Ranum

Ranum
Clara dan Gabriel


__ADS_3

Helikopter Agustawestland AW139 mendarat di pacuan kuda. Ranum dan Gubernur Jendral Australia turun dari helikopter tersebut.


“Terima kasih atas tumpangannya tuan gubernur.” Ranum tersenyum menjulurkan tangannya.


“Tidak masalah Ranum, sudah tugasku untuk membantu keluargamu. Maafkan aku karena telat menerima kabar. Dan tolong, lain kali jangan buat keributan sebesar itu di negara bagian kami. Kami mohon pengertiannya.” Gubernur Jendral itu membalas jabat tangan Ranum.


“Maafkan aku tuan gubernur. Tapi aku tidak menjanjikan apapun.” Ranum tersenyum.


“Baiklah kalau begitu. Aku pamit dulu. Selamat tinggal Ranum, salam untuk keluargamu.” Gubernur Jendral itu kembali naik ke helikopter. Melambaikan tangannya dari dalam helikopter.


Ranum mengangguk. Membalas lambaian tangan Gubernur Jendral. Helikopter itu cepat meninggalkan pacuan kuda keluarga Loshad. Alexa yang dari tadi berdiri menunggu Ranum, berlari menghampiri Ranum, lalu memeluknya. Ranum membalas pelukan itu.


“Sudah aku bilang untuk tidak mengadukan apapun.” Ranum mengacak rambut Alexa.


“Aku tidak bisa membiarkanmu di dalam penjara. Maafkan aku.” Alexa berbicara lirih, air mata mengalir di pipinya. “Pun sekarang aku sudah menjadi asistenmu, jadi aku bebas mengadukanmu ke keluarga ini.” Alexa tersenyum menatap Ranum.


“Tapi kamu menghilangkan waktu liburanku.” Ranum tersenyum, tangannya lembut menyeka air mata Alexa. “Sekarang buatkan aku nasi goreng terasi lagi. Aku sangat kelaparan.” Lanjut Ranum sambil berjalan masuk ke gedung pacuan kuda. Alexa mengangguk, mengikuti Ranum, berjalan di sampingnya. Karyawan di pacuan kuda menyambut kedatangan Ranum, termasuk Gabriel – Gabriel prince ditunjuk sebagai penanggung jawab bisnis keluarga Loshad di Australia menggantikan Luke James.


Dua puluh menit berlalu cepat. Alexa sudah selesai memasak nasi goreng terasi. Ranum sudah ada di ruang makan bersama Alexa, Gabriel dan beberapa pelayan.


“Kalian ikutlah makan. Termasuk kamu Gabe.” Ranum mengajak semua yang ada di ruang makan untuk makan bersama.


“Baiklah Tuan Muda.” Jawab Gabriel tersenyum.


“Makan semua hidangan yang ada. Tapi jangan sentuh nasi goreng terasi. Itu khusus untukku.” Ranum tertawa kecil. Semua orang ikut tertawa.


“Bagaimana, apa nasi gorengnya enak Ranum?” Alexa bertanya sambil menyendok makanannya.


Ranum mengangguk, fokus melahap nasi goreng terasi buatan Alexa. Alexa tersenyum melihat Ranum yang makan dengan lahap.


“Oh iya Gabe, malam ini ajaklah semua orang untuk pergi ke Marquise. Kalian bebas berpesta disana malam ini. Siapa yang sekarang ada di bandara?” Ranum bertanya dengan mulut masih penuh nasi goreng.


“Ada Max Tuan Muda.” Gabriel menjawab singkat.


Ranum mengangguk. “Setelah ini semua selesai, suruh Max siapkan Bombardier Global 7000 untuk kalian berangkat. Jangan lupa pesan seluruh Marquise untuk kalian malam ini. Tapi jika kalian ingin lebih ramai, bukalah Marquise gratis untuk umum. Aku akan tanggung semua biayanya.”


“Baik Tuan Muda. Lalu bagaimana dengan anda? Mau saya siapkan satu jet lagi?”


