Ranum

Ranum
BUNGA GERBERA


__ADS_3

Hari telah berganti. Malam ini hujan turun sangat deras di luar. Angin kencang berkesiur, suara petir terdengar saling membalas. Udara terasa dingin dan lembap.


Ranum dan Chen kembali dari rumah sakit. Mereka berlari kecil di halaman depan, segera masuk ke dalam rumah. “Terima kasih sudah mengantarku.” Chen tersenyum.


Ranum mengangguk, sibuk melepas sepatunya. Setelah sepatu kedua sudah terlepas dari kaki, Ranum beranjak ke dapur, menuang whiskey ke dalam gelas. Chen mengikuti Ranum. “Boleh aku minta segelas?” Chen bertanya.


Ranum menggeleng. “Pikirkan anakmu.” Ranum menenggak whiskey yang ada di gelasnya.


“Segelas saja tidak akan mempengaruhi bayi ini.” Chen memaksa.


Ranum menggeleng, membuka kulkas, menuangkan susu ke dalam gelas, Ranum memberikan susu tersebut ke Chen.


Chen menggeleng. “Aku bosan minum susu. Aku ingin bourbon milikmu.”


“Sebaiknya urungkan usahamu membujukku. Aku tidak akan memberikan whiskey untukmu walau setetes.” Ranum menaruh botol whiskey ke dalam lemari kaca, kemudian mengunci lemari tersebut. “Aku akan ke halaman belakang. Pesanlah sesuatu untuk kita makan malam ini.” Ranum mengambil beer dari kulkas kemudian melangkah ke halaman belakang.


Lima menit kemudian Chen datang ke halaman belakang menghampiri Ranum, Chen duduk di sebelah Ranum. Ranum segera mematikan rokoknya, mengibaskan tangannya ke udara agar asap rokok cepat terurai. “Ada apa?” Ranum bertanya datar.


Chen menggeleng. “Kenapa kamu mau menerimaku di rumah ini? Aku sudah hampir tujuh bulan merepotkanmu. Pun aku tidak membantu apapun di rumah ini.”


Ranum meminum beer yang ada di genggamannya. “Aku tidak memiliki jawaban atas pertanyaanmu. Tapi kalau kamu sudah bosan dan ingin pergi dari sini, aku tidak akan melarang. Pun selama ini kamu membantuku untuk membereskan rumah ini. Itu sudah lebih dari cukup.”


“Selama aku tinggal bersamamu, aku tidak pernah melihatmu dekat dengan wanita. Kenapa?” Chen menatap Ranum.


“Aku memiliki seorang istri dan juga seorang anak, untuk apa aku mencari wanita lain? Dan kenapa kamu harus bertanya seperti itu?” Ranum bingung dengan pertanyaan Chen.


“Kamu memiliki anak?” Chen terkejut.


Ranum mengangguk.


“Lalu dimana anakmu?”


“Bersama ibunya.” Ranum kembali meminum beernya.


“Sebenarnya kemana dan kenapa mereka meninggalkanmu? Tidak pernah sekalipun aku melihatmu mengunjungi atau dikunjungi mereka.”


Ranum tersenyum. “Aku mengunjungi mereka setiap minggu. Aku tidak harus memberitahumu soal itu kan?” Ranum membalas tatapan Chen, tersenyum.


“Sekarang mereka tinggal dimana?”


Ranum mengangkat bahunya, kembali menatap bunga yang ada di halaman belakang rumahnya.


“Lalu kamu menemui mereka dimana?”


“Makam.”

__ADS_1


“Makam?” Chen terkejut. “Aku tidak salah dengar?” Lanjut Chen bertanya.


Ranum menggeleng. “Mereka sudah meninggal.”


“Berarti waktu kamu bilang kamu yang melukai istrimu itu benar? Kamu membunuh istrimu?” Chen menutup mulutnya.


“Aiguo Wu.”


“Aiguo Wu?” Chen bingung.


