
Masa kini.
Ranum memacu Aston Martin Vulcan itu sangat cepat di jalan perkotaan. “Kita mau kemana?” Alexa bertanya, memecah sunyi di mobil tersebut.
“Ke suatu tempat.” Ranum menjawab singkat.
“Boleh aku bertanya lagi?” Alexa kembali bertanya.
Ranum mengangguk.
“Kenapa kamu menyerang ayahmu?”
Ranum menghela napas. “Virus itu merenggut nyawa Chen Xiuhuan dan anaknya.”
Alexa menatap Ranum bingung.
“Kamu ingat wanita keturunan Tionghoa yang datang kerumahku pada malam saat kamu mengalami kecelakaan?” Ranum bertanya.
Alexa mengangguk.
“Nama wanita itu Chen Xiuhuan. Aku bertemu dengannya di villa milik keluarga Wu.”
“Bayi yang berada di kandungannya itu anakmu?” Alexa bertanya.
Ranum tertawa kecil, menggeleng. “Chen tidak pernah mengetahui siapa ayah dari bayi itu. Dia menemuiku saat kami hendak turun dari sebuah kapal. Dia memintaku untuk menemaninya ke rumah sakit untuk mengaborsi kandungannya. Tapi aku menolak, aku memberinya sedikit uang untuk melakukan aborsi itu.”
“Apa!” Alexa berseru terkejut.
Ranum menggeleng. “Tidak seperti apa yang kamu pikirkan. Aku memberi Chen pilihan dengan menyelipkan kartu namaku di tumpukan uang itu. Dia memilih kartu nama itu, dan menyusulku ke Melbourne.”
“Kamu menjadikan dia istrimu? Dan menjadikan anak itu sebagai anakmu?” Alexa bertanya tidak sabar.
Ranum menggeleng.
***
Saat ini di ruang keluarga, mansion keluarga Loshad.
“Wanita itu untuk apa datang ke rumah Ranum?” Nyonya Besar bertanya.
Kripala tersenyum. “Itulah setitik kecil cahaya di hati Ranum yang masih tersisa bu. Dia memberi wanita itu pilihan. Ranum bukan tidak sengaja menaruh kartu namanya di tumpukan uang itu. Ranum sengaja memberi Chen pilihan kedua, yaitu menghubunginya. Ranum tidak ingin Chen mengaborsi kandungannya, tapi Ranum tidak ingin semata – mata memaksakan pilihannya dengan melarang Chen secara langsung.”
“Kenapa wanita itu memilih Ranum? Apa kemudian Ranum menerima wanita itu begitu saja dirumahnya?” Nyonya besar kembali bertanya.
“Mungkin pada saat itu wanita itu sedang sangat putus asa dengan keadaanya. Dan beruntungnya wanita itu bertemu dengan orang yang tepat.” Kripala tersenyum. “Dan ya Ranum menerima wanita itu untuk tinggal di rumahnya.”
“Bagaimana dengan Alexa?” Dayana bertanya.
“Tidak ada yang tahu pasti penyebab kecelakaan yang menimpa Alexa. Tapi yang pasti setelah kejadian malam itu, Alexa berubah menjadi lebih pendiam dan menjaga jarak dari Ranum.” Kripala mengangkat bahu.
“Jika mendengar dari ceritamu, aku rasa Alexa mengalami kecelakaan karena tidak fokus mengendarai mobilnya saat perjalanan pulang.” Dayana berbicara.
“Apa yang membuatnya tidak fokus?” Nyonya Besar bertanya.
“Alexa pasti sangat terkejut dengan kedatangan Chen yang sedang hamil. Alexa pasti berpikir bahwa bayi di dalam kandungan Chen adalah anak Ranum. Makanya dia bergegas pulang saat mendengar percakapan antara Ranum dan Chen.” Dayana menjelaskan.
“Lalu apa hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Alexa?” Arsyanendra bertanya bingung.
“Itu karena Alexa patah hati adikku. Alexa tidak fokus berkendara karena dia sedih. Pria yang di cintainya sudah memiliki wanita lain.” Dayana menjawab pertanyaan Arsyanendra.
“Alexa mencintai Ranum!” Arsyanendra bertanya, terkejut.
__ADS_1
Dayana mengangguk. “Dia yang selalu mati – matian mencari Ranum saat Ranum menghilang. Dia satu – satunya orang yang terus berusaha menemukan Ranum selama bertahun – tahun. Dia satu – satunya orang yang percaya bahwa Ranum masih hidup disaat semua orang berhenti percaya akan hal tersebut.”
“Kenapa Alexa tidak menyatakan perasaannya saja ke Ranum?” Arsyanendra bertanya penasaran.
