Ranum

Ranum
Bagian 8


__ADS_3

Malam semakin larut, waktu menunjukkan pukul 10.45 menit. Mata Zaviyar masih enggan terpejam, pikirannya berkelana pada gadis di desa yang kini tak diketahui kabarnya. Ia khawatir, takut terjadi sesuatu pada gadis itu. Rindu juga, apalagi setelah percakapan malam sebelumnya. Membuat Zaviyar makin terngiang akan suara Ranum dan terbayang wajah manis yang membiusnya.


Zaviyar beranjak dari tempat tidur, duduk di meja kerja, membuka sebuah buku, dan penanya bergerak menggoreskan tinta hitam dengan kata-kata indah pada selembar kertas putih.


'Kau magnet yang menarikku masuk lalu menjebaknya


Kau membiusku dengan sorot matamu


Kau Candu


Kau pun racun sekaligus penawar bagiku.'


Zaviyar menghela napas panjang, menutup kembali bukunya.


“Aku gak bisa tenang tanpa kabar dari kamu. Kamu ke mana, Ra? Apa kamu baik-baik saja?” Zaviyar menatap layar ponsel yang memperlihatkan chatnya dengan Ranum.


“Kenapa aku nggak ngomong jujur saja kemarin?” Sesal Zaviyar.


“Ya Allah, jangan biarkan sesuatu yang buruk terjadi pada Ranum.” Pikiran Zaviyar mulai tak karuan. “Tolong jaga dia dan juga hatinya untukku.”


Zaviyar kembali ke tempat tidur dengan perasaan yang masih tak tenang, lalu bangun lagi menuju kamar mandi mengambil wudhu berharap bisa mengusir pikiran negatifnya. Ia rebahkan tubuh di kasur, berusaha menepis semua pikiran buruk yang berlalu lalang di benaknya. Do’a pun dipanjatkan sebelum berusaha memejamkan mata. Entah pukul berapa, akhirnya Zaviyar bisa terlelap.


Saat adzan Subuh terdengar, mata Zaviyar masih terasa berat untuk dibuka. Ia berusaha sekuat tenaga untuk mengalahkan rasa kantuk dan segera melaksanakan kewajiban serta aktivitasnya seperti biasa.


Saat Zaviyar akan berangkat ke kampus, Pak Qosim dan Bu Dini saling melempar pandang melihat wajah putranya yang sedikit lesu.


“Kamu kenapa, Zav?” tanya Pak Qosim.


“Nggak apa-apa, Yah. Cuma kurang tidur aja."


“Kamu sakit?” Bu Dini mendekat dan menyentuh kening Zaviyar.


“Enggak, Bun. Cuma ngantuk aja.”


“Emang kamu ngerjain apa sampek nggak tidur-tidur?” Pak Qosim kembali bertanya.


“Cuma cek beberapa tugas mahasiswa di kampus dan laporan dari mahasiswa yang KKN.”


“Terus keinget seseorang di tempat mahasiswa KKN deh, Yah. Makanya nggak bisa tidur,” celetuk Bu Dini.


“Bunda apa sih?”


“Boleh saja kamu nggak cerita, tapi ingat! Insting Bunda lebih cepat dari pesawat jet sekalipun.”


Zaviyar geleng-geleng kepala mendengar bundanya. Sedangkan Pak Qosim hanya tersenyum melihat istri dan putranya.


“Zaviyar berangkat dulu, Yah, Bun," pamit zaviyar kemudian mencium kedua tangan ayah dan bundanya penuh hormat. “Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam. Hati-hati," sahut keduanya.


***


Di parkiran kampus, Radit yang lebih dulu datang menunggu sahabatnya itu keluar dari mobil. Saat Zaviyar baru keluar, kening Radit langsung berkerut melihat wajah dosen yang biasa terlihat tampan itu.


“Kenapa, Bro?” tanya Radit.


“Nggak kenapa-kenapa.”


“Kok, kusut tuh muka?”


“Kurang tidur semalam.”


“Mikirin gadis desa itu lagi?"


“Hmm.”


“Ada apa lagi? Jangan bilang kalau kamu udah kalah start sama laki-laki lain.”


"Nggak tau lah.”


“Jiaah … nggak tau lagi. Kamu sok sok-an nggak hubungi dia lagi? Apa jangan-jangan dari kemarin itu tetap nggak hubungi?”


“Enggaklah. Waktu itu udah aku hubungi. Tapi kemarin seharian whatsappnya nggak aktif, bahkan sampai sekarang juga belum aktif.”


“Udah coba kirim SMS atau telepon langsung? Nggak lewat WA maksudku?”


