Ranum

Ranum
COOKE


__ADS_3

“Selamat pagi Tuan Muda Ranum, ada pekerjaan mendesak untuk anda saat ini.” Suara Alexa terdengar dari ujung earpods.


Ranum mengangguk. “Apa yang harus aku kerjakan?” Lanjut Ranum bertanya.


“Anda harus mengambil microchip di sebuah rumah di jalan Cooke, Bittern.” Alexa menjelaskan.


“Apa isi microchip itu?” Ranum bertanya.


“Tidak ada yang mengetahui isi microchip itu karena terlalu penting dan berpengaruh besar bagi dunia.” Alexa menjelaskan.


“Pekerjaan ini hanya sekedar mengambil secara baik – baik atau mengambil secara paksa?” Ranum kembali bertanya.


“Microchip itu milik Nona Dayana yang bekerja sama dengan seorang profesor. Profesor itu mengkhianati nona Dayana dan membawa kabur microchip tersebut. Kami sudah melakukan pencarian kemana – mana dan ada kemungkinan profesor itu menyembunyikan microchip itu di rumahnya. Cara mendapatkan microchip itu, anda yang harus memikirkannya.” Alexa kembali menjelaskan.


Ranum mengangguk. “Apa aku haru mengerjakannya saat ini?”


“Untuk masalah waktu lebih baik anda putuskan sendiri kapan waktu yang tepat.” Alexa berkata.


Ranum mengangguk. “Oke.” Lanjut Ranum mengetuk earpodsnya.


“Ada kerjaan?” Jarrett bertanya.


Ranum mengangguk.


“Apa aku harus pergi sekarang?” Jarrett kembali bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku melakukannya saat malam tiba.” Lanjut Ranum berkata datar.


Olivia datang ke halaman belakang membawa beberapa makanan. “Silahkan dinikmati.” Olivia tersenyum.


“Ini apa Olivia?” Jarrett bertanya, menunjuk salah satu hidangan.


“Itu zucchini panggang diisi daging cincang yang dicampur dengan pasta tomat dan beberapa bahan lainnya.” Olivia menjelaskan.


“Kalau yang seperti roti ini?” Jarrett kembali bertanya.


“Itu roti udang panggang, memang menggunakan bahan dasar roti tawar, tapi aku mencampur adonan roti tawar tersebut dengan udang, lebih nikmat dimakan bersama dengan saus ini.” Olivia menunjuk saus chipotle mayonnaise. “Tapi karena Ranum lebih suka saus sambal, aku membuatkan saus ini khusus untuknya.” Lanjut Olivia menunjuk saus sambal yang dicampur dengan beberapa bahan lainnya.


“Ini pasticcio croquettes?” Jarrett kembali bertanya.


Olivia mengangguk.


Mereka mulai menyantap hidangan yang disajikan Olivia.


“Dimana Ranum Tan?” Ranum bertanya.


“Dikamarnya, sedang tidur.” Olivia menjelaskan.


“Kamu sangat beruntung memiliki Olivia di rumah ini, masakannya luar biasa.” Jarrett berbicara ke Ranum dengan mulut penuh makanan.


“Dia memang koki.” Ranum menjawab datar.


“Kenapa kamu tidak pernah mengajak pasanganmu kesini?” Chen bertanya ke Jarrett.

__ADS_1


Jarrett mengunyah makanan dimulutnya dengan cepat, menelan makanan tersebut. “Benar juga ya, kenapa aku tidak pernah membawanya kemari.”


“Lain kali ajaklah pasanganmu kemari, biar semakin ramai.” Chen tersenyum. “Boleh kan Ranum?” Lanjut Chen bertanya ke Ranum.


Ranum mengangguk, meneguk champagnenya.


***


Malam tiba.


Ranum memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah tersebut. Ranum menghubungi Alexa. “Aku hanya melihat pepohonan disini.” Ranum berkata.


“Pohon – pohon itu hanya kamuflase, anda harus masuk kesana, berjalan beberapa ratus meter agar bisa menemui rumah profesor tersebut.” Alexa berkata.


Ranum mengangguk, mengetuk earpodsnya.


Ranum melangkah perlahan melewati pohon – pohon besar. Setelah berjalan sekitar seratus meter, Ranum melihat sebuah rumah dengan luas 1000 meter persegi. Ranum perlahan mendekati rumah tersebut, mengendap – endap.


Perlahan Ranum membuka pintu utama rumah tersebut. Tangan Ranum terhenti saat mendengar suara tangisan dari dalam rumah tersebut. “Ada apa?” Ranum bergumam. Tidak ingin membuang waktunya, Ranum segera masuk ke dalam rumah tersebut, menuju sumber tangisan. Langkah Ranum terhenti di ruang keluarga rumah tersebut, dia mendapati profesor itu sedang terkapar di lantai, berlumuran darah. Istri dan empat anak profesor itu mengelilingi tubuh profesor itu, menangis.


“Kamu siapa?” Anak profesor yang berusia sekitar tujuh tahun bertanya dan membuat seluruh mata tertuju pada Ranum. “Kenapa kamu membawa senjata, apa kamu ingin membunuh ayahku juga?” Lanjut anak kecil itu bertanya.


Ranum dengan cepat menyimpan pistolnya.


“Apa maumu!” Istri profesor itu berseru. “Apa kamu salah satu orang yang membunuh suamiku?” Wanita itu kembali berseru.


Ranum menggeleng.


“Apa nyawa suamiku pantas ditukar dengan microchip yang hanya sebesar penghapus pensil!” Wanita itu kembali berseru.


“Apa kamu bilang?” Anak pertama profesor itu berdiri, menatap Ranum tajam.


“Aku bilang mungkin.” Ranum mengulangi ucapannya.


