
Malam itu, di tengah udara dingin yang menerpa kulit. Dua insan tak lagi merasakan dinginnya malam. Namun, hanya hangat terasa di hati dan menjalar ke seluruh tubuh.
[Assalamu’alaikum, Ini aku, Zaviyar. Save ya] Terlihat nomor baru yang masuk chat Whatsapp Ranum.
[Wa’alaikumussalam. Iya, Mas]
[Lagi apa?]
[Di kamar aja, ngetik]
Obrolan ringan melalui chat di aplikasi pesan itu terus berlanjut. Saling tanya kegiatan dan sesekali diselingi canda meski kadang masih teras kaku bagi Ranum.
Adakalanya Zaviyar kehabisan kata saat harus membalas pesan Ranum, karena gadis itu hanya membalas dengan singkat dan seperlunya saja. Sedangkan dirinya masih ingin berbincang. Sempat juga tak mendapat balasan, hingga akhirnya pemuda dari kota pahlawan itu mengatakan bahwa esok ia akan kembali ke Surabaya.
[Oh iya, Mas] Sekali lagi, respon yang didapat Zaviyar sebatas itu, tak lebih seperti harapan.
Mau tidak mau, pemuda itu harus terus mencari bahan obrolan agar bisa lebih lama lagi. Basa-basi meminta izin untuk bisa bertemu kembali di lain waktu dan hanya jawaban singkat yang diterima entah untuk yang ke berapa kalinya.
Chat pun terhenti sejenak dan hanya hening yang mereka rasa di tempat masing-masing.
[Dan boleh gak aku terus chat sama kamu, seperti sekarang ini, Ra?] Akhirnya pertanyaan itu lolos juga.
Lagi, Ranum tidak membalas. Dia masih saja bingung, takut salah. Kalau langsung bilang iya takut dikira gampangan, tapi mau nolak, sayang. Cogan. Eh …
Satu pesan Zaviyar kembali masuk membuyarkan lamunan Ranum. Ragu-ragu ia membalasnya, itu pun bukan memberi jawaban. Pembicaraan dialihkan. Membahas kesibukan pemuda tampan berwajah teduh itu. Berharap akan lupa tentang pertanyaan sebelumnya.
Merasa tidak mendapat kepastian, Zaviyar kembali mengingatkan apa yang ia tanyakan pada Ranum. Kembali hening beberapa menit. Sama-sama gelisah di ruang yang berbeda.
Ingin rasanya Zaviyar datang menemui gadis desa itu. Gelisah tidak sabar menunggu jawaban. Sedangkan di tempat lain, Ranum juga gelisah menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan.
[Ehm …. Terserah mas Zaviyar aja]
Sedetik kemudian, Ranum merasa bodoh dengan jawaban itu. Ia merutuk diri sendiri. 'Ranum, apa yang barusan kamu kirim? Kelihatan banget kalau nggak punya pendirian. Ah, bodoh!'
Zaviyar memicingkan mata menatap layar ponsel di tangan. Senyum tipis terukir. Hatinya girang bukan main mendapat lampu hijau dari Ranum. Meski begitu, ia pura-pura tak mengerti dan membalas dengan kembali bertanya. Sedikit menggoda.
[Ya udah, kalau gak mau] balas Ranum mulai kesal.
Senyum Zaviyar makin terkembang, membayangkan wajah manis Ranum yang sedang marah di seberang sana. Tidak lagi ingin bermain-main, pemuda itu menyanggupi akan menghubungi jika tidak sedang sibuk.
Waktu sudah larut saat mereka sadar ternyata obrolan berlangsung cukup lama. Zaviyar pun berniat mengakhiri chat yang ia mulai dan meminta Ranum untuk segera istirahat.
[Gimana mau tidur, Mas Zaviyar chat mulu dari tadi]
Zaviyar kembali tersenyum sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. Menyadari ulahnya yang sudah menahan gadis manis itu agar tetap terjaga hingga larut. Ia pun segera mengakhirinya.
Usai chat berakhir, dua insan itu merasakan seolah ada sesuatu yang sama-sama tidak bisa dijelaskan dalam hati. Rasa bahagia, tapi mereka tak berani menyimpulkan bahwa itu cinta karena perkenalan mereka yang masih sangat singkat.
***
__ADS_1
Hari telah berganti, waktunya Zaviyar kembali ke Surabaya dan menjalani aktivitasnya. Sebelum keluar dari rumah Pak Tomo, ia menyempatkan mengirim pesan pada Ranum untuk berpamitan. Sekedar basa basi sebenarnya, toh semalam dia sudah chat dan berpamitan pula. Tapi apalah daya, tak mampu juga menghalang keinginan untuk menghubungi gadis yang sudah membuat hati kian berbunga.
