
“Selamat sore Tuan Muda Ranum Anatoly ada dua tugas yang harus anda selesaikan. Tugas pertama anda harus menemukan pesawat G-222 Aeritalia yang karam di Samudra Hindia dan tugas kedua anda adalah bertemu penjual logam zenamanthium di eSwatini, negara bagian Afrika Selatan.” Suara Alexa terdengar di ujung earpods.
Ranum mengangguk. “Baiklah.” Ranum mematikan earpodsnya.
“Muhammad sudah menunggu di pacuan kuda Tuan Muda.” Gabriel berkata.
Ranum mengangguk, menghisap rokoknya.
Anthony datang membawa burger dan segelas beer untuk Gabriel. “Silahkan tuan.” Anthony tersenyum.
“Terima kasih.” Gabriel membalas senyum.
“Ranum, maafkan aku. Tapi wanita itu terlihat sangat murung.” Anthony berbisik, menunjuk wanita yang tadi bertengkar dengan pasangannya.
“Bukan urusanku.” Ranum menenggak whiskeynya.
“Tapi kamu yang menyebabkan pria itu pergi.” Anthony berkata.
“Aku menyerang pria itu karena dia bersikap tidak sopan terhadapmu, bukan karena hampir membunuh wanitanya.” Ranum menjawab datar, menghisap rokoknya.
“Akan sangat bahaya bagi kandungannya jika wanita itu terus tertekan seperti itu.”
Ranum meletakkan gelas whiskeynya. “Dia hamil?” Ranum bertanya datar.
Anthony mengangguk. “Dari percakapan yang aku tangkap seperti itu.”
Ranum berdiri dari kursinya. “Bayar semuanya Gabe, aku akan kembali ke pacuan kuda. Bersantailah sebentar disini dan urus wanita itu, aku yang menyebabkan wanita itu ditinggal kekasihnya.”
“Tuan Muda, sebelumnya saya minta maaf. Tapi saya bersama Clara, dia sedang berada di mobil.” Gabriel berbicara pelan.
“Bagaimana denganmu tuan Anthony? Bisakah kamu menghibur gadis itu?” Lanjut Ranum bertanya ke Anthony.
“Masih banyak pelanggan yang harus aku layani.” Anthony tersenyum.
“Ajak Clara untuk makan disini. Nikmati kencan kalian.” Ranum berbicara datar.
“Anda serius Tuan Muda?” Gabriel memastikan.
“Lebih baik cepat kamu jemput Clara sebelum aku berubah pikiran.” Ranum berjalan ke arah wanita tersebut. “Permisi nona, saya tidak memiliki banyak waktu dan maafkan atas sikap saya yang kurang baik. Tapi apa anda mau saya antarkan pulang?” Ranum bertanya ke wanita tersebut. Wanita itu menunduk, takut melihat Ranum.
Wanita itu mengangguk pelan.
Ranum menjulurkan tangannya. “Mari ikut saya.”
Wanita itu menyentuh tangan Ranum perlahan. Anthony pura – pura batuk, menggoda Ranum. Ranum hanya menatap orang tua tersebut.
__ADS_1
Empat belas menit waktu yang di tempuh Ranum untuk tiba di sebuah apartment yang terletak di Epsom Road Ascot Vale. Di depan apartment itu terdapat beberapa koper. “Ada yang sedang pindahan?” Ranum bertanya.
Wanita itu menggeleng. “Itu barang – barangku.”
“Kenapa ada di luar?” Ranum kembali bertanya.
“Aku rasa Sean mengusirku.” Wanita itu tersenyum getir.
“Sean?” Ranum bertanya, bingung.
Wanita itu mengangguk. “Pria yang kamu cekik di bar tadi.”
“Apartment ini milik pria tersebut?” Ranum bertanya.
Wanita itu menggeleng. “Sean menyewa apartment ini untukku.”
“Kamu tinggal sendirian disini?” Ranum kembali bertanya.
Wanita itu mengangguk. “Aku tinggal di lantai dua.”
“Apa kamu memiliki teman?”
Wanita itu menggeleng. “Aku baru pindah kesini sekitar satu minggu.”
Ranum meraih ponselnya, menghubungi Brenton. “Brenton, apa kamu bisa membantuku?” Ranum bertanya.
“Berikan aku alamat tempat ini.” Ranum berbicara ke wanita tersebut sambil menutup speaker ponselnya.
“14/54 Epsom Road, Ascot Vale VIC 3032.” Wanita itu menjawab.
Ranum membuka speaker ponselnya. “Beli bangunan di 14/54 Epsom Road, Ascot Vale VIC 3032 sekarang juga.”
