
Empat bulan yang lalu.
Seseorang mengetuk pintu rumah Ranum, Olivia membuka pintu. “Kalian orang tuanya Chen?” Olivia bertanya.
“Iya kami orang tuanya Chen, kamu siapa?” Ayah Chen bertanya.
“Aku yang menghubungi kalian.” Olivia menjawab, tersenyum.
“Jadi kamu Olivia?” Ibu Chen bertanya.
Olivia mengangguk takzim. “Silahkan masuk.” Lanjut Olivia mempersilahkan orang tua Chen.
Olivia mengantar orang tua Chen menemui Chen dan Ranum di halaman belakang rumah itu. “Chen, orang tuamu tiba.” Olivia berkata dari pintu halaman belakang.
Chen menghampiri, memeluk kedua orang tuanya. “Ma, pa, perkenalkan ini Ranum suamiku dan Ranum Tan, anak kami.” Chen memperkenalkan Ranum dan anaknya pada orang tuanya. “Ranum, ini mama dan papaku.” Lanjut Chen memperkenalkan orang tuanya pada Ranum.
“Ranum.” Ranum menjabat tangan ibu Chen.
“Adele Xiuhuan.” Ibu Chen tersenyum, menjabat tangan Ranum.
“Ranum.” Ranum menjabat tangan ayah Chen.
“Adrian Xiuhuan.” Ayah Chen menjabat tangan Ranum. “Sejak kapan kalian menikah? Kenapa kalian tidak mengundang kami?” Lanjut ayah Chen bertanya ke Ranum.
“Kami menikah sudah hampir setahun.” Chen yang menjawab pertanyaan ayahnya. “Kami menikah disini, ponselku hilang saat di Singapura, jadi aku tidak bisa mengabari kalian.” Lanjut Chen menjelaskan.
Ranum mengangguk. “Maafkan saya karena tidak menghubungi kalian.” Ranum membungkuk.
Ayah Chen menatap Ranum, menyelidik. “Apa pekerjaanmu?” Lanjut ayah Chen bertanya.
“Saya bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan tuan.” Ranum tersenyum.
“Karyawan bisa membeli sebuah mobil mewah?” Ayah Chen bertanya ketus.
“Itu mobil bos saya tuan, mobil saya berada di bengkel karena ada sedikit kerusakan.” Ranum menjelaskan.
Ayah Chen mengangguk, menatap sekitar. “Apa anakku hidup berkecukupan disini?” Lanjut ayah Chen bertanya.
“Pa!” Chen berseru kesal. “Apa – apaan sih pertanyaan itu, aku hidup sangat bahagia! Di tempat ini aku tidak perlu bertemu orang menyebalkan seperti papa!” Lanjut Chen berseru.
Ranum memegang pundak Chen. “Saya selalu berusaha untuk mencukupi kebutuhan Chen selama hidup disini tuan, maaf jika saya masih memiliki banyak kekurangan dan belum masuk dalam kriteria menantu idaman anda.” Lanjut Ranum berbicara pada ayah Chen.
Olivia meremas tangannya, kesal melihat tingkah laku ayah Chen.
“Apa ini cucuku?” Ibu Chen bertanya.
Ranum mengangguk, memberikan Ranum Tan ke ibunya Chen.
__ADS_1
“Tampan sekali bayi ini.” Ibu Chen tersenyum. “Siapa namanya tadi?” Lanjut Ibu Chen bertanya.
“Ranum Tan ma, aku ambil dari nama ayahnya.” Chen tersenyum.
“Nama yang cantik.” Ibu Chen tersenyum, menimang cucunya.
“Silahkan duduk tuan dan nyonya.” Ranum berbicara.
Ayah dan Ibu Chen duduk di kursi halaman belakang. “Panggil kami mama dan papa, kami juga orang tuamu.” Ibu Chen tersenyum menatap Ranum.
“Baik ma.” Ranum tersenyum. “Olivia, tolong buatkan beberapa makanan untuk orang tuaku.” Lanjut Ranum berbicara ke Olivia.
“Baik Ranum.” Olivia masuk ke dalam rumah.
“Kenapa Olivia yang menghubungiku, bukan kamu?” Ayah Chen bertanya ke Ranum.
“Maafkan saya pa, saat itu pekerjaan saya cukup padat.” Ranum menjelaskan.
“Lebih penting pekerjaanmu daripada mertuamu?” Ayah Chen bertanya sinis.
“Bukan begitu pa, kami juga harus mencari nomor telepon kalian dan itu memakan waktu cukup lama, jadi saya meminta bantuan Olivia untuk melakukannya.” Ranum berusaha menjelaskan.
“Jadi pembantu di rumah ini lebih pintar daripada dirimu.” Ayah Chen tersenyum sinis.
Ranum tersenyum, mengangguk. “Iya pa.”
Ayah Chen mengambil bungkus rokok yang ada di meja. “Kamu merokok?” Lanjut Ayah Chen bertanya.
Ranum mengangguk.
“Pa! Ranum selalu merokok di luar rumah, dia tidak pernah memperbolehkanku merokok dan minum alkohol karena dia peduli dengan kesehatanku. Dia melarang teman - temannya untuk merokok di dalam rumah agar kesehatanku tidak terganggu. Dia jauh lebih peduli padaku dibandingkan ayah!” Chen berseru kesal. “Dimana ayah selama ini? Aku menghilang selama setahun, kalian sama sekali tidak mencariku. Ranum yang meminta tolong pada Olivia untuk membawa kalian kesini agar aku bisa bertemu dengan orang menyebalkan seperti papa!” Chen berseru kesal.
