
“Kami sudah menghubungi David Langford suami dari Claire Langford. Dia menerima tawaran pekerjaan dari kami. Berkas – berkasnya akan dikirimkan malam ini dan David bisa mulai bekerja minggu depan.” Suara Gabriel terdengar diujung telepon.
Ranum mengangguk. “Kerja bagus. Terima kasih banyak Gabe.” Ranum sambil berjalan di halaman rumahnya. “Tolong sekalian kirimkan bunga gerbera untuk anaknya yang bernama Kaitlyn malam ini dan tolong kirim seseorang untuk mengawasi David Langford selama sebulan penuh, dimanapun pria ini berada.” Lanjut Ranum sambil membuka pintu rumahnya.
“Baik, akan segera saya kerjakan. Apa ada lagi Tuan Muda?” Gabriel bertanya.
“Tidak ada, terima kasih banyak Gabe.” Ranum segera mematikan ponselnya.
“Hai.” Chen menyambut Ranum dengan pelukan.
“Ada apa?” Ranum bertanya datar, tidak membalas pelukan Chen.
Chen menggeleng. “Tidak ada apa – apa. Aku hanya merindukanmu.” Chen tersenyum.
“Bawalah ini ke meja makan.” Ranum memberikan paper bag berisi makanan.
Chen mengangguk, segera membawa paper bag itu ke meja makan. Ranum menuju dapur, mengambil sekaleng beer dari kulkas. Segera pergi ke halaman belakang. “Halo Tuan Muda.” Olivia yang sedang merokok di halaman belakang menyapa.
Ranum mengangguk, duduk di sebelah Olivia sambil membakar rokoknya.
“Anda tidak pernah bercerita kalau anda pernah menikah.” Olivia berbicara.
Ranum meminum beernya. “Karena tidak ada yang perlu di ceritakan.” Ranum menjawab datar.
“Dimana sekarang istri anda berada?” Olivia bertanya.
“Dia sudah meninggal.” Ranum menjawab singkat.
“Maafkan saya Tuan Muda, saya turut berduka cita atas kehilangan anda.”
Ranum mengangguk. “Bagaimana hari pertamamu bekerja disini? apa Chen merepotkanmu?”
Olivia menggeleng. “Aku suka bekerja disini Tuan Muda. Chen juga sangat membantu, sama sekali tidak merepotkan.” Olivia tersenyum.
“Ranum.” Ranum berkata singkat.
“Iya maafkan saya Ranum, saya tidak terbiasa memanggil anda dengan nama.” Olivia tersenyum.
Ranum memberikan beberapa lembar uang ke Olivia. “Saat kamu pulang nanti, tolong isikan bensin mobilku. Aku lupa mengisinya saat kembali kesini.”
Olivia mengangguk.
“Ranum, apa malam ini kamu ingin pergi ke bioskop?” Chen datang ke halaman belakang membawa gelato. “Wow, gelato ini sangat lezat, dimana kamu membelinya?” Chen kembali bertanya.
“Pantoon.” Ranum menjawab datar. “Film apa yang ingin kamu lihat?” Ranum balik bertanya, mematikan rokoknya.
“Five feet apart.” Chen tersenyum.
“Itu jenis film apa?” Ranum bertanya datar.
Olivia tertawa kecil.
“Kenapa kamu tertawa?” Ranum bertanya ke Olivia. Olivia menggeleng, tersenyum lebar.
“Romantis.” Chen menjawab singkat, tersenyum.
__ADS_1
“Maafkan aku Chen.” Ranum mengangkat kedua tangannya. “Aku tidak akan menonton film seperti itu.” Ranum masuk ke dalam rumahnya.
Olivia tertawa kecil. “Kamu salah mengajak orang.” Lanjut Olivia berbicara ke Chen.
“Dia selalu mau menonton film romantis bersama istrinya.” Chen menjelaskan bingung.
Olivia mengangguk. “Itu istrinya Chen, kamu harus ingat itu.” Olivia kembali tertawa kecil. “Dari dulu dia hanya suka film ironman, tidak ada film lain yang disukainya.”
“Bagaimana kamu bisa tahu?” Chen bertanya penasaran.
“Itu sudah jadi rahasia umum kalau Ranum sangat tidak suka dengan film, terutama film romantis. Padahal keluarganya pemilik salah satu studio film terbesar di Amerika.” Olivia menjelaskan.
“Keluarganya juga memiliki studio film?” Chen terkejut.
Olivia mengangguk. “The Wilt Digney Company.”