“Bajingan!” Laki – laki berusia tujuh belas tahun itu berlari cepat ke arah Ranum, melayangkan tinju ke wajah Ranum.


Ranum dengan mudah menangkap pukulan anak profesor yang memiliki tinggi badan 172cm tersebut. “Aku tidak ingin melawanmu.” Ranum berbicara dingin, tangannya masih menggenggam tangan anak profesor tersebut. “Aku akan membantu kalian menguburkan mayat ayah kalian dan jangan ada yang menghubungi polisi.” Lanjut Ranum berbicara datar.


“Kenapa?” Istri profesor itu bertanya.


“Karena suamimu terlibat dalam hal yang sangat besar, tidak seperti yang kalian ketahui.” Ranum melepaskan tangan anak profesor tersebut. “Aku hanya ingin bilang kalau orang itu mencuri microchip milik keluargaku.” Ranum menunjuk mayat profesor tersebut.


“Bisakah kalian berhenti membahas benda itu?” Anak kedua profesor itu bertanya. “Kita urus ayah terlebih dahulu baru bahas hal lainnya.” Lanjut anak perempuan itu berbicara.


Ranum mengangguk. “Aku turut berduka atas kehilangan kalian.” Ranum berbicara datar. “Apa kalian memiliki kantung mayat?” Lanjut Ranum bertanya.


Semua orang menggeleng.


“Kalau begitu berikan aku beberapa sprei untuk membungkus tubuh ayah kalian.” Ranum berkata.


“Dimana kamu akan mengubur tubuh suamiku?” Istri profesor itu bertanya.


“Di halaman belakang rumah ini.” Ranum menjawab datar.

__ADS_1


Istri profesor itu menggeleng. “Aku akan menghubungi polisi agar mereka mengurus suamiku dengan layak.” Lanjut istri profesor itu berkata.


“Polisi akan melakukan autopsi pada tubuh suamimu, itu membuat tubuh suamimu di obrak – abrik dan akan lebih lama berada di ruang autopsi. Banyak juga polisi yang akan menginterogasi kalian, membuat berita kematian suamimu tersebar kemana – mana, hidup kalian tidak akan aman lagi ketika orang sepertiku mengetahui keberadaan kalian. Aku tidak ingin menakut - nakuti kalian, tapi penjahat sepertiku sedang memburu microchip itu, karena benda itu sangat penting dan rahasia. Semua penjahat sepertiku akan mulai mencari dari rumah ini ketika mereka mengetahui tempat ini.” Ranum menjelaskan.


Ruang keluarga itu lengang sejenak.


“Apa keputusan kalian?” Ranum bertanya, memecah lengang.


Anak pertama profesor itu mengangguk. “Aku akan membantumu menguburkan ayahku di halaman belakang.”


Setelah anak pertama profesor itu setuju, satu persatu anak profesor yang lainnya juga ikut setuju membuat istri profesor itu terpaksa menyetujui saran Ranum.


Ranum dan anak pertama profesor itu menguburkan tubuh profesor itu di halaman belakang, disaksikan seluruh anggota keluarga. “Apa isi microchip itu?” Anak pertama profesor itu bertanya.


Ranum menggeleng. “Hanya kakakku dan ayahmu yang tahu.” Ranum menjawab datar, tangannya gesit menggali lubang dengan sekop.


“Kenapa ayahku mencuri microchip itu dari keluarga kalian?” Anak pertama profesor itu kembali bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku juga ingin menanyakan hal yang sama pada ayahmu.”


Dua puluh menit kemudian proses pemakaman telah selesai, setiap anggota keluarga sudah memanjatkan doa dan berpidato sesuai kepercayaan mereka.


“Apa kamu tidak bisa berdoa?” Anak terakhir profesor itu bertanya ke Ranum.


Ranum hanya membalas pertanyaan anak kecil itu dengan senyuman. “Aku harus pergi dari sini.” Lanjut Ranum berkata.


“Tunggu dulu.” Anak pertama profesor itu berkata, membuat langkah Ranum terhenti. “Terima kasih atas bantuanmu.” Lanjut anak pertama profesor itu menjulurkan tangannya.


Ranum mengangguk, menjabat tangan laki – laki tersebut.


“Siapa namamu?” Istri profesor itu bertanya.


“Lebih baik kalian tidak mengetahui tentangku lebih jauh.” Ranum tersenyum.


“Bagaimana jika ada orang jahat lainnya yang datang kesini?” Anak kedua profesor itu bertanya.


Ranum merobek kartu namanya, menyisakan nomor teleponnya. “Hubungi aku jika ada sesuatu yang mencurigakan.” Ranum memberikan sobekan kartu nama tersebut ke anak pertama profesor itu.


Semua anggota keluarga profesor itu berterima kasih ke Ranum, Ranum segera melangkah pergi dari area rumah profesor. Ranum menghubungi Alexa. “Microchip itu telah di curi orang lain.” Ranum berbicara.


“Apa anda tahu siapa yang mencuri microchip itu?” Alexa bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku tidak tahu.” Ranum menjawab singkat.


“Apa anda sudah bertanya ke profesor itu?” Alexa kembali bertanya.


Ranum kembali menggeleng. “Orang yang mengambil microchip itu membunuh profesor tersebut. Aku tidak ingin banyak bertanya pada keluarganya, mereka baru kehilangan profesor itu.”


“Apa anda memiliki cara lain agar bisa mendapatkan microchip itu?” Alexa bertanya.


“Aku tidak tahu.” Ranum memarkirkan mobilnya di sebuah kafe. “Mungkin besok aku akan kembali ke rumah itu dan menginterogasi mereka.” Lanjut Ranum keluar dari mobilnya.


“Baiklah Tuan Muda.”

__ADS_1


Ranum mengangguk, mematikan earpodsnya.


__ADS_2