Ranum

Ranum
POHON DEMAM HUTAN


__ADS_3

“Sudah tidak perlu bingung. Aku juga bingung dengan kalimatku.” Ranum tertawa kecil, keluar dari kolam renang. “Lebih baik sekarang kita makan.” Ranum berjalan menuju meja makan yang telah disiapkan.


“Aku ke kamar dulu Ranum.” Muhammad berbicara.


“Salat?” Ranum bertanya datar.


Muhammad mengedipkan mata kirinya, tertawa.


Ranum dan yang lainnya sudah di meja makan. “Sebaiknya kita tunggu Muhammad, hingga dia selesai salat.” Ranum berbicara.


“Tuan Muda, menurut anda, dari semua tugas yang sudah anda kerjakan, tugas mana yang paling sulit?” Max bertanya.


Ranum tertawa kecil. “Tidak ada yang sulit. Itu kenapa aku lebih suka sendirian.”


“Tapi saat terjadi masalah anda akan sangat kesulitan. Semua orang akan fokus menyerang anda.” Rosie membuka suara.


“Dan aku tidak perlu repot memilih mana kawan dan mana lawan. Aku bebas menyerang siapapun.” Ranum tersenyum.


“Tapi anda sempat menghilang beberapa tahun karena bekerja sendirian.” Rosie kembali berbicara.


Ranum tersenyum. “Aku sengaja menghilang.” Lanjut Ranum menjawab singkat.


“Kenapa anda memutuskan untuk menghilang?” Rosie bertanya penasaran.


“Karena pada saat itu aku menemukan alasan untuk menghilang.” Ranum tersenyum.


“Apa kami boleh tahu alasannya Tuan Muda?” Henry bertanya.


Ranum menggeleng, tersenyum.


Lima menit kemudian Muhammad datang. Mereka semua mulai menikmati hidangan yang telah disediakan di meja tersebut. obrolan – obrolan ringan membuat suasana lebih hidup, sesekali gelak tawa terdengar memecah lengang.


Setelah selesai menikmati makan malam, mereka kembali ke kamar masing – masing. Ranum membersihkan diri, mengganti pakaian lalu keluar dari kamarnya. Duduk di sun lounger pinggir kolam renang dan membuka bukunya.


Tiga puluh menit kemudian Rosie datang menghampiri Ranum. “Apa saya boleh duduk disini Tuan Muda?” Rosie menunjuk sun lounger di sebelah Ranum.


“Silahkan.” Ranum menjawab datar.


“Tidak ingin beristirahat Tuan Muda?” Rosie bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku belum ngantuk.”


“Pemandangan malam di tempat ini sungguh indah.” Rosie tersenyum, menatap sekitar.


Ranum mengangguk. “Mau rokok?” Ranum menyodorkan bungkus rokoknya.


Rosie mengambil sebatang rokok, membakar rokok tersebut. “Momen yang sangat langka untuk terjadi.” Lanjut Rosie berbicara.


“Bagaimana maksudmu?” Ranum bertanya, memberikan sebotol beer ke Rosie.


Rosie menerima beer tersebut. “Bisa duduk dan berbicara berdua dengan anda.” Rosie menenggak beer tersebut.


“Kamu bisa menghubungiku kapanpun saat ingin bicara.” Ranum menjawab datar.


Rosie mengangguk. “Tapi aku hanya awak pesawat, tidak memiliki akses khusus seperti yang lainnya.”


Ranum memberikan kartu namanya. “Abaikan saja nama yang ada di kartu tersebut.”


“Mark Kelly? Bukankah orang ini yang menyerang Krowned towers Tuan Muda?” Rosie bertanya.

__ADS_1


Ranum mengangguk. “Tidak penting membahas hal itu. Sebaiknya kamu fokus di nomor telepon yang tertera disana.”


Rosie mengangguk. “Maaf Tuan Muda.”


“Bagaimana kehidupanmu? Apa menyenangkan?” Ranum bertanya.


“Kehidupan?” Rosie bertanya bingung.


Ranum mengangguk, tersenyum. “Apa kamu bahagia dengan hidupmu saat ini?” Ranum bertanya.


Rosie mengangguk. “Sangat bahagia Tuan Muda.”


Ranum tersenyum. “Kamu tidak perlu menutupi apapun. Jika ingin bercerita, kamu bisa dengan bebas bercerita, aku akan coba untuk mendengarkan.”


Rosie diam sejenak. “Sebenarnya saya ingin berhenti bekerja Tuan Muda.”


Ranum mengangguk. “Aku tidak akan melarangmu.”


“Saya harus menjaga ibu saya yang sedang sakit keras.” Rosie menjelaskan.


“Sakit apa?” Ranum bertanya datar.


“Penyakit jantung iskemik Tuan Muda.” Rosie menjawab.


“Jika kamu berhenti bekerja, bagaimana kamu membayar pengobatan ibumu?” Ranum bertanya.


“Uang tabungan saya sepertinya cukup.”


“Dimana ibumu saat ini?”


“Berada di rumah kami Tuan Muda.”


“Apa anda serius Tuan Muda?” Wajah Rosie berubah cerah. “Tapi berapa biaya yang harus saya keluarkan? Mungkin tabungan saya tidak cukup untuk membayar perawatan di markas pusat.” Lanjut Rosie.


