
Biru langit tampak cerah, terik mentari kota Surabaya seolah tahu hati Zaviyar yang sedang memanas. Lelaki itu sadar betul jika ia sebenarnya tak berhak marah, tapi dirinya pun tak bisa berbohong jika ada rasa cemburu mengetahui gadis yang beberapa minggu terakhir ini telah bertahta di hati sedang bersama laki-laki lain.
Siang itu, setelah keluar kelas dan melaksanakan sholat serta makan siangnya. Zaviyar yang memiliki jam kosong, menyempatkan diri untuk menghubungi Ranum. ia ingin mendengar kabar dari gadis desa itu, dan hal itu akan membuatnya lebih bersemangat. Namun, apa yang ia bayangkan tak sesuai kenyataan. Bukan bahagia saat bertukar kabar dengan gadis desa itu, tapi justru hati yang memanas terbakar api cemburu.
Zaviyar yang tak mampu lagi menahan gejolak hati mengetahui Ranum sedang makan siang dengan lelaki lain langsung memutus sambungan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Ranum.
***
Di tempat duduknya, Ranum merasa heran dengan sikap Zaviyar barusan yang tidak seperti biasa. Ia menatap layar ponselnya dengan dahi yang berkerut. Arvin yang melihat ekspresi itu menghentikan makannya.
“Ada masalah?”
“Enggak kok.”
“Siapa barusan? Kakak kamu?”
“Bukan.” Ranum tersenyum simpul.
“Pacar, ya?” Arvin masih mencoba menebak. Namun, Ranum hanya menjawab dengan senyuman.
“Lanjutin dulu makannya, sayang itu.”
“Iya.”
Setelah makanan di piring keduanya bersih, obrolan pun berlanjut.
"Seberapa sering ke Malang?" tanya Arvin.
"Ehm, nggak sering-sering banget tapi ya lumayanlah."
"Cuma buat cari-cari buku?"
"Nggak juga."
“Setelah ini mau ke mana?” tanya Arvin.
Ranum mengangkat bahunya. “Biasanya habisin waktu di alun-alun atau istirahat di masjid sebelum pulang.”
“Kalau sekarang?”
“Mungkin sama, nggak ada rencana khusus. Ke Malang mah ke mana aja berasa nyaman.”
“Oh, ya?”
“Hmm.” Ranum mengangguk sambil menyeruput minumannya.
“Nggak mau jalan-jalan lagi? Ke mana gitu?”
“Nggak ah, udah capek.” Ranum mencari alasan. Pikirannya tak lagi tenang mengingat kalimat terakhir Zaviyar sebelum memutus telepon dan nada suara yang terdengar berbeda.
“Mau pulang jam berapa?”
“Habis Ashar mungkin. Toh, sekarang juga udah jam dua lewat, gak lama lagi ashar.”
“Ya udah, habisin waktu di sini aja sambil ngobrol. Dari pada kamu balik ke alun-alun lagi dan di sana sendirian.”
Ranum berpikir, “Ehm, mending aku ke masjid aja sekalian nunggu Ashar terus sholat dulu sebelum pulang.”
“Baiklah.”
Mereka pun segera beranjak, Arvin meminta Ranum keluar terlebih dahulu meski sebelumnya sempat berdebat mengenai pembayaran pesanan. Akhirnya, Ranum menuruti permintaan Arvin dengan syarat suatu saat jika ada kesempatan lain, maka dialah yang akan membayarnya.
“Kamu langsung pulang atau masih mau ke tempat lain?” tanya Ranum.
“Aku antar kamu dulu.”
“Nggak usah, makasih. Aku bisa balik sendiri, Insya Allah nggak bakal nyasar kok. Kamu bisa lanjut mau balik atau lainnya.”
“Yakin?”
“Iya. Ini Malang, bukan Surabaya yang buat aku bingung.” Mereka pun terkekeh.
“Okelah kalau gitu.”
Mau tidak mau Arvin mengiyakan kata-kata Ranum. Dua motor meninggalkan parkiran kafe dengan tujuan yang berbeda.
__ADS_1
Ranum tiba di depan masjid, lalu memarkir motor. Ia turun dan berjalan memasuki masjid yang tak begitu ramai. Gadis berkerudung hitam itu mencari tempat di pojok belakang agar bisa sejenak beristirahat dengan santai menunggu waktu Ashar.
