
Pagi tiba, Ranum menuang kopi ke dalam cangkir lalu ke halaman belakang. Ranum terkejut saat menggeser pintu halaman belakang. “Kenapa bayi ini ada disini?” Ranum bergumam, berlari kecil menghampiri bayi Chen yang berada di halaman belakang.
“Hai kawan kecil, siapa yang menaruhmu disini?” Ranum mengangkat bayi itu dari keranjang bayi.
Olivia tertawa kecil dari pintu halaman belakang.
“Kenapa bayi ini ada disini?” Ranum bertanya.
Olivia mengangkat bahunya. “Chen yang meletakkan bayi itu disana.”
“Kenapa dia menelantarkan bayinya?” Ranum kembali bertanya. “Astaga! Bau apa ini!” Ranum berseru.
Olivia tertawa, menunjuk popok bayi tersebut.
Chen yang mendengar teriakan Ranum segera ke halaman belakang. “Ada apa?” Lanjut Chen bertanya.
“Kenapa kamu menaruh anakmu disini?” Ranum bertanya, menahan napasnya.
“Aku hanya menjemurnya.” Chen menjelaskan.
Ranum memberikan bayi itu ke Chen, menghembuskan napasnya panjang panjang. “Aku tidak menyangka kotoran bayi bisa semengerikan itu.” Ranum mengatur napasnya.
Chen dan Olivia tertawa. “Aku akan mengganti popok bayi ini dulu.” Lanjut Olivia membawa bayi itu masuk ke dalam rumah.
Chen memberikan cangkir kopi milik Ranum. “Sebaiknya kamu mencium bau kopi ini, agar menetralkan bau yang tidak sedap itu.” Lanjut Chen berkata.
Ranum meraih cangkir kopi itu, mencium bau kopi itu sebentar lalu menyeruput kopi tersebut. “Terima kasih.” Ranum duduk di bangku halaman belakang, membakar rokok.
“Kenapa kamu menjemur bayimu?” Ranum bertanya.
Chen menggeleng. “Aku hanya mengikuti kebiasaan keluargaku.”
“Tradisi apa menjemur anak bayi seperti itu?” Ranum bertanya bingung.
“Katanya sih untuk mencegah penyakit kuning, bisa memperkuat tulang dan sebagainya.” Chen menjelaskan.
Ranum mengangguk – angguk, mulai paham.
“Terima kasih telah memperbolehkan orang tuaku untuk berkunjung kesini.” Chen menatap Ranum, tersenyum.
Ranum mengangguk, menyeruput kopinya.
“Apa kamu tidak keberatan berpura – pura menjadi suamiku?” Chen bertanya.
Ranum menggeleng. “Kita sudah sering melakukan itu di luar rumah ini.”
“Jika saat itu kamu tidak menyerang villa Aiguo Wu, mungkin kehidupanku tidak akan sebaik saat ini.” Chen tersenyum.
Ranum menggeleng. “Jika aku tidak menyerang villa itu, anakmu akan memiliki seorang ayah.”
Chen menggeleng. “Kalau ayah kandung Ranum Tan masih ada hingga saat ini, kemungkinannya hanya ada dua, Ranum Tan tidak akan pernah hadir di dunia ini atau aku akan tetap hidup berdua dengan Ranum Tan tapi sangat mungkin kami akan menggelandang di jalanan.”
__ADS_1
Ranum hanya diam, menghisap rokoknya.
“Kamu pasti paham sifat dan sikap laki – laki seperti mereka.” Chen berkata.
Ranum menggeleng. “Aku tidak tahu.”
“Tidak mungkin kamu tidak tahu Ranum.”
Ranum menggeleng. “Aku tidak pandai menilai seseorang.”
Chen mengambil sebatang rokok milik Ranum. “Kamu tidak boleh merokok.” Ranum berbicara datar.
Chen tertawa kecil. “Rokok masuknya ke paru – paru Ranum.”
“Hai teman – teman!” Jarrett berseru dari pintu. “Kemarin aku kesini, tapi kamu tidak ada dirumah.” Lanjut Jarrett berbicara ke Ranum.
Ranum mengangguk. “Aku baru pulang tadi malam.”
“Kamu mau kopi Jarrett?” Chen bertanya.
Jarrett menggeleng. “Boleh aku minta beer?” Lanjut Jarrett bertanya.
“Biar dia mengambil minumannya sendiri Chen.” Ranum berbicara.
“Ranum benar, kamu baru kembali dari rumah sakit jangan terlalu banyak bergerak.” Jarrett kembali masuk ke dalam rumah, mengambil beer di kulkas.
“Kamu tidak memiliki beer kaleng?” Jarrett bertanya, muncul dari pintu.
Ranum menggeleng. “Olivia yang membeli persediaan beer itu jadi dia membeli sesuai yang biasa disediakan dimarkas.” Lanjut Ranum menjelaskan.
Ranum mengangguk. “Selama Chen dan bayinya suka dengan kamar itu, aku juga suka.”
Jarrett mengangguk. “Bagaimana keadaanmu Chen?” Lanjut Jarrett bertanya.
“Aku baik – baik saja.” Chen tersenyum.
“Apa melahirkan seorang bayi menyakitkan?” Jarrett kembali bertanya.
Ranum mengangkat tangannya yang terdapat bekas luka gigitan dan cakaran Chen.
“Astaga Ranum, apa itu ulahku?” Chen bertanya.
