
“Janin di dalam kandungan anda baik – baik saja, semuanya terlihat sangat normal. Pertumbuhan bayi anda sangat baik, jumlah ketuban anda juga normal, letak plasentanya juga aman, tidak mengganggu jalan kelahiran, posisi bayinya juga normal. Bayi anda bertumbuh dengan baik.” Dokter kandungan tersenyum ke Chen.
“Dok, sekitar seminggu yang lalu dia minum alkohol.” Ranum berkata.
“Seberapa banyak?” Dokter kandungan itu bertanya.
“Cukup untuk membuatnya mabuk.” Ranum menjawab singkat.
“Sebaiknya selama kehamilan anda berhenti mengonsumsi alkohol. Minum alkohol saat hamil, terutama dalam jumlah yang berlebihan, bisa menyebabkan janin terkena fetal alcohol syndrome atau FAS. Bayi yang terkena FAS bisa mengalami cacat lahir, kesulitan belajar, mengalami gangguan pertumbuhan, menderita gangguan perilaku, hingga sulit untuk bersosialisasi dengan orang lain. Selain berdampak buruk terhadap janin, minum alkohol juga bisa membahayakan kesehatan anda. Mengonsumsi alkohol saat hamil berisiko untuk mengalami dehidrasi, tekanan darah tinggi, kekurangan nutrisi, hingga diabetes gestasional.” Dokter itu menjelaskan. “Dan sebaiknya anda menyimpan minuman beralkohol anda di tempat yang aman tuan Mark, di tempat yang mungkin tidak dapat dijangkau istri anda.” Dokter itu berbicara ke Ranum.
Ranum mengangguk. “Akan saya simpan di brangkas dok.” Ranum menjawab serius, tapi dia tidak akan benar – benar menyimpan alkoholnya di dalam brangkas.
“Apa kalian sudah ingin mengetahui jenis kelamin bayi kalian?” Dokter itu kembali bertanya.
Ranum menggeleng. “Biarkan itu menjadi kejutan dok.”
Chen mengangguk. “Aku ingin tahu dok.” Chen berseru bersamaan dengan Ranum. “Jika kita tahu jenis kelaminnya, akan mudah memberikan nama pada anak kita nanti, juga akan mudah mempersiapkan kamar dan kebutuhan lainnya.” Lanjut Chen berbicara ke Ranum.
Ranum menggeleng. “Lebih seru ketika kita mengetahuinya saat bayi itu lahir.” Ranum tersenyum menatap Chen yang masih berbaring. “Ada lagi dok?” Lanjut Ranum bertanya pada dokter kandungan tersebut.
“Sudah selesai tuan Mark.” Dokter itu tersenyum.
Chen bangkit dari ranjang pasien.
“Boleh saya minta resep vitamin atau semacamnya?” Ranum bertanya.
“Saya akan tuliskan. Tunggu sebentar tuan Mark.” Dokter itu segera ke mejanya, menulis resep vitamin untuk Chen. “Anda bisa membeli vitamin – vitamin ini di apotek rumah sakit maupun apotek lainnya.” Dokter kandungan itu menyerahkan selembar kertas.
“Terima kasih dok. Lalu bagaimana dengan makanannya? Apa sama dengan makanan sebelumnya?” Ranum kembali bertanya.
Dokter itu mengangguk, tersenyum. “Sama saja tuan Mark.”
“Baiklah, terima kasih dok.” Ranum tersenyum, menggandeng tangan Chen. Meninggalkan ruangan tersebut.
Dokter kandungan dan beberapa perawat di rumah sakit itu berpikir bahwa Chen dan Ranum adalah pasangan suami istri. Karna Ranum merasa itu bukan masalah dan hal besar, jadi dia memainkan perannya sebagai suami Chen, begitupun sebaliknya.
“Terima kasih.” Ranum menerima beberapa vitamin sesuai resep dokter dari apoteker. Ranum segera menghampiri Chen yang sedang duduk.
“Sekarang kita kemana?” Chen bertanya, berdiri perlahan memegang tangan Ranum.
“Supermarket.” Ranum menjawab datar sambil memeriksa vitamin – vitamin tersebut. “Kita perlu membeli beberapa bahan makanan, aku juga harus membeli beberapa karton beer dan rokok.” Lanjut Ranum berjalan keluar dari rumah sakit, menggandeng tangan Chen.
“Aku juga mau.” Chen berbicara manja, memeluk lengan Ranum.
__ADS_1
“Ingat kata doktermu tadi.” Ranum berbicara datar, membuka mobilnya.
Tidak sampai sepuluh menit, mereka sudah tiba di supermarket. “Aku mau itu.” Chen menunjuk rak yang berisi coklat.