***
Menjelang petang Ranum tiba di rumahnya, ia membawa kantong plastik yang berisi buku-buku ke dalam kamar, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum adzan Maghrib berkumandang. Bu Ratih yang sudah menyiapkan makanan, mengajak putrinya untuk segera makan usai sholat Maghrib berjamaah.
Hati Ranum yang sedari tadi gelisah memikirkan Zaviyar, segera menyelesaikan makan malamnya dan pamit pada Bu Ratih untuk kembali ke kamar. Di kamar, ia mengambil tas yang tadi dipakai pergi ke Malang. Mencari ponselnya lalu segera melayangkan satu pesan singkat via whatsapp pada lelaki yang terus membayang.
“Assalamu’alaikum.”
Satu menit, dua menit, lima menit hingga sepuluh menit tak ada jawaban. Ranum kembali mengirim pesan.
“Mas Zaviyar lagi sibuk, ya?”
Terlihat tanda centang dua pada pesan yang Ranum kirim, tapi tak terlihat warna biru pada pesan tersebut yang berarti memang belum dibaca. Ia masih menunggu. Hingga adzan Isya berkumandang dan kewajiban pun telah diselesaikan, chatnya pada Zaviyar masih tetap sama. Di tengah penantiannya, ponselnya bergetar, dengan cepat benda pipih itu disambar dari atas meja riasnya.
“Sampai jam berapa tadi di rumah?”
Arvin. Ternyata nama lelaki yang baru dikenalnya itu yang tertera di notifikasi Whatsappnya. Ranum menghembuskan napas, kecewa.
"Sekitar jam lima mungkin.”
“Syukurlah. Sekarang ngapain?”
“Mau istirahat.”
“Oh, ya udah. Met istirahat.”
Tak lagi Ranum balas. Gelisah. Tentu itu yang dirasakan gadis manis berkulit sawo matang itu. Ia terus memegang ponselnya menunggu balasan dari lelaki yang diharapkan. Akhirnya hati Ranum tak lagi sabar, tombol panggilan pun ditekan.
Tut … tut … tut
Panggilan terputus tanpa ada jawaban. Ranum mencoba lagi. Cukup lama tak ada jawaban hingga terdengar suara dari seberang telepon.
“Halo.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam," jawab Zaviyar dingin.
“Nggak.”
“Kok dari tadi nggak diangkat-angkat? Pesanku juga nggak dibalas.”
“Emang ada apa? Ada yang penting?” Suara Zaviyar ketus.
“Mas Zaviyar kenapa, sih?”
“Nggak apa-apa.” Masih dengan nada datar.
“Kok, kayak marah gitu?”
“Kamu ngerasa, ya?”
“Ngerasa apa, Mas?”
“Ya udahlah kalau kamu nggak ngerasa.”
“Mas, kamu kenapa sih?”
“Aku nggak apa-apa?”
“Jelasinlah kalau aku ada salah, jangan gini.”
Ranum mendengar Zaviyar menghela napas panjang.
“Mas?”
“Okey. Semalam kita teleponan dan kamu nggak bilang kalau mau ke Malang. Lalu, tadi kamu jalan dan makan siang sama cowok di sana.”
“Terus? Kenapa Mas Zaviyar marah-marah? Apa aku salah jalan sama teman? Lagian semalam Mas Zaviyar nggak tanya juga kegiatanku hari ini apa?”
“Ra, masa kamu nggak ngerti juga sih?”
'Aku cemburu, Ranum,' batin Zaviyar.
__ADS_1
“Apa sih, Mas? Gimana aku bisa ngerti kalau Mas Zaviyar nggak ngomong?”
“Ya kamu masa nggak tahu sih, Ra?”
Dada Ranum kembang kempis, terpancing emosinya dengan tingkah laku Zaviyar. Netranya memanas, pandangannya mengabur karena butiran bening yang memenuhi pelupuk matanya mendengar lelaki yang selama ini lembut, meninggikan suaranya.