[Iya]
Zaviyar menghela napas panjang membaca balasan Ranum. Bunga yang mekar begitu segar nan indah, seperti layu seketika.
“Allah… Ini perempuan," gumamnya.
Kembali pemuda itu mengirim pesan, menanyakan keberadaan Ranum. Sudah di sekolahkah atau masih di rumah. Dan lagi, hanya satu kata yang dikirim sebagai jawaban. Zaviyar mengusap kasar wajahnya yang mendapat balasan singkat kedua kali.
“Kebangetan kamu, Ra.” Zaviyar mendengkus kesal.
Di tempat lain, tanpa Zaviyar tahu Ranum gugup tiap kali mendapat chat dari Zaviyar, hingga ia sendiri bingung balasan apa yang harus dikirim pada lelaki berwajah tegas namun meneduhkan itu.
Diangkatnya barang bawaan dengan kasar. Zaviyar pamit pada mahasiswanya dan juga Pak Tomo. Baru saja masuk mobil, notifikasi di ponselnya menunjukkan chat baru dan itu membuat senyum Zaviyar kembali terkembang.
[Hati-hati, Mas!]
Wajah Zaviyar yang sempat kusut kembali semringah, ia menutup pintu mobil perlahan dan dengan cepat membalas pesan Ranum. Bergegas dibalasnya pesan itu dan berjanji memberi kabar setibanya di Surabaya.
[Iya, Mas]
Kali ini, meski balasan singkat yang didapat, tapi cukup membuat Zaviyar bahagia. Tidak lagi kesal seperti sebelumnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, Zaviyar tidak terburu-buru. Jadwal di kampus hari ini mengisi kuliah sore. Ia menikmati perjalanan hari itu. Perjalanan yang sebenarnya biasa saja entah kenapa terasa istimewa bagi Zaviyar. Hatinya berbunga karena pesan singkat dari seorang gadis desa bernama Ranum.
‘Oh Allah, benar jika kau ciptakan makhluk-MU dengan pesonanya masing-masing. Ranum, mungkin terlihat sederhana. Tapi punya sisi lain yang begitu menarik, bagiku. Sorot matamu itu seperti telah menarikku masuk dan mengunciku di dalamnya.’ Zaviyar tersenyum sendiri di belakang kemudi.
Zaviyar mencium tangan Bundanya penuh takzim. Wajah sumringah serta senyum yang terus terkembang membuat Bu Dini, bunda Zaviyar heran.
“Kamu kenapa?” tanya Bu Dini melihat Zaviyar.
“Gak apa-apa, Bun. Emang ada yang salah, ya?”
“Oh, gak kok. Kamu udah sarapan belum?” Bu Dini terus memperhatikan putranya yang terlihat bahagia dengan senyum tak henti tersungging di bibir sejak memasuki rumah.
“Belum.”
“Ya udah, makan sana. Itu makanannya mumpung masih di meja makan semua.”
“Ayah udah berangkat?”
“Iya, baru saja. Gak lama sebelum kamu masuk.”
“Oh. Zaviyar ke kamar dulu, Bun taruh barang dan ganti baju.”
Bu Dini hanya menganggukkan kepala, lalu Zaviyar menaiki tangga menuju kamarnya. Tak berapa lama, Zaviyar keluar dari kamar dan langsung ke ruang makan untuk sarapan, karena tadi pagi dia memilih langsung kembali ke Surabaya tanpa menunggu sarapan.
Bu Dini merupakan sosok Ibu yang sangat perhatian dan menyayangi keluarga. Beliau begitu mengerti pada suami dan putra semata wayangnya itu. Menjadi orang yang mengandung, melahirkan, dan merawat dengan penuh kasih hingga saat ini Zaviyar sudah berusia dua puluh sembilan tahun, membuatnya begitu mengerti perubahan yang terjadi pada sang putra. Namun, saat ini mungkin bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Meskipun itu kabar yang membahagiakan.
__ADS_1
Bu Dini ikut bahagia melihat Zaviyar yang tengah berseri. Walaupun belum tahu pasti apa yang membuat putranya terlihat begitu berbunga.
Selesai sarapan, Zaviyar memilih kembali ke kamar, membuka laptop di meja kerjanya untuk mengecek materi kuliah yang harus disampaikan nanti. Karena memang saat kunjungan di desa tempat mahasiswanya KKN, ia sama sekali tidak menyentuh laptop apalagi mengecek materi kuliah.
