
Rembulan tak lagi terlihat di sudut langit. Mentari telah menyapa bumi, menyembulkan sinarnya yang hangat. Ranum sudah terlihat lebih segar dan siap berangkat ke sekolah. Teringat akan percakapan semalam dengan lelaki yang selalu mendebarkan jantungnya, membuat gadis manis itu senyum sendiri. Namun, juga khawatir memikirkan apa yang sebenarnya akan dikatakan Zaviyar nanti.
Ranum melangkah dengan pasti menuju sekolah. Dengan senyum manis, ia lalui aktivitas seperti biasa. Denting waktu terus berputar, hingga jam sekolah usai guru muda itu tak henti menyunggingkan senyum. Hatinya kini berbunga, angannya kembali melayang atas ucapan-ucapan Zaviyar semalam.
“Jangan baper, Num. Nanti kecewa lagi, sakit hati lagi," lrihnya.
Satu per satu pengajar yang lain masuk ke ruang guru setelah semua siswa pulang.
“Bu Ranum jadi kapan ke Malang?” tanya Bu Sri.
“Insya Allah besok saja, Bu.”
“Bu Irna, apa uangnya sudah disiapkan?” Bu Sri mengarahkan pandangannya pada Bu Irna.
“Sudah, Bu. Ini.” Bu Irna meletakkan amplop berisi uang di atas meja depan Bu Sri.
“Oh iya, terima kasih, Bu.” Bu Sri mengambil amplop tersebut dan memberikan pada Ranum.
“Ini, Bu Ranum. Untuk bukunya seperti apa, terserah Bu Ranum saja besok. Bu Ranum bisa melihat-lihat dulu mana yang cocok untuk anak-anak.”
“Baik, Bu.”
***
Petang menjelang, suara adzan kembali menggema menandakan panggilan Sang Rabb telah datang. Ranum dan Ibunya telah bersiap melakukan sholat. Do’a pun mereka panjatkan sebelum mengakhiri munajatnya pada Sang Khalik.
Hati Ranum yang seolah dihiasi bintang-bintang sejak obrolannya dengan Zaviyar semalam, beberapa kali terlihat senyum-senyum sendiri di kamar. Meski seharian belum ada kabar dari lelaki yang kini mengisi relung hatinya. Tapi, ia merasa tenang tanpa ada pikiran negatif berkeliaran di benaknya.
Ranum yang hari itu lebih santai, duduk di kasur lalu mengambil ponsel yang diletakkan di sana. Ia membuka aplikasi facebook yang sudah cukup lama dianggurin. Nampak sudah ada satu inbox yang masuk.
[Oh Kabupatennya. Pernah main ke Malang?] Pesan yang terlihat pada inbox dari Arvin. Nampak tanda hijau pada foto profil akun itu, menandakan sang empu tengah aktif.
[Pernah, lumayan sering]
[Ke mana?] tanya Arvin.
[Bisa ke toko-toko buku, Matos, atau sekitaran Alun-alun situ]
[Keliling dong? Hehehe]
[Iya]
[Nggak ada rencana ke Malang dalam waktu dekat ini?]
[Insya Allah besok]
[Beneran?]
[Iya]
[Sama siapa?]
[Sendiri]
[Naik apa?]
[Motor]
[Oh. Boleh ketemu?]
[Mau ngapain?]
[Ya ketemu aja, biar makin kenal. Siapa tahu kapan-kapan kamu pas ke sini lagi butuh bantuan, kan enak kalau ada yang kenal]
[Ehm …]
[Lihat besok aja, ya] Lanjut Ranum pada chatnya dengan Arvin.
[Ada WA? Biar enak kalau ngabarin]
[Aku kabari di sini aja, sama aja, kan?]
[Okey, nggak apa-apa]
Di tengah chatnya dengan lelaki di dunia maya, tiba-tiba ponsel Ranum bergetar kembali tapi kali ini bukan karena inbox yang masuk. Satu panggilan terlihat di layar ponselnya, ia menggeser tombol hijau lalu mendekatkannya ke telinga.
