Ranum

Ranum
ZO RAZAFINDRAMANITRA


__ADS_3

Setelah terbang sekitar 30 jam, akhirnya pilatus PC-24 tiba di pulau Île aux Nattes. Ranum bangun dari tidurnya, meregangkan tubuhnya. “Hubungi Zo Razafindramanitra.” Ranum berbicara.


“Maaf Tuan Muda, aku tidak berhasil menemukan nomor telepon Zo Razafindramanitra.” Moon berbicara.


Ranum menghela napasnya. “Apa kita mendarat sesuai koordinat?”


“Kita mendarat sekitar tiga kilometer dari titik koordinat yang anda berikan Tuan Muda.” Moon menjawab.


“Apa kalian membawa kendaraan untukku?” Ranum bertanya ke awak pesawat.


“Kami sudah menyiapkan Ducati Hypermotard Tuan Muda.” Salah satu awak pesawat menjawab.


Ranum mengangguk, segera keluar dari pesawat. Dua awak pesawat sibuk menurunkan motor dari pesawat. “Terima kasih.” Ranum berbicara datar, segera memacu motor ke tempat tujuannya.


Kurang dari lima menit, Ranum sudah tiba di tempat tujuannya. Ranum menemui resepsionis tempat tersebut. “Aku mencari tuan Zo Razafindramanitra.” Ranum berkata.


“Sebentar, akan saya panggilkan.” Resepsionis itu segera meninggalkan Ranum.


Ranum duduk di sebuah kursi, membakar rokoknya.


Lima menit kemudian seorang pria gemuk berkulit cokelat datang, menyapa Ranum dengan riang. “Ranum Anatoly.” Pria itu memeluk Ranum. “Bagaimana kabarmu anak muda? Dimana Miranda?” Pria itu bertanya.


Ranum menggeleng, tersenyum getir. “Miranda sudah tidak ada tuan Zo.”


“Astaga, maafkan aku Ranum. Aku tidak tahu kalau Miranda sudah tidak ada, sekali lagi maafkan aku.” Zo berkata. Zo Razafindramanitra adalah pemilik hotel kecil di pulau Île aux Nattes, Ranum mengenal pria berusia 48 tahun ini sejak 28 bulan yang lalu. Saat itu Ranum membawa Miranda liburan di pulau tersebut dan menginap di hotel milik Zo Razafindramanitra.


“Tidak masalah tuan Zo.” Ranum tersenyum. “Hotel ini tetap ramai seperti terakhir kali aku kesini.” Lanjut Ranum berbicara, menatap sekitar.


Zo menggeleng. “Kendaraan yang di depan tidak semuanya milik orang yang menginap, beberapa kendaraan itu untuk disewakan ke pelanggan. Seperti saranmu dulu.” Zo tertawa kecil.


Ranum tersenyum, menghisap rokoknya.


“Ada keperluan apa kamu datang kesini anak muda?” Zo bertanya, membakar rokoknya.


“Sebelumnya maafkan saya tuan karena mengganggu hari anda. Saya butuh bantuan anda.” Ranum sedikit membungkukkan badannya.


“Tidak masalah Ranum.” Zo menepuk punggung Ranum. “Bantuan apa yang kamu butuhkan?” Lanjut Zo bertanya.


“Aku membutuhkan kapal untuk mencari sekaligus mengangkut muatan pesawat kami yang karam dan aku membutuhkan beberapa awak kapal yang pandai menyelam di samudra hindia.” Ranum berkata.

__ADS_1


Zo diam sejenak, berpikir. “Berapa banyak barang yang akan diangkut?” Zo bertanya.


“Sekitar sembilan ton tuan.” Ranum menjawab singkat.


“Apa kamu memiliki titik koordinat pesawat yang karam tersebut?” Zo bertanya.


Ranum mengangguk, memberikan secarik kertas berisi koordinat.


Zo tertawa kecil. “Aku tidak menyangka kamu memiliki sebuah pesawat. Pesawat apa yang akan kita cari?” Lanjut Zo bertanya.


“Pesawat kargo G-222 Aeritalia.”


Zo mengangguk – angguk. “Sepertinya aku bisa membantumu, tapi akan memakan waktu yang cukup lama untuk menelusuri samudra ini.” Lanjut Zo berkata.


Ranum memberikan sebuah koper. “Di dalam koper ini terdapat uang sekitar 500 ribu dollar Amerika. Uang ini untuk biaya pencarian pesawat tersebut, aku akan memberikan 500 ribu dollar lagi setelah kalian berhasil menemukan dan mengangkut seluruh muatan pesawat tersebut.”


Zo tertawa kecil. “Kamu tidak perlu membayar sebanyak itu.”


“Saya memaksa anda untuk menerima tawaran ini tuan, anda harus menerimanya.”


Zo tersenyum. “Baiklah kalau begitu.”


Zo memberikan kartu nama. “Kamu bisa menghubungiku lewat nomor tersebut.”


“Terima kasih banyak tuan Zo, aku sangat menghargai kebaikanmu. Dalam tiga hari, aku akan mengirimkan pesawat ke bandara Sainte Marie.”


Zo mengangguk. “Tapi sepertinya aku membutuhkan waktu seminggu untuk bisa menemumkan pesawatmu. Mungkin lebih.” Lanjut Zo berbicara.


