Ranum

Ranum
MAUNTAON INN


__ADS_3

Tiga setegah jam kemudian, pilatus PC-24 yang ditumpangi Ranum akhirnya tiba di bandara Matsapha karena harus mengisi bahan bakar. “Moon, jam berapa sekarang?” Ranum bertanya.


“Saat ini di Manzini pukul 16.48 waktu setempat Tuan Muda.” Moon menjawab.


“Kapan pertemuanku dengan penjual logam tersebut?” Ranum kembali bertanya.


“Esok hari, pukul 10.00 waktu setempat Tuan Muda.” Moon kembali menjawab.


Ranum segera mengeluarkan motornya dari pesawat, memacu motor itu untuk menikmati kota tersebut. Ranum berhenti di bendungan Luphohlo, menikmati tempat tersebut selama dua puluh menit sambil merokok.


Ranum kembali memacu motornya menuju sebuah hotel di jalan Princess Drive, Mbabane H100. Ranum memesan lima kamar hotel, satu kamar suite tepi kolam renang untuk Ranum dan empat kamar biasa di tepi kolam renang. Ranum segera menghubungi Muhammad. “Mad, aku sedang berada di Mauntaon Inn jalan Princess Drive, Mbabane H100. Ajak semua orang kesini.” Ranum berbicara datar.


“Baiklah, aku akan kesana menggunakan kendaraan umum.” Suara Muhammad terdengar di ujung earpods.


“Tidak perlu, aku sudah meminta pihak hotel untuk menjemput kalian di bandara. Tolong sekalian bawakan pakaian ganti untukku dan beberapa keperluanku.” Ranum berbicara datar.


“Aye aye Sir!” Muhammad berseru.


Ranum mengangguk, mematikan earpodsnya.


Ranum pergi ke kamarnya, melepas seluruh pakaiannya hingga menyisakan celana pendek. Ranum segera pergi ke kolam renang di hotel tersebut. Ranum berenang sambil melihat matahari terbenam. Seorang pelayan datang menemi Ranum. “Permisi tuan, apa anda ingin memesan sesuatu?” Pelayan bertanya ke Ranum.


“Apa kalian memiliki whiskey?” Ranum bertanya.


Pelayan itu mengangguk. “Tapi kami hanya memiliki blue label, Double Cask 18 years, signet highland dan cigar malt.” Pelayan itu menjelaskan.


“Double cask lima botol beserta lima buah gelas dan tolong bawa es batu lebih banyak.”


“Baik tuan, akan segera saya siapkan. Apa anda ingin memesan makanan juga?” Pelayan itu menyodorkan daftar menu.


“Tolong hidangkan semua yang kalian miliki. Bisa kalian hidangkan disana?” Ranum menunjuk lahan kosong.


“Maaf tuan, kami hanya bisa me-“


“Aku akan bayar tiga kali lipat. Siapkan saja meja dan kursi untuk lima orang di tempat itu dan hidangkan semua makanan yang kalian miliki. Mengerti?” Ranum memotong kalimat pelayan tersebut.


“Ta-“


“Aku bayar lima kali lipat. Jika tetap tidak bisa, aku akan check out saat ini dan membuat kalian semua kehilangan pekerjaan di tempat ini.” Ranum mulai kesal, karena waktunya terbuang sia – sia hanya karena makanan.


“Baiklah tuan, akan segera kami siapkan.” Pelayan itu segera beranjak meninggalkan Ranum.


Dua puluh lima menit kemudian, Muhammad dan lainnya tiba di hotel tersebut. Menemui Ranum di kolam renang. “Bagaimana kamu bisa menemukan tempat sebagus ini Ranum?” Muhammad bertanya.


Ranum menenggak scotchnya. “Aku tidak sengaja menemukan hotel ini ketika berkeliling.” Ranum menjawab datar. “Dimana yang lain?” Lanjut Ranum bertanya.

__ADS_1


“Masih di kamar masing – masing. Kenapa kamu memesan empat kamar untuk kami?” Lanjut Muhammad bertanya.


Ranum mengangkat bahunya. “Kalian berempat, sudah seharusnya aku memesan empat kamar kan?” Ranum balik bertanya.


“Aku, Max dan Henry bisa di tempatkan dalam satu kamar. Kamu hanya perlu memesan kamar yang berbeda untuk Rosie.” Muhammad menjawab.


“Sudah terlanjur.” Ranum menyodorkan bungkus rokoknya.


“Aku membawakan sebotol Blanton’s. Kenapa kamu memesan scotch sebanyak ini?” Muhammad kembali bertanya sambil mengambil sebatang rokok milik Ranum.


“Kita berlima.” Ranum menjawab singkat.


Muhammad tertawa. “Kamu sangat tahu kalau aku tidak minum alkohol.” Muhammad membakar rokoknya. “Kamu hanya ingin cepat pelayan itu pergi kan?” Lanjut Muhammad bertanya.


“Kurang lebih.” Ranum tersenyum.


Max, Henry dan Rosie datang ke kolam renang, menyapa Ranum takzim.


Ranum menggeser beberapa botol scotch dan gelas ke dekat para anak buahnya tersebut. “Minumlah.” Ranum mendekatkan bungkus rokoknya juga.


“Bagaimana kehidupanmu di Melbourne? Sudah lama kita tidak memiliki waktu untuk berbicara seperti ini.” Muhammad tertawa kecil.


Ranum mengangkat bahunya. “Biasa saja.”


“Sebenarnya kamu tinggal dimana?” Muhammad kembali bertanya.


Muhammad tertawa kecil. “Selalu menyendiri.”


