Ranum.”
Ranum mengatur napasnya. “Himari dengarkan aku, di luar sana masih banyak pria yang lebih pantas untukmu. Pasti ada pria di luar sana yang bisa mencintaimu dengan tulus.”
Himari menggeleng. “Aku sudah sering mencoba untuk membuka hati untuk pria lain. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya mencintaimu Ranum. Cinta yang aku rasakan padamu bukan suatu kebohongan atau hanya karena keadaan. Aku benar – benar mencintaimu setulus hatiku. Aku tidak memiliki alasan kenapa aku mencintaimu. Tapi itu yang aku rasakan. Perasaanku ini terlalu nyata. Aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, saat umur kita masih lima tahun. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana yang aku rasakan. Tapi aku sangat mencintaimu, sesering apapun kamu menghindar, selama apapun kamu menghilang, sejauh apapun jarak kita sebanyak apapun kamu menolakku. Aku tetap mencintaimu Ranum Anatoly. Hanya kamu.”
“Hei.” Ranum memegang tangan Himari, membuat wajah Himari memerah. “Aku hanya tidak mau menyakiti hatimu. Aku tidak sebaik yang ada di benakmu, kamu tahu semua keburukanku. Aku bukan orang yang tepat untukmu.”
Himari menggeleng, tersenyum getir. “Tidak masalah. Aku paham kamu sangat mencintai istrimu. Kamu tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang. Itulah yang aku rasakan selama ini kepadamu.” Himari menarik tangannya, berlari meninggalkan Ranum. Himari meneteskan air mata.
Mereka tiba di lab tersebut. Muhammad yang melihat Ranum dan Himari, segera mendekat. “Biarkan aku yang mengurus Ranum, Himari.” Muhammad meminta.
Ranum menggeleng. “Biarkan Himari yang mengurusku Mad.”
“Baiklah jika itu keinginanmu.”
Himari melet ke arah Muhammad. Muhammad hanya menatap wajah wanita itu, heran.
Sesampainya di ruang perawatan, Himari membantu Ranum kembali naik ranjangnya. “Terima kasih.” Ranum tersenyum menatap Himari.
“Dengan senang hati.” Himari membalas senyum Ranum dengan senyum yang lebih manis.
Seorang dokter masuk ke ruangan tersebut. “Selamat siang Nona Muda Himari dan Tuan Muda Ranum, maaf mengganggu waktunya. Saya harus memeriksa kondisi Tuan Muda Ranum.” Dokter itu berbicara, segera memeriksa kondisi Ranum dan memberinya beberapa butir obat.
“Apa malam ini aku bisa pergi dari pulau ini dok?” Ranum bertanya.
“Maaf Tuan Muda, dengan kondisi anda saat ini, mungkin kami baru memperbolehkan anda keluar dari sini sekitar tiga hari lagi.” Dokter itu berkata.
“Aku tidak bisa menunggu selama itu dok, aku sudah merasa lebih baik. Lihatlah.” Ranum bangkit secara tiba - tiba, Ranum berteriak kesakitan. “Apa yang terjadi padaku, kenapa tubuhku terasa sakit sekali!” Ranum meringis kesakitan.
Dokter itu segera menahan tubuh Ranum. “Jangan dipaksakan Tuan Muda. Anda mengalami cedera yang cukup parah akibat ledakan tersebut. Dari diagnosa kami, anda mengalami combustio grade II 30 % TBSA. Beberapa serpihan debris logam juga di temukan di tubuh anda. Kabar baiknya, anda tidak sesak napas, tidak memiliki masalah paru, tidak ada tulang yang patah, suara serak ataupun kelainan lainnya. Frekeunsi pernapasan anda 20 - 22 kali permenit dan persentase saturasi anda berada di 99% saat di periksa menggunakan oksigen nasal 2 lpm, hemodinamik anda juga stabil, termasuk tekanan darah anda. Yang dimana itu semua menunjukkan bahwa anda tidak mengalami cedera organ dalam. Kami juga sudah memberikan beberapa injeksi yang dibutuhkan. Jadi anda akan baik – baik saja selama anda tidak memaksakan diri dan mendapatkan perawatan yang baik. Kami juga harus kembali memasang infus anda Tuan Muda.”
Ranum menggeleng. “Aku baik – baik saja.”