“Aku membunuh ayah Aiguo Wu. Aiguo Wu tidak terima atas perbuatanku lalu dia membayar seseorang untuk membunuhku. Tapi pembunuh itu selalu gagal menemukanku. Mungkin karena kesal atau untuk mengirim pesan kepadaku, dia membunuh istriku. Saat itu istriku sedang mengandung anak kami.”


“Jadi itu alasan kamu menyerang villa milik Aiguo Wu di Violin Islands?”


Ranum mengangguk.


“Lalu kenapa kamu bilang kalau kamu yang melukai istrimu?”


“Karena sebenarnya pembunuh itu mengincarku. Seharusnya aku yang mati, bukan istriku. Itu tidak ada bedanya dengan aku yang membunuh istriku.”


Halaman belakang rumah Ranum lengang sejenak. Beberapa menit kemudian kurir yang mengantarkan makanan tiba, Ranum mengambil makanan tersebut, kemudian menaruhnya di meja makan.


“Maafkan aku sudah membahas tentang istrimu.” Chen menatap Ranum.


Ranum mengangguk, menyendok makanannya.


Ranum mengambil sebuah payung, melangkah keluar rumah. Gemercik gerimis membuat suasana komplek perumahan tersebut sedikit berirama. Ranum menuju taman komplek yang berjarak sekitar 700 meter dari rumahnya. Ranum duduk di bangku taman tersebut, memandangi hamparan tanah yang dipenuhi pepohonan dan bunga – bunga, membuat taman itu terlihat berwarna walau malam hari.


Seorang anak kecil berlari – lari kecil dibawah gerimis. Anak kecil itu membungkuk, membelai bunga – bunga di hadapannya, kemudian mencium bunga tersebut. Anak kecil itu tersenyum menatap hamparan bunga di hadapannya. Ranum tersenyum melihat anak kecil itu bermain – main di hadapannya. Ranum beranjak dari kursinya, mendekati anak kecil itu.


“Hai.” Kedua lutut Ranum menyentuh rumput, menyapa anak kecil itu dengan senyum.


“Hai.” Anak kecil itu tersenyum, tangannya gesit memutar tangkai bunga yang telah dipetiknya.


“Apa yang kamu lakukan malam – malam seperti ini? Pun saat ini sedang hujan.” Ranum memayungi anak kecil itu.


“Aku ingin melihat bunga – bunga cantik ini.” Anak kecil itu tersenyum, tangannya menjulurkan bunga ke Ranum. “Ini untuk kamu.” Lanjut anak kecil itu.


Ranum tersenyum. “Terima kasih.” Ranum mengusap kepala anak kecil itu. “Mau duduk di sana bersamaku?” Ranum menunjuk bangku taman.


Anak kecil itu mengangguk perlahan. Ranum menggandeng anak kecil itu, mereka duduk di bangku taman.


“Kamu tinggal dimana?” Ranum bertanya.


“Disana.” Anak kecil itu menunjuk sebuah rumah.

__ADS_1


“Itu rumahmu?” Ranum menunjuk sebuah rumah sesuai yang dia tangkap dari anak kecil itu.


Anak kecil itu menggeleng. “Yang disana, disebalahnya, disebelahnya lagi, disebelahnya lagi rumah yang itu.” Anak kecil itu menunjuk rumah secara bergantian.


Ranum tertawa kecil. “Baiklah, baiklah.” Ranum hanya mengiyakan kalimat anak kecil itu walau dia tetap tidak mengerti maksud anak kecil tersebut. “Namamu siapa?” Lanjut Ranum bertanya.


“Kaitlyn.” Anak kecil itu mengangguk – angguk.


“Namamu cantik seperti wajahmu.” Ranum tersenyum menatap anak kecil itu. “Kamu tahu bunga apa yang sedang kamu pegang itu?” Lanjut Ranum bertanya.


Anak kecil itu menggeleng.


“Nama bunga itu adalah gerbera. Tolong pegang sebentar payung ini.” Ranum memberikan payung yang ada di genggamannya ke anak kecil tersebut. “Tunggu sebentar disini.” Ranum berlari kecil, mengambil beberapa batang bunga gerbera dengan warna beragam.