“Aku bisa tahu dari mana kalau Mas Zaviyar nggak ngomong, nggak jelasin, tiba-tiba marah aja. Mas Zaviyar marah nggak jelas cuma karena aku ketemu teman cowok, sedangkan Mas Zaviyar sendiri di sana gimana? Apa nggak pernah ketemu teman atau mahasiswa cewek?”
“Ya beda dong, Ra.”
“Oh beda, ya? Apa bedanya, Mas? Sama-sama cuma teman."
“Aku cuma ketemu teman-teman dosen yang kebanyakan sudah menikah. Nah, kamu tadi …?”
“Apa kabar mahasiswi Mas Zaviyar yang masih muda-muda dan cantik?”
“Mereka cuma mahasiswi, Ra nggak lebih.”
“Sama, Mas. Dia juga cuma teman nggak lebih. Emang Mas Zaviyar siapa? Tiba-tiba marah karena aku ketemu teman cowok. Kakak bukan, saudara bukan, calon suami juga ngvak.” Ranum mengeluarkan semua kekesalannya atas sikap Zaviyar.
“Lebih baik kita tutup dulu teleponnya, besok baru kita bicara lagi.”
“Okey. Terserah. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Saat sambungan telepon itu terputus, Ranum tak dapat lagi menahan bulir bening yang sedari tadi berdesakan ingin keluar dari matanya. Ia bingung dengan sikap Zaviyar, tak mengerti apa sebenarnya yang lelaki itu inginkan. Bayangan lelaki berwajah teduh itu terus berkelebat dalam pikirannya. Tak menyangka jika dosen muda itu bisa semarah itu karena pertemuannya dengan Arvin.
***
Zaviyar merebahkan tubuh di kasur, menatap langit-langit kamarnya, mencoba menelisik, mengukur seberapa dalam rasa yang tumbuh di hatinya untuk gadis bermata tajam itu. Ia sadar telah salah karena marah pada Ranum, sedangkan tahu tak seharusnya melakukan itu hingga membuat gadis itu sedih.
Entah sudah berapa lama Zaviyar melamun, memikirkan apa yang sudah diperbuat beberapa menit yang lalu pada Ranum.
“Kenapa juga tadi aku marah-marah? Aku belum punya hak untuk melarang dia bertemu siapapun, apalagi sampai marah seperti tadi.” Zaviyar meraup wajahnya.
“Astaghfirullohal'adziim. Maafin aku, Ra.”
Zaviyar meraba kasur, mencari ponsel yang tadi ia letakkan tak jauh dari tempatnya merebahkan tubuh. Pukul 9.32 waktu yang tertera pada layar ponselnya. Zaviyar ingin kembali menghubungi gadis manis di desa itu, tapi hatinya pun belum legowo mengingat Ranum yang sempat bertemu dengan laki-laki lain tanpa diketahui.
Zaviyar beranjak dari kasur, mengambil wudhu dan menunaikan sholat Isya yang memang tadi belum sempat ia laksanakan.
Dalam sujud ia berdo’a memohon ketenangan hati di tengah kegelisahannya. Selesai sholat, tak lupa do’a kembali dipanjatkan untuk meminta petunjuk atas rasa yang tengah mendera hatinya.
Usai sholat dan berdo’a pada Sang Pencipta. Zaviyar bangkit dan mengganti baju koko dengan baju santai untuk tidur. Ia rebahkan tubuhnya, berharap bisa lekas istirahat agar esok bisa lebih segar dan berpikir lebih jernih tanpa emosi seperti sebelumnya.
Zaviyar masih saja tak mampu memejamkan mata. Ia bingung sendiri atas sikapnya terhadap Ranum. lelaki itu merutuki dirinya sendiri yang telah sedikit kasar pada gadis yang mulai ia sayang. Lambat laun, matanya terpejam perlahan dan tak lagi terjaga.
***
“Assalamu’alaikum, Mas.”
“Wa’alaikumussalam. Ada apa, Ra?”
“Maaf, Mas tadi aku nggak ngerti.”
“Iya, terus?”
“Maaf, aku udah nggak peka.”
“Maksud kamu?”
“Aku sekarang ngerti kenapa Mas Zaviyar marah.”
“Oh ya?”
“Mas Zaviyar marah karena …”
“Karena apa?”
“Mas Zaviyar sayangkan sama aku?”
Deg!
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1