“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikumussalam. Lagi sibuk nggak?”
“Enggak kok, Mas. Santai aja nih.”
“Tumben?”
“Udah kelar laporan yang kemarin. Sekarang udah agak senggang, kerjaannya cukup di sekolah aja.”
“Syukurlah, kamu bisa lebih santai.”
“Iya, Mas.”
“Udah makan?”
“Udah, Mas.”
“Udah sehat?”
“Alhamdulillah, tadi juga masuk sekolah.”
“Alhamdulillah.”
“Mas Zaviyar sendiri lagi ngapain?”
“Lagi telepon kamu, masih nanya.”
“Maksudnya lainnya, Mas.”
“Nggak ada, duduk dan telepon kamu aja.”
“Oh.”
“Bunder.”
“Apanya, Mas?”
“Kamu bilang ‘O’ kan bentuknya bunder. Bulet, Ra.”
“Ih, Mas Zaviyar mah.”
“Ya, kamu jawabnya ‘Oh’ aja.”
“Ya, wes ganti ah.”
__ADS_1
Zaviyar terkekeh mendengar suara Ranum.
“Kok, ketawa, Mas?” Suara Ranum mulai terdengar kesal.
“Ya, kamu lucu. Masa ‘ah’ gitu?”
“Mas Zaviyar yang mulai.”
“Kamu juga ada-ada aja, nggak ada lainnya apa?”
“Emang mau aku jawab apa?”
“Apa, ya?”
“Tau deh”
Hening sesaat. Dua insan itu seperti kehabisan kata-kata, bingung untuk berbicara tapi enggan untuk mengakhiri sambungan telepon.
“Mas Zaviyar tiap hari jam kuliahnya penuh, ya?” Ranum memulai memecah kebekuan.
“Enggak, ada juga yang nggak penuh. Kayak waktu itu, pas aku pulang dari desa kamu.”
“Kalau pas penuh selesai sampek jam berapa?”
“Jam lima sore, tapi kadang sampek rumah Isya atau setelahnya.
“Nongkrong dulu?”
“Iya, kadang-kadang sama teman. Ada satu teman udah deket sama aku dan keluarga sejak kuliah dulu. Jadi, kadang kalau lagi bosen, ya nongkrong dulu sama dia.”
“Oh gitu?”
“Iya. Kamu sendiri kalau lagi capek atau bosen nggak keluar gitu?”
“Ya keluar, kadang sama Bu Cici, kadang juga sama teman yang lain.”
“Sering-sering keluar kalau lagi jenuh, biar refresh, nggak suntuk, nggak stress.”
“Iya, Pak Zaviyar.”
Keduanya tertawa. Lalu terdengar suara Bu Ratih memanggil Ranum.
“Num, kamu masih sibuk? Nggak sholat dulu?”
“Oh iya, Bu. Bentar.”
Zaviyar yang mendengar itu, menyahutnya. “Ini, Bu anaknya sibuk teleponan.”
“Yeee, siapa juga yang telepon duluan?”
“Iya, iya, aku.”
“Ya udah, Mas. Tutup dulu ya teleponnya.”
“Okey.”
“Mas Zaviyar jangan lupa juga sholatnya.”
“Pasti.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Ranum yang sudah berencana akan pergi ke Malang esok hari. Memilih tidur lebih awal agar esok tidak terlambat dan segar saat berjalan-jalan di kota dingin.
***
Hari telah berganti, sang fajar menyingsing. Ranum yang sudah selesai mandi dan berganti baju, mengambil sebuah tas. Ia masukkan dompet, tisu, powerbank untuk antisipasi jika ponselnya kehabisan baterai.
