
Waktu sudah menunjukkan pukul 09.49 waktu setempat. Seseorang mengetuk pintu rumah Ranum. “Tunggu sebentar.” Ranum berseru, segera lari membuka pintu.
“Selamat pagi Tuan Muda.” Seorang wanita menyapa Ranum.
“Pagi juga Olivia.” Ranum menyapa wanita tersebut. “Panggil saja namaku selama kamu bekerja disini.” Lanjut Ranum berbicara.
“Siapa Ranum?” Chen menghampiri Ranum. “Oh hai.” Chen menjulurkan tangannya, menyapa Olivia. “Chen Xiuhuan.” Lanjut Chen memperkenalkan diri.
“Olivia Sanchez.” Olivia menjabat tangan Chen.
“Ini asisten yang kamu bicarakan semalam Ranum?” Chen bertanya.
Ranum mengangguk.
“Wanita secantik dia kamu jadikan asisten dirumah ini!” Chen terkejut.
“Pekerjaan aslinya koki. Aku sudah memberi tahumu.” Ranum menjawab datar.
“Apa itu mobilmu?” Chen bertanya ke Olivia, menunjuk maserati grancabrio yang terparkir di depan rumah.
Olivia menggeleng. “Itu mobil milik tuan Ranum. tuan Ranum menyuruh saya untuk membawa mobil tersebut.”
“Kamu memiliki mobil sebagus itu Ranum?” Chen kembali bertanya.
Ranum mengangguk. “Silahkan masuk Olivia.” Lanjut Ranum berbicara ke Olivia.
“Aku akan mengambilkan minuman.” Chen bergegas ke dapur.
“Siapa wanita itu Tuan Muda?” Olivia bertanya.
“Ceritanya panjang. Yang pasti jangan sampai ada yang tahu tentang wanita ini.” Ranum berbisik.
Olivia mengangguk. “Baik Tuan Muda.”
“Ranum.” Ranum berbicara datar.
“Iya maksud saya baik Ranum.” Olivia tersenyum. “Apa dia sedang mengandung anak anda Tuan Muda?” Olivia berbisik, penasaran.
Ranum menggeleng. “Panjang dan sulit untuk menceritakan. Intinya tugasmu adalah membantu Chen di rumah ini. Jika perlu sesuatu kabari aku.”
“Baik Tuan Mu-, maksud saya baik Ranum.” Olivia tersenyum.
“Chen aku pergi dulu!” Ranum berseru dari ruang keluarga. “Kamu kerjakan saja apapun yang mau kamu kerjakan. Intinya kamu bantu Chen di rumah ini.” Lanjut Ranum berbicara ke Olivia.
Olivia mengangguk. “Baik Ranum. Ini kunci mobil anda.” Olivia memberikan kunci mobil Ranum.
“Anggap rumah ini sebagai rumahmu. Aku pergi dulu.”
“Hati – hati Tuan Muda.”
Ranum mengangguk, segera keluar dari rumahnya.
“Ini minumanmu.” Chen memberikan jus jeruk ke Olivia yang sedang duduk di sofa ruang keluarga.
“Terima kasih nona.” Olivia tersenyum.
“Panggil Chen saja.” Chen tersernyum.
“Baiklah.” Olivia meminum jus jeruknya, matanya melihat foto besar Ranum dan Miranda diruangan tersebut. “Ranum sudah menikah?” Olivia bertanya.
Chen mengangguk. “Apa kamu tidak tahu?”
Olivia menggeleng. “Tidak ada yang tahu kalau Ranum sudah menikah.”
“Bagaimana kamu bisa tidak tahu? Kamu kan bagian dari keluarganya.” Chen bertanya bingung.
“Keluarganya juga tidak ada yang tahu. Mungkin dia sengaja menyembunyikan istrinya, lebih baik kita tutup mulut daripada terkena masalah serius.” Olivia tertawa kecil.
__ADS_1
Chen ikut tertawa. “Iya, sepertinya lebih baik begitu.”
“Sudah berapa lama kamu bersama Ranum?” Olivia bertanya.
“Sekitar tujuh bulan lebih lah. Aku tidak ingat pastinya sudah berapa lama.”
Olivia mengangguk – angguk.
“Kamu kenapa mau bekerja sebagai asisten di rumah ini?” Chen bertanya.
“Aku tidak memiliki alasan kenapa aku mau. Yang pasti aku sangat nyaman dan senang bekerja untuk keluarga Ranum.” Olivia tersenyum, kembali meminum jus jeruknya.
“Kamu bahagia dengan tawaran gaji 100 dollar! Itu sedikit sekali.” Chen terkejut. “Untungnya Ranum sudah menaikkan gajimu menjadi 200 dollar.”
Olivia tertawa. “Tuan Ranum membayarku perjam, bukan harian, mingguan atau bulanan.”
“Hah!” Chen terkejut.
Olivia mengangguk – angguk, tertawa kecil.
“Aku pikir gajimu mingguan seperti jasa pembersih rumah yang biasa membersihkan rumah ini.”
“Dan berkat kamu, aku mendapatkan gaji 200 dollar perjam.” Olivia tertawa.
Chen tertawa. “Setidaknya Ranum tidak keberatan.”
Olivia mengangguk. “Untuk orang seperti Ranum uang memang tidak pernah ada artinya.”
“Bagaimana maksudmu?” Chen bertanya, bingung.
“Apa kamu tidak tahu?” Olivia bertanya. “Kekayaan keluarga Ranum itu bisa membeli satu benua ini.” Lanjut Olivia tertawa.
“Apa kamu serius?” Chen semakin penasaran.