Nyonya besar tertawa kecil. “Tidak semudah itu seorang wanita menyatakan perasaanya kepada seorang pria Arsya. Banyak pertimbangan dan nilai – nilai yang tidak pria ketahui akan hal tersebut.”
“Sebenarnya hanya karena Ranumnya saja yang tidak peka dengan perasaan Alexa. Aku yakin Alexa sudah sering memberikan sinyal ke Ranum kalau dia mencintainya. Tapi kakakmu itu yang tidak bisa menangkap sinyal tersebut.” Dayana tertawa kecil.
“Kak Kripala, cepat ceritakan kejadian selanjutnya.” Arsyanendra berseru tidak sabaran.
***
Setelah Alexa pergi dari rumah Ranum.
“Sampai dimana kita tadi?” Ranum bertanya ke wanita tersebut yang masih berdiri di depan pintu.
“Kartu namamu yang terselip di antara tumpukan uang yang kamu berikan.”
“Oh iya, memang kejadian seperti itu sering terjadi.” Ranum tersenyum. “Mau masuk?” Ranum bertanya.
Wanita itu mengangguk. Mereka masuk kedalam rumah Ranum, menuju ruang makan. Wanita itu duduk di depan meja makan. Ranum menuang whiskey ke dalam gelas, kemudian menuang susu dingin ke dalam sebuah gelas. Ranum memberikan gelas yang berisi susu tersebut ke wanita tersebut. “Mau makan sesuatu nona?” Ranum bertanya.
Wanita itu mengangguk. “Namaku Chen, Chen Xiuhuan.” Lanjut wanita tersebut.
Ranum mengangguk, bahunya menyangga telepon yang ada di telinganya, memesan makanan. Kurang dari lima menit Ranum sudah meletakkan telepon kembali ke tempat semula. Ranum bersandar di dinding memegang gelas whiskey. “Jadi apa rencanamu selanjutnya?” Ranum bertanya.
Chen menggeleng. “Aku tidak tahu harus melakukan apa.”
Ranum mengangguk. “Bersantailah sejenak disini, tidak usah memikirkan sesuatu yang terlalu berat. Jika kamu ing-“ Kalimat Ranum terhenti saat mendengar ponselnya berdering. “Sebentar.” Lanjut Ranum berbicara ke Chen Xiuhuan.
“Tuan Muda, saya sedang berada di rumah sakit saat ini, dimana posisi anda?” Suara Gabriel terdengar di seberang telepon.
“Aku di Melbourne, ada apa Gabe?”
Ranum mengangguk. “Aku akan segera kesana.” Ranum mematikan ponselnya. Bergegas mengambil kunci mobil. “Aku akan segera kembali. Saat kurir yang mengantar makanan tiba, berikan uang ini. Anggap rumah ini sebagai rumahmu sendiri.” Ranum menaruh uang di meja.
“Kamu mau pergi kemana?” Chen bertanya.
“Wanita yang tadi baru pulang dari sini mengalami kecelakaan.” Ranum segera keluar dari rumahnya. Memacu mobilnya dengan sangat cepat menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ranum segera menemui Gabriel. Didepan ruang UGD Ranum melihat Gabriel yang sedang berbicara dengan seorang pria. Ranum melangkah cepat mendekati Gabriel. “Bagaimana keadaan Alexa?” Ranum bertanya, panik.
“Saya belum tahu Tuan Muda. Belum ada kabar terbaru.” Gabriel menjelaskan. Tapi seorang pria terus mengoceh di hadapan Gabriel.
“Siapa orang ini?” Ranum bertanya ke Gabriel.
“Orang yang mobilnya di tabrak Alexa Tuan Muda.”
Ranum mengangguk. “Biar aku yang menyelesaikannya, kembalilah ke pacuan kuda.”
Gabriel mengangguk, melangkah pergi dari rumah sakit tersebut.
“Aku yang akan bertanggung jawab atas semua kerugian yang anda alami tuan.” Ranum tersenyum.
“Apa kamu tidak tahu bahwa mobil itu baru keluar dari dealer! Wanita ****** itu apa tidak memakai matanya saat berkendara!” Pria itu masih protes atas kejadian yang menimpanya.
“Jaga mulut anda tuan.” Ranum tersenyum “Aku sudah bilang, bahwa aku aka-“
“Suruh jalangmu itu berpikir saat bekendara, jangan seenaknya di jalan! Apa dia baru belajar mengendarai mobil! Wanita murahan itu sa-“ Pria itu memotong kalimat Ranum.
Tapi tidak memakan waktu lama, Ranum melayangkan tinju ke wajah pria tersebut. membuat kalimatnya terhenti. Pria itu terkapar dilantai. Ranum mengangkat kerah pria tersebut, membuat pria itu melayang di udara. “Jaga mulutmu, atau nasibmu akan sama dengan mobilmu.” Kemudian Ranum melempar pria tersebut hingga jatuh ke lantai. Pria itu langsung lari terbirit – birit dengan hidung yang mengeluarkan darah.