Setelah dirasa semua perlengkapannya masuk dalam tas. Ranum menuju dapur untuk sarapan. Bu Ratih yang sudah berangkat ke sekolah telah menyiapkan makanan di meja untuk sarapan putrinya itu.
Ranum melihat jam di dinding, waktu menunjukkan pukul 7.30. Bedak tipis pada wajah, lipstick dengan warna natural, kerudung hitam menutup kepala melengkapi penampilannya. Tak lama ia sudah terlihat rapi dan lebih anggun dari biasanya yang selalu berpenampilan sederhana dan jarang memakai makeup. Ranum bergegas mengeluarkan sepeda motornya dari rumah untuk dikendarai menuju kota Malang.
Lebih kurang satu jam dua puluh menit waktu yang ditempuh Ranum dari rumahnya hingga sampai di Malang dan langsung menuju toko buku yang biasa dikunjungi. Tiba di parkiran, Ia menyempatkan membuka facebook.
[Jadi ke Malang?] Inbox dari Arvin.
[Jadi. Ini udah di Malang]
[Di mana?]
[Di toko buku Dieng]
[Aku ke sana, ya?]
[Entar aja kalau mau ketemu, setelah selesai]
[Okey. Aku tunggu kabarnya]
Ranum yang memang suka membaca, sering kali lupa waktu jika berada di toko buku. Gadis itu melirik jam di tangannya, ternyata sudah cukup lama berada di sana dan tak terasa sudah lewat waktu dzuhur. Menyadari itu, ia segera menyelesaikan keperluannya dan bergegas menaiki motor menuju Masjid Agung Malang.
Tidak lebih dari lima belas menit Ranum tiba di masjid, secepatnya masuk untuk menunaikan kewajiban.
Suasana yang sejuk di dalam masjid membuat Ranum ingin sedikit lebih lama berada di sana. Ia mengambil ponsel yang tadi dimasukkan terlebih dulu ke dalam tas sebelum sholat. Membuka kembali inbox dari Arvin.
[Aku udah selesai. Ini di Masjid depan Alun-alun]
Beberapa menit tidak ada jawaban. Ranum yang duduk di bagian paling belakang, menyandarkan punggungnya pada tembok masjid.
[Okey. Aku ke sana]
[Kamu pakek baju apa?]
[Whatsapp aja bisa? Ini nomorku …]
Pesan dari Arvin diterima. Entah apa yang ada di pikiran Ranum, ia seperti menyambut uluran tangan dari Arvin. Jemarinya menekan beberapa nomor pada ponsel lalu menyimpannya. Sejurus kemudian satu pesan terkirim pada sang pemilik nomor.
[Assalamu’alaikum. Ini nomorku, Ranum.]
Lalu Ranum menambahkan foto dirinya selfie tapi dengan gaya menyamping, sehingga wajahnya tidak terlihat jelas.
[Wa’alaikumussalam. Okey, aku ke sana. Tunggu di alun-alun sebelah barat, yang dekat dengan masjid aja]
[Okey]
Ranum beranjak dari duduknya dan keluar dari masjid. Ia berjalan menuju bangku di alun-alun yang tak jauh dari tempat parkir motornya tadi. Tak butuh waktu lama, terlihat sosok lelaki dengan wajah cool, memakai kaos putih yang dipadu dengan jeans biru gelap, postur tubuh cukup tinggi, dada yang bidang, dan tangan kanannya memegang ponsel sedang berjalan ke arahnya. Ranum memperhatikan lelaki itu.
“Hai. Ranum?” sapa lelaki itu.
“Eh … iya. Kamu …?” Ranum mengerutkan dahi.
__ADS_1
“Arvin.” Lelaki itu menyunggingkan senyum.
“Oh, Kamu Arvin?”
“Iya, aku Arvin. Kenapa? Kok sepertinya kaget.”
“Enggak apa-apa, aku pikir bukan kamu.” Ranum tersenyum kikuk.
“Kamu nggak lihat fotoku di facebook?”