“Baiklah kalau begitu, setidaknya anda mau meminum obat yang kami berikan. Nanti sore jadwal anda untuk mencuci luka anda. Saya permisi dulu Tuan Muda Ranum dan Nona Muda Himari.” Dokter itu sedikit membungkuk, keluar dari ruangan tersebut.
“Kamu terjebak selama beberapa hari di laboratiorium ini bersamaku.” Himari menyeringai, bahagia.
Ranum mengacuhkan ocehan Himari. “Perasaan tadi aku baik – baik saja saat kita pergi dari sini. Kenapa sekarang jadi terasa sakit sekali.” Ranum bingung.
Himari mengangkat bahunya, tidak tahu. “Mungkin penyakitmu itu ingin kamu berada disini lebih lama lagi untuk menemaniku.” Lanjut Himari tersenyum.
“Atau mungkin tubuhku ini jadi manja ketika bertemu dokter, tubuh sialan!” Ranum menggerutu.
“Wajahmu semakin lucu jika sedang kesal seperti itu.” Himari tertawa. “Apalagi di tambah luka – luka di wajahmu itu.” Lanjut Himari masih tertawa.
Ranum hanya diam, bingung dengan kondisi tubuhnya.
“Mau aku buatkan makanan?” Himari bertanya.
“Aku tidak lapar.” Ranum menjawab singkat.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan menyuruh dokter untuk kembali memasang semua alat – ala itu ke tubuhmu.” Himari tersenyum.
“Oke – oke aku akan makan.” Ranum berbicara ketus.
“Baiklah, tunggu sebentar ya.” Himari segera keluar dari ruangan tersebut.
Ranum yang melihat Himari sudah keluar, segera bangkit dari ranjangnya secara perlahan. wajahnya meringis, menahan sakit. “Sial! Sebenarnya apa yang terjadi pada tubuhku!” Ranum menggerutu kesal. Ranum meraih tiang infus untuk membantunya berjalan. Ranum keluar dari ruang perawatan tersebut, menemui Muhammad.
“Hai bos, sudah mendingan?” Muhammad menyapa Ranum, berdiri dari bangkunya.
Ranum mengangguk.
“Apa kamu ingin kembali ke Australia sekarang?”
“Tidak bisa. Dokter menyuruhku untuk tetap tinggal disini. Aku tidak tahu apa yang di jelaskannya. Yang pasti aku masih memerlukan perawatan disini sekitar tiga hari lagi.” Ranum duduk di bangku. “Apa kamu memiliki rokok Mad?” Lanjut Ranum bertanya.
Muhammad meraih bungkus rokok di sakunya, memberikan bungkusan tersebut ke Ranum. “Aku rasa kamu sudah tidak betah di tempat ini.” Muhammad tertawa kecil.
“Begitulah.” Ranum membakar rokoknya.
“Jika dilihat dari keadaanmu pada malam itu memang sangat wajar dokter itu menyuruhmu untuk tetap tinggal disini beberapa hari lagi.”
“Aku tidak selemah itu Mad.” Ranum berbicara datar.
“Karena kamu tidak lemah makanya dokter itu hanya menyuruhmu bertahan disini selama beberapa hari. Kalau aku yang berada di posisimu akan jauh lebih lama dokter itu menyuruhku untuk tetap tinggal disini.” Muhammad tertawa. “Oh iya, aku lupa menyampaikan. Kemarin Nona Dayana menghubungiku, dia sangat mengkhawatirkanmu.” Lanjut Muhammad.
Muhammad mengangguk.
“Cukup jangan lakukan itu. Jangan pernah menghubungi siapapun saat segala kondisi buruk menimpaku. Aku bisa mengatasinya.” Ranum menghisap rokoknya.
“Lalu apa yang harus aku katakan kepada mereka?”
“Apapun selain kondisi burukku.” Ranum menjawab singkat singkat.
“Kenapa kamu disini!” Himari berseru ketus, tangannya membawa baki berisi makanan. “Kamu kenapa tidak bisa diam di kamar sih Ranum?” Lanjut Himari memarahi Ranum.
“Sebaiknya aku pergi. Aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian.” Muhammad segera lari, menjauh dari Ranum dan Himari.
“Aku hanya ingin menghirup udara segar.” Ranum berkelit.
