Ranum

Ranum
MARKAS PUSAT KELUARGA LOSHAD


__ADS_3

Ranum meregangkan otot tubuhnya. “Sudah, aku akan ceritakan lagi lain kali.” Ranum bangun dari kursinya berjalan keluar dari rumah Dayana.


“Ranum! kenapa kamu selalu memotong cerita seperti itu sih.” Dayana bersungut – sungut.


Ranum mengabaikan seruan Dayana. Pak Suseno dan Lily tertawa.


Dua hari berlalu sangat cepat. Private jet yang membawa Dayana dan Ranum akhirnya mendarat di Markas pusat keluarga Loshad. Markas pusat keluarga Loshad memiliki puluhan bangunan. Salah satu dari bangunan itu adalah mansion yang dihuni khusus untuk keluarga inti. Luas mansion ini kurang lebih 2000 meter persegi yang dibangun tepat di puncak tebing, dengan gaya arsitektur futuristik modern.


Dayana dan Ranum masuk ke ruang makan. Mereka di sambut hangat oleh semua orang yang ada di ruang makan itu. Meja makan panjang itu memiliki delapan buah kursi. Di bagian ujung meja makan ada pemimpin keluarga Loshad saat ini, yaitu ayah Ranum atau biasa di panggil Bos Besar. Di bagian kursi pertama bagian kiri ada ibu Ranum atau biasa di panggil Nyonya Besar. Di hadapan kursi Nyonya Besar adalah kursi Dayana, di sebelah kiri Dayana Ada Kripala Suhail Anatoly, kakak laki – laki Ranum. Di sebelah kanan Ranum adalah kursi Arsyanendra Parama Anatoly, adik laki – laki Ranum, sekaligus anak terakhir. Ranum duduk tepat di kursi sebelah kanan Nyonya besar. Dan terakhir yang duduk di sebelah Kripala adalah wanita berhijab bernama Kayla Hani, istri Kripala.


“Akhirnya Ranum bisa bergabung bersama kita setelah bertahun – tahun menghilang entah kemana.” Bos Besar tersenyum lebar.


Ranum hanya tersenyum, mengangguk takzim.


“Anak ayah yang paling cantik, bagaimana kabarmu? Sudah ada perkembangan apa dengan semua proyekmu?”


“Seperti yang ayah lihat, aku baik – baik saja. Terlalu banyak perkembangan, akan sangat panjang jika aku harus menjabarkannya disini. Ini juga haris spesial ayah, aku tidak ingin mencampurinya dengan masalah pekerjaan.” Dayana tersenyum.


Bos besar mengangguk, tersenyum. “Bagaimana dengan kalian Kripala dan menantu cantikku Kayla? Apa kalian sudah mulai bosan menjalani hidup yang berbeda dengan saudara – saudara kalian?”


“Kami sangat bahagia dengan kehidupan kami saat ini yah. Ayah tidak perlu cemas.” Kripala tersenyum, Kayla juga tersenyum ke arah Bos Besar.


“Jika kalian berubah pikiran, hubungi ayah segera.” Bos besar berbicara ke Kripala dan Kayla. “Ranum, bagaimana dengan pendidikanmu? Apa kamu ingin melanjutkan sekolah di perguruan tinggi? Jika ya, ayah akan menghubungi Samuel untuk membantumu. Kamu hanya perlu memilih universitas mana yang kamu inginkan.” Lanjut Bos besar.


“Hei! Ayah tidak menanyakan bagaimana aku dan perkembanganku?” Arsyanendra memotong percakapan. “Aku sudah memiliki banyak kemajuan pesat! Aku sudah menciptakan banyak teknologi mutakhir!” Lanjut Arsyanendra bersungut – sungut. Ruangan itu pecah dengan tawa.


“Kamu sudah menjelaskannya barusan.” Bos besar tertawa kecil.


Ranum menggeleng. “Aku tidak akan melanjutkan pendidikan apapun.”


“Kenapa?” Bos besar bertanya bingung.

__ADS_1


Ranum menggeleng. “Ayah sudah memiliki tiga anak jenius. Satu anak biasa saja, akan mempermudah urusan.” Ranum berbicara datar.


“Ya sudah, ayo mulai makan. Takut makanannya keburu dingin.” Nyonya besar memotong percakapan. Semua orang mulai menyantap hidangan di meja makan, di selingi dengan obrolan – obrolan santai. Dua puluh menit berlalu, akhirnya semua orang selesai makan. Suara adzan berkumandang.


“Ayah, aku izin ke kamar sebentar bersama Kayla. Ada sesuatu yang harus kami ambil.” Kripala berbicara.


“Silahkan.” Bos Besar tersenyum.


Lima menit kemudian Ranum bangkit dari kursinya. “Aku ingin merokok.” Berjalan keluar dari ruang makan.


Bos Besar tersenyum. “Anak itu semakin dingin. Entah apa yang membuatnya seperti itu.”


“Sudah lah yah, mungkin tahun – tahun terakhir ini dia mengalami masa – masa sulit. Terutama untuk anak laki – laki seperti Ranum.” Nyonya besar memegang tangan Bos Besar.


Dayana mengangguk. “Sangat sulit menurutku.” Lanjut Dayana membakar rokoknya.


“Memang apanya yang berubah dari Ranum? Dia memang sudah seperti itu dari lahir.” Arsyanendra mengangkat bahu.


Dayana mengeluarkan asap dari mulutnya. “Ya dan tidak.”


“Apa maksudmu? Apa kamu mengetahui sesuatu?” Nyonya Besar bertanya penasaran.


