Ranum

Ranum
Bagian 20


__ADS_3

Ranum tiba di rumah setelah adzan Isya berkumandang. Ia segera mengambil wudhu' dan ikut sholat bersama Bu Ratih. Hatinya kini merasa lebih tenang. Ada rasa lega di dalam hati setelah pergi ke kota dingin tadi. Tak sia-sia mendatangi kota itu dan bertemu dengan Arvin, sosok lelaki yang sudah dianggap sahabat oleh gadis manis bermata tajam itu.


Jawaban yang ia cari didapat dan keputusan pun telah diambil untuk masa depannya nanti.


"Maghrib tadi udah sholat?" tanya Bu Ratih.


"Udah, Bu. Tadi mampir di masjid dulu kok."


Ranum yang memang belum makan malam, menuju meja makan dan melihat masakan Bu Ratih yang sudah tersedia di sana.


Bu Ratih menemani putrinya itu makan malam. Melihat wajah Ranum yang lebih tenang dari sebelumnya, membuat wanita paruh baya itu ikut tenang.


Ranum yang sudah menyelesaikan makan malamnya, segera membersihkan meja makan dan piring yang kotor. Ia terlihat lebih bersemangat dibanding sebelum pergi ke Malang. Matanya berbinar, kedua sudut bibirnya beberapa kali tertarik ke atas membentuk lengkungan kecil yang membuatnya terlihat lebih ceria dan tentu manis. Setelah semuanya beres, Ranum pamit pada Bu Ratih untuk lebih dulu masuk ke dalam kamar.


Ponsel menjadi incaran pertama saat sudah berada di kamar. Ia segera duduk di ranjang dan mengambil satu bantal untuk didekap di pangkuan, tubuhnya bersandar pada dinding ranjang. Ponsel sudah di tangan. Dengan wajah sumringah dan hati berdebar Ranum membukanya.


[Insya Allah hari Minggu nanti aku ke sana. Ada apa?]


Senyum pun semakin terkembang di bibir Ranum membaca pesan dari Zaviyar.


[Okey. Aku tunggu]


Selang beberapa detik dari pesan yang Ranum kirim, foto profil lelaki tampan muncul di layar ponselnya. Dengan hati yang ... entah bagaimana gadis itu menggambarkan perasaannya saat ini. Ada getar yang semakin kuat dalam hatinya. Bukan kali pertama Ranum menerima panggilan telepon dari Zaviyar. Tapi, kali ini ritme jantungnya benar-benar tak beraturan.


Sebuah salam terdengar dari seberang telepon. Suara yang memang sudah sangat dikenal oleh Ranum membuat jantungnya kembali berdetak cepat. Ranum menjawabnya dengan nada yang mungkin bisa ditangkap Zaviyar bahwa gadis itu sedang bahagia.


"Mau ngomong apa?" tanya Zaviyar.


"Nanti aja kalau Mas Zav ke sini."


"Kalau mau ngomong, ya ngomong aja, Ra."


"Aku maunya ngomong langsung dihadapan Mas Zav. Banyak hal yang harus aku katakan sama kamu, Mas."


"Ah ... kamu bikin penasaran aja."


Ranum terkekeh mendengar ucapan Zaviyar. Bunga-bunga di hatinya yang sempat layu, kini sepertinya kembali segar dan bersemi indah.


"Biar tahu rasanya penasaran. Dulu Mas Zav juga buat aku penasaran habis marah karena aku ketemu Arvin. Pakek nggak ngabarin juga kalau jadi ke sini."


Tawa Zaviyar terdengar jelas oleh Ranum, dan itu membuat Ranum semakin bahagia bisa mendengar tawa lelaki yang ia sayang.


"Ra, panggilan video ya?" pinta Zaviyar.


"Ngapain, Mas? Nggak usahlah."


"Kenapa? Kamu takut kelihatan kalau wajahmu memerah?"


Tentu saja. Tentu Ranum tak ingin lelaki di seberang telepon itu tahu jika kini wajahnya bersemu merah karena bahagia dan juga gugup jika Zaviyar melontarkan candaan yang manis.


Namun, tanpa ada persetujuan dari Ranum. Zaviyar langsung mengalihkan fitur panggilan suara ke panggilan video yang memang tersedia di WhatsApp. Ranum yang melihat itu di layar ponselnya bingung. Segera ia ambil kerudung.