“Chen.” Ranum memegang pundak Chen. “Bagaiman perjalanan, apa menyenangkan?” Lanjut Ranum bertanya ke orang tua Chen.
“Memb-“ Kalimat ayah Chen terhenti, ibu Chen menutup mulut suaminya itu.
“Perjalanan kami sangat menyenangkan, terima kasih atas tiket dan taksinya Ranum.” Ibu Chen menjawab, tangan kirinya menimang Ranum Tan. “Bagaimana kabar kalian? Bagaimana rasanya pernikahan?” Lanjut Ibu Chen bertanya.
“Sangat menyenangkan ma, Ranum selalu membuatku bahagia. Aku tidak bisa menjelaskan sebesar apa kebahagiaan yang dia berikan karena saking besarnya kebahagiaan yang aku rasakan.” Chen menjelaskan, tersenyum lebar.
“Baguslah kalau pernikahan kalian berjalan dengan baik, kami juga ikut senang mendengarnya.” Ibu Chen tersenyum. “Terima kasih Ranum sudah membahagiakan anak kami, Chen tidak pernah terlihat sebahagia ini sebelumnya.” Lanjut Ibu Chen menjelaskan.
“Dia lebih bahagia ketika bersama kita.” Ayah Chen bersungut – sungut.
Ranum mengangguk, tersenyum. “Maafkan saya pa.”
“Dan aku tidak pernah merasa bahagia ketika ada papa!” Chen berseru ketus. “Aku pikir setelah kehilanganku, sifat keras kepalamu akan hilang!” Lanjut Chen.
__ADS_1
“Wajahmu banyak bekas luka, apa penyebab luka itu?” Ibu Chen bertanya.
“Ah ini karena kecelakaan mobil ma, makanya mobilku berada di bengkel.” Ranum berkelit.
Ibu Chen mengangguk. “Lain kali lebih hati – hati ya nak.” Ibu Chen tersenyum.
Ranum tersenyum, mengangguk takzim.
“Apa putriku ada di dalam mobil itu saat kecelakaan?” Ayah Chen bertanya.
Ranum menggeleng. “Tidak pa, aku sedang pulang kerja saat itu.”
Olivia keluar membawa laksa, kepiting saus pedas, nasi ayam hainan, mie hokkien, char kwetiau, beberapa makanan dan minuman lainnya. “Selamat menikmati.” Lanjut Olivia tersenyum lalu duduk di sebelah Ranum.
“Bagaimana bisa kamu masak ini semua?” Ayah Chen bertanya.
Olivia tersenyum lebar. “Karena Ranum menyekolahkanku di sekolah memasak terbaik di Australia.” Lanjut Olivia menjelaskan dengan bangga.
“Menyekolahkanmu?” Ayah Chen bertanya bingung.
“Silahkan dicoba pa, Olivia sangat pintar dalam memasak.” Ranum berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Apa maksud ucapanmu tadi Olivia?” Ayah Chen masih bertanya penasaran.
“Laksa ini enak sekali, seperti buatan ibuku dulu. Bumbunya sangat terasa dan benar- benar mengingatkanku pada masa kecilku.” Ibu Chen tersenyum bahagia. “Bumbunya meresap ke dalam mienya dan kematangan mienya sangat tepat. Ini benar – benar laksa terlezat yang pernah aku rasakan.” Ibu Chen berbicara dengan wajah bahagia.
“Olivia memang sangat hebat dalam memasak ma, dia bisa memasak apapun dan tidak ada yang bisa menandingi kelezatan masakan Olivia.” Chen tertawa kecil, menyendok makannnya.
Ayah Chen mencoba kepiting saus pedas. Saat daging kepiting itu masuk ke mulutnya, dia terdiam sejenak. “Kamu harus mencoba kepiting ini.” Lanjut Ayah Chen memberikan sesendok daging kepiting ke arah istrinya.
“Wow, semua masakanmu enak sekali Olivia, bisakah kamu memberikan resepnya padaku?” Ibu Chen bertanya.
“Aku akan membagikannya dengan senang hati nyonya.” Olivia tersenyum.
“Setelah makan ini, kami akan pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli kado natal. Apa mama dan papa ingin ikut?” Ranum bertanya.
“Apa kamu memiliki cukup uang untuk membeli hadiah natal?” Ayah Chen bertanya.
Ranum tersenyum. “Aku mendapatkan bonus natal cukup banyak tahun ini pa. Jadi kalian bisa membeli apapun yang kalian inginkan.”
“Apapun?” Ayah Chen bertanya.
Ranum tersenyum, mengangguk.
“Naik apa kita kesana? Mobil bosmu tidak akan cukup menampung kita semua.” Ayah Chen berkata.
“Papa dan aku bisa memakai mobil bosku. Sedangkan Chen dan mama bisa bersama Olivia menggunakan mobilnya.” Ranum menjelaskan.
__ADS_1
“Kami akan ikut.” Ibu Chen menjawab, tersenyum. “Terima kasih Ranum telah mengajak kami.” Lanjut Ibu Chen berkata.
Ranum mengangguk, tersenyum. “Kalian juga orang tuaku ma.”