
Ranum membuka lemari senjata di pesawat. “Saya menyarankan anda menggunakan AK-47 custom ini Tuan Muda.” Sebuah AK-47 perlahan bergerak maju dari tempatnya. “AK-47 ini menggunakan magasin drum, Total peluru yang dapat di tampung adalah 75 buah. Tambahan laser sight akan mempermudah bidikan anda. AK-47 ini juga sudah di lengkapi peredam suara dan peredam getaran, anda dapat membidik banyak orang dengan mudah dan hanya akan menghasilkan hentakan kecil, membuat tembakan anda lebih stabil.”
“Diam Moon. Aku tahu apa yang cocok untukku.” Ranum mengambil dua buah pistol AMT Hardballer, memeriksa pistol tersebut. Ranum juga mengambil empat buah magasin cadangan.
“Anda tidak akan bisa menang jika hanya menggunakan pistol Tuan Muda. Kita tidak tahu apa yang menunggu kita di dalam laboratorium tersebut.”
“Moon. Sebaiknya kamu diam, jika kamu masih berusaha mengaturku, aku akan mengembalikanmu pada Arsya.” Ranum mengambil beberapa peledak.
“Tuan Muda, sebaiknya anda mengambil bom A-93 ini.” Sebuah bom bergerak maju secara perlahan. “Ini bom rakitan Tuan Muda Arsyanendra. Bom ini dapat menghancurkan pintu baja di kaki gunung tersebut. Bom ini jauh lebih efektif.” Lanjut Moon.
“Terima kasih Moon. Setidaknya kali ini aku bisa menerima saranmu.” Ranum tersenyum.
Lima belas menit kemudian pesawat sudah mendarat, terparkir rapi di balik bukit. Ranum keluar dari pesawat. Berjalan mendekati gunung Galloway. “Sial dingin sekali disini!” Ranum menggerutu.
“Saya sudah menyarankan anda untuk memakai mantel tuan. Tapi anda bersiteguh tetap hanya menggunakan jas.” Moon berbicara lewat earpods. “Suhu saat ini sekitar tujuh derajat celcius.” Lanjut Moon menjelaskan.
“Moon berhenti membuatku kesal!” Ranum berseru. “Kenapa tidak ada informasi bahwa tempat ini tidak memiliki lampu sama sekali.” Lanjut Ranum bersungut – sungut.
“Night vision telah diaktifkan Tuan Muda.” Moon mengaktifkan night vision di kacamata Ranum. “Perlu infra merah juga Tuan Muda?” Lanjut Moon bertanya.
“Tidak perlu. Aku sangat benci kacamata ini. Sangat menganggu.” Ranum tetap bersungut – sungut.
“Jarak anda dengan gunung Galloway tinggal 100 meter lagi Tuan Muda. Hati – hati dengan langkah anda, sensor di letakkan dimana – mana.”
Belum selesai kalimat Moon, kaki Ranum mengenai salah satu sensor. Senapan mesin AA-52 segera menghujani Ranum dengan peluru. Tidak berpikir lama, Ranum segera berlari secepat mungkin. Alarm laboratorium tersebut berbunyi. Ranum berlari ke arah pintu baja yang di jaga dua orang.
“Berhenti jangan bergerak!” salah satu penjaga berteriak.
Ranum yang merasa sudah berada di tempat aman mengangkat tangannya. “Anda bisa menyerang mereka sekaligus dalam waktu dua detik jika tidak meleset Tuan Muda dan akan membutuhkan waktu lebih lama jika anda meleset.” Moon berbicara lewat earpods.
“Moon diamlah!” Ranum berbisik, jengkel.
“Musuh berada dalam jarak tembak lebih mudah Tuan Muda, anda tidak akan mel-“ Kalimat Moon terpotong. Ranum segera melempar kacamata dan earpodsnya ke tanah, menginjak dua barang tersebut hingga hancur. “Itu lebih mudah Moon!” Ranum berseru pelan, kesal.
“Apa yang kamu lakukan!” Salah satu penjaga berseru.
__ADS_1
“Hanya lelah dengan barang – barang bodoh itu.” Ranum menunjuk earpods dan kacamatanya, kembali menaruh tangannya dibelakang kepala.
Dua penjaga itu mengikat tangan Ranum menggunakan isolasi. “Apa kalian serius hanya mengikatku dengan isolasi?” Ranum bertanya kesal.
“Kami hanya membawa isolasi ini saat ini. Di dalam, kami akan menggantinya dengan tali tambang.” Salah satu penjaga menjawab.
“Itu jauh lebih baik.” Ranum tersenyum.
Dua penjaga itu membawa Ranum kedalam laboratorium tersebut, mengikat Ranum di sebuah kursi kayu. Salah satu penjaga pergi meninggalkan Ranum. Ranum melihat sekelilingnya, laboratorium itu memiliki luas sekitar 7500 meter persegi, di bangun menembus kaki gunung. Di dalam laboratorium itu terdapat banyak sekali eksperimen milik keluarga Jin.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” penjaga itu bertanya ke Ranum.
“Mencari serum regenerasi dan serum pengatur limbik. Apa kamu bisa mengambilkannya untukku?” Ranum bertanya santai.