"Seneng?" celetuk Ranum yang sedikit kesal karena Zaviyar tiba-tiba mengalihkan panggilannya ke video.


"Tentu."


Ranum berdecak kesal bercambur bahagia mendengar jawaban Zaviyar.


“Sepertinya aku tahu apa yang akan kamu omongin."


“Masa?”


Hanya gumaman yang terdengar sebagai jawaban Zaviyar.


Kedua insan itu kini sama-sama merasa senang. Meski Ranum belum mengatakannya secara langsung, lagi-lagi Zaviyar sepertinya memiliki telepati yang mampu menebak isi hati gadis desa itu.


"Mau aku ke sana sama Ayah dan Bunda? Sekalian melamar?" Zaviyar menggoda.


"Ih ... Mas Zav pede banget, mau lamar lamar aja."


Tawa Zaviyar semakin kencang mendengar Ranum yang masih kukuh tak mau bicara.

__ADS_1


Obrolan pun tak berhenti. Dua insan itu seakan enggan memutus sambungan teleponnya. Mereka masih menikmati kebahagiaan di hati masing-masing. Candaan ringan antara keduanya terus bergulir. Terkadang saling lempar ledekan yang membuat mereka tertawa bersama. Dan sesekali bayangan masa depan indah nan bahagia yang sepertinya tak lama lagi akan menjadi nyata menjadi topik pembicaraan mereka.


"Mas, bener ya hari Minggu ke sini?" Ranum meyakinkan.


"Iya, Insya Allah. Semoga tidak ada halangan. Andai bisa, sekarang juga aku ke sana, Ra," canda Zaviyar yang diikuti tawa kecil keduanya.


"Ish ... Mas Zaviyar mah."


"Berapa hari lagi nih sampai Minggu?" Zaviyar mengerutkan kening. Ia seperti kehilangan daya ingatnya untuk sekedar mengingat hari apa saat itu.


"Sekarang udah Kamis, Mas. Berarti dua hari lagi."


Zaviyar ingin hari Minggu itu segera datang. Tak sabar rasanya ingin bertemu dan mendengarkan kata-kata yang akan diucapkan Ranum.


Denting waktu terus berputar. Malam semakin larut. Tapi, Ranum dan Zaviyar sepertinya tak menyadari hal itu karena hati yang terlalu berbunga. Hingga suara Ranum yang menguap terdengar oleh Zaviyar.


"Ngantuk ya, Ra?" Zaviyar melirik jam yang terpajang di atas nakas.


"Astaghfirullahal'adziim. Hampir tengah malam, Ra. Ya udah, istirahat yuk. Besok yang bangun duluan hubungi ya, biar nggak kesiangan salah satu dari kita," ucap Zaviyar.


"Iya, Mas."


Setelah salam terucap, mereka segera mematikan telepon dan merebahkan tubuh.


***


Sang Surya telah menyapa. Zaviyar penuh semangat mengawali hari. Senyum lelaki berwajah teduh itu terlihat begitu berbinar. Sorot matanya menyiratkan kebahagian.


"Habis mimpi apa semalam?" ucap Bu Dini.


"Ini nggak mimpi, Bun tapi nyata."


"Sepertinya kita akan segera melamar nih, Bun," suara Pak Qosim yang baru masuk dari taman belakang membuat Zaviyar dan Bu Dini menoleh.


Zaviyar hanya mengangguk penuh semangat dan tentu rona bahagia yang tak mampu ia tutupi lagi. Bu Dini dan Pak Qosim duduk di meja makan untuk menyantap sarapan mereka.


"Semalam Ranum ngak mau ngomong, katanya mau ngomong langsung di hadapan Zaviyar saat bertemu nanti," ujar Zaviyar disela sarapan.


Zaviyar menceritakan obrolannya semalam. Bagaimana binar mata Ranum yang ia lihat saat melakukan panggilan video, membuatnya yakin bahwa kabar baik akan segera tiba.


Bu Dini dan Pak Qosim ikut bahagia mendengar penuturan putranya itu. Mereka mendo’akan semoga harapan zaviyar tak lama lagi terkabul. Tak ada kebahagiaan yang lebih indah bagi orang tua selain melihat anak-anaknya bahagia.