Ranum menggeleng. “Aku tidak ikut dengan kalian. Aku ada urusan di Singapura. Ak-“


“Ranum.” Alexa memegang tangan Ranum dengan lembut. Membuat kalimat Ranum terhenti. “Kamu masih butuh pemulihan, luka di tubuhmu sangat banyak. Wajahmu saja masih penuh perban seperti itu. Tolong jangan gegabah.” Alexa tersenyum menatap Ranum. Ruangan yang penuh obrolan seketika lengang. Semua mata tertuju pada Ranum dan Alexa. Kemudian suasana terpecah, beberapa karyawan menggoda Ranum, ada yang bersiul, pura – pura batuk dan lain sebagainya. Semua orang di ruang makan itu tertawa termasuk Ranum dan Alexa.


“Oh iya Gabe, bagaimana kabar adikku?” Ranum bertanya ke Gabriel.


“Terakhir kali kami berhubungan, Tuan Muda Arsyanendra baik – baik saja Tuan Muda Ranum. Tapi Tuan Mudah Arsyanendra sudah lama tidak menghubungi saya. Juga saya sudah sekitar 3 tahun berada disini, jadi saya tidak tahu pasti keadaan Tuan Muda Arsyanendra.”


“Siapa yang menggantikanmu untuk mengawal Arsya?”


“Saya tidak tahu, Tuan Muda Arsyanendra tidak memberitahu saya.”

__ADS_1


Ranum mengangguk. “Aku yakin kamu lebih suka mengawal adikku, daripada disini kan?” Ranum tertawa kecil. “Sudah berapa banyak wanita yang diberikan adikku untukmu?”


Gabriel tersedak. Meraih gelasnya yang ada di meja. “Aku suka dimanapun Tuan Muda. Selama masih bekerja untuk keluarga Loshad.”


Ranum tertawa. “Sudah tidak perlu ada yang ditutupi, aku sangat paham kegilaan anak itu.”


Gabriel ikut tertawa. Tiba – tiba ada seorang karyawan keluar dari ruang makan. Membuat ruangan itu lengang.


“Apa yang barusan terjadi?” Ranum bertanya.


“Maafkan saya Tuan Muda, saya akan bicara dengan Clara atas sikapnya. Permisi Tuan Muda.” Gabriel beranjak dari kursinya.


“Gabe, suruh Clara kesini.” Ranum berkata datar.


Alexa memegang lengan baju Ranum. “Apa yang mau kamu lakukan Ranum?” Alexa bertanya.


“Maaf Tuan Muda, Clara dan Gabriel sedang menjalin hubungan.” Salah seorang karyawan berbicara ke Ranum.


Clara dan Gabriel masuk ke ruang makan. Clara hanya menunduk dengan mata sembap. Clara duduk di dekat Ranum, Gabriel berdiri di sebelah Clara.


“Maaf atas gurauanku Clara, aku tidak tahu kalau itu menyinggungmu. Begini saja, kita buat kesepakatan. Jika Gabe berani macam – macam saat kalian masih menjalin hubungan. Aku yang akan menghajar Gabe. Kamu bisa memegang kata – kataku ini. Jadi kamu tidak usah khawatir lagi, bukan aku ingin mencampuri urusan hubungan kalian. Tapi kalian berdua memang punya masa lalu, dan aku tidak mengetahui itu. Tadi aku hanya bergurau, karena aku sangat paham Arsyanendra adikku, dia sangat suka bermain wanita. Masalah dia memberikan wanita ke Gabriel mungkin benar, tapi balik ke Gabrielnya, mungkin Gabe menolak pemberian adikku, mungkin juga di terima tapi tidak melakukan apa – apa untuk menghargai adikku.” Ranum berusaha membujuk Clara.


Alexa mencubit pinggang Ranum. “Jangan berbicara seperti itu. Tidak akan membuatnya tenang.” Alexa berbisik. “Biarkan aku yang menenangkan Clara.” Lanjut Alexa.


Ranum mengangguk. “Cubitanmu sakit sekali.” Ranum berbisik.


Alexa mengajak Clara untuk keluar dari ruang makan.


“Tidak apa Tuan Muda. Saya mengerti anda bercanda. Pun anda tidak tahu bahwa saya memiliki hubungan dengan Clara.” Gabriel tersenyum.


“Hei kalian semua. Kalau punya pasangan tolong di buat listnya dan berikan padaku. Agar aku tidak membuat kalian dalam masalah seperti Gabe.” Ranum berseru. Semua orang yang ada di ruang makan mengangguk.


“Sudah berapa lama kalian berhubungan?”


“Sekitar dua tahunan Tuan Muda.”


“Lumayan lama.” Jawab Ranum singkat.