Ranum kembali duduk di bangkunya, meraih payung dari anak kecil itu. “Cantik bukan jika mereka digabungkan seperti ini.” Ranum tersenyum, tangannya mengangkat beberapa batang bunga gerbera. “Jika digabungkan seperti ini, bunga ini dapat melambangkan keindahan sederhana dari kehidupan yang sangat bahagia. Tapi jika kamu memisahkan mereka, maka maknanya akan berbeda lagi. Contohnya yang merah ini.” Ranum memisahkan satu tangkai bunga gerbera berwarna merah. “Yang merah ini berarti rasa cinta yang begitu dalam. Sedangkan yang putih ini memiliki arti kemurnian atau kesucian. Nah yang kuning ini bermakna keceriaan sama seperti yang warna oranye ini. Kalau yang terakhir, yang berwarna pink ini memiliki makna kekaguman.” Ranum menunjukkan satu – persatu bunga tersebut.


“Kenapa yang berwarna oranye dan kuning memiliki arti yang sama?” Anak kecil itu bertanya bingung.


Ranum tersenyum. “Yang oranye ini biasanya di taruh di pekarangan rumah atau di buat karangan bunga untuk orang yang baru saja menikah. Sedangkan yang kuning ini, biasanya diberikan untuk orang yang sedang melewati masa sulit dalam hidupnya, agar orang itu bisa ceria kembali saat menatap bunga gerbera kuning ini.” Ranum tersenyum menatap bunga gerbera kuning itu. “Apa kamu sedang bersedih?” Ranum bertanya ke anak kecil tersebut.


Anak kecil itu mengangguk, memasang wajah sedih.


“Ini untukmu.” Ranum memberikan semua bunga tersebut.


“Terima kasih.” Anak kecil itu tersenyum, menggemaskan.


“Apa yang membuatmu sedih?” Ranum bertanya.


Anak kecil itu menunduk. “Apa kamu memiliki orang seperti ibuku?” Anak kecil itu berbicara lirih.


Ranum menatap anak kecil itu, bingung. “Maaf, tapi aku tidak mengerti apa maksudmu.”


“Maksudku seperti ayahku memiliki ibuku.”


“Oh, maksudmu pasangan?”


Anak kecil itu mengangguk.


“Dulu aku memilikinya, tapi sekarang orang yang kumiliki seperti ibumu sudah tidak ada.” Ranum tersenyum menatap bunga – bunga yang ada di depannya.


“Apa dia tidak ada karena kamu sering memukulinya?” Anak kecil itu bertanya dengan wajah polos menatap Ranum.


Ranum menatap anak kecil itu. “Tentu aku tidak akan melakukan hal seperti itu. Kenapa kamu menanyakan pertanyaan seperti itu?” lanjut Ranum bertanya.


“Setiap malam saat ibuku masuk ke kamarku untuk menemaniku tidur, aku melihat ibuku dengan luka baru di tubuh atau wajahnya, tidak jarang juga matanya terlihat merah seperti habis menangis. Dia selalu bilang kalau itu hanya sebuah kecelakaan saat dia sedang membereskan rumah dan tangisannya disebabkan karena tidak kuat menahan rasa sakit yang dialaminya. Tapi tadi saat aku melewati kamar orang tuaku, aku melihat ayahku sedang memukuli ibuku dengan tangannya hingga ibuku terjatuh di lantai. Aku takut melihatnya jadi aku memutuskan untuk pergi ke taman ini.” Anak kecil itu menunduk sedih.

__ADS_1


Ranum merangkul anak kecil tersebut. “Kadang kehidupan orang dewasa akan sangat sulit untuk kamu mengert. Aku sangat mengerti apa yang sedang kamu alami. Tapi percayalah, semua akan baik – baik saja.” Ranum tersenyum. “Ayo aku akan mengantarmu pulang. Pasti saat ini orang tuamu sedang mencemaskanmu.” Ranum mengacak rambut anak kecil itu.


Anak kecil itu mengangguk.


__ADS_2