Ranum

Ranum
ZENAMANTHIUM


__ADS_3

Ranum dan Muhammad sudah tiba di mansion milik penjual logam tersebut. Dua orang sekuriti mengantar Ranum dan Muhammad masuk ke dalam mansion, menemui bos mereka. “Selamat datang di kota Lobamba.” Seorang wanita berkulit hitam menyapa Ranum menggunakan bahasa Swazi.


Ranum dan Muhammad tidak mengerti bahasa yang dipakai wanita tersebut.


“Putri Luyanda menyambut kalian, dia berkata “Selamat datang di kota Lobamba.”.” Seorang wanita berbicara ke Ranum dan Muhammad menggunakan bahasa Inggris. “Nama saya Nondumiso Maseko, saya adalah penerjemah putri Luyanda Ntshalintshali.” Wanita itu memperkenalkan diri.


Ranum mengangguk.


“Namaku Luyanda Ntshalintshali Mdluli.” Luyanda memperkenalkan diri, di terjemahkan oleh penerjemahnya.


“Saya Ranum dan ini teman saya Muhammad. Kami dari keluarga Loshad, tujuan kami kesini adalah untuk membeli logam zenamanthium.” Ranum berbicara.


Luyanda mengangguk. “Darimana kalian tahu kalau kami menemukan logam tersebut?” Lanjut Luyanda bertanya.


Ranum mengangkat bahu. “Dari keluargaku. Tepatnya siapa, aku tidak tahu. Aku hanya menjalankan tugasku.”


Luyanda menyuruh anak buahnya untuk mengambil logam zenamanthium.


“Apa kelebihan logam ini?” Ranum bertanya.


“Kami berani mengklaim kalau zenamanthium adalah logam terkuat dibumi saat ini. Kami sudah mencoba untuk memanaskan logam ini hingga 20.000 derajat celcius, tapi logam ini tidak meleleh sedikitpun.” Luyanda menjelaskan.


“Kalian memiliki berapa banyak?” Ranum bertanya.


“Kami hanya menemukan 178 kilogram logam zenamanthium.” Luyanda menjawab.


“Berapa harga yang kalian inginkan?” Ranum bertanya.


“Apa yang kalian tawarkan untuk logam tersebut?” Luyanda balik bertanya.


“Apa? Bukankah seharusnya berapa?” Ranum bertanya bingung.


Luyanda tertawa. “Aku sudah tidak membutuhkan uang, saat ini aku membutuhkan sesuatu yang lebih dari uang.”


“Apa yang anda inginkan?” Ranum kembali bertanya.


“Aku ingin kalian menjatuhkan raja saat ini dan menjadikanku penguasa baru di negri ini.” Luyanda tersenyum.


“Bukankah kalian hanya menemukan logam itu? yang dimana penemuan itu memiliki kemungkinan akan dapat ditemukan lagi entah di tempat yang sama atau tempat lainnya. Saya rasa harga yang anda tawarkan sangat tidak pantas. Kecuali kalian membuat atau menciptakan logam baru tersebut dan bisa memastikan bahwa logam itu hanya kalian yang dapat membuatnya, mungkin dengan menggulingkan raja saat ini adalah hal wajar.” Ranum berkata.


“Kalaupun logam itu ada di tempat lain, tetap tidak akan ada yang mampu melubangi bumi sepanjang 24KM seperti kami.” Luyanda tersenyum.

__ADS_1


Ranum tersenyum. “Kalian hanya beruntung, mengebor di tempat yang tepat dan bisa menemukan logam tersebut. Apa kalian bisa memastikan kalau logam itu sangat langka?” Lanjut Ranum bertanya.


“Aku sangat yakin kalau zenamanthium adalah logam yang langka.” Luyanda memastikan.


Ranum diam sejenak, berpikir.


“Seharusnya aku yang berhak menjadi raja di negri ini.” Luyanda berkata. “Pada tahun 1900-an rakyat mendukung leluhurku untuk menjadi raja di negri ini, tapi karena raja yang saat itu berkuasa sangat gila kekuasaan dan tidak ingin takhtanya direbut, memerintah seluruh pasukan kerajaan untuk membunuh leluhurku. Hingga saat ini keturunan raja itulah yang memerintah negri ini, rakyat tidak menyukai raja saat ini. Raja saat ini sering dikritik karena hidup begitu nikmat di sebuah negara yang terkena kecepatan infeksi HIV tertinggi di dunia, memiliki armada mobil mewah, uang jutaan dollar dihabiskan untuk memperbaharui mansion mewah untuk para istrinya, sangat berlawanan dengan sekitar 34% penduduk yang tidak memiliki pekerjaan, hampir 70% hidup dengan pendapatan kurang dari 1 dolar AS per hari dan dengan 39% orang dewasa terjangkit HIV.” Lanjut Luyanda. “Aku hanya ingin negri kelahiranku lebih baik, aku ingin mensejahterakan rakyat di negri ini agar cita – cita leluhurku tercapai.”


Ranum tersenyum. “Maaf, aku tidak dapat membantumu jika hanya dibalas dengan logam seberat 178 kilogram.” Ranum bangkit dari duduknya. “Saya pamit.” Lanjut Ranum sedikit membungkukkan badannya, tersenyum.


Muhammad ikut berdiri dengan wajah bingung.