“Atau mungkin alasan dia tidak mau menonton film bukan karena dia tidak suka menonton film. Tapi karena siapa yang mengajaknya menonton film.” Chen diam sejenak. “Dia pernah bilang kalau sering nonton film bersama istrinya, dia juga berlangganan Notflex.” Lanjut Chen menjelaskan.
“Bisa jadi.” Olivia mengangguk.
Jam dinding di rumah Ranum sudah menunjukkan pukul 19.09 waktu setempat. Ranum keluar dari kamarnya, menuju ruang keluarga. “Aku pergi dulu.” Ranum berbicara ke Chen dan Olivia yang sedang duduk di sofa.
“Kamu ingin kemana?” Chen bertanya.
“Mencari udara segar.” Ranum menjawab singkat.
“Aku dan Olivia akan pergi nonton bioskop, kamu yakin tidak ingin ikut?” Chen bertanya.
Ranum menggeleng. “Aku pergi dulu.” Ranum segera keluar dari rumahnya.
***
Ranum memacu mobilnya di jalan Gladstone, tiba – tiba mobilnya menabrak seorang pria yang sedang menyeberang, pria itu terlempar beberapa meter. Ranum segera keluar dari mobilnya untuk memeriksa keadaan pria tersebut.
“Apa kau gila!” Pria yang mengenakan tactical suit dan topeng itu berseru marah, membersihkan pakaiannya.
“Maafkan saya tuan, apa anda baik – baik saja?” Ranum bertanya, mendekati pria tersebut.
“Apa kau ti-“ Kalimat pria itu terhenti saat pria itu melihat Ranum, wajah pria itu langsung terlihat gembira. “Ranum!” Pria itu berseru. “Akhirnya aku menemukanmu!” Lanjut Pria itu memeluk Ranum sangat erat.
“Apa aku mengenalmu?” Ranum bertanya bingung.
“Pastinya kamu tidak akan mengenaliku bodoh!” Pria itu tertawa. “Namaku Woman Chaser.” Pria itu tersenyum lebar.
“Nama macam apa itu?” Ranum bertanya bingung.
Pria itu tertawa. “Aku tidak ingat siapa nama asliku. Aku rasa nama itu cukup keren. Aku tidak bisa menjelaskan semuanya secara detail.”
“Baiklah.” Ranum segera kembali ke mobilnya.
Chaser segera masuk ke mobil Ranum.
“Apa lagi yang kamu inginkan?” Ranum bertanya.
“Setelah menabrakku, sekarang kamu ingin meninggalkanku begitu saja?” Chaser bersungut-sungut.
__ADS_1
“Lalu apa maumu?” Ranum bertanya datar.
“Dalam lima detik akan ada helikopter yang lewat sini, kita harus segera pergi dari sini.” Chaser menjelaskan.
“Apa yang akan terjadi jika aku tid-“
Ranum belum sempat menyelesaikan kalimatnya, sebuah helikopter Agusta A129 menghujani mobil Ranum dengan peluru kaliber 20mm. Ranum segera keluar dari mobilnya, berlari secepat yang dia bisa. Chaser melakukan hal yang sama, berlari menyejajari Ranum. “Seharusnya kamu tidak usah banyak bertanya!” Chaser berseru.
“Mana aku tahu kalau kamu buronan bodoh!” Ranum berseru.
“Kamu pikir pria berlari malam – malam menggunakan tactical suit dan topeng adalah hal wajar?” Chaser bertanya, napasnya sedikit tersengal.
“Aku pikir kamu hanya cosplayer atau semacamnya!.” Ranum berusaha menghindari serbuan peluru yang mengincarnya.
“Kita harus membunuh mereka!” Chaser berseru.
“Apa!” Ranum tidak mendengar kalimat Chaser karena suara peluru yang mengalahkan suara Chaser.
“Kita harus membunuh mereka!” Chaser berseru lebih keras, mengulangi kalimatnya.
“Aku tidak membawa senjata lengkap sepertimu!” Ranum berseru.
Chaser melemparkan dua buah pistol. “Pakai itu, aku akan mengalihkan perhatian mereka!” Chaser segera berbelok ke kanan.
Ranum segera bersembunyi dibalik sebuah bangunan. Helikopter itu mengejar Chaser. “Sial! Bagaimana caraku menyerang helikopter itu.” Ranum menggerutu, matanya teralih pada sebuah tangga yang mengarah ke atap bangunan.
Tanpa banyak berpikir Ranum segera menaiki tangga tersebut dan berlari melewati atap bangunan, mengejar helikopter yang sedang terbang rendah. Jarak Ranum dengan helikopter itu tinggal beberapa meter, Ranum segera lompat ke helikopter itu.