“Kurang lebih bu. Tapi lebih baik ibu tanya langsung ke Ranum. Dia paling paham dengan apa yang sudah dia lalui.” Dayana mengangkat bahu.


Kripala dan Kayla keluar dari kamar mereka. Ranum berdiri, bersandar di tembok disebelah pintu kamar Kripala.


“Habis salat?” Ranum bertanya sambil menghembuskan asap dari mulutnya.


Kripala mengangguk. “Kamu ingin salat juga?” Kripala bertanya.


Ranum menggeleng. “Bagaimana kehidupan kalian?”

__ADS_1


“Kehidupan kami baik. Sama seperti kehidupanmu.” Kripala tersenyum.


Ranum menghisap rokoknya, menggeleng. “Bagaimana kalian bisa hidup tenang dan aman selama bertahun – tahun? Ayah memberikan kalian penjaga di perimeter tempat tinggal kalian?”


“Seharusnya ada yang menjaga kami. Tapi aku menolaknya. Aku selalu percaya, perlindungan terbaik adalah perlindungan dari Sang Pencipta. Sekuat apapun makhluk di dunia ini, tidak akan ada yang bisa menandingi kekuatan Pencipta kita. Jadi aku hanya terus berdoa, memohon agar keluarga kecilku di berikan perlindungan.” Kripala tersenyum.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu Ranum? Ada sesuatu yang mengganggumu?” Kayla bertanya.


Ranum menggeleng. “Kalian sudah menikah 6...7 tahun?” Ranum bertanya.


Kayla mengangguk. “Jalan delapan tahun.”


“Sebenarnya apa yang membuatmu resah Ranum? Aku sangat paham ekspresi wajahmu itu. Aku sangat mengenalmu walaupun kamu sudah menghilang bertahun – tahun.” Kripala menyelidik.


Ranum menggeleng. “Kamu adalah salah satu petarung terbaik di keluarga ini sebelum menikah. Dulu aku sangat mengagumimu. Aku selalu bercita – cita untuk bisa melampauimu. Tapi sekarang, kamu sangat jauh dengan Kripala yang aku kenal dulu. Pernikahan sangat merubah dirimu.”


Kripala tertawa. “Manusia berubah setiap harinya Ranum, tidak ada manusia yang stuck di satu titik. Jika cita – citamu adalah melampauiku, kamu sudah berhasil. Berhasil sangat jauh melampauiku menjadi petarung nomor satu. Mungkin ini memang sudah jalan hidupku, aku di pertemukan dengan Kayla yang bisa sedikit merubahku. Jika kamu berpikir aku orang baik, kamu salah. Aku masih berusaha menjadi baik setiap harinya. Apa yang aku lakukan saat ini tidak akan bisa menebus semua kesalahanku di masa lalu. Tapi hidup harus terus berlanjut, aku tidak bisa meratapi masa laluku yang kelam. Kayla selalu bilang kalau aku tidak bisa menjadi baik hari ini, aku bisa berusaha untuk jadi lebih baik di hari esok. Tidak ada manusia yang baik, semua manusia masih berusaha menjadi baik hingga mereka wafat. Ketahuilah, perbedaan di antara kita berdua hanya soal waktu. Kamu masih bisa berubah, waktumu masih lebih panjang dibanding waktuku. Sehitam apapun hati seorang manusia, selalu ada satu titik kecil cahaya yang bertahan. Aku tidak memaksamu untuk mulai percaya Tuhan atau semacamnya. Pun aku tidak sedang mengguruimu, aku hanya berbicara dari apa yang sudah aku lewati. Mungkin suatu saat ketika kamu bertemu dengan orang yang tepat, kamu akan mengerti apa yang aku katakan. Seperti aku dipersatukan dengan Kayla, wanita yang tidak pernah menyerah untukku. Percayalah Ranum, kamu lebih besar dari apa yang kamu ketahui tentang dirimu saat ini.” Kripala tersenyum lembut menatap wajah Ranum.


Ranum terdiam, rokok yang ada di tangannya termakan angin.


Kayla menyentuh pundak Ranum. “Kami sebenarnya tahu soal Miranda dan Chen Xiuhuan serta bayinya, Kripala tidak pernah berhenti mencari informasi tentangmu. Dia tidak menceritakan apapun ke keluarga Loshad, dan Kripala mencari informasi tentangmu seorang diri. Kakakmu ini selalu peduli tentangmu.” Kayla tersenyum.


Ranum tertegun menatap Kripala, menelan ludah.


Kripala mengangguk. “Aku turut berduka atas apa yang terjadi kepada mereka. Aku paham bagaimana perasaanmu. Aku sangat paham kenapa sifatmu jadi semakin dingin setelah kepergianmu. Maaf aku tidak bisa membantumu saat kamu dalam masa – masa sulit.”


Ranum hanya diam, kemudian beranjak pergi. Tapi langkahnya terhenti ketika Kayla memegang lengan Ranum. “Suatu saat jika kamu butuh kami, kami akan selalu ada.” Kayla tersenyum.


Ranum mengangguk, kemudian kembali melangkah pergi.


“Dia sedang melewati masa – masa sulit, aku sangat prihatin melihat adikmu itu.” Kayla berbicara ke Kripala.

__ADS_1


Kripala mencium tangan Kayla. “Mungkin itu proses untuknya, kita hanya bisa membantunya lewat doa seperti yang sering kamu katakan.” Kripala tersenyum menatap Kayla. “Kita harus segera kembali ke ruang makan. Yang lain pasti sedang menunggu kita.” Lanjut Kripala berjalan menggandeng tangan Kayla.


__ADS_2