Ranum

Ranum
PESISNULA


__ADS_3

Tiga hari setelah kejadian tersebut nomor tidak dikenal menghubungi ponsel Ranum. Ranum yang sedang merokok di halaman belakang rumahnya mengangkat telepon tersebut. “Apa anda pria yang malam itu membantu menguburkan suamiku?” Suara wanita paruh baya terdengar di ujung telepon.


Ranum mengangguk. “Ada yang bisa aku bantu?” Lanjut Ranum bertanya.


“Tadi malam rumah kami di bobol orang tidak dikenal, apa kamu bisa membantu kami?” Wanita itu bertanya.


“Aku akan segera mengirimkan orangku kesana.” Ranum mematikan ponselnya, menghubungi Gabriel lewat earpods. “Gabe kirimkan beberapa orang untuk menjaga rumah profesor yang berada di jalan Cooke, Bittern.” Lanjut Ranum berbicara.


“Berapa orang yang anda inginkan Tuan Muda?” Gabriel bertanya.


“Kirimkan lima orang, aku ingin orangmu melindungi keluarga profesor itu dengan baik. Dan satu lagi, aku ingin kamu mengirim pesan ke seluruh keluarga black economy bahwa microchip itu berada di tanganku. Ingat, berada di tanganku.” Ranum menegaskan kalimatnya.


“Siap Tuan Muda, akan segera saya laksanakan.” Gabriel menjawab tegas.


“Terima kasih banyak Gabe.” Ranum mengetuk earpodsnya.


“Siapa?” Chen bertanya.


“Istri profesor yang mengambil microchip itu, dan Gabriel.” Ranum menjawab datar, menghisap rokoknya.


“Apa mereka sedang dalam kesulitan?” Chen kembali bertanya.


Ranum mengangguk. “Tapi aku sudah mengirimkan orang ke rumahnya.” Lanjut Ranum menjawab.


“Oh iya, tadi Olivia bilang kalau orang tuaku akan kesini sehari sebelum natal. Apa kamu tidak keberatan?” Chen berkata.


Ranum menggeleng. “Kenapa aku harus keberatan?” Ranum tersenyum. “Orang tuamu juga ingin melihat cucu dan anak mereka.” Lanjut Ranum berkata.


“Terima kasih Ranum.” Chen memeluk Ranum.


Ranum mengangguk.


“Apa tulang rusukmu sudah membaik?” Chen bertanya.


Ranum menggeleng, tersenyum. “Perlu waktu lama untuk memperbaiki tulang rusuk yang patah.”


“Mau sampai kapan kamu melakukan hal seperti ini?” Chen bertanya.


Ranum terdiam sejenak. “Entahlah.” Ranum menatap Chen, tersenyum.


“Apa keluargamu tidak mengkhawatirkan keadaanmu?” Chen kembali bertanya.


Ranum mengangkat bahunya, tidak tahu. “Apa kamu mau pergi ke suatu tempat bersamaku?” Lanjut Ranum bertanya.


Chen mengangguk, tersenyum. “Aku akan mengganti pakaian terlebih dahulu.” Lanjut Chen bangkit dari kursinya.


Ranum menggeleng. “Tidak perlu, kita langsung berangkat saja.” Ranum masuk ke dalam rumah. “Olivia.” Ranum berseru.


Olivia datang dari ruang keluarga bersama Ranum Tan. “Ada apa Ranum?”


“Aku dan Chen akan pergi keluar, apa kamu tidak apa jika kami tinggal dirumah bersama Ranum Tan?” Ranum bertanya.


“Tidak masalah Ranum, sudah tugasku.” Olivia tersenyum.


“Terima kasih.” Ranum tersenyum.


Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, akhirnya Mc laren 720s spider yang di kendarai Ranum tiba di pintu utama Pesisnula Hot Springs di Springs lane, Fingal. “Bukankah kita sudah melewatkan parkiran tempat ini Ranum? Apa tidak akan ada yang marah jika kita parkir disini?” Chen bertanya.


Ranum tersenyum mendengar kalimat Chen.

__ADS_1


Dua sekuriti membuka pintu mobil Ranum. “Selamat datang Tuan Muda Ranum, senang bisa bertemu dengan anda.” Dua sekuriti itu menyambut Ranum dengan hangat.


“Terima kasih.” Ranum keluar dari mobilnya.


Manager tempat itu keluar menyambut Ranum. “Selamat datang Tuan Muda.” Manager itu tersenyum, mencium pipi kanan dan pipi kiri Ranum.


“Bagaimana kabar anda Madam Bella?” Ranum bertanya ke manager tempat tersebut.


“Seperti yang anda lihat Tuan Muda, sangat baik.” Wanita itu tersenyum. “Sepertinya kabar anda yang kurang baik.” Lanjut Wanita itu tertawa kecil.


“Begitulah.” Ranum tersenyum. “Perkenalkan ini teman saya, Chen. Dan Chen, ini manager di tempat ini, Madam Bella.” Ranum memperkenalkan Chen dan Bella satu sama lain.


“Chen Xiuhuan.” Chen tersenyum, menjulurkan tangannya.


“Bella, kamu bisa memanggilku Madam.” Madam Bella tersenyum, menjabat tangan Chen. “Kamu cantik sekali. Ranum sangat beruntung memilikimu.” Lanjut Madam Bella berkata.


“Aku hanya temannya Ranum Madam.” Chen tersenyum.


“Tidak usah malu – malu. Kalian sudah dewasa.” Madam Bella tersenyum. “Mari aku antarkan ke tempat spesial untuk kalian berdua.” Madam Bella menarik tangan Chen. Ranum mengikuti mereka dari belakang.