Tangan Ranum berhasil meraih landing skids helikopter tersebut, helikopter sedikit bergoyang membuat seisi helikopter itu mengetahui keberadaan Ranum. Salah seorang penumpang helikopter itu membuka pintu helikopter, saat pintu terbuka Ranum segera melayangkan tinju ke orang tersebut, membuat orang itu terlempar ke lantai helikopter. Dua orang lainnya lompat menyerang Ranum, Ranum berkelit berhasil menghindari satu pukulan, tapi pinggangnya terkena pukulan lainnya. Ranum mengaduh, terkejut. Belum sempat menarik napas, Ranum sudah mendapatkan satu pukulan kejutan lainnya di bagian wajah, membuat Ranum terjerembap ke lantai helikopter.
Tapi Ranum segera lompat bangkit sambil menendang salah satu orang tersebut. Orang itu kehilangan keseimbangan, menabrak temannya. Ranum yang melihat kesempatan langsung mendorong orang itu keluar dari helikopter. Satu orang berhasil terlempar keluar dari helikopter, satu lagi berhasil meraih landing skids helikopter tersebut. Tapi satu orang yang tersungkur di lantai helikopter sudah bangun dan langsung melayangkan tinjuan ke arah Ranum, membabi buta. Ranum terus berkelit. “Sial! Aku tidak memiliki cukup ruang untuk menghindar!” Ranum bergumam.
Ranum segera meraih pistol pemberian Chaser yang dia simpan di celananya, menembak kepala orang tersebut sebanyak tiga kali. Ranum segera bangkit, menodongkan pistol ke arah pilot helikopter tersebut. “Hentikan helikopter ini.” Ranum berbicara datar, menyeka darah diujung bibirnya.
Pilot helikopter itu tidak mendengarkan perintah Ranum. Pilot itu menerbangkan helikopter itu semakin tinggi, menjauh dari tanah. “Apa yang kamu lak-“ Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, pukulan telak menghantam kepala Ranum, membuat Ranum kembali tersungkur ke lantai helikopter, pistolnya terjatuh.
Orang yang tadi di landing skids itu mengangkat tubuh Ranum, melemparnya ke dinding helikopter. Orang itu tidak memberi Ranum jeda untuk bergerak, segera mengunci leher Ranum. Ranum tidak bisa bernapas, berusaha meraih kepala orang tersebut. Ketika Ranum berhasil meraih wajah orang tersebut, Ranum segera mencolok mata orang tersebut dengan jarinya. Orang itu mengerang kesakitan, melepaskan kunciannya. Ranum terus menekan jarinya ke mata orang tersebut, lalu mencongkel mata orang tersebut. Ranum segera menendang orang tersebut keluar dari helikopter.
Helikopter itu kehilangan kendali. Pilot helikopter itu mengacungkan pistol ke arah Ranum. “Angkat tanganmu!” Pilot helikopter itu berseru.
Ranum mengangkat tangannya. “Kendalikan helikopter ini!” Ranum berseru.
Pilot helikopter itu menggeleng, menyeringai. “Kita akan mati bersama!” Pilot itu berseru.
“Sial!” Ranum bergumam.
Tidak ingin membuang waktu, Ranum segera berlari ke arah pilot tersebut, menendang pistol yang ada di genggaman pilot itu. Ranum segera menghajar pilot itu dengan tinjunya, satu pukulan berhasil menumbangkan pilot tersebut. “Hanya satu pukulan?” Ranum bertanya ke pilot helikopter yang sedang tak sadarkan diri.
Tapi usaha Ranum sia – sia, helikopter itu tinggal beberapa puluh meter lagi sebelum jatuh ke tanah. Ranum tidak banyak berpikir, langsung lompat keluar dari helikopter itu. “Sial!” Ranum berseru, kakinya terkilir ketika terjatuh ke jalanan. Chaser yang melihat Ranum, segera membantu Ranum menjauh dari helikopter yang sedang jatuh tersebut.
Helikopter itu jatuh, membuat landing skidnya patah, rotornya menghantam bangunan beberapa kali hingga berhenti dengan sendirinya. “Aku pikir helikopter itu akan meledak.” Chaser yang sedang membantu Ranum berjalan berbicara.
“Aku pikir juga begitu.” Ranum menjawab datar.
Chaser tertawa. “Lompatanmu sia – sia, hanya mem-“ Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Chaser terkejut akibat helikopter itu meledak. “Lompatanmu tidak sia – sia.” Lanjut Chaser tersenyum getir.
__ADS_1
Ranum mengangguk.