Ranum

Ranum
UJUNG PULAU


__ADS_3

“Mau jalan - jalan?” Himari bertanya. “Cuaca di pulau ini sedang bagus.” Lanjut Himari tersenyum.


Ranum mengangguk. Perlahan bangkit dari ranjangnya, melepas seluruh kabel dan selang yang ada di tubuhnya, kemudian duduk di kursi roda yang disediakan Himari.


“Kenapa tidak pakai kursi roda itu?” Ranum menunjuk sebuah kursi roda elektrik.


Himari menggeleng. “kursi roda konvensional pasti lebih menyenangkan.” Lanjut Himari tersenyum.


Sebuah helikopter membawa mereka berdua ke ujung pulau. Himari mendorong kursi roda Ranum ke tepian tebing pulau Antipodes. “Kamu tidak sedang ingin mendorongku ke laut itu kan?” Ranum tertawa kecil, bergurau.


Himari berdiri di samping kursi roda Ranum, menggeleng. “Karena sudah ketahuan, aku mengurungkan niatku itu.” Himari tertawa kecil. Mereka berdua menatap laut lepas. “Indah bukan?” Tanya Himari.


Ranum mengangguk, tersenyum.


“Lihatlah koloni penguin di sana.” Himari menunjuk sisi lain tebing. “Hanya koloni penguin jambul tegak yang bisa bertahan hidup disini.” Lanjut Himari menjelaskan.


“Oh ya?” Ranum penasaran.


Himari mengangguk. “Penguin Jambul bertelur dua, tetapi satu telur memiliki ukuran lebih besar dari telur lainnya dan biasanya hanya satu telur yang dibesarkan.”


“Seberapa besar perbedaan telur yang satu dengan yang lainnya?” Ranum bertanya.


“Telur kedua selalu memiliki ukuran lebih besar sekitar 80 persen.” Himari menjelaskan. “Tapi uniknya dari penguin ini, mereka selalu kehilangan telur pertama mereka yang berukuran lebih kecil.” Lanjut Himari.


“Hilang kemana?” Ranum bertanya.


Himari menggeleng. “Belum ada yang tahu pasti kemana telur pertama penguin jambul menghilang. Mungkin telur yang berukuran kecil tidak siap diinkubasi, mungkin juga karena mengerami dua telur akan menguras banyak tenaga si induk penguin tersebut, maka dari itu mereka mengorbankan telur yang lebih kecil.” Himari menerka – nerka.


“Mungkin telur pertama hanya untuk memanipulasi predatornya, atau induk penguin jambul tegak itu sengaja mengorbankan telur pertama mereka untuk predator mereka. Dari tadi aku memperhatikan koloni penguin itu, mereka sangat terganggu dengan keberadaan burung skua dan giant petrels yang terbang mengelilingi mereka. Tidak jarang dari penguin itu yang berusaha mengusir burung – burung tersebut.” Ranum ikut menerka – nerka.


“Masuk akal.” Himari tersenyum. “Kamu selalu melihat semua hal dari sisi sadisnya ya.” Himari tertawa.


Ranum menggeleng. “Aku hanya berspekulasi.”


“Hei.” Himari duduk di batu, menatap Ranum.


Ranum menoleh, menggeser kursi rodanya menghadap Himari.


“Apa kamu rindu istrimu? Mau menghubunginya?” Himari menyodorkan sebuah ponsel.


Ranum tersenyum. “Aku harap aku bisa.” Ranum tidak mengambil ponsel tersebut.


“Tentu kamu bisa menghubunginya lewat ponsel ini.”

__ADS_1


Ranum tersenyum, menggeleng pelan.


“Tidak perlu sungkan, mungkin aku akan cemburu. Tapi aku paham, dia istrimu.” Himari masih menyodorkan ponsel tersebut. “Dia pasti sangat mengkhawatirkanmu saat ini.” Lanjut Himari.


“Tentu dia mengkhawatirkanku, dari dunia yang berbeda.”


“Dunia yang berbeda?” Himari bertanya, bingung.


“Dia sudah meninggal beberapa bulan yang lalu.”


“Aku turut berduka atas kehilanganmu.” Himari menatap Ranum.


“Tidak masalah.” Ranum tersenyum.


“Apa kamu merindukannya?” Himari bertanya.


“Selalu.”Ranum tersenyum menatap laut lepas.


“Cincin yang di kelingkingmu itu...” Himari tidak menyelesaikan kalimatnya.


Ranum mengangguk. “Milik istriku, Miranda.”


“Termasuk kalung yang kamu kenakan?”


Himari menggeleng. “Sejauh yang aku tahu, hanya ada beberapa jenis burung yang hidup disini. biasanya ada anjing laut gajah. Mungkin mereka sedang migrasi makanya tidak terlihat. Atau berada di sisi lain pulau ini.” Himari menjelaskan, semangatnya mulai kembali.


“Tidak ada hewan darat?”


Himari menggeleng. “Sejauh yang aku tahu tidak ada hewan lain yang hidup disini selain burung, serangga dan anjing laut gajah. Pun jenis serangga disini dapat dihitung dengan jari karena terlalu sedikit. Mungkin sulit bagi hewan darat untuk bertahan hidup di pulau subantartika seperti ini.”


Suasana lengang sejenak, hanya terdengar deburan ombak dan dan suara angin yang cukup kencang. Tiba – tiba Ranum tertawa kecil, teringat masa lalunya. “Saat usiaku delapan tahun, ayahku pernah melemparku dari atas tebing, mungkin setinggi tebing ini. Sangat cukup untuk membunuh anak berusia delapan tahun.” Ranum tertawa kecil.


“Apa!” Himari terkejut mendengar kalimat Ranum.