Ranum mengangguk. “Tidak masalah tuan. Yang penting pesawat kami sudah siap di bandara.”


Zo mengangguk, tersenyum. “Kamu menginap dimana malam ini?” Lanjut Zo bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku tidak memiliki banyak waktu tuan Zo. Aku harus segera terbang ke eSwatini.”


Zo tertawa kecil. “Sepertinya saat ini kamu sibuk sekali. Sangat jauh berbeda ketika kamu kesini dua tahun lalu bersama istrimu.”


Ranum mengangguk. “Pekerjaanku yang sekarang memiliki jadwal lebih padat tuan.”


Zo menepuk punggung Ranum. “Baiklah kalau kamu tidak bisa menginap walau semalam disini.”

__ADS_1


Ranum berdiri, menjulurkan tangannya. “Sekali lagi terima kasih atas bantuan anda tuan Zo, saya pamit dulu.” Ranum tersenyum.


“Apapun untukmu Ranum.” Zo tersenyum, menjabat tangan Ranum.


Ranum segera keluar dari hotel tersebut, memacu motornya keluar dari area hotel tersebut.


Ranum pergi ke sebuah pantai, berjalan ke tepi pantai tersebut. Ranum tersenyum, menggenggam erat kalung milik Miranda yang dikenakannya. “Sayang, apa kamu ingat tempat ini?” Ranum tersenyum, meneteskan air matanya. “Kamu ingat saat tersandung karang kecil di pantai ini? kakimu tergores cukup dalam, menangis seperti anak kecil. Kamu sangat menggemaskan saat itu, memintaku untuk mencium lukamu agar cepat sembuh.” Ranum tertawa kecil mengenang masa itu. “Lima menit kemudian kamu kembali menarik tanganku untuk bermain air di pantai, melupakan perihnya luka itu. Seakan kakimu baik – baik saja. Entah kamu benar – benar sudah tidak merasakan sakitnya lagi atau kamu menutupi rasa sakit itu agar aku tidak khawatir, kamu tetap tersenyum membuat hari tetap menyenangkan.” Ranum menyeka air matanya. “Aku sangat merindukan tiap momen bersamamu. Setiap detik yang aku lewati bersamamu sangat menyenangkan dan sangat berharga. Apa kamu ingat saat kamu berusaha menangkap kepiting yang terus menggali masuk kedalam pasir?” Ranum tertawa kecil. “Kamu bersungut – sungut tidak jelas karena kesal tidak bisa meraih kepiting itu walau kamu sudah menggali cukup dalam. Apalagi saat ombak kembali menutup lubang yang kamu gali, kamu berseru kesal kepada ombak yang sedang menjalankan tugasnya. Kamu mengadu kepadaku dengan wajah masam, bibirmu manyun seperti anak kecil yang tidak diberikan mainan. Andai aku bisa kembali ke masa itu, pasti akan sangat menyenangkan.” Ranum tersenyum, kembali menyeka ujung matanya.


“Aku mencintaimu kemarin, sekarang dan seterusnya Miranda Rose.” Ranum mencium kalung dan cincin milik Miranda.


“Rindu dengan istrimu?” Suara pria terdengar dari belakang Ranum.


Ranum menoleh, Zo Razafindramanitra berjalan menghampirinya.


“Aku juga merindukan istrimu itu.” Zo tersenyum. “Dia wanita paling menyenangkan yang pernah kukenal. Sangat cocok mendampingimu yang pendiam penuh tanda tanya.” Lanjut Zo memegang pundak Ranum.


“Aku sangat merindukannya tuan.” Ranum berkata lirih.


Zo mengangguk. “Aku paham rasanya kehilangan orang yang sangat kita cintai.” Zo memberikan sebotol rum ke Ranum. “Bagaimana istrimu meninggal?” Lanjut Zo bertanya.


Ranum meminum rum tersebut. “Seseorang membunuh istriku.”


Zo terkejut, menatap Ranum.


Ranum mengangguk. “Pembunuh bayaran itu mengincarku selama bertahun – tahun, tapi tidak pernah bisa menemukanku. Saat dia tahu keberadaanku, dia membunuh istriku terlebih dahulu. Padahal saat itu Miranda sedang mengandung anak pertama kami.”


Zo menepuk – nepuk pundak Ranum. “Maafkan aku atas pertanyaanku. Aku tahu bagaimana hancurnya perasaanmu. Aku tidak akan bertanya lebih jauh soal istrimu dan aku tidak akan bertanya tentang masa lalumu. Tapi apapun perbuatan kita saat ini selalu memiliki konsekuensi untuk masa depan kita.”


Ranum mengangguk, menyeka air matanya.


“Sebaiknya kamu bergegas untuk pergi ke Eswatini. Jangan terlalu terbawa suasana, bahaya jika pikiranmu kalut.” Zo berkata.


Ranum mengangguk, mengembalikan botol rum milik Zo Razafindramanitra.


“Ambillah untuk menemanimu di perjalanan. Kamu lupa istrimu juga sangat menyukai rum itu.” Zo tersenyum.


Ranum melihat botol rum tersebut, DZAMA vanille Rhum. “Terima kasih banyak tuan Zo.”


Zo mengangguk, tersenyum.

__ADS_1


Ranum segera kembali ke motornya, memacu motor itu kembali ke pesawat.


__ADS_2