“Memang rokok menghasilkan udara segar?” Himari bertanya ketus.
“Mungkin.” Ranum tersenyum melihat wajah masam Himari. “Kamu membuat makanan apa untukku?” Lanjut Ranum bertanya.
Himari menaruh bakinya di meja. “Aku membuatkanmu makizushi dan ebi furai.” Wajah Himari seketika kembali ceria. Ranum segera mengambil sepotong makizushi.
“Ini sangat lezat.” Ranum kembali mengambil sepotong makizushi.
“Baguslah kalau kamu suka daging penguin yang ada di dalamnya.” Himari tersenyum.
Ranum terkejut, melepehkan makizushinya. “Kamu memakai daging penguin!” Ranum berseru, terkejut.
Himari tertawa, menggeleng. “Aku hanya bercanda. Wajahmu lucu sekali kalau sedang terkejut seperti itu.” Himari tertawa geli.
“Astaga, aku pikir serius. Jadi terbuang satu potong makizushi ini.” Ranum menyesal, kembali memakan lepehan makizushi yang berada di tangannya.
“Astaga Ranum! Itu bekas lepehanmu, kenapa dimakan lagi?” Himari terkejut melihat kelakuan Ranum.
“Tetap terasa enak.” Ranum tidak peduli, tangannya gesit meraih ebi furai.
“Aku bisa membuatkannya lagi jika ini kurang Ranum, kamu tidak perlu melakukan itu.” Himari tertawa kecil.
Ranum tidak peduli, tetap menyantap makanan di hadapannya dengan lahap. Himari diam menatap Ranum, tersenyum. Himari senang Ranum sangat suka dengan masakannya.
“Apa kamu sering memasak disini?” Ranum bertanya.
“Lumayan. Ketika aku bosan dengan makanan instan, aku pasti memasak.”
“Pasti semua orang disini sangat menyukai masakanmu.” Ranum berbicara dengan mulut penuh makanan.
Himari menggeleng. “Aku tidak pernah masak untuk orang lain selain untuk diriku sendiri dan kamu.”
“Benarkah?” Ranum menatap Himari dengan pipi menggembung, penuh makanan.
Himari tertawa kecil, mengangguk. “Mungkin guru memasakku yang sering mencicipi masakanku. Itupun dengan alasan untuk menilai rasa masakanku, bukan aku buatkan khusus untuknya.” Lanjut Himari menjelaskan.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
“Karena tujuanku belajar memasak hanya untuk membuatkan makanan yang lezat untukmu kelak ketika kita sudah menikah.”
Ranum tersedak, meraih gelas minumannya.
Himari tertawa. “Aku serius Ranum.”
Ranum mengatur napasnya. “Himari dengarkan aku, di luar sana masih banyak pria yang lebih pantas untukmu. Pasti ada pria di luar sana yang bisa mencintaimu dengan tulus.”
Himari menggeleng. “Aku sudah sering mencoba untuk membuka hati untuk pria lain. Tapi aku tidak bisa. Aku hanya mencintaimu Ranum. Cinta yang aku rasakan padamu bukan suatu kebohongan atau hanya karena keadaan. Aku benar – benar mencintaimu setulus hatiku. Aku tidak memiliki alasan kenapa aku mencintaimu. Tapi itu yang aku rasakan. Perasaanku ini terlalu nyata. Aku sudah mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, saat umur kita masih lima tahun. Aku tidak bisa menjelaskan bagaimana yang aku rasakan. Tapi aku sangat mencintaimu, sesering apapun kamu menghindar, selama apapun kamu menghilang, sejauh apapun jarak kita sebanyak apapun kamu menolakku. Aku tetap mencintaimu Ranum Anatoly. Hanya kamu.”
__ADS_1
“Hei.” Ranum memegang tangan Himari, membuat wajah Himari memerah. “Aku hanya tidak mau menyakiti hatimu. Aku tidak sebaik yang ada di benakmu, kamu tahu semua keburukanku. Aku bukan orang yang tepat untukmu.”
Himari menggeleng, tersenyum getir. “Tidak masalah. Aku paham kamu sangat mencintai istrimu. Kamu tahu bagaimana rasanya mencintai seseorang. Itulah yang aku rasakan selama ini kepadamu.” Himari menarik tangannya, berlari meninggalkan Ranum. Himari meneteskan air mata.