“Bagaimana dengan anda Tuan Muda? Anda hilang bertahun – tahun. Semua orang mengira anda telah tewas saat penyerangan Krowned towers. Hingga akhirnya Alexa memberi kabar kalau anda berada di penjara.”


“Hanya menjalani hidup yang sangat spesial.” Ranum tersenyum.


“Maksud anda Tuan Muda?” Gabriel bertanya, bingung.


Ranum menggeleng. “Bukan apa – apa.”


“Anda tahu kalau Krowned Towers diserang lagi Tuan Muda?” Gabriel bertanya.


“Oh ya?” Ranum pura – pura terkejut.

__ADS_1


Gabriel mengangguk. “Banyak sekali korbannya Tuan Muda. Tersangkanya juga sempat melarikan diri. Tapi berhasil di tangkap di sebuah bar. Dan sepertinya tersangka penyerangan itu di tahan di penjara yang sama dengan anda Tuan Muda.”


“Ya, mungkin saja. Aku tidak tahu. Dan tidak peduli dengan orang – orang seperti itu.” Ranum tersenyum. “Aku keluar sebentar Gabe.” Ranum beranjak keluar dari ruang makan. Menemui Alexa yang sudah selesai berbicara dengan Clara.


“Bagaimana Clara?” Ranum bertanya ke Alexa.


“Sudah lebih tenang.” Kemudian Alexa mencubit pinggang Ranum. “Kamu jangan suka berbicara asal seperti itu. Kasihan wanita polos seperti Clara.”


Ranum meringis kesakitan. “Cubitanmu sakit sekali!” Ranum berseru pelan. “Maafkan aku, aku tidak tahu cara menghadapi wanita yang seperti itu.” Ranum mengelus - elus pinggangnya yang menjadi gatal setelah di cubit Alexa.


“Jangan ulangi lagi!” Alexa melotot.


“Iya bawel.” Jawab Ranum singkat.


“Kamu kenapa kesini?” Alexa bertanya.


“Kenapa orang – orang disini tidak tahu kalau Mark Kelly adalah aku?”


“Aku pikir kamu tidak ingin orang lain tahu tentang kehidupanmu yang lain. Jadi aku tidak menjelaskan apapun. Aku hanya bilang kalau aku berhasil menemukanmu di penjara.”


“Apa saja yang mereka tahu?”


Alexa menggeleng. “Aku tidak memberitahu apapun. Hanya bicara soal penjara. Pun Gabriel tidak menanyakan lebih detail. Dia langsung menghubungi keluargamu. Tanpa banyak tanya keluargamu langsung menghubungi Ratu yang kemudian menyuruh Gubernur Jendral untuk membebaskanmu.”


Ranum menghembuskan nafas. “Terima kasih.” Tersenyum ke Alexa.


Alexa kembali mencubit pinggang Ranum. “Ingat jangan asal bicara ke wanita!” Alexa melotot sambil tertawa kecil.


“Iya, iya!” Ranum menarik pinggangnya.


***


Kembali ke ruang makan rumah Dayana. Masa kini.


Pak Suseno menyemburkan makanan dari mulutnya, terkejut. “Kamu sudah pernah menikah Ranum? Penyerangan di krowned towers yang kedua itu juga ulahmu? Kamu membantai penjara juga?”


Ranum mengangguk. Lily dan pak Suseno masih terkejut mendengar cerita Ranum. Dayana yang sudah mendengar cerita lebih dulu, hanya tertawa.


“Kenapa kamu tidak mengundang kami? Apa kamu lupa dengan keluarga besarmu ini?”


Ranum menggeleng. “Maafkan aku pak, aku tidak ingin Miranda terlibat lebih jauh dengan keluarga ini. Aku ingin dia hidup lebih tenang dan nyaman.”


Pak Suseno mengangguk, dia paham yang diinginkan Ranum untuk Miranda.


“Tapi sepertinya Alexa sangat menyukaimu.” Lily akhirnya ikut bicara.


“Termasuk dokter wanita yang ada di penjara itu.” Pak Suseno mengangguk - angguk, tangannya sibuk mengelap mulutnya dengan serbet.


“Itu kelebihan Ranum. Dia seperti magnet bagi para wanita.” Dayana tertawa. Diikuti Lily dan pak Suseno.

__ADS_1


Ranum hanya diam, menghisap rokok yang sedang di pegangnya.


__ADS_2