“Yang ini?” Ranum mengambil sekotak coklat.
Chen menggeleng. “Sebelahnya.”
“Ini?” Ranum kembali mengambil sekotak coklat.
Chen mengangguk. Ranum mengambil tiga kotak coklat.
Ranum pergi ke area daging, membeli tiga kilo daging sapi dan satu kilo dada ayam. “Kamu mau ikan apa?” Ranum bertanya ke Chen.
Chen melihat – lihat rak seafood yang ada di depannya kemudian mengambil scallops beku, salmon fillets dan lobster.
“Ada lagi yang kamu inginkan?” Ranum kembali bertanya.
Chen gesit mengambil tiram. “Sudah.” Lanjut Chen tersenyum.
Mereka pindah ke area buah dan sayur. “Buah dan sayur apa yang kamu mau?” Lanjut Ranum bertanya.
Chen menatap rak buah dan sayuran, menggeleng. “Aku bosan makan buah dan sayuran.” Chen memanyunkan bibirnya.
“Aku mau beli camilan boleh?” Chen bertanya.
“Kalau aku melarang memang kamu akan mendengarkan?” Ranum bertanya datar.
Chen menggeleng, tersenyum lebar.
Setelah hampir tiga puluh menit mengelilingi supermarket, akhirnya Ranum dan Chen selesai membeli bahan masakan. “Mau makan malam dimana?” Ranum bertanya sambil mendorong troli ke parkiran.
“Makan dirumah saja ya, nanti kita pesan makanan dari luar.”
“Kamu tidak mau makan di restoran?” Ranum kembali bertanya.
Chen yang sedari tadi memeluk lengan Ranum menggeleng.
“Baiklah. Aku juga butuh merokok secepatnya.” Ranum berbicara datar.
Ranum danChen sudah tiba dirumah. Ranum segera memesan makanan kemudian menaruh seluruh belanjaan di kulkas, sedangkan Chen sedang istirahat di sofa sambil menonton televisi. “Chen.” Ranum berkata.
Chen menoleh. “Ada apa?”
__ADS_1
“Mulai besok aku akan mempekerjakan asisten rumah tangga dirumah ini, agar rumah ini bisa di bersihkan setiap hari dan ada yang selalu bisa membuat makanan.”
“Bagaimana dengan jasa pembersih rumah mingguan yang sudah kamu sewa?” Chen bertanya.
“Itu biarkan tetap berjalan setiap minggunya. Setidaknya ada yang menemanimu ketika aku sedang pergi.”
“Apa kamu sudah memiliki kandidat untuk dijadikan asisten di rumah ini?”
Ranum mengangguk. “Aku sudah mengurusnya. Kamu tenang saja, dia pintar dalam segala hal.
“Baiklah terserah padamu saja.”
Ranum mengangguk, segera pergi ke halaman belakang.
Lima belas menit kemudian kurir yang mengantar makanan tiba. Ranum segera mengambil pesanannya. Setelah semua makanan sudah Ranum pindahkan ke wadah, Ranum dan Chen segera menyantap hidangan tersebut.
“Darimana kamu mendapatkan asisten untuk rumah ini?” Chen bertanya.
“Dia bekerja untuk keluargaku. Tapi aku memintanya untuk membantu dirumah ini.” Ranum menjawab sambil mengunyah makanan.
“Memang apa pekerjaannya ketika bekerja untuk keluargamu?”
“Koki.” Ranum menjawab singkat, meminum air mineral dari gelasnya.
“Memang koki bisa membersihkan rumah dengan baik?” Chen bertanya bingung.
Ranum mengangkat bahunya. “Semoga. Setidaknya dia sudah bersedia untuk membantu dirumah ini.” Ranum menjawab datar.
“Dia akan tinggal disini?” Chen kembali bertanya.
Ranum menggeleng. “Dia akan mulai bekerja pukul tujuh pagi dan pulang pukul sembilan malam.”
“Kamu gaji berapa orang itu hingga mau bekerja selama itu?”
“Hanya 100 dollar.” Ranum menjawab singkat.
“Astaga Ranum! Kasihan orang itu. Bekerja selama empat belas jam hanya kamu bayar 100 dollar.” Chen terkejut.
“Baiklah akan aku bayar 200 dollar.” Ranum segera menghabiskan makanannya.
“Itu lebih baik.” Chen tersenyum.
Lima belas menit kemudian mereka selesai makan sambil berbincang – bincang ringan. Ranum segera membersihkan piring kotor dan meja makan. Sedangkan Chen segera membersihkan diri lalu tidur di kamarnya. Selesai mencuci piring, Ranum segera membersihkan diri lalu tidur di kamarnya.
__ADS_1