“Enggak” Ranum nyengir.
“Oalah. Ya udah, sekarang mau ke mana?”
“Terserah.”
“Udah makan belum?”
Ranum menggeleng. “Tadi habis dari toko buku langsung ke masjid sholat dulu, soalnya nggak terasa ternyata udah siang aja.”
“Okey, kalau gitu kita cari tempat makan dulu. Motor kamu mana?”
“Itu” Ranum menunjuk sebuah motor di parkiran yang memang tak jauh dari tempat ia menunggu Arvin.
“Mau aku bonceng atau naik motormu sendiri?”
“Naik motorku sendiri aja. Emang mau makan di mana?”
“Di daerah Merjosari, di sana banyak tempat yang bagus dan enak buat makan sekaligus ngobrol.”
“Okey.”
Mereka berjalan menuju motor masing-masing. Arvin mengendarai motornya di depan Ranum, melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat yang tadi disebutkan.
Tiba di tempat yang dituju, terlihat sudah banyak pengunjung yang memenuhi kafe tersebut. Arvin mengajak Ranum masuk dan mencari tempat duduk yang nyaman.
“Silakan.” Arvin menarik kursi untuk Ranum.
“Terima kasih.”
“Mau pesan apa?”
“Terserah kamu aja.”
“Aku nggak tau apa yang kamu suka, entar nggak mau lagi.”
“Makanan apa aja aku bisa makan kok. Jadi, tenang aja.” Ranum tersenyum.
“Okey, kalau begitu.”
Arvin menuju ke meja pemesanan, tak lama ia kembali dan mengambil kursi di depan Ranum.
“Suka baca buku, ya?”
“Lumayan.”
“Pantes kalau betah di toko buku. Aku pikir kamu tadi udah pulang.”
“Hehe, maaf.”
“Nggak masalah. Sebenarnya tadi aku mau nyamperin kamu di toko buku, soalnya rumahku nggak jauh dari sana.”
“Oh, ya?
“Hmm … sekitar 5 menitan.”
“Deket dong?”
“Iya, tapi tadi kamu nggak mau aku samperin.”
“Kasihan kamu nunggu lama kalau tadi ke sana.”
“Iya juga, sih.” Keduanya tersenyum.
Pesanan pun tiba.
“Nikmatin, Bro.” Kata laki-laki yang mengantar pesanan pada Arvin.
“Sip.” Arvin mengacungkan jempolnya. “Makasih ya.”
Laki-laki itu berlalu dengan senyum yang ditujukan pada Arvin.
“Kamu kenal?” tanya Ranum.
“Aku cukup sering ke sini. Jadi, ya ada beberapa yang kenal.”
“Oh.”
“Makan dulu.”
“Iya.”
Ranum dan Arvin menikmati menu makanan yang dipesan, karena memang keduanya sama-sama belum menyantap makan siang. Saat keduanya fokus dengan makanan masing-masing, ponsel Ranum berdering. Melihat siapa orang yang menghubunginya, segera mengambil minum sebelum menerima sambungan telepon itu.
“Assalamu’alaikum. Iya, ada apa, Mas?”
Arvin yang mendengar itu, menatap Ranum sambil mengernyitkan dahi. Tapi, Ranum tak memberi jawaban.
“Wa’alaikumussalam. Kamu lagi ngapain, Ra?”
“Lagi makan.”
“Kok kayak rame gitu, makan di luar?”
“Iya, aku lagi di Malang.”
“Sama siapa?”
“Ke Malangnya sendiri.”
“Naik bus?”
“Motor.”
“Kamu tadi bilang ke Malangnya sendiri, berarti sekarang …?”
“Sama teman. Tadi ketemu teman di sini.”
“Cewek apa cowok?”
“Cowok.”
__ADS_1
“Oh, ya udah lanjutin. Assalamu’alaikum.”
🌷🌷🌷🌷🌷