“Enggak.”


“Aduh … dodol!” Radit menepuk jidatnya. “Jaman emang udah modern, tapi apa salahnya pakek yang jadul dikit? Jangan bilang kalau kamu nggak ada pulsa, adanya cuma kuota internet.”


“Enak aja. Ya, punyalah pulsa telepon.”


“Terus kenapa nggak langsung di telepon aja, Pak Zaviyar yang terhormat?” ucap Radit yang terlihat menahan kesal.


Tanpa menjawab, Zaviyar melangkah cepat menjauhi Radit.


“Ya elah, ditinggal gitu aja.” Radit berdecak kesal sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Zaviyar menuju salah satu sudut taman kampus yang terlihat sepi. Di sana, tanpa membuang-buang waktu ia merogoh ponsel dalam sakunya, segera mencari kontak Ranum dan memencet tombol panggilan telepon. Tak ada jawaban dari sang pemilik nomor. Kembali mencoba menghubungi, tapi tetap saja tak ada jawaban.


Jemari Zaviyar dengan lincah mengetik sebuah pesan SMS dan dikirim pada Ranum. setelah itu, menuju ke ruang kuliah tanpa karena memang sudah saatnya ia masuk kelas.


Jam istirahat siang tiba, Zaviyar yang baru keluar dari kelas berjalan menuju masjid kampus untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Selesai sholat, kembali ia melihat ponselnya, dan tetap tidak ada kabar dari Ranum.


Zaviyar semakin khawatir, ia berusaha menghubungi nomor Ranum kembali. Cukup lama menunggu jawaban dari Ranum.


“Halo. Assalamu’alaikum.” Suara lemah terdengar dari seberang telepon.


“Ra, kamu sakit?”


“Enggak kok, Mas.”


“Itu suaranya kok kayak lemes gitu.”


“Cuma capek aja.”


“Beneran?”


“Iya, Mas. Aku nggak apa-apa kok.”


“Yakin? Suara kamu lemes gitu. Dari kemarin juga nggak bisa dihubungi. Pasti kamu kenapa-kenapa, ya?”


“Enggak, Mas. Cuma perutku sakit aja dari kemarin malam, sehabis teleponan sama Mas Zaviyar. Jadi aku males aktifin mobile datanya, dan ini tadi aku tiduran dari pagi.”


“Tuh, kan. Pasti karena kamu nggak makan waktu itu. Terus tadi ke sekolah nggak?”


“Nggak, Mas. Aku 'kan udah bilang kalau tiduran dari pagi. Badanku agak panas juga, jadi istirahat di rumah.”


“Ra, Ra. Lain kali ingat-ingat, jangan sampai telat makan lagi.”


“Iya, iya. Mas Zaviyar sendiri udah makan siang belum?”


“Belum, habis ini.”


‘Gimana aku bisa makan siang dengan tenang kalau nggak ada kabar dari kamu,' batin Zaviyar.


“Ya, udah. Mas Zaviyar makan dulu. Aku juga mau bangun, makan, terus sholat.”


“Okey. Tapi kalau ada apa-apa kabari aku.”


“Insya Allah.”


“Ra.” Suara Zaviyar sedikit ditekan.


“Okey, nanti aku hubungi lagi. Istirahat yang cukup setelah ini. Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikumussalam.”


Usai panggilan telepon itu, Ranum masih bingung dengan sikap Zaviyar. Kemarin saat telepon, Ranum yang sempat melayang dengan ucapan lelaki itu lalu dihempaskan begitu saja dengan pernyataan selanjutnya. Dan kini, panggilan telepon yang didapat serta nada bicara yang terdengar khawatir membuat gadis bermata tajam itu kembali ingin terbang. Tapi, sekuat tenaga ditepis rasa itu, takut terjatuh lagi.


‘Kamu sebenarnya gimana sih, Mas? Bentar buat hati orang melayang, bentar dijatuhin.' Ranum menggerutu.


‘Tapi, salahku juga yang mungkin terlalu ke-ge er-an. Ah … setelah ini aku harus bisa jaga hati lebih kuat lagi, biar nggak kecewa mulu.’


Ranum pun segera bangkit dari kasur, keluar kamar dan menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu lalu sholat Dzuhur karena Ibunya belum juga pulang dari sekolah. Ranum yang sudah merasa lapar, cepat-cepat mengambil makanan di dapur. Saat Ranum melahap makanannya, Bu Ratih datang.


“Assalamu’alaikum. Udah dari tadi bangun?” tanya Bu Ratih.


“Wa’alaikumussalam. Iya, Bu. Udah sholat juga barusan.”


