Ranum

Ranum
Bagian 2


__ADS_3

"Perkenalkan, saya Zaviyar. Dosen pembimbing mahasiswa yang sedang melakukan KKN di desa ini."


Seketika Ranum terbelalak, untung saja dia bisa mengontrol mulutnya untuk tidak ikut bereaksi atas keterkejutannya. Dan pasti itu membuat irama jantungnya tak karuan. Pemuda yang ia kira mahasiswa ternyata seoramg dosen.


"Oh iya, maaf kita tadi belum sempat kenalan. Saya Ilyas, kepala sekolah di sini, sahut Pak Ilyas sambil mengulurkan tangan pada Zaviyar yang segera disambut dengan senyum masih mengembang. Sedangkan tatapannya masih tertuju pada Ranum."


"Jangan tanya bagaimana Ranum. Dia seperti mati langkah, gugup pastinya setelah mengetahui bahwa Zaviyar seorang dosen. Tapi tak selang berapa lama, Ranum kembali ke alam sadarnya dan segera pamit untuk kembali bekerja."


"Maaf, Pak. Saya pamit dulu soalnya ini sudah ditunggu. Terimakasih sudah diizinkan cetak data ini, ucap Ranum sembari menunjukkan data yang baru saja dicetak."


"Sama-sama, Bu," jawab Pak Ilyas.


"Loh, Bu. Udah balik aja. Gak di sini dulu? Itu ada Pak dosen ganteng," seru Bu Cici dari ruang sebelah.


"Terima kasih, Bu Cici," ucap Ranum penuh penekanan dan tentu dengan mata melotot ke arah Bu Cici yang membuat rekannya itu cekikikan. Sedangkan Pak Ilyas dan yang berada di ruang itu hanya menahan tawa.


Ya, Ranum selalu jadi target empuk bagi rekan-rekannya. Ia satu-satunya pengajar perempuan yang belum menikah. Bu Cici, yang sudah seperti saudara bagi Ranum, paling semangat menggoda Ranum.


***


Di gedung tsanawiayah, Zaviyar dan mahasiswanya masih beramah tamah dengan pihak sekolah sekaligus menjelaskan maksud mereka datang ke sana. Zaviyar mengatakan dengan detil rencana dan program kerja para mahasiswa KKN yang akan tinggal beberapa waktu di desa tersebut.


Pak Ilyas mendengar penjelasan Zaviyar dengan seksama dan beliaupun menanggapinya dengan antusias. Pak Ilyas juga menjelaskan bagaimana keadaan sekolah. Baik pengajar, jumlah siswa, dan beberapa kekurangan di sekolah tersebut. Seperti kurangnya ruang kelas dan perlengkapan mengajar, terlebih dibidang teknologi. Sebagai kepala sekolah, beliau menyambut niat baik para mahasiswa yang mau membantu di sekolahnya dengan tangan terbuka.


"Hmm ... iya, Pak. Terimakasih jika bapak dan pihak sekolah mengizinkan. Untuk selanjutnya, mungkin mereka bisa bertanya langsung pada Pak Ilyas dan pengajar lain apa saja yang bisa mereka bantu di sini."


"Baik, Pak. Kalau begitu mungkin Bu Cici bisa antar teman-teman KKN ini untuk mengunjungi anak-anak di kelas biar bertemu juga dengan pengajar lain yang sedang mengajar di kelas."


Pak Ilyas menghela napas sejenak.


"Untuk selanjutnya, bisa dibicarakan lagi," pungkas Pak Ilyas.


"Iya, Pak. Sekali lagi terimakasih."


Segera setelahnya, Pak Ilyas meminta Bu Cici mengantar para mahasiswa untuk berkeliling sekolah sekaligus bertemu siswa-siswi.


"Pak Zaviyar mau ikut keliling atau di sini saja?" Pak Ilyas menawarkan.


