Ranum

Ranum
VIDEO CALL


__ADS_3

Ranum sudah berada di pesawat, merebahkan tubuhnya sambil merokok dan minum whiskey.


“Tuan Muda, Olivia menghubungi anda.” Moon berbicara.


Ranum mengangguk. “Sambungkan aku dengannya.”


“Selamat malam Tuan Muda. Anda dimana? Kami kira beberapa hari ini anda berada di rumah.” Suara Olivia terdengar di speaker pesawat. Awak pesawat terkejut, bertanya – tanya.


“Aku sedang dalam perjalanan kembali ke Melbourne, maaf tidak mengabari kalian. Aku mendadak diberi misi. Bagaimana keadaan Chen?” Ranum bertanya.


“Kami baru tiba di rumah Tuan Muda. Chen baik – baik saja, dia berada di sebelah saya, sedang menggendong bayinya.” Olivia menjelaskan.


“Baguslah kalau begitu. Titipkan salam dariku untuknya.”


“Tidak usah menitipkan salam Ranum. Aku mendengar percakapan kalian.” Chen tertawa kecil, menekan tombol video call.


“Apa anda mengizinkan akses kamera Tuan Muda?” Moon bertanya.


Ranum mengangguk. “Aku izinkan.”


Monitor turun dari langit – langit pesawat, menampilkan wajah Olivia, Chen dan Ranum Tan. “Hai.” Chen berseru. “Aku sangat merindukanmu.” Lanjut Chen.


Ranum tersenyum. “Aku dalam perjalanan pulang, mungkin sekitar 25 jam lagi baru tiba di Melbourne.”


Chen melambai – lambaikan tangan bayinya ke kamera. Ranum tersenyum.


“Oh iya perkenalkan ini Henry dan Rosie.” Ranum memanggil Henry dan Rosie, memperkenalkan mereka. “Itu Chen dan bayinya.” Lanjut Ranum.


“Senang berkenalan dengan anda nona Chen.” Rosie dan Henry sedikit membungkuk.


“Senang juga berkenalan dengan kalian.” Chen tersenyum sambil melambaikan tangan bayinya.


“Siapa nama bayi itu nona?” Rosie bertanya.


“Namanya Ranum Tan, aku mengambil nama bos kalian.” Chen tersenyum.


Henry dan Rosie terkejut, menelan ludah.


“Tidak usah bingung seperti itu, aku bukan istrinya dan bayi ini bukan anak Ranum.” Chen tertawa kecil. “Aku hanya temannya bos kalian, kami tidak memiliki hubungan khusus.” Chen tersenyum.


“Bagaimana dengan kamar Ranum Tan? Apa hasilnya bagus?” Ranum bertanya.


Chen mengangguk cepat. “Bagus sekali Ranum, apa kamu ingin melihatnya?” Lanjut Chen bertanya.


Ranum menggeleng. “Nanti saja ketika aku tiba disana. Yang penting kamu dan anakmu menyukai hasilnya.”


“Olivia, pastikan Chen tidak meminum alkohol dan merokok. Dia masih harus menyusui anaknya.” Ranum berbicara ke Olivia.


“Siap Tuan Muda.” Olivia tersenyum.


“Baiklah kalau begitu, sampai bertemu di Melbourne.” Ranum berbicara.

__ADS_1


Chen melambaikan tangannya. “Hati – hati Ranum.”


Ranum mengangguk. “Matikan sambungannya Moon.” Lanjut Ranum memerintah Moon.


“Baik Tuan Muda.” Moon menjawab.


“Kalian pasti bertanya – tanya tentang Chen. Sebaiknya lupakan yang barusan kalian dengar dan lihat. Itu jauh lebih baik.” Ranum kembali merebahkan tubuhnya di kursi.


“Baik Tuan Muda.” Rosie dan Henry mengangguk, kembali ke kursi bagian belakang.


***


Hari berikutnya.


Pilatus PC-24 yang membawa Ranum sudah tiba di pacuan kuda. Ranum melihat pergelangan tangannya, jam menunjukkan pukul 20.46 waktu setempat. Rosie menghampiri Ranum. “Tuan Muda, saya menemukan koin ini di saku pakaian kotor anda.” Rosie memberikan koin emas.


Ranum mengambil koin tersebut. “Terima kasih.”


Ranum keluar dari pesawat. Muhammad memanggil Ranum dari pintu pesawat. “Ranum, apa kamu tidak ingin makan terlebih dahulu?” Muhammad berseru.


Ranum menggeleng, masuk ke mobilnya, keluar dari area pacuan kuda menuju makam Miranda.