“Segera saya urus Tuan Muda, dalam dua puluh menit saya akan kembali menghubungi anda ketika semuanya sudah selesai.” Brenton menjawab.
Ranum menggeleng. “Tidak perlu, aku percaya padamu. Terima kasih Brenton.”
“Sama – sama Tuan Muda, senang dapat membantu anda.” Brenton menjawab.
Ranum mengangguk, mematikan ponselnya. “Kamu bisa kembali ke apartmentmu dalam dua puluh menit.” Ranum berbicara ke wanita tersebut.
Wanita itu mengangguk takzim. “Terima kasih banyak tuan.”
Ranum keluar dari mobilnya, membukakan pintu untuk wanita tersebut. “Nanti akan ada pria bernama Brenton kesini, kamu bisa meminta tolong apapun kepadanya, termasuk membawakan barang – barangmu ini masuk ke dalam.” Ranum tersenyum. “Aku harus pergi dulu, waktuku tidak bersahabat.” Ranum menunjuk jam di tangannya.
“Sekali lagi terima kasih banyak tuan.” Wanita itu tersenyum.
__ADS_1
Ranum mengangguk, segera masuk ke mobilnya. Menuju pacuan kuda.
Kurang dari enam menit Mc laren 720s spider yang dikendarai Ranum tiba di pacuan kuda. Calum membukakan pintu mobil. Membungkuk, menyambut Ranum. “Muhammad sudah menunggu anda Tuan Muda.” Calum berbicara.
Ranum mengangguk. “Bagaimana dengan civicku, apa sudah selesai?” Ranum bertanya.
“Beberapa sparepartnya masih dalam pengiriman Tuan Muda. Maafkan kami membuat anda menunggu lama.”
“Tidak masalah, pun bukan salah kalian.” Ranum tersenyum, berjalan menuju pesawat.
“Bagaimana kabarmu kawan?” Muhammad menyapa.
“Seperti yang kamu lihat. Lebih dari baik.” Ranum tertawa kecil membalas jabat tangan Muhammad.
“Kemana kita Ranum?” Muhammad bertanya.
“Île aux Nattes, Madagaskar.” Ranum menjawab singkat.
“Aye Aye Captain!” Muhammad berseru.
Pilatus PC -24 itu mulai lepas landas dari area pacuan kuda. “Moon, apa kamu merindukanku?” Ranum bertanya santai.
“Selamat datang Tuan Muda Ranum Anatoly, senang bisa kembali melayani anda dan sangat jelas saya merindukan anda.” Moon menjawab.
“Robot banyak bicara.” Ranum menggerutu, pelan.
“Saya bukan robot Tuan Muda. Saya adala kecerdasan buatan yang dimiliki ol-“
“Berhenti! Berhenti!” Ranum berseru, kesal. “Tunjukkan saja rincian tugasku kali ini.” Lanjut Ranum berbicara, mengatur napasnya.
“Kali ini ada dua tugas yang harus anda selesaikan Tuan Muda. Tugas pertama anda harus menemukan pesawat G-222 Aeritalia bermuatan sembilan ton kokain yang karam di Samudra Hindia dan tugas kedua anda adalah bertemu penjual logam zenamanthium di eSwatini, negara bagian Afrika Selatan.”
“Sembilan ton kokain apakah bisa membuat seluruh makhluk yang hidup di samudra hindia mabuk?” Ranum tertawa kecil, bergurau.
“Dari penelitian yang sudah dilakukan, kokain membuat ikan jadi lebih 'mesum', karena produksi ****** mereka melonjak. Para peneliti mengamati ikan jantan yang terpapar kokain menghabiskan lebih banyak waktu mengejar ikan betina, ketimbang ikan yang hidup di lingku-“
“Cukup Moon cukup! Aku hanya bergurau.” Ranum kesal. “Kirimkan titik koordinat pesawat kargo itu menghilang.” Lanjut Ranum berkata.
“-15.799831, 77.110665.”
“Oh sial, ini akan memakan waktu yang sangat lama.” Ranum menggigit bibirnya, berpikir. “Lalu apa itu logam zenamanthium?” Ranum kembali bertanya.
“Dari data yang diberikan Tuan Muda Arsyanendra, zenamanthium adalah logam baru yang berhasil di temukan di motlhatlokho pada kedalaman 24 kilometer.”Moon menjelaskan.
“Lalu apa fungsi dan kelebihan logam ini?” Ranum kembali bertanya.
__ADS_1
“Saya belum menerima data terbaru dari Tuan Muda Arsyanendra. Sementara ini, hanya itu yang saya ketahui.”
Ranum merebahkan tubuhnya di kursi, membakar rokoknya.