Ranum dan Muhammad kembali ke hotel. “Kenapa kamu tidak menerima tawarannya?” Muhammad bertanya.


“Aku tidak tertarik membantu wanita itu menjadi penguasa di negara ini.” Ranum membakar rokoknya.


“Bagaimana dengan keluargamu? Apa yang akan mereka lakukan karena kamu gagal menjalankan misi?” Muhammad kembali bertanya.


Ranum mengangkat bahunya, tidak tahu. Ranum memakai earpodsnya, menghubungi Arsyanendra. “Bagaimana dengan logamku kak?” Arsyanendra langsung pada intinya.


Ranum menggeleng. “Aku tidak menerima permintaannya. Kamu belum bisa memiliki logam tersebut.” Ranum menghisap rokoknya.


“Kenapa? Memang apa yang penjual itu minta?” Arsyanendra bertanya penasaran.


“Bukankah itu permintaan yang sangat mudah? Negara itu sangat kecil dan kekurangan dalam segala aspek. Akan sangat mudah membujuk rakyat untuk membantu menggulingkan raja tersebut.”


“Apa kamu meragukan keputusanku?” Ranum bertanya.


“Bukan seperti itu kak, aku membutuhkan logam tersebut untuk melakukan percobaan.”


“Maaf aku tidak bisa membantumu untuk membeli logam itu, harganya sangat tidak pantas.” Ranum mematikan earpodsnya. “Apa kamu membawa pistolku?” Ranum bertanya ke Muhammad.


Muhammad mengangguk. “Koper senjatamu ada dikamarku. Apa kamu ingin menyerang mansion tadi?” Lanjut Muhammad bertanya.


“Jika itu yang diperlukan.” Ranum berjalan ke kamar Muhammad. Muhammad mengikuti Ranum.


Setelah mengambil pistolnya, Ranum segera kembali ke mansion milik Luyanda.


“Apa kamu berubah pikiran?” Luyanda bertanya, menyeringai.


Ranum mengangguk, tersenyum. “Ini tawaranku.” Ranum segera meraih pistolnya, menodongkan salah satu pistol ke arah Luyanda dan pistol lainnya ke arah Nondumiso.

__ADS_1


“Apa yang kamu lakukan?” Wajah Luyanda pucat.


“Suruh anak buahmu membawa semua logam itu kesini.” Ranum berbicara.


Luyanda mengangguk pelan, memerintah anak buahnya untuk membawa seluruh logam zenamanthium ke ruang pertemuannya dengan Ranum.


“Bawa truk itu kemari.” Ranum berbicara dengan Muhammad lewat earpodsnya.


“Aye aye kawan!” Muhammad menyuruh supir truk untuk membawa truknya masuk ke halaman depan mansion tersebut.


“Suruh mereka masukkan semua logam itu ke truk yang ada di depan.” Ranum berbicara ke Luyanda.


“Aku tidak akan memberikan logam itu!” Luyanda berseru.


Ranum tersenyum, menembak lutut Luyanda.


“Sialan!” Luyanda mengerang kesakitan.


“Aku tidak ingin bermain – main, cepat suruh anak buahmu membawa semua logam itu ke dalam truk.” Ranum berkata dingin.


Luyanda cepat memerintah anak buahnya untuk membawa semua logam itu masuk ke dalam truk.


“Tenang saja, aku tidak mencuri logam kalian. Aku membelinya.” Ranum berbicara datar, mengetuk earpodsnya. “Kirimkan satu juta dollar Amerika ke rekening bank milik Luyanda Ntshalintshali Mdluli.” Lanjut Ranum berbicara lewat earpods.


“Uang akan masuk dalam lima menit Tuan Muda.” Suara Alexa terdengar di ujung earpods.


Ranum mengangguk. “Terima kasih.” Ranum kembali menonaktifkan earpodsnya. “Dalam lima menit uang itu akan ada di rekeningmu.” Lanjut Ranum berbicara ke Luyanda.


Luyanda hanya mengangguk – angguk, meringis kesakitan sambil memegangi lututnya.


“Gunakan taplak meja itu untuk menutup lukanya.” Ranum berbicara ke Nondumiso.


Nondumiso menutup luka Luyanda menggunakan taplak meja dengan tangan gemetar. “Sudah tuan.”


“Maafkan aku karena harus memakai cara seperti ini. Sebenarnya aku tidak mau berkahir seperti ini.” Ranum tersenyum.


“Semua sudah kami masukkan ke dalam truk.” Salah satu anak buah Luyanda berbicara menggunakan bahasa Swazi.


Ranum mengangguk. “Terima kasih atas kebaikan kalian semua.” Ranum balik kanan, melangkah pergi. “Jika suatu saat kamu memiliki penawaran yang lebih baik, aku bisa membantumu untuk menjadi raja di negara ini.” Ranum berjalan keluar, melambaikan tangannya perlahan. Tetap membelakangi Luyanda dan lainnya.


“Langsung bawa semuanya ke pesawat.” Ranum berbicara ke Muhammad. “Dan beritahu yang lain untuk segera mengemasi barang – barang yang ada di hotel dan kembali ke pesawat.” Lanjut Ranum.

__ADS_1


Muhammad mengangguk, segera menghubungi Max.


__ADS_2