Jarrett tertawa. “Kamu tenang saja, dia tidak akan merasakan apa – apa akibat luka seperti itu.” Lanjut Jarrett berbicara ke Chen.
Ranum mengangguk. “Olivia yang memberitahuku, tadinya aku tidak sadar ada luka ini di tanganku.” Lanjut Ranum tersenyum.
“Maafkan aku Ranum.” Chen mengelus luka Ranum.
“Bukan masalah besar.” Ranum tersenyum.
“Kekasihku ingin memiliki anak.” Jarrett berbicara dengan wajah tegang.
__ADS_1
“Kenapa wajahmu tegang sekali?” Chen bertanya.
“Kamu tidak akan mengerti dunia kami.” Ranum menjawab pertanyaan Chen.
“Dunia kalian?” Chen bertanya bingung.
Jarrett mengangguk. “Aku takut kejadian yang menimpa Miranda juga menimpa kekasihku, maafkan aku membawa Miranda dalam pembahasan ini Ranum. Tapi itu ketakutan terbesarku.”
“Tidak masalah.” Ranum tersenyum. “Dulu manusia ini sangat sering berkunjung kesini. Hampir setiap hari. Tapi setelah memiliki pasangan, dia mulai memiliki ketakutan itu dan jadi jarang kesini karena berusaha menjaga kekasihnya.” Lanjut Ranum menjelaskan ke Chen.
Jarrett mengangguk. “Dan yang paling penting, aku tidak suka anak kecil.” Jarrett tersenyum getir.
“Memang apa pekerjaanmu Jarrett?” Chen bertanya.
“Lebih buruk dari pekerjaanku.” Ranum menjawab pertanyaan Chen.
“Lebih buruk?” Chen bertanya bingung.
Ranum mengangguk. “Aku memiliki banyak hak istimewa saat membunuh orang, aku dibantu banyak orang saat memiliki musuh, banyak orang membelaku walau aku salah. Tapi tidak ada yang membantu Jarrett saat dia sedang kesulitan. Jika kamu berpikir aku penyendiri, kamu salah. Pembunuh bayaran seperti Jarrett lah yang selalu sendiri.”
“Bukankah kamu bisa membantunya?” Chen bertanya ke Ranum.
Jarrett mengangguk. “Ranum sering membantuku, itu kenapa beberapa urusanku jadi jauh lebih mudah. Tapi resiko yang aku terima tidak akan berkurang sedikitpun.” Lanjut Jarrett berkata.
“Aku tidak mengerti tentang dunia kalian, tapi yang aku tahu kamu pasti bisa menyukai anakmu kelak.” Chen berbicara ke Jarrett. “Aku juga tidak terlalu menyukai anak kecil sebelumnya, tapi aku sangat senang saat Ranum Tan hadir di dunia ini.” Lanjut Chen menjelaskan.
“Seperti meninggalkan anakmu di halaman belakang sendirian? Itu bentuk rasa senangmu?” Ranum tertawa kecil.
“Aku sedang menjemurnya Ranum, bukan menelantarkannya. Itu demi kesehatan Ranum Tan juga.” Chen memasang wajah masam.
“Aku bergurau.” Ranum tersenyum. “Aku tidak setuju dengan Chen.” Lanjut Ranum berbicara.
“Kenapa?” Chen dan Jarrett bertanya bersamaan.
“Untuk menjadi orang tua tidak akan semudah kelihatannya, kalian memiliki tanggung jawab yang sangat – sangat besar ketika menjadi orang tua. Perjalanan menjadi orang tua sangat panjang dan akhir dari perjalanan itu hanya kematian.” Ranum membakar rokok baru.
“Bagaimana maksudmu?” Jarrett bertanya.
“Aku tahu aku belum memiliki anak, jadi ada kemungkinan apa yang aku bicarakan ini tidak baik. Tapi menurutku jangan pernah memaksakan untuk memiliki anak. Aku tahu sampai kapanpun kita tidak akan pernah siap menjadi seorang suami atau menjadi seorang ayah. Tapi setidaknya kita harus bisa mengerti diri kita sendiri terlebih dahulu, terutama emosi kita. Aku tidak tahu seberapa jauh kamu dan pasanganmu sudah mempelajari ilmu menjadi orang tua sejauh mana, kalian hanya bisa menilai diri kalian sendiri. Yang pasti aku selalu mendukung apapun keputusanmu. Tapi aku tidak akan mau mengenalmu lagi jika kamu memutuskan untuk menjadi ayah tapi tidak bisa menjadi ayah yang baik.” Ranum berkata.
“Jadi aku harus bagaimana?” Jarrett kembali bertanya.
“Kamu ingin memenuhi keinginan pasanganmu?” Ranum balik bertanya.
Jarrett mengangguk.
“Jika kamu yakin dan mau, lebih baik kalian ikut kelas parenting. Kalian memiliki waktu sangat panjang, ditambah pasanganmu akan mengandung bayi itu selama sembilan bulan. Kamu tidak usah khawatir masalah keamanan pasangan dan bayimu kelak, aku bisa memberikan pengawal untuk mereka dan asisten untuk membantu di apartmentmu.” Ranum menghisap rokoknya.
Jarrett memeluk Ranum. “Terima kasih banyak kawan.”
Ranum mengangguk, menepuk punggung Jarrett.
__ADS_1
“Yang pasti saat kamu memiliki anak nanti, jangan suruh anakmu memanggilku dengan sebutan paman.” Ranum berbicara datar.
Jarrett dan Chen tertawa.