***


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Zaviyar membersihkan diri setelah berolahraga sejenak. Lalu  berganti pakaian untuk segera berangkat ke desa Ranum. Sarapan telah tersaji di meja makan saat Zaviyar turun dari kamarnya.


Bu Dini dan Pak Qosim pun telah duduk di kursi masing-masing menunggu putra semata wayang mereka. Zaviyar yang telah sampai di tempatnya, menyeret kursi dan duduk untuk menyantap sarapan di minggu pagi yang indah itu bersama orang tuanya.


Restu Bu Dini dan Pak Qosim menyertai langkah Zaviyar saat ia meninggalkan rumah. Mobil silvernya melaju sedang di jalanan kota Surabaya menuju desa tempat gadis pujaan tinggal.


Lebih kurang pukul 08.35 Zaviyar memasuki desa Ranum. Hatinya semakin berbunga, tak sabar melihat wajah gadis yang terus membayang di benaknya.


Senyum Ranum, bulu mata yang lentik dan sorot dari manik matanya yang tajam tak hilang dari ingatan Zaviyar.


Tak butuh waktu lama, Zaviyar sudah memasuki gang rumah Ranum. Ia memarkirkan mobilnya tak jauh dari rumah Ranum. Dengan celana jeans biru, kemeja coklat muda lengan pendek yang membalut tubuhnya, berjalan menuju rumah Ranum.


Tak sampai lima menit, Zaviyar sudah berada di depan pintu rumah Ranum. Diketuknya pintu di hadapannya dan salam pun ia ucapkan. Terdengar sahutan dari dalam rumah yang kemudian disusul dengan sosok gadis manis yang keluar dari sebuah ruangan.


Ranum keluar membuka pintu untuk Zaviyar. Senyumnya terkembang sempurna menyambut kedatangan lelaki dari kota pahlawan. Seperti gayung bersambut, Zaviyar pun menyapa Ranum dengan senyum menawannya saat Ranum membukakan pintu.


Tak lama setelah Zaviyar duduk, Bu Ratih keluar dan menyapanya dengan senyuman hangat khas seorang Ibu. Zaviyar bangkit dari duduknya dan mencium tangan Bu Ratih penuh takzim.


"Ambilkan minum, Nduk," ucap Bu Ratih pada Ranum.


Ranum mengangguk dan berjalan masuk ke dapur. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan sebuah nampan di tangan yang berisi secangkir teh dan beberapa camilan yang memang sudah disiapkan sebelumnya. Segera Ranum letakkan cangkir berisi teh, sepiring puding, dan satu toples berisi kue kering di meja.


"Diminum, Mas."


"Iya, makasih."


Zaviyar mengambil cangkir di hadapannya dan meminumnya  sedikit, lalu meletakkan kembali di atas meja.

__ADS_1


"Macet nggak, Mas jalannya?" Ranum berbasa-basi.


"Aku lewat tol, jadi nggak macet," jawab Zaviyar dengan senyumnya.


"Oh, iya," Ranum menunduk malu menyadari pertanyaan basa-basinya hanya membuatnya semakin gugup.


"Ibu tinggal dulu ya. Kalian ngobrol aja," Bu Ratih yang tahu bahwa putri semata wayangnya itu ingin menyampaikan sesuatu pada Zaviyar, sengaja meninggalkan mereka berdua.


Zaviyar yang mengerti akan kegugupan gadis di hadapannya itu tersenyum penuh bahagia. Ia mengambil sepotong puding di piring dengan mata yang sesekali melirik ke arah Ranum yang duduk tak jauh darinya.


"Apa sih, Mas lirik-lirik?"


Zaviyar menggeleng sambil memakan puding yang baru ia ambil. Dan lagi-lagi sudut bibirnya membentuk bulan sabit.


"Kapan, nih ngomongnya? Mau diem-dieman aja?" Masih dengan setengah potongan puding di tangan.


"Ih ... Mas Zav nggak sabaran."


"Wes toh, Ra. Ngomong aja, seneng banget bikin orang penasaran."


"Katanya udah tahu apa yang mau aku omongin."


Zaviyar menatap mata Ranum, tepat pada manik-maniknya yang membuat sang gadis semakin gugup.