“Ini tenda glamping untuk kalian berdua, semoga kalian menyukainya. Jika kalian butuh sesuatu langsung hubungi aku.” Madam Bella mengedipkan mata kirinya.


“Terima kasih Madam Bella.” Chen tersenyum.


“Terima kasih.” Ranum mengangguk.


“Selamat bersenang – senang.” Madam Bella melambaikan tangannya, melangkah meninggalkan Ranum berdua saja dengan Chen.


“Tempat ini milikmu?” Chen bertanya.


Ranum menggeleng. “Milik keluargaku.” Ranum menjawab datar.


“Ikut aku.” Ranum menarik tangan Chen.


Ranum mengajak Chen berkeliling. “Kenapa tidak ada orang yang berendam di sana?” Chen menunjuk aliran sungai kecil.


“Beberapa sungai memiliki aliran air yang sangat kecil, jadi sirkulasi airnya kurang baik menjadikan sungai kotor di beberapa titik dan tidak bisa digunakan untuk berendam. Memang sengaja dibiarkan seperti itu agar membuat suasana tempat ini semakin terasa natural.” Ranum menjelaskan.


“Tempat ini luas sekali Ranum.” Chen menatap sekeliling.


“Apa kamu ingin berendam di kolam air panas?” Ranum bertanya.


Chen mengangguk.


Ranum mengajak Chen ke kolam air panas pribadi. Ranum menghubungi Madam Bella. “Madam Bella, tolong bawakan beberapa makanan dan bourbon ke private outdoor bath A2.” Ranum berkata.


“Baik Tuan Muda, segera kami kirimkan.” Suara Madam Bella terdengar di ujung telepon.


“Terima kasih Madam Bella.” Ranum mematikan ponselnya.


Ranum melepas pakaiannya, kemudian berendam bersama Chen.


“Aku sangat menyukai tempat ini, sangat tenang disini.” Chen merendam tubuh sambil memejamkan matanya. “Kenapa kamu baru mengajakku ke tempat ini?” Lanjut Chen bertanya.


“Tempat ini sangat mengingatkanku pada Miranda. Dia sangat suka tempat ini.” Ranum menjawab datar, menatap langit.


“Aku rasa semua orang akan menyukai tempat ini.” Chen tersenyum.


Ranum hanya tersenyum sambil menatap langit. “Apa kamu tahu tujuan hidupmu?” Ranum bertanya.

__ADS_1


“Entahlah.” Chen menjawab singkat. “Bagaimana denganmu?” Lanjut Chen bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku juga tidak tahu.” Ranum membakar rokoknya. “Kenapa kamu tidak tahu tujuan hidupmu?” Lanjut Ranum bertanya.


Chen tersenyum. “Aku hanya wanita biasa yang kamu pungut dari rumah bordil.”


“Aku tidak suka kalimatmu.” Ranum berbicara tegas.


“Kenyataannya seperti itu Ranum.” Chen tersenyum.


“Aku tidak memungutmu dan aku bertemu denganmu di kapal bukan rumah bordil. Aku tidak ingin mendengar kata - kata itu lagi.” Ranum kembali menegaskan.


Chen tersenyum. “Terima kasih Ranum.” Chen menggenggam tangan Ranum. “Kenapa kamu tidak tahu tujuan hidupmu?” Chen bertanya.


Ranum tersenyum. “Entahlah, aku merasa hidupku hampa, tidak memiliki apapun untuk di pertaruhkan dan diperjuangkan.”


Chen tertawa kecil. “Kamu memiliki segalanya Ranum, tidak mungkin hidupmu hampa.”


“Entahlah, tapi aku merasakan kehampaan itu.” Ranum menghisap rokoknya sambil menatap langit.


“Hal apa yang membuat hidupmu tidak hampa?” Chen bertanya.


“Bersama Miranda.” Ranum menjawab singkat.


“Selain itu.”


Ranum tersenyum, menggeleng.


“Apa maksud gelenganmu itu?” Chen bertanya.


“Miranda satu – satunya alasan hidupku menjadi berwarna.” Ranum tersenyum menatap langit – langit.


“Apa tidak ada hal yang lebih berarti selain Miranda?” Chen kembali bertanya.


Ranum menggeleng. “Sebelum bertemu Miranda aku juga sudah merasakan kehampaan ini. Hingga saat ini hanya Miranda yang bisa memberikan warna di hidupku.”


“Cobalah untuk membuka hatimu Ranum, Miranda juga ingin melihatmu bahagia dari surga.” Chen berkata.


Ranum tersenyum. “Entahlah, aku tidak merasakan apapun pada siapapun.”


“Gunakan cara yang sama seperti saat pertama kali kamu belajar membuka hati untuk Miranda.” Chen berkata.


Ranum hanya diam, menatap langit.


“Permisi, saya mau mengantarkan pesanan Tuan Muda Ranum.” Dua orang pelayan menghampiri Ranum dan Chen.


Ranum mengangguk.


Pelayan – pelayan itu menghidangkan makanan di meja dekat kolam.


“Terima kasih.” Ranum memberikan tip ke masing – masing pelayan.


“Terima kasih banyak Tuan Muda.” Dua pelayan itu membungkuk.


Ranum mengangguk, menuang whiskeynya ke dalam gelas. “Apa kamu ingin makan sekarang?” Lanjut Ranum bertanya.


Chen mengangguk, keluar dari kolam.


Mereka menikmati hidangan yang telah disajikan dengan lahap sambil bercakap – cakap ringan.

__ADS_1


__ADS_2