Olivia mengangguk.
“Memang itu keahliannya.” Olivia tertawa kecil. “Oh iya, apa saja yang harus aku kerjakan?”
Chen mulai menjelaskan dan memperkenalkan bagian – bagian rumah ke Olivia.
***
Ranum tiba dirumah Kaitlyn, menekan bel rumah tersebut. Ibu Kaitlyn membuka pintu.
“Hai.” Ranum menyapa.
“Hai, ada yang bisa aku bantu?” Ibu Kaitlyn bertanya.
Kaitlyn berlari dari dalam rumah. “Hai...” Kaitlyn berseru senang, memeluk Ranum.
“Hallo tuan putri, bagaimana kabarmu?” Ranum bertanya.
“Aku baik – baik saja. Bagaimana denganmu Ranum?” Anak kecil itu balik bertanya.
“Kabarku lebih baik dari kabarmu.” Ranum tertawa. “Bagaimana kabar bunga gerberamu?” Lanjut Ranum bertanya.
“Mereka semakin layu, tapi mereka masih terlihat sangat indah.” Kaitlyn tersenyum manis.
“Kita akan memetiknya lagi di lain waktu atau nanti kita beli bunga gerbera itu bersama potnya, agar bisa bertahan lebih lama.” Ranum tersenyum.
“Kamu janji?” Kaitlyn mengangkat jari kelingkingnya.
Ranum membalas janji kelingking Kaitlyn. “Aku janji.” Lanjut Ranum tersenyum.
Ranum berdiri untuk berbicara dengan ibunya Kaitlyn. “Apa kalian sedang sibuk?” Ranum bertanya ke ibu Kaitlyn.
“Sebenarnya kami sedang ingin pergi ke pusat perbelanjaan.” Ibu Kaitlyn menjawab.
__ADS_1
“Kalau boleh tahu dengan siapa saja kalian akan pergi?” Ranum kembali bertanya.
“Hanya aku dan Kaitlyn. Ayahnya sedang bekerja jadi tidak bisa ikut.”
“Boleh aku mengantar kalian?” Ranum bertanya.
“Tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu.”
“Kaitlyn, apa kamu mau aku ikut dengan kalian ke pusat perbelanjaan?” Ranum bertanya ke Kaitlyn.
Kaitly mengangguk – angguk riang. “Sangat mau.”
“Kaitlyn setuju, bagaimana denganmu nona?” Ranum tersenyum, bertanya pada ibu Kaitlyn.
Ibu Kaitlyn mengangguk. “Claire Langford.” Lanjut ibu Kaitlyn memperkenalkan diri.
“Ranum, Ranum Anatoly.” Ranum tersenyum.
“Masuklah, aku dan Kaitlyn akan bersiap – siap terlebih dahulu.” Claire berbicara ke Ranum.
Ranum menggeleng. “Aku akan menunggu di bangku ini aja.” Ranum menunjuk bangku yang ada di halaman depan rumah Claire.
“Baiklah, tunggu sebentar.” Claire dan Kaitlyn segera bersiap – siap.
Ranum mengangguk, duduk di kursi halaman rumah Claire. Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya Claire dan Kaitlyn keluar dari rumahnya. “Maaf telah membuatmu menunggu lama.” Claire berbicara ke Ranum.
Ranum tersenyum. “Tidak masalah. Hei... kamu terlihat sangat cantik tuan putri.” Lanjut Ranum berbicara ke Kaitlyn.
“Terima kasih Ranum.” Kaitlyn tersenyum lebar membuat gigi mungilnya terlihat.
“Jadi, kita ke pusat perbelanjaan mana?” Ranum bertanya sambil berjalan ka arah mobilnya, menggendong Kaitlyn.
“Spencer outlet centre.” Claire menjawab, menyejajari langkah Ranum.
“Kamu ingin membeli pakaian?” Ranum bertanya.
Claire menggeleng. “Untuk Kaitlyn dan ayahnya.”
“Kamu juga harus membeli sesuatu. Kita akan ke Divad Jenos.” Ranum berbicara datar.
“Tapi kami tidak memiliki cukup uang untuk membeli pakaian disana.”
“Tidak usah pikirkan itu.” Ranum menjawab singkat, membukakan pintu mobil untuk Claire.
“Terima kasih.” Claire masuk ke mobil tersebut.
“Apa ini mobilmu Ranum?” Kaitlyn bertanya sambil menggigit jarinya.
Ranum mengangguk, tersenyum menatap Kaitlyn. “Apa kamu suka?” Ranum bertanya ke Kaitlyn.
Kaitlyn mengangguk – angguk. “Pasti sangat dingin karena mobil ini tidak memiliki atap.”
Ranum tertawa. “Kamu ingin mobil ini memiliki atap?” Lanjut Ranum bertanya ke Kaitlyn.
Kaitlyn menggeleng. “Lebih keren seperti ini.” Kaitlyn tersenyum lebar sambil menggigit jarinya.
Ranum tertawa. “Kamu mau duduk dimana?” lanjut Ranum bertanya ke Kaitlyn.
“Belakang.” Kaitlyn menunjuk kursi belakang.
Ranum segera menaruh Kaitlyn di kursi belakang, melilitkan sabuk pengaman di tubuh Kaitlyn. “Jangan lepas sabuk pengamannya, oke tuan putri?” Lanjut Ranum bertanya ke Kaitlyn.
Kaitlyn mengangguk – angguk, tersenyum.
“Pintar.” Ranum mengacak rambut Kaitlyn.
Mobil berwarna kuning itu segera melesat keluar dari komplek perumahan, menuju Bourke street.
__ADS_1