"Biar mereka sendiri saja, Pak. Mohon maaf sebelumnya, saya pamit terlebih dulu karena ada hal lain yang harus saya kerjakan. Jadi saya serahkan teman-teman KKN pada Pak Ilyas dan para pengajar di sini," ujar Zaviyar.


"Oh iya iya. Terimakasih sudah mengantarkan teman-teman KKN di sini dan membantu kami."


"Sama-sama, justru saya yang banyak berterimakasih karena Bapak dan pihak sekolah sudah mau menerima kami dengan tangan terbuka. Kalau begitu saya pamit dulu, Pak. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam. Mari saya antar sampai depan."


Zaviyar dan Pak Ilyas melangkah keluar dari kantor beriringan. Mereka pun terus berbincang sambil berjalan menuju gerbang sekolah. Obrolan yang semula hanya berkutat tentang sekolah dan kegiatan mahasiswa, kemudian berlanjut pada obrolan yang lebih serius dan pribadi. Zaviyar yang sedari tadi menahan diri untuk tidak bertanya, akhirnya melontarkan sebuah pertanyaan yang membuat Pak Ilyas tersenyum penuh arti.


"Maaf, Pak. Kalau boleh tahu, Bu Ranum itu pengajar di sini juga ya?"


"Bu Ranum itu pengajar di TK, Pak. Tapi sekarang beliaunya lebih fokus pada bagian operator, jadi sudah jarang untuk mengajar di kelas. Ya, maklumlah di TK pengajarnya terbatas dan Bu Ranum yang paling muda."


"Ehm ... jadi Bu Ranum menjadi operator sekolah karena terpaksa begitu maksudnya, Pak?"


"Kurang lebih seperti itu, karena tiap kali Bu Ranum bercerita selalu bilang ingin seperti dulu lagi sebelum administrasi sekolah seketat ini."


"Lalu, kenapa tadi Bu Cici menggodanya? Apa . Bu Ranum masih single?" tanya Zaviyar memastikan.


Pak Ilyas yang menyadari akan gelagat Zaviyar hanya tersenyum. "Iya, Bu Ranum satu-satunya pengajar wanita yang masih single di yayasan ini."


Pak Ilyas mengambil jeda. "Kenapa saya bilang yayasan? Karena di sini kami sering berkumpul bersama dan mengadakan kegiatan bersama. Di yayasan kami ada tiga lembaga yakni TK, MI, dan MTs. Dan hanya Bu Ranum yang masih menjomblo. Jadi, ya begitulah jika kami berkumpul beliau pasti akan menjadi sasaran empuk. Apalagi kegiatan tersebut mengikut sertakan keluarga," terang Pak Ilyas.


Zaviyar yang mendengarkan itu hanya manggut-manggut, tanpa terasa bibirnya melengkung ke atas membentuk bulan sabit. Dan tanpa ia sadari pula Pak Ilyas terus memperhatikannya. Perbincangan pun terus bergulir hingga dua lelaki itu tiba di depan gerbang sekolah.

__ADS_1


"Terimakasih, Pak sudah mengantar saya," ucap Zaviyar.


"Sama-sama." Mereka pun berjabat tangan.


Zaviyar meninggalkan gedung sekolah dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Sepanjang jalan dari sekolah hingga rumah Pak Tomo, beberapa kali dia tak bisa menahan bibirnya untuk menyunggingkan senyum teringat sosok Ranum.


'Apakah ini yang namanya cinta pada pandangan pertama? Ah tidak mungkin, aku bukan tipe orang yang bisa jatuh hati pada pandangan pertama. Aku harus tau dulu tentang dia. Tapi, kenapa dengan bibir ini? Selalu saja tersenyum saat mengingatnya?' Batin Zaviyar.


Zaviyar tiba di rumah Pak Tomo dan segera bergegas menuju taman baca masyarakat atau te-be-em di RT 24 untuk melihat kegiatan mahasiswanya yang sudah lebih dulu ke sana. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan perlahan meninggalkan halaman rumah Pak Tomo.