Penjaga itu tertawa. “Kau pikir bisa keluar dari pulau ini hidup – hidup?” Lanjut penjaga itu bertanya.
“Pasti.” Ranum menjawab singkat.
Penjaga itu kembali tertawa. “Sebaiknya bermimpilah selagi bisa.”
“Apa kau gila?” Penjaga itu lagi – lagi tertawa. “Tidak akan ada yang mau memberitahumu dimana letak serum – serum itu berada.” Wajah penjaga itu memerah karena tertawa.
“Sepertinya kamu terlalu banyak tertawa.” Ranum tersenyum.
Seorang wanita dengan tinggi badan 162cm, bertubuh langsing dan memiliki wajah seperti artis terkenal Yuna Taira datang dengan tatapan tajam. Tapi tatapan itu berubah seketika saat wanita itu menatap Ranum. “Ranum!” Wanita itu berseru riang, berlari memeluk Ranum. Dua penjaga bingung melihat ekspresi wanita tersebut.
“Sial!” Ranum menggerutu.
“Apa yang kamu lakukan disini Ranum? Sudah lama sekali kita tidak berjumpa. Aku sangat – sangat merindukanmu.” Wanita itu melepas pelukannya dari Ranum. “Apa kamu mau menikah denganku?” lanjut wanita itu bertanya sambil tersenyum manis. Dua penjaga yang sedang menyaksikan mereka terkejut.
“Himari, tolong ya. Jawabanku akan selalu sama seperti sebelum - sebelumnya.” Ranum tersenyum.
“Tapi sekarang kita sudah bisa menikah Ranum, kita sudah dewasa.” Himari mengangguk – angguk. Himari Kawasumi anak kedua sekaligus terakhir dari keluarga Jin, salah satu keluarga black economy di Jepang. Dia sangat mencintai Ranum sejak berusia lima tahun. Himari sering mengajak Ranum untuk menikah sejak pertama kali mereka bertemu di usia tersebut.
“Cepat lepaskan ikatan calon suamiku ini!” Himari berseru, menyuruh dua penjaga yang ada dibelakangnya. “Kalian jangan berani – berani menyakiti calon suamiku ini!” Himari kembali berseru ketus.
__ADS_1
Dua penjaga itu sudah melepaskan ikatan Ranum. “Kamu harus melawanku Himari. Tujuanku kesini untuk mencuri serum milik keluargamu.” Ranum menjelaskan.
Himari menggeleng. “Kamu tidak perlu mencuri. Kamu butuh serum apa?” Himari tersenyum lembut menatap Ranum.
“Astaga, kenapa jadi mudah sekali misi ini!” Ranum mengusap – usap wajahnya, kesal karena tugasnya kali ini terasa sangat mudah.
“Cepat katakan, kamu butuh apa calon suamiku?” Himari memegang tangan Ranum. Himari terkejut saat melihat cincin yang ada di tangan Ranum. “Kamu sudah menikah?” Wajah Himari langsung berubah sedih.
Ranum mengangguk. “Maafkan aku Himari.”
“Dimana istrimu? Apa kamu mengajaknya? Dia berasal dari keluarga mana?” Himari membanjiri Ranum dengan pertanyaan.
Ranum menggeleng. “Istriku tidak berasal dari keluarga manapun, Miranda anak seorang polisi.” Ranum tersenyum.
“Apa kamu mencintainya?” Himari menatap Ranum.
Ranum mengangguk. “Aku sangat mencintainya.”
Himari menghela napas panjang. “Yasudah kalau begitu. Jika kamu sudah tidak mencintai istrimu lagi, mulailah belajar mencintaiku. Aku akan selalu menunggumu.” Himari memaksakan senyumnya, ujung matanya meneteskan air mata. “Oh iya, serum apa yang kamu cari?” Lanjut Himari bertanya sambil menyeka ujung matanya.
“Serum regenerasi dan serum pengatur limbik.” Ranum menjawab singkat.
“Mari aku tunjukkan tempatnya.” Himari mulai melangkah.
“Kenapa kamu berada disini?” Ranum bertanya.
“Ayahku memaksaku untuk menikah dengan putra sulung keluarga Nogilevich, Vladislav Nogilevich. Aku tidak ingin menikah dengan pria itu, jadi aku memutuskan untuk bersembunyi disini.”
“Kenapa kamu tidak mau menikah dengan Vladislav?” Ranum bertanya.
Himari menghentikan langkahnya, berbalik. Tersenyum menatap wajah Ranum. “Aku hanya ingin menikah denganmu Ranum. Dari usia kita masih lima tahun, saat aku mengajakmu untuk menikah, itu benar – benar tulus dari hatiku. Aku benar – benar serius dengan kata – kataku. Aku benar – benar mencintaimu hingga saat ini.” Himari membelai pipi Ranum. Mata Himari kembali meneteskan air mata.
“Maafkan aku Himari. Saat ini aku hanya ingin menyelesaikan tugasku.”
Himari tersenyum, balik kanan. Kembali berjalan menuju tempat serum tersebut berada.
__ADS_1