
“Para hadirin semuanya, sambutlah penantang baru kita! Mark kelly!” Komentator berseru dengan riang menyambut Ranum di dalam ring. “Dia akan melawan salah satu petarung terbaik kita! Green Oliver!” Komentator itu kembali berseru riang hingga suaranya serak.
Semua penonton bertepuk tangan, bersorak sorai. Ranum dan Green saling mendekat, wasit menjelaskan peraturan pertandingan. “Peraturan pertama, pertarungan ini tidak memiliki peraturan. Peraturan kedua, lihat kembali peraturan pertama. Peraturan ketiga, lihat peraturan kedua. Dan peraturan keempat sekaligus yang terakhir, jangan sampai kalah.” Wasit itu berbicara dengan tatapan tajam.
Merasa sudah paham dengan peraturan, Ranum dan Green mengangguk segera mundur, bersiap memulai pertandingan. Lonceng sudah berbunyi, wasit sudah menurunkan tangannya, pertandingan dimulai.
Ranum bergerak ke kanan dan ke kiri secara perlahan. Green dengan sangat lincah lompat ke kenan dan ke kiri, sesekali dia menggertak Ranum dengan maju satu langkah, kemudian mundur kembali. Ranum mempelajari gerakan Green, saat melihat sedikit celah, Ranum segera melayangkan pukulan straight tepat di wajah Green. Green langsung terjatuh di lantai ring berlapis ensolite tersebut. sorak sorai penonton hening sejenak membuat tempat tersebut lengang.
Wasit memeriksa Green, tangan wasit cepat memegang denyut nadi Green. Wasit segera memberikan tanda TKO (Technical KnockOut).
“Astaga! Apa yang baru saja kita saksikan. Satu pukulan menewaskan satu petarung terbaik kita! Mark Kelly memenangkan pertandingan ini dengan satu pukulan!” Komentator itu berseru riang, memecah lengang. Sorak sorai penonton kembali riuh terdengar. Wasit mengangkat tangan Ranum, menandakan Ranum memenangkan pertandingan.
Melvin segera masuk ke dalam ring. “Astaga Mark, kamu sangat hebat sekali! Dengan satu pukulan Jab bisa mengalahkan satu orang!” Melvin berseru riang.
Ranum menggeleng. “Aku tidak bermaksud membunuh orang itu. Sepertinya aku harus mengurangi tenagaku di pertandingan selanjutnya.”
“Jangan! Lakukan saja seperti sebelumnya. Itu sangat mengesankan!” Melvin berseru takjub.
Ranum hanya diam, dia akan tetap mengurangi kekuatan pukulannya.
__ADS_1
“Hadirin semuanya, sambutlah penantang kedua kita Lewis Hamblin!” Komentator yang sedang memegang mikrofon, lompat kegirangan di tempatnya berdiri. Lewis Hamblin masuk ke dalam ring, menatap Ranum dengan buas, menyeringai.
“Lewis Hamblin dengan rekor 31x kemenangan, 2x kalah dan 4x seri. Akan melawan penantang baru kita yang memiliki pukulan mematikan dengan rekor 1x menang belum pernah kalah dan seri, Mark Kelly!” Komentator itu berseru riang, tertawa.
Ranum dan Lewis saling mendekat, wasit kembali menjelaskan peraturan pertandingan. Ranum dan lewis mengangguk segera mundur, bersiap memasang kuda – kuda. Lonceng pertandingan kembali berbunyi, pertarungan kedua dimulai.
Ranum melakukan gerakan mengayun kecil di tangannya, kali ini dia fokus bergerak perlahan ke kiri membuat Lewis mengikuti arah gerakan Ranum, mereka perlahan berputar. Lewis tetap menyeringai menatap Ranum buas, seperti harimau melihat rusa. Kaki kiri Lewis segera menjadi tumpuan, kaki kanannya cepat mengayun ke arah pipi Ranum. Ranum terkejut dengan tendangan secepat itu, dia tidak berhasil menghindari tendangan tersebut. “Tidak buruk.” Ranum tersenyum.
“Apa – apaan ini! Tendangan sekeras itu tidak membuat Mark terjatuh! Tendangan itu hanya membuat Mark bergetar di tempat! Sungguh daya tahan tubuh yang sangat kuat! Monster macam apa yang sedang berada di dalam ring!” Komentator berseru takjub.
Belum selesai komentator itu menyelesaikan kalimatnya, Ranum kembali melayangkan tinju straight dengan tangan kirinya, tapi tinju itu berhenti dalam jarak 1cm dari wajah Lewis. Dengan sangat cepat lutut Ranum menghantam perut Lewis membuat Lewis menunduk, tidak sampai satu detik tangan kanan Ranum sudah melayang sangat kuat melepaskan tinju uppercut. Tubuh Lewis terlempar hingga menabrak pagar besi yang mengelilingi ring. “Astaga! Apa kalian lihat, apa kalian semua lihat! Mark melakukan teknik cross dengan tambahan tendangan menggunakan lutut itu mengerikan sekali! Kecepatannya tidak tertandingi!” Komentator berseru kegirangan.
Melvin kembali masuk ke dalam ring, memberikan Ranum air mineral. “Memang aku tidak salah telah meminta bantuanmu!” Melvin berseru takjub, tangannya gesit menyapu keringat Ranum dengan handuk.
Ranum hanya diam, pandangannya lurus ke depan.