“Udah enakan?”


“Alhamdulillah.”


“Kamu emang bandel, udah tahu kalau telat makan pasti sakit, masih saja kayak gitu.”


“Maaf, Bu. Ya, habis ngantuknya benar-benar nggak bisa ditahan lagi.”


“Wong pancen penyakit e bantal. Lama dikit nggak ketemu bantal, ya gitu lupa sama yang penting.” Bu Ratih berkata sambil berlalu menuju kamar meninggalkan Ranum yang hanya cengengesan mendengarnya.


***


Matahari terus bergeser ke arah barat, siang pun berganti menjadi malam. Hari ini, selepas maghrib Ranum tak lagi berkutat dengan tugas. Ia hanya berbaring di kasur karena tubuhnya yang masih terasa lemah. Ponselnya pun masih tergeletak di atas meja rias, tak disentuh usai panggilan telepon Zaviyar tadi siang.


Adzan Isya berkumandang, Bu Ratih mengajak Ranum segera menunaikan sholat agar putrinya itu bisa beristirahat lebih cepat dari biasanya. Namun, tak lama setelah sholat Isya, terdengar nada panggilan dari ponsel Ranum.


“Lagi ngapain sekarang?” tanya Zavoyar usai mengucapkan salam.


“Tiduran aja di kamar, habis sholat barusan.”


“Oh, ya baguslah. Udah makan?”


“Udah tadi habis maghrib makan sama Ibu. Mas Zaviyar sendiri?”


“Sama, udah juga.”

__ADS_1


“Sholatnya?”


“Alhamdulillah, juga sudah.”


“Gimana keadaan kamu, Ra? Udah baikan?”


“Alhamdulillah, Mas. Besok juga udah masuk sekolah lagi.”


“Jangan maksain. Kalau masih kurang sehat, buat istirahat aja.”


“Yang kepala sekolahku siapa sih?”


“Ya, nggak tahu. Aku belum kenalan.”


“Nah, terus kenapa Mas Zaviyar yang ngatur dan ngasih izin aku boleh masuk sekolah apa nggak.”


“Bukannya gitu, dari pada belum sehat dipaksain terus nanti makin parah, kan tambah repot juga.”


“Mas Zaviyar do’ain aku tambah sakit, nih?”


“Siapa juga yang do’ain kamu sakit. Aku justru do’ain kamu sehat terus.”


“Ehm … masa?”


“Iyalah, pasti. Kamu sakit dan nggak ada kabar bikin orang khawatir aja.”


“Emang ada yang khawatirin aku selain Ibu?” pancing Ranum.


“Ya ... ada lah.”


“Siapa?”


“Ya … pokoknya ada.”


“Iya, terus siapa orangnya?”


“Masa kamu nggak tahu sih, Ra?”


“Mana aku tahu. Yang aku tahu, selama ini yang khawatir sama aku tuh, ya cuma Ibu.”


Sejenak tak ada lagi suara diantara mereka. Hening.


“Minggu depan ke mana?” Zaviyar mengalihkan pembicaraan, takut keceplosan lagi.


“Belum tahu,” jawab Ranum kesal karena tidak mendapat jawaban seperti yang ia harapkan.


‘Udah, Ranum. Nggak usah berharap lagi,' batinnya.


“Ingat 'kan kalau aku mau ke sana?”


“Iya. Emang kenapa? Wong Mas Zaviyar ke sini juga mau mantau mahasiswa KKN.”


“Terus nggak boleh kalau sambil ketemu kamu?”


“Terserah.”


“Jawabnya kok gitu?”


“Maunya aku jawab gimana?”


“Iya, yang enak dikit. Jangan ketus gitu.”


“Tambah bumbu aja atau apa gitu biar enak.”


Zaviyar terkekeh mendengar ucapan Ranum. “Lah, emang makanan ditambah bumbu biar enak?”


“Tau lah, terserah Mas aja.”


“Okey. Kalau terserah aku, boleh aku minta kamu nggak kemana-mana hari minggu nanti?”


“Terus, aku mau ngapain?”


“Tungguin aku.”


“Iya, aku tungguin. Terus nanti aku gelar karpet merah buat Mas Zaviyar.”


“Serius, Ra," ucap Zaviyar penuh penekanan.


“Iya, iya. Nih, aku dua rius.”


“Ranum Nasha Razita.”


Ranum tak menjawab setelah mendengar Zaviyar menyebut nama lengkapnya. Entah seperti apa hatinya kini.


“Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu. Jadi, tolong kalau tidak ada kepentingan mendesak, tunggu aku.”


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2