Sore harinya, sepulang Zaviyar dari RT 24. Ia berjalan-jalan di sekitar lingkungan rumah Pak Tomo, berharap bertemu dengan sosok yang sudah membuatnya jatuh hati. Oh, tidak. Mungkin baru sekedar kagum. Namun, sayang harapannya pupus karena orang yang diharapkan tidak juga ia temukan.


***


Zaviyar merubah rencananya. Semula dijadwalkan hanya dua hari di desa itu, tapi kini ia menambah satu hari untuk menginap.


Meski tak lagi mengantar dan mengawasi mahasiswanya, tapi Zaviyar selalu jalan-jalan untuk bisa bertemu Ranum. Ingin ia pergi ke sekolah TK atau MTs untuk melihat Ranum, tapi tak mungkin karena ia tidak memiliki alasan tepat untuk pergi ke sana.


Siang harinya, Zaviyar keluar dengan alasan mencari makan. Ia sengaja berjalan kaki dengan harapan yang masih sama. Meski tak tahu di mana warung penjual makanan, tapi ia tetap saja berjalan karena tujuan utamanya memang bukanlah makan tapi gadis bermata tajam itu, Ranum.


Zaviyar terus berjalan dengan terus memperhatikan kanan-kiri dan dalam hatinya terus menyebut nama Ranum.


"Pak Zaviyar, Assalamualaikum," sapa seseorang mengagetkan Zaviyar yang tidak fokus pada jalan.


"Wa - Waalaikumussalam," jwabnya terbata saat menyadari siapa yang menyapanya. Ranum. Alhamdulillah ketemu juga kamu,’ lirihnya dalam hati.


"Pak Zaviyar sedang mencari sesuatu atau seserorang? Dari tadi saya perhatikan kok terus noleh kanan-kiri kayak orang nyari sesuatu, sampek nggak fokus sama jalan. Untung saya tidak lagi tergesa-gesa seperti kemarin, kalau tidak mungkin sudah menabrak Pak Zaviyar untuk kedua kali," kata Ranum.


Senyum Zaviyar terus saja merekah mendapati orang yang ia harap-harapkan kini ada dihadapannya. "Iya, maaf. Aku memang nggak fokus sama jalan, sibuk cari kamu dari kemarin," ucapnya, lagi-lagi dengan senyumnya yang mempesona.


'Oh Allah, apa yang baru saja aku katakan? Kenapa mulut ini tak bisa menahannya?' rutuk Zaviyar dalam hati.


Ranum mengernyitkan dahi. "Cari saya?" tanya Ranum.


"Iya. Aku mencarimu. Ah iya, apa kamu lupa dengan perkataanku kemarin?"


"Setelah kita bertabrakan."


Ranum menatap Zaviyar dengan tatapan penuh tanya.


"Tidak usah berbicara formal denganku, usia kita sepertinya tidak jauh berbeda. Kamu bisa sepertiku saat kita bicara, aku-kamu sepertinya lebih santai dan nyaman dari pada saya-anda, apalagi Pak."


"Oh itu, tapi saya tidak terbiasa untuk berbicara dengan seseorang yang baru saya kenal seperti itu."


"Mungkin mulai sekarang kamu harus belajar melakukan itu, tapi cukup denganku saja."


“Deg!" Jantung Ranum yang tadinya normal seakan mendapat serangan mendadak hingga nafasnya tertahan sejenak. Ia menghela nafas perlahan berusaha menenangkan degup jantung agar tidak nampak kegugupan di raut wajahnya.


"Maaf, Pak, tapi itu akan terasa aneh buat saya." Sebisa mungkin Ranum mencoba untuk menekan nada bicaranya agar terdengar biasa saja di telinga Zaviyar.


"Maka belajarlah mulai sekarang agar terbiasa dan tidak aneh lagi."


Ranum tidak menjawab. Ia bingung, berusaha mengalihkan pandangan. Otaknya tidak lagi bisa berpikir dengan baik untuk mencari jawaban dari perkataan Zaviyar.