Lima menit kemudian, pertandingan ketiga dimulai. Kali ini lawan Ranum adalah Bailey F. Jackman. “Wow apa kalian lihat itu! Jackman berhasil memukul pipi kanan Mark! Tapi lagi – lagi, pukulan seperti itu tidak bisa menumbangkan seorang Mark Kelly.” Komentator berseru sambil tertawa. “Lihatlah – lihatlah! Jackman menyerang Mark membabi buta! Itu sangat mengerikan! Sepertinya malam ini Jackman sedang bersemangat! Apakah kali ini Mark akan kalah?” Komentator berseru, suasana menjadi tegang.
Ranum mendapat pukulan bertubi – tubi dari Jackman, beberapa serangan bisa di tahan Ranum, sisanya berhasil mengenai Ranum. Ranum melihat kedua tangan Jackman fokus melancarkan serangan, tidak ada pertahanan sama sekali. Ranum segera menepis tinju kiri Jackman ke arah kanannya, membuat bagian kirinya terbuka lebar. Ranum segera melepaskan tinju hook ke bagian kiri wajah Jackman, membuat Jackman sedikit bergerak ke kanan, kuda – kudanya tidak kuat. Ranum segera menendang lutut bagian belakang Jackman, lututnya menyentuh lantai ring. “Mark membalikkan keadaan! Lihatlah! Dia membuat Jackman berlutut!” Komentator berseru takjut. “Oh sial Mark menghantamkan lututnya ke wajah Jackman! Lihatlah Jackman terlempar!” Komentator itu terus berseru.
__ADS_1
Wasit menahan gerakan Ranum yang ingin mengejar Jackman. Penonton kembali terdiam, termasuk sang komentator yang membeku di tempatnya. Wasit segera memeriksa Jackman, lalu memberikan tanda TKO. “Mark kembali memenangkan pertandingan dengan membuat musuhnya mati!” Komentator itu kembali berseru, memecah lengang. Sorak sorai penonton kembali membuat tempat tersebut riuh. “Apakah Mark akan mengalahkan rekor Darcy Foster dengan melakukan lima pertandingan dalam semalam? Atau Mark akan menyerah kali ini? Mari kita lihat dalam delapan menit kedepan!” Komentator kembali berseru.
“Kita masuk ke pertandingan keempat! Penantang Mark Kelly selanjutnya adalah Isaiah Dry! Dengan rekor 32x menang, 7x kalah dan 9x seri! Apakah kali ini Mark akan kalah? Atau dia akan tetap menang seperti sebelum – sebelumnya dan memecahkan rekor milik Darcy Foster? Mari kita saksikan!” Komentator sudah kembali berseru.
Ranum dan Dry sudah berada di dalam ring, lonceng berbunyi. Pertandingan keempat dimulai.
Ranum terkejut melihat Dry bergerak lincah dengan teknik ginga, Dry menggunakan teknik bela diri Capoeira. Dengan cepat Dry melayangkan serangan dengan teknik Au, tubuhnya mengayun, berputar 180 derajat. Kakinya di atas, menyerang Ranum, tangan sebagai tumpuan untuk menahan tubuhnya agar tetap kokoh. Satu tendangan sudah di layangkan oleh Dry, tapi dia tidak berhenti disitu, Dry memutar tubuhnya berkali – kali dengan kaki yang terus melayangkan pukulan, Ranum berhasil di pukul mundur, terpelanting ke ujung ring. Dry segera membalikkan badannya, berlari ke arah Ranum. Ketika Dry merasa jaraknya sudah tepat, dia langsung memutar tubuhnya 360 derajat menandang Ranum dengan sangat keras dengan teknik Au Chibata. Dry segera mundur lagi, memantapkan kuda – kuda dengan teknik ginga.
Ranum perlahan bangkit, menyeka darah di ujung bibirnya, tersenyum menatap Dry. Ranum melakukan teknik ginga. “Mari kita lakukan.” Ranum menyeringai, dia akan bertarung menggunakan teknik bela diri Capoeira juga. Ranum segera melayangkan serangan dengan teknik campuran Au Zinho, kaki Ranum gesit melepaskan tendangan berkali – kali ke arah Dry menggunakan teknik tersebut. Dry terpelanting dua meter ke belakang. Ranum segera membalikkan tubuhnya, menopang tubuhnya menggunakan satu tangan , melepaskan tendangan mematikan ke arah Dry menggunakan tumitnya.
Wasit segera memeriksa Dry, kembali memberikan tanda TKO. Ranum memenangkan pertandingan keempat. “Apa kalian lihat itu! Mark juga bisa menggunakan teknik bela diri capoeira! Sangat menakjubkan! Siapa sebenarnya orang ini! Siapa!” Komentator berseru – seru takjub, penonton bertepuk tangan kagum melihat pertandingan Ranum.
Melvin kembali masuk ke dalam ring, mengompres lebam yang ada di tubuh dan wajah Ranum menggunakan kantong es. “Kamu juga bisa capoeira Mark?” Melvin bertanya takjub.
“Sedikit.” Ranum menjawab singkat, tangannya sibuk menyeka peluh.
“Apa kamu sudah mencapai batasmu Mark?” Melvin bertanya.
Ranum menggeleng. “Aku semakin menyukai tempat ini.” Ranum tersenyum, pandangannya masih lurus ke depan, fokus.
__ADS_1
“Baiklah kalau begitu kawan!” Melvin berseru gembira, tangannya sibuk memegang kantong es.