__ADS_1
Hari berganti, Alexa sudah di pindahkan ke kamar rawat inap. Ranum duduk di sebelah Alexa yang mulai sadarkan diri. Alexa terbangun dengan keadaan shock. “Aku dimana?” Alexa berseru, terkejut. “Apa yang terjadi padaku!” Lanjut Alexa.
Ranum menahan pergerakan Alexa. “Tenanglah, kamu berada di rumah sakit. Kamu aman disini. Aku akan menjagamu.” Ranum tersenyum menatap Alexa.
“Apa yang terjadi padaku?” Alexa mengulangi kalimatnya.
Ranum menggeleng. “Kamu tidak apa, hanya mengalami sedikit cedera. Beristirahatlah lagi, aku akan menjagamu.” Ranum mengelus kepala Alexa.
Alexa menangis, kembali teringat kejadian di rumah Ranum.
“Kamu kenapa?”
Alexa menggeleng, tidak ingin menjelaskan.
“Kamu bisa bercerita apapun kepadaku jika ada sesuatu yang membebanimu. Mungkin dengan bercerita bisa sedikit membantu.” Ranum menyeka air mata Alexa.
Alexa tetap menggeleng, menggigit bibirnya.
“Ya sudah kalau begitu, kamu harus tenang ya. Jangan memikirkan hal – hal berat. Aku akan menjagamu disini.” Ranum yang sedang memegang tangan Alexa, tersenyum.
Seorang dokter masuk ke kamar tersebut.
“Selamat pag-“ Kalimat dokter itu terhenti, membisu menatap Ranum.
“Hai.” Ranum datar menyapa dokter tersebut. “Kenapa diam saja? Pasien ini membutuhkanmu.” Lanjut Ranum.
Dokter itu adalah dokter Lesley. Tanpa banyak bicara, dokter Lesley segera memeriksa kondisi Alexa.
“Apa kalian saling mengenal dok?” Alexa bertanya ke dokter Lesley.
Dokter Lesley mengangguk pelan.
“Dia dokter yang merawatku saat terluka dipenjara.” Ranum menjawab singkat.
“Tapi kami tidak memiliki hubungan khusus, aku hanya dokter yang merawat pasiennya.” Dokter Lesley menjelaskan.
Alexa tersenyum. “Kamu tidak perlu menjelaskan hal tersebut. Aku hanya asisten pribadi, bukan kekasihnya.”
Dokter Lesley mengangguk tersenyum.
“Bagaimana kamu bisa ada di negara bagian ini?” Ranum bertanya.
“Ceritanya panjang, dan aku tidak bisa menceritakan semuanya. Intinya seminggu yang lalu aku di tawari pekerjaan di rumah sakit ini. Karena satu dan lain hal, aku menolak tawaran untuk bekerja disini dan tetap bekerja menjadi dokter di penjara. Tapi karena alasan yang membuatku tetap tinggal di Goulborn menghilang beberapa hari yang lalu. Jadi aku memutuskan untuk menerima tawaran menjadi dokter di rumah sakit ini. Untungnya tawaran yang mereka berikan masih berlaku untukku.” Dokter Lesley tersenyum. “Bisa berbicara sebentar Mark?” Dokter Lesley bertanya.
Ranum mengangguk. Mereka berdua keluar dari kamar Alexa.
“Mark, kami harus mengamputasi kaki Alexa.”
Ranum terkejut. “Apa maksudmu?”
“Patah tulang yang di alami Alexa cukup parah, rumah sakit ini juga tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk membantu Alexa. Jadi aku akan mengambil tindakan untuk mengamputasi kaki Alexa.”
Ranum menggeleng. “Jangan lakukan itu.” Ranum meraih ponsel di sakunya. “Gabe suruh Muhammad segera datang ke pacuan kuda membawa pesawat. Aku akan membawa Alexa ke markas pusat.”
“Baik Tuan Muda, segera saya sampaikan.” Gabriel menjawab.
Ranum mematikan ponselnya. “Aku akan membawa Alexa keluar dari sini.” Ranum segera masuk ke dalam kamar tersebut. Dokter Lesley membawakan kursi roda untuk Alexa.
“Kita akan pindah.” Ranum berbicara singkat.
“Kemana?” Alexa bertanya.
__ADS_1
“Markas pusat. Disana ada banyak teknologi yang dapat menyembuhkanmu.” Ranum memindahkan Alexa ke kursi roda. “Terima kasih atas bantuanmu dok. Asistenku akan segera kesini untuk menyelesaikan semua hal administrasi.” Lanjut Ranum berbicara ke dokter Lesley.
Dokter Lesley mengangguk.