“Aku tidak sendirian, banyak orang di sekitarku.” Ranum berenang ke sisi lain kolam renang, kemudian kembali ke titik awal. “Kalian bertiga jangan tegang seperti itu, bersantailah. Aku juga teman kalian.” Ranum berbicara ke tiga anak buahnya yang hanya duduk memperhatikan sekitar sambil meminum scotch.


“Kalian tidak perlu kaku dengan orang ini saat sedang jauh dari keluarganya.” Muhammad berkata.


Max, Henry dan Rosie hanya tersenyum, mengangguk. Sungkan karena ada Ranum.


“Max, apa kamu sudah bosan menjadi co-pilot orang ini?” Ranum bertanya, tertawa kecil.


“Tidak Tuan Muda. Saya senang bisa mendampingi Muhammad.” Max tertawa kecil.


“Henry, Rosie. Bagaimana dengan kalian? Apa kalian masih betah menjadi pramugari dan pramugara di pesawat?” Ranum kembali bertanya.


“Kami sangat senang dan betah Tuan Muda.” Rosie dan Henry menjawab serempak.


“Jika kalian bosan dengan orang ini, aku akan mencari pilot baru.” Ranum tertawa kecil.


Muhammad tertawa, menghisap rokoknya.

__ADS_1


“Punggung anda apa akan bisa pulih Tuan Muda?” Rosie bertanya.


Ranum tertawa kecil. “Luka bakar seperti ini tidak akan bisa pulih.” Ranum menenggak scotchnya. “Cukup mengerikan untukmu melihat luka ini?” Lanjut Ranum bertanya.


Rosie menggeleng. “Saya hanya tidak bisa membayangkan rasa sakitnya saat anda terkena bom waktu itu.” Lanjut Rosie menjelaskan.


Ranum tertawa kecil. “Tidak perlu dibayangkan.”


“Tuan Muda, kenapa anda tidak suka bekerja dengan orang lain?” Kali ini Max bertanya.


Ranum tersenyum. “Aku hanya tidak ingin ada orang mengganggu tugasku.”


“Bagaimana rasanya menjadi orang yang memiliki segalanya Tuan Muda.” Henry bertanya.


Ranum diam sejenak, menghisap rokoknya. “Terima kasih jika kamu berpikir seperti itu. Tapi bagiku yang sudah merasakannya, terasa sedikit sia – sia. Karena aku jadi tidak memiliki tujuan hidup.” Ranum menjawab datar.


“Bukankah sangat menyenangkan hidup bergelimang harta seperti anda Tuan Muda?” Henry kembali bertanya.


Ranum mengangguk. “Aku akui sisi itu memang sangat membantu, aku jadi memiliki satu masalah yang sudah terselesaikan. Tapi anehnya sisi itu juga yang menurutku menambah masalah.” Ranum berbicara datar.


“Maksudnya bagaimana Tuan Muda?” Henry bertanya bingung.


“Sebutkan salah satu keinginanmu yang sudah tercapai, yang sebelumnya sangat kamu impikan.” Ranum berkata.


“Saya baru membeli honda CRZ beberapa waktu lalu.” Henry menjawab.


Ranum mengangguk. “Apa kamu masih menyayangi mobil itu? atau kamu sudah memiliki target untuk membeli mobil lain?” Ranum kembali bertanya.


“Saya sedang menabung untuk membeli SLK 350 Tuan Muda.” Henry berbicara, antusias.


“Apa kamu senang pada saat proses mengumpulkan uang untuk membeli mobil tersebut?” Ranum kembali bertanya.


Henry menggeleng.


Ranum tersenyum. “Berapa kali kamu mencuci CRZmu dalam satu bulan?”


“Saya mencuci mobil itu dua bulan sekali, kadang tiga bulan sekali Tuan Muda.” Henry menjawab.


“Berapa kali kamu membawa mobil itu untuk di periksakan ke bengkel?” Ranum kembali bertanya.


“Dari awal beli, saya belum pernah membawa mobil itu ke bengkel Tuan Muda.”


“Lalu apa yang akan terjadi pada CRZmu ketika kamu sudah memiliki SLK?”


“Mungkin aku akan menjualnya Tuan Muda atau akan aku gunakan untuk sehari – hari, bergantian dengan SLKku.” Henry menjawab.

__ADS_1


Ranum tertawa kecil. “Itu masalahnya. Kamu dan aku sama – sama belum bisa menghargai proses. Kamu menabung berbulan – bulan untuk mendapatkan pencapaianmu. Ketika kamu sudah mendapatkan keinginanmu, kamu akan menyia – nyiakan pencapaianmu tersebut dan beralih ke pencapaian selanjutnya yang belum tentu tidak akan kamu sia – siakan nantinya. Sama sepertiku, karena dari kecil aku terlalu mudah mendapatkan uang, aku jadi tidak pernah menghargai uang yang aku miliki. Aku tidak pernah bekerja untuk uang. Kalaupun aku menolak semua tugas yang diberikan keluargaku, uang akan selalu mengalir untukku. Aku bersedia menerima tugas dari keluargaku sekecil apapun itu karena aku sedang berusaha untuk menikmati setiap prosesnya. Aku sangat menghargai hasil atau pencapaianku, tapi aku sedang belajar untuk lebih menghargai dan bahagia atas prosesnya. Aku memang belum bisa menghargai uang, tapi aku sedang mencoba untuk menghargai apapun yang aku kerjakan. Karena itu sedikit membuatku memiliki tujuan hidup. Walaupun yang aku tahu tujuan hidupku saat ini tidak baik.” Ranum menenggak scotchnya.


__ADS_2