Ranum meraih earpodsnya, menghubungi Gabriel. “Selamat pagi Tuan Muda. Maaf aku menjawab sangat lama.” Suara Gabriel terdengar di ujung earpods.


“Disana jam berapa?” Ranum bertanya.


“Jam lima pagi Tuan Muda.” Gabriel menjawab.


“Apa itu suara Clara?” Ranum tertawa kecil.


“Iya Tuan Muda, dia bertanya siapa yang menelpon.” Gabriel menjawab.


“Maafkan aku menganggu pagimu Gabe. Tapi aku butuh bantuanmu.”


“Tidak apa Tuan Muda. Saya akan membantu apapun yang anda butuhkan Tuan Muda.”


“Tolong kirimkan orang untuk membawa ibunya Rosie ke markas pusat, suruh markas pusat untuk merawat ibunya Rosie dan tolong gandakan uang yang ada di rekening Rosie saat ini.” Ranum berbicara.


“Segera saya laksanakan Tuan Muda.”


“Tunggu matahari terbit Gabe, kembalilah tidur sebentar lagi.” Ranum tertawa kecil.


“Siap Tuan Muda, terima kasih.”


Ranum mengangguk, melepas earpodsnya.


“Apa anda serius Tuan Muda?” Rosie bertanya.

__ADS_1


“Apa aku terlihat bercanda?” Ranum balik bertanya.


“Terima kasih banyak Tuan Muda.” Rosie tersenyum. “Boleh saya memeluk anda?” Lanjut Rosie bertanya.


Ranum mengambil posisi duduk, membentangkan tangannya. Rosie cepat memeluk Ranum dengan erat. “Terima kasih banyak Tuan Muda.” Rosie tersenyum, bahagia.


“Jika ada masalah, kamu tidak perlu sungkan untuk berbicara pada siapapun. Terutama padaku, aku akan coba untuk membantu sebisaku.” Ranum berbicara.


Rosie mengangguk, tersenyum senang.


“Sebaiknya kamu istirahat.” Ranum berbicara.


Rosie mengangguk. “Saya ke kamar duluan Tuan Muda.”


Ranum mengangguk, membakar rokoknya.


Lima menit kemudian Muhammad datang, berdehem menggoda Ranum. “Ada yang abis dipeluk wanita cantik nih.” Muhammad menggoda Ranum. “Peluk aku dong Ranum.” Muhammad memeluk Ranum.


Ranum tertawa kecil, mendorong tubuh Muhammad.


“Kenapa Rosie terlihat sangat bahagia?” Muhammad bertanya.


Ranum menggeleng. “Aku hanya membantu agar ibunya bisa mendapatkan perawatan di markas pusat.” Ranum menjawab datar.


“Itu bukan hanya, bagi Rosie itu sangat berarti.” Muhammad membakar rokoknya. “Sakit apa ibunya?” Lanjut Muhammad bertanya.


“Jantung.” Ranum menjawab singkat.


“Kalau melihat pemandangan seperti ini, aku jadi rindu markas pusat.” Muhammad tersenyum, menatap pemandangan yang ada di depannya.


Ranum mengangguk.


“Bagaimana rencanamu untuk besok?” Muhammad bertanya.


Ranum mengangkat bahunya, tidak tahu.


“Lagipula hanya bertemu pembeli logam itu kan?” Muhammad kembali bertanya.


“Sepertinya.” Ranum menjawab singkat.


“Dimana kamu menemui penjual zenamanthium itu?”


“Mansion pemilik logam tersebut di Jalan Nshakabili, Lobamba.”


“Kamu sudah tahu letak mansionnya?” Muhammad kembali bertanya.


Ranum mengangguk. “Tadi aku sudah memeriksa tempat itu.”


“Aku penasaran dengan logam itu, apa besok aku boleh ikut denganmu?”


Ranum mengangguk, menghisap rokoknya.


“Baiklah, aku akan istirahat duluan. Sebaiknya kamu juga segera istirahat.” Muhammad berdiri dari kursinya, melangkah pergi.


Ranum mengangguk.


Ranum merasa bosan, dia menghampiri pohon demam hutan yang ada di dekatnya. Ranum melatih pukulan dan tendangannya di pohon tersebut. Ranum melayangkan tinju kirinya ke pohon tersebut, dengan cepat tangan kanannya menyusul, meninju pohon itu. Ranum melayangkan tendangan menggunakan kaki kirinya, lalu berputar sambil melayangkan tendangan menggunakan kaki kanannya. Ranum terus memukuli pohon itu sekuat tenaganya.


Ranum melayangkan tinju terakhir sekuat tenaga ke pohon tersebut membuat pohon itu tumbang, menggelinding ke bawah bukit tersebut. “Oh sial.” Ranum panik. Ranum memperhatikan pohon tersebut hingga akhirnya pohon itu berhenti menggelinding, tertahan pohon lainnya.

__ADS_1


Ranum menghela napas lega. Ranum mengambil barang – barangnya lalu kembali ke kamar. Ranum membersihkan diri, membersihkan luka di tangan dan kakinya kemudian merebahkan tubuhnya di kasur.


__ADS_2