"Ranum," panggil Zaviyar. Sontak membuat hati Ranum berdebar dan kembali menatap Zaviyar yang sedari tadi tak memalingkan pandangan darinya.


"Panggil aku seperti aku memanggilmu atau kalau terlalu kaku untuk memanggil namaku secara langsung, panggil saja Mas Zaviyar," ucap Zaviyar lembut. "Dan anggap aku temanmu agar kamu bisa lebih santai saat bicara denganku," imbuhnya.


"Iya, Pak. Eh, Mas," jawabnya gugup.


Zaviyar mengulum senyum melihat Ranum yang gugup.


"Tapi, saya ....."

__ADS_1


"Saya? Belum sempat Ranum menyelesaikan kalimatnya," Zaviyar sudah memotong lebih dulu.


"Eh iya, a-aku tidak mungkin berbicara santai dengan Mas Zaviyar di depan banyak orang, apalagi saat di sekolah." Ranum melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong.


"Oke. Itu tidak masalah. Kita professional saja kalau begitu. Kita berbicara santai seperti ini saat kita di luar pekerjaan atau saat berdua seperti ini. Selebihnya,sesuaikan kondisi kerjaan. Bagaimana? Setuju?"


"Kalau seperti itu, a- aku rasa lebih baik."


"Kenapa bilang aku-nya terbata gitu?"


"Masih kurang nyaman."


"Boleh minta nomor WA?"


Jantung Ranum kembali bergemuruh. Masih belum menjawab.


'Apa maksud mas Zaviyar? Tadi minta bicara santai, sekarang minta no WA. Allah, apa dia tertarik padaku? Tapi, tidak mungkin lelaki seperti dia tertarik padaku, apalagi baru kenal. Dia terlalu sempurna buatku,’ debatnya dalam hati.


"Ra."


"Ehm Iya, Mas. Mas bilang apa barusan?"


"Aku tanya nomor WA kamu, Ra."


"Nah, itu."


"Itu apa?"


"Ra. Mas Zaviyar panggil aku, Ra?" Ranum menegaskan panggilan yang baru saja diucapkan Zaviyar untuknya.


"Iya, kenapa?"


“Nggak biasa. Orang-orang biasanya panggil aku Ranum atau Num."


"Ya, biar beda."


Hening sejenak.


"Boleh aku minta nomor kamu?" Zaviyar mengulang pertanyaannya.


"Kalau aku punya nomor kamu, nanti aku bisa ajarin," sambungnya.


"Ajarin apa, Mas?"


"Ajarin supaya bisa lebih santai waktu sama aku," ucapnya seraya tersenyum menggoda.


Ranum yang merasakan pipinya mulai menghangat tak mampu berkata apa-apa. Hanya raut wajah bingung dan gugup yang mungkin terlihat begitu jelas di mata Zaviyar. Sedangkan pemuda tampan di hadapannya, meras senang melihat mimik muka Ranum.


"Ranum? Gak boleh ya?" tanyanya lagi.


Ranum mengulurkan tangan, meminta ponsel Zaviyar. Tanpa bertanya dan menunggu lebih lama, segera diletakkan benda pipih di tangan gadis manis itu.


"Ini." Zaviyar mengulum senyum usai Ranum mengembalikan gawainya.


***


[Aku balik sekarang] Zaviyar mengirim pesan pada Ranum saat hendak kembali ke Surabaya.


[Iya]


Zaviyar menghela napas panjang membaca balasan Ranum. Allah Ini perempuan, gumamnya. Meski demikian, dosen muda itu kembali mengirim pesan. Menanyakan keberadaan sang gadis, apakah sudah di sekolah seperti tebakannya.


[Iya] Zaviyar mengusap kasar wajahnya saat membaca jawaban singkat Ranum yang kedua kali.

__ADS_1


"Kebangetan kamu, Ra." Zaviyar mendengkus kesal.


🌷🌷🌷


__ADS_2