Dirinya seolah lupa akan tugasnya, karena hanya Ranum yang mengisi pikiran. Namun, baru beberapa menit membuka laptop, kembali nama gadis desa itu terlintas di benak Zaviyar.
‘Ah… Kenapa hati ini? Kenapa pikiran ini? Inikah Rindu?’ gumam Zaviyar dalam hati.
‘Gak mungkin, gak mungkin, Zaviyar. Belum sehari kamu tidak bertemu dengannya. Dan lagi, kamu baru kemarin mengenalnya.’ Zaviyar kembali bergumam.
Akhirnya, Zaviyar menyerah dan segera mengambil ponsel yang diletakkan di atas nakas dekat tempat tidurnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung mencari nama Ranum dan mengirim pesan.
Seperti sebelumnya, salam mengawali chat yang dikirim. Baru kemudian memberi tahu bahwa dirinya telah sampai di rumah.
Satu menit, dua menit, hingga lima menit tidak ada jawaban. Zaviyar kembali ke meja kerjanya, beberapa kali mengecek ponselnya. Sepuluh menit berlalu, belum juga ada jawaban dan itu membuatnya tak bisa lagi fokus pada materi kuliahnya nanti.
“Mulai kamu, Ra," gerutu Zaviyar sambil mengacak rambutnya.
Lima belas menit. Zaviyar menunggu dengan gelisah, diambilnya lagi gawai dan diletakkan di dekat laptop.
“Benar kata Dilan, rindu itu memang berat.” Zaviyar menyandarkan tubuhnya pada kursi.
“Rindu? Aargh… Kenapa kata itu lagi?” Dia kembali mengacak-ngacak rambutnya.
Zaviyar, lelaki berusia 29 tahun dan seorang dosen, kini terlihat seperti anak SMA yang baru jatuh cinta. Tapi begitulah hati, terkadang mengalahkan akal sehat.
“Kamu ke mana sih, Ra?” Untuk ke sekian kali, dia menatap layar ponselnya namun masih juga sama.
Drrt …. Drrt….
Ponselnya bergetar, segera Zaviyar melihatnya. Benar. Pucuk dicinta, Wulan pun tiba. Nama Ranum tertulis jelas pada notifikasi chat masuk. Dengan penuh semangat jemarinya mengetik pesan balasan.
Saling tanya dan menjawab, begitulah dua insan yang sedang kasmaran. Bagai mengikuti sebuah kuis yang harus segera dijawab jika mendapat pertanyaan.
Ranum yang memang saat itu tak berada di sekolah, mengatakan bahwa dirinya sedang berada di tempat foto kopi untuk menyelesaikan laporannya. Zaviyar pun menanyakan fasilitas di tempat kerja sang gadis. Dengan polos dan jujur, dijawab lah pertanyaan itu sesuai keadaan yang ada.
Ya, memang keadaan sekolah di desa Ranum tak sebagus di luar. Fasilitas yang dimiliki pun terbatas. Karena itu, sering kali ia harus ke luar desa untuk mencari apa yang dibutuhkan atau sekedar menyelesaikan tugasnya seperti sekarang.
Zaviyar juga bertanya jarak yang harus ditempuh gadis bermata tajam itu untuk sampai di tempat foto kopi. Mengetahui waktu yang dibutuhkan, pemuda itu memastikan dengan apa Ranum pergi ke sana.
Saat tahu jika gadis yang sudah menarik perhatiannya itu harus berkendara sendiri, ada sedikit rasa khawatir. Ia pun memberi pesan supaya Ranum berhati-hati di jalan dan tidak ngebut mengendarai motor.
[Injeh, Mas]
Lagi, Zaviyar dibuat bahagia dengan pesan singkat yang diterima. Senyum terukir manis di wajah tampannya. Entah kenapa pesan singkat dan sederhana itu mampu membuatnya seperti terbang.
Merasa cukup lama berbalas pesan, Zaviyar menanyakan kembali berapa lama lagi si gadis manis itu harus menunggu berkasnya selesai. Tahu jika tak lama lagi selesai, ia meminta agar Ranum memberi kabar jika sudah selesai. Namun, jawaban yang didapat lagi-lagi tak sesuai harapan.
[Lah, emang kenapa kalau aku gak bilang sama Mas Zaviyar?] Seketika Zaviyar menjatuhkan kepalanya pada meja kerja dan menghela napas panjang.
__ADS_1
“Allahu Robbi," keluhnya.
🌷🌷🌷