Sesampainya di makam Miranda, Ranum mencium batu nisan Miranda, serta menaruh bunga peony dan sebotol rum bermerk DZAMA pemberian Zo Razafindramanitra. “Maaf aku telat satu hari dari jadwal biasanya sayang. Waktuku terbuang banyak dalam perjalanan.” Ranum terenyum menatap makam Miranda. “Rum itu pemberian tuan Zo Razafindramanitra, aku tidak tahu apa kamu bisa meminumnya di tempatmu saat ini atau tidak.” Ranum tersenyum, membelai batu nisan Miranda.


Ranum menghela napas. “Dirumah kita saat ini ada seorang bayi, aku tidak tahu harus bagaimana ketika aku sampai di rumah nanti, aku tidak memiliki ilmu menjadi seorang ayah. Walaupun aku masih memiliki seorang ayah, aku rasa cara ayahku mendidikku tidak akan bisa aku terapkan pada bayi itu.” Ranum tersenyum.


Ranum diam sejenak.


Lima belas menit kemudian Ranum tiba di rumahnya, menghela napas panjang, membuka pintu rumahnya. “Ranum, apa itu kamu?” Chen berseru dari ruang makan.


“Iya.” Ranum menjawab singkat.


“Kemarilah, ikut makan bersama kami.” Chen kembali berseru.


Ranum datang ke ruang makan. Saat Ranum tiba di ruang makan, Chen langsung memeluk Ranum. “Aku sangat merindukanmu.” Lanjut Chen berkata.


Ranum menepuk – nepuk pundak Chen. “Dimana bayimu?” Lanjut Ranum bertanya.


“Sedang tidur di kamarnya, apa kamu sudah makan?” Lanjut Chen bertanya.


Ranum menggeleng.


“Ayo makanlah bersama kami.” Chen menarik tangan Ranum.


“Anda habis melakukan tugas dimana Ranum?” Olivia bertanya.


“Eswatini.” Ranum menyendok makanannya.


“Itu dimana?” Chen bertanya. “Tumben tidak ada luka baru di tubuhmu.” Chen tersenyum lebar.


Ranum mengangguk. “Hanya membeli logam dan mencari pesawat. Eswatini itu salah satu negara bagian di Afrika Selatan.” Lanjut Ranum menjelaskan.

__ADS_1


“Mencari pesawat?” Chen bertanya bingung.


Ranum mengangguk. “Tapi bukan aku langsung yang mencarinya, aku meminta bantuan kawan lama untuk mencari pesawat tersebut.” Ranum kembali mengunyah makanannya.


“Kamu ingin membeli pesawat baru? Atau mencari karena alasan lain?” Chen kembali bertanya.


“Pesawat keluargaku hilang di Samudra Hindia.” Ranum menjawab datar.


“Kenapa bisa hilang?” Chen kembali bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku tidak tahu alasan pesawat itu menghilang. Yang aku tahu hanya pesawat itu karam di Samudra Hindia.”


“Berapa banyak korban jiwa?”


Ranum menggeleng. “Aku tidak tahu.”


Disela – sela obrolan Arsyanendra menghubungi Ranum, Ranum mengetuk earpodsnya. “Ada apa Sya?” Ranum bertanya datar.


“Gabriel memberitahuku bahwa logam itu sudah ada di Melbourne. Apa kakak menerima kesepakatan penjual logam tersebut?” Arsyanendra bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku membelinya.” Ranum menjawab datar.


“Terima kasih banyak atas bantuanmu kak.” Suara Arsyanendra terdengar riang.


Ranum mengangguk.


“Ibunya Rosie sudah mulai menjalani perawatan di rumah sakit markas pusat. Hanya memberitahu.” Arsyanendra berkata.


Ranum mengangguk. ”Terima kasih.”


Arsyanendra mematikan sambungannya, Ranum kembali makan.


“Apa kamu tidak ingin memberitahu orang tuamu soal bayi itu?” Ranum bertanya ke Chen.


Chen menggeleng. “Aku tidak tahu. Aku rasa mereka akan sangat marah ketika mengetahuinya, apalagi kalau mereka tahu jika bayi itu tidak memiliki ayah.”


“Sebaiknya kamu suruh orang tuamu kemari. Aku akan berpura – pura menjadi suamimu seperti biasanya.” Ranum menyendok makanannya.


Olivia tersedak, cepat meraih gelasnya.


“Kamu kenapa?” Ranum bertanya ke Olivia.


Olivia menggeleng cepat. “Tidak apa Tuan Muda.” Lanjut Olivia tersenyum.


“Bagaimana jika mereka tetap marah?” Chen kembali bertanya.


“Olivia, ketika kamu pulang nanti, tolong hubungi orang tua Chen untuk datang kesini.” Ranum berbicara datar.


Olivia mengangguk. “Baik Tuan Muda.”


Mereka melanjutkan makan malam sambil bercakap – cakap ringan, sesekali gelak tawa memenuhi ruangan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2