Ranum menggeleng, tertawa kecil. “Dia tidak bermaksud membunuhku. Dia hanya menguji nyaliku dan Kripala. Kripala juga di lempar dari atas tebing bersamaku, itu kali kedua Kripala di lempar dari atas tebing. Lemparan pertamanya, dia rasakan saat berusia enam tahun, dua tahun lebih muda dari lemparan pertama yang aku dapat. Ayahku juga ikut melompat bersama Aku dan Kripala.” Lanjut Ranum menjelaskan.


“Dayana dan Arsyanendra tidak ikut bersama kalian?” Himari bertanya.


“Mereka ikut. Tapi saat itu Arsyanendra masih berusia tiga tahun, jadi tidak ikut di lempar bersama kami. Arsyanendra mendapatkan lemparan pertamanya saat berusia tujuh tahun berbarengan dengan lemparan kedua yang aku terima. Kalau Dayana tidak pernah mendapatkan lemparan dari tebing, ibuku sangat melarang ayahku untuk melempar Dayana.”


“Apa terasa sakit saat tubuhmu terbentur air?” Himari bertanya penasaran.


Ranum menggeleng. “Hanya terkejut. Karena itu sangat tiba – tiba.” Ranum tertawa kecil. “Untungnya kami sudah diajarkan berenang sejak kecil, setidaknya kami bisa berusaha bertahan di dalam laut. Tapi sulit untuk tubuh kecil kami saat itu untuk melawan ombak yang cukup besar. Kami di biarkan bertahan di laut itu selama sepuluh menit. Lemparan kedua kami dibiarkan di laut lepas selama dua puluh menit.” Lanjut Ranum menjelaskan.

__ADS_1


“Apa hanya dua kali lemparan?”


Ranum menggeleng, tersenyum. ”Sisanya kami lompat sendiri dari atas tebing, lalu lomba berenang hingga pulau terdekat. Itu sangat menyenangkan. Walaupun aku belum pernah menang melawan Kripala.” Ranum tertawa kecil.


“Ayahmu sadis sekali.”


Ranum tertawa. “Bisa dibilang begitu. Tapi karena latihan – latihan kecil seperti itu, kami jadi siap dalam kondisi apapun.”


“Kecil!” Himari terkejut dengan kalimat Ranum. “Tebing ini tingginya hampir tiga ratus meter Ranum. Jika tebing ini sama dengan tebing tempat melemparmu, itu sangat berbahaya untuk anak seusiamu dulu.” Himari heran dengan Ranum yang terlihat santai.


Ranum mengangguk. “Aku bersama adik dan kakak - kakakku sudah terbiasa dengan hal – hal ekstrem. Kami selalu latihan perang menggunakan peluru karet dan tidak mengenakan pengaman apapun, hanya mengenakan pakaian sehari – hari. Kami juga biasa berlatih tarung tanpa pengaman dan tanpa belas kasih.”


“Itu alasan kamu sering babak belur dari kecil?” Himari tertawa kecil.


Ranum mengangguk. “Sangat sulit melawan Kripala.” Ranum tertawa kecil. “Kami juga sering sky diving, masing – masing dari kami diberikan satu buah parasut, tapi hanya dua parasut yang bisa digunakan. Kami tidak diberitahu parasut siapa yang bisa di kembangkan sedangkan kami diterjunkan sendiri – sendiri. Jadi kami harus mengejar satu sama lain di udara, dan sangat membutuhkan kerjasama yang baik. Jika salah satu dari kami melakukan kesalahan, akan sangat berakibat fatal.”


“Tapi hingga saat ini, kalian berempat masih hidup. Itu tandanya kalian berhasil dan bisa bekerjasama.” Himari tersenyum lebar.


Ranum mengangguk. “Bisa dibilang seperti itu. Tapi karena hal – hal mengerikan itu, aku lebih suka bekerja sendirian, agar meminimalisir dampak yang akan terjadi. Setidaknya tidak ada yang perlu berkorban dan dikorbankan. Selain itu, membuat pekerjaanku semakin mudah karena tidak memikirkan orang lain.”


“Seperti saat kamu lompat untuk melindungiku saat bom pada malam itu meledak?” Himari menatap Ranum.


Ranum menggeleng. “Aku tidak melindungimu. Aku hanya asal lompat dan kebetulan tanganku menarik tubuhmu.” Ranum berkelit.


Himari tertawa. “Jelas kamu berusaha melindungiku yang sedang berdiri disebelahmu. Kalau itu hanya reflekmu yang kebetulan, kamu akan menaruh tubuhku diatas, bukan berusaha menutupi tubuhku dengan tubuhmu.”


“Tubuhmu terlalu kecil untuk menutupi tubuhku. Itu akan sia – sia.” Ranum menjawab datar.


Himari tertawa. “Selalu tidak mau terlihat perhatian. Salah satu bagian dari dirimu yang paling aku suka.”


“Sebaiknya kita kembali. Anginnya semakin kencang.” Ranum berkata.


“Jujur dulu. Kamu sengaja melindungiku kan pada malam itu?” Himari tertawa, mendesak Ranum.


“Tidak.” Ranum menjawab singkat, memutar kursi rodanya menghadap helikopter yang menunggu mereka.


“Kamu sengaja kan?” Himari masih mendesak, berjalan mengikuti Ranum yang mulai mengayuh kursi roda.


“Hanya kebetulan.” Ranum menjawab datar.


“Apa susahnya sih untuk jujur.” Himari terus mendesak, mulai membantu mendorong kursi roda Ranum.


Ranum hanya diam, mengabaikan ocehan Himari yang terus mendesaknya. Mereka menaiki helikopter, kembali ke laboratorium.

__ADS_1


__ADS_2