Kedua tangan gadis itu saling menggenggam, jemari tangannya saling bertaut atau kadang ia memainkan kedua ibu jari. Ranum memalingkan muka, pipinya pun kini sudah bersemu merah mendapat tatapan dari lelaki berwajah teduh itu.


Ranum menghela napas, lalu memberanikan diri menatap balik pada sosok dihadapannya.


"Mas, sebelum aku memberi jawaban yang mungkin Mas Zaviyar udah tahu. Aku mau mengatakan semuanya pada Mas Zav. Aku akan menceritakan terlebih dulu kenapa kemarin-kemarin aku nggak bisa langsung memberi jawaban."


Zaviyar masih pada posisi duduknya menghadap ke arah Ranum. Ia tak ingin menyela, hanya ingin mendengarkan semua kata-kata dari bibir gadis berkulit sawo matang itu.


"Mas Zav ingatkan, dulu aku pernah cerita tentang meninggalnya Bapak?"


Zaviyar hanya mengangguk.


"Saat itu aku benar-benar kehilangan sosok lelaki hebat dalam hidupku, dan ...."


"Assalamu'alaikum," ucapan salam dari seseorang dari luar membuat kata-kata yang diucapkan Ranum terhenti.


Ranum dan Zaviyar yang tengah serius tak mendengar adanya motor yang memasuki halaman samping rumah Ranum. Hingga keduanya melihat siapa sosok yang mengucap salam itu.


Melihat seorang lelaki yang baru saja datang, rasa bahagia sedari beberapa hari yang lalu hinggap di hatinya berubah menjadi rasa cemas. Sedangkan Zaviyar, pasti ada rasa kesal karena waktu bersama Ranum terganggu oleh kedatangan tamu yang tiba-tiba hadir. Dan tak bisa dipungkiri, hati Zaviyar pun menjadi was-was.


Ranum mempersilakan tamu yang baru datang untuk masuk. Kedatangan tamu tersebut benar-benar membuat suasana menjadi berubah. Senyum dan keceriaan yang sebelumnya terhias indah dan memenuhi ruang tamu, kini seperti menghilang. Hening.


Aldi yang sedari datang memang berkeinginan untuk bicara dengan Ranum, tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Ia meminta waktu untuk bicara empat mata pada Ranum dan mengatakan tujuannya.


Ranum melirik Zaviyar meminta persetujuan sebelum bicara dengan Aldi. Dengan tenang, dosen muda itu mengangguk memberi izin. Namun, suasana yang sejak tadi hening, berubah menjadi tegang karena kata-kata Aldi.


“Num, jangan bilang kamu lupa dengan ucapanmu sendiri?” Suara Aldi memecah keheningan di rumah Ranum.


Ranum masih tak mampu berkata-kata. Matanya mulai berembun menatap lelaki yang sudah berdiri di samping Aldi.


Zaviyar yang mendengar obrolan antara Ranum dan Aldi sudah tak tahu bagaimana menjelaskan perasaannya saat ini. Ia melangkahkan kaki, segera keluar dari rumah Ranum.


“Mas Zav, tunggu. Dengerin aku dulu,” panggil Ranum yang melihat Zaviyar keluar.


Zaviyar tak mempedulikan ucapan Ranum. Kaki jenjangnya semakin lebar melangkah. Ranum yang masih ingin menjelaskan semuanya, berusaha menyusul. Dengan cepat Ranum mengambil langkah dan berdiri di depan Zaviyar.


“Mas, tunggu. Dengarkan aku, tolong!”


Zaviyar menghentikan langkah. Setetes bening tak terasa jatuh dari pelupuk mata Ranum saat melihat wajah Zaviyar yang sudah tak seperti saat ia datang.


“Jadi itu yang buat kamu ragu? Dan ini yang mau kamu katakan?” Zaviyar kembali melangkah melewati Ranum.


“Enggak, Mas. Bukan itu! Tolong, dengarkan aku dulu!” Air mata Ranum semakin deras.


“Mas, bilang yakin dengan hatiku. Mas bilang tahu apa yang mau aku omongin. Kenapa sekarang Mas Zav nggak mau dengerin aku dulu?”


“Sepertinya aku salah. Sebaiknya selesaikan urusanmu dengan laki-laki itu."

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2