
Mata Ranum terbuka perlahan, mengerjap - ngerjap. Dia terkejut saat melihat kepala dokter Lesley yang berada di perutnya, dokter itu sedang tertidur. Ranum membangunkan dokter Lesley.
“Maaf aku ketiduran di tubuhmu Mark.”
Ranum mengangguk, dia bangun dari ranjangnya.
“Kamu mau kemana?” Dokter Lesley bertanya.
Ranum duduk di kursi pasien. “Sudah berapa lama aku tak sadarkan diri?” Ranum merebahkan kepalanya di kursi.
“Sekitar 28 jam.” Jawan dokter Lesley. “Kamu masih butuh istirahat. Gunakanlah ranjang ini.” Lanjut dokter Lesley.
Ranum menggeleng. “Sepertinya kamu lebih membutuhkan ranjang itu.” Ranum tersenyum. Dokter Lesley melangkah mendekati Ranum.
“Jangan pernah lakukan itu lagi.” Ranum berbicara datar.
Dokter Lesley mengangguk. “Maafkan aku.”
“Kamu tidak perlu meminta maaf, cukup jangan masuk ke area yang seharusnya tidak kamu datangi.”
“Terima kasih.”
Ranum menggeleng. “Kamu tidak perlu berterima kasih. Saat itu aku tidak membelamu, aku kesal karena dia memakan buah yang ada di ransumku. Juga pada saat itu aku seda-“
Dokter Lesley mencium bibir Ranum, membuat Ranum terdiam.
“Terima kasih.” Dokter Lesley menatap Ranum tersenyum.
“Termasuk jangan lakukan itu lagi.” Ranum menghadapkan tubuhnya ke kanan, membelakangi dokter Lesley. Ruangan itu lengang sejenak.
Ranum bangun dari kursinya.
“Kamu mau kemana?” Dokter Lesley bertanya, memecah lengang.
“Lapangan.” Jawab Ranum singkat.
“Pakailah ini.” Dokter Lesley memberikan tongkat ke Ranum. Ranum menerima tongkat tersebut. lalu memakainya.
Ranum keluar dari klinik, tertatih. Melewati lorong – lorong bangunan, hingga tiba di lapangan. Dari luar pagar lapangan Ranum melihat Octo yang sedang di pijat oleh salah satu tahanan dan dikelilingi puluhan tahanan. Ranum berjalan menghampiri mereka.
“Dimana Melvin?” Ranum bertanya ke Octo.
“Dia sedang bekerja. Bagaimana keadaanmu Mark?” Octo memberikan bangkunya untuk Ranum.
Ranum duduk di bangku tribun kecil tersebut. “Seperti yang kamu lihat, tidak terlalu baik.” Lanjut Ranum tersenyum.
Octo mulai memperkenalkan tahanan baru yang sekarang berada di pihak mereka satu – persatu. Sebelumnya kelompok mereka hanya memiliki belasan anggota, kali ini sekitar 67 tahanan berpihak ke sisi Ranum. Kelompok Ranum semakin kuat di penjara ini. Sebagian tahanan yang tidak suka dengan Ranum, Octo maupun Melvin memutuskan untuk tidak bergabung dengan kelompok Ranum, tidak sedikit juga tahanan yang di tolak untuk bergabung di kelompok ini, karena berbagai alasan. Terutama yang memiliki kasus pencabulan dan pemerkosaan.
__ADS_1
Octo juga menceritakan hasil perkelahian 29 jam yang lalu. Sekitar 346 tahanan menjadi korban, 200 orang lebih tewas dan sisanya luka ringan hingga berat. 31 sipir juga menjadi korban, 4 sipir tewas sisanya luka ringan hingga berat. Sekarang penjara ini dikuasai kelompok Ranum, Melvin sebagai ketua kelompok tahanan semakin disegani. Walaupun Melvin tidak berkontribusi banyak dalam perkelahian di ruang makan, tapi Ranum telah menunjuk Melvin sebagai pemimpin baru kelompok Octo.
“Bagaimana hubunganmu dengan dokter Lesley Mark?” Octo tertawa kecil.
Ranum menggeleng. “Hanya sebatas pasien dan dokter.” Ranum membakar rokoknya.
“Tidak mungkin. Kamu rela berhadapan dengan Jose demi membela dokter Lesley.”
Ranum menghembuskan asap dari mulutnya. “Selalu. Kalian lihat Jose mengambil buah di ransumku. Itulah alasanku melawan Jose, bukan karena dokter yang kalian puja itu.”
“Aku tidak akan mengambil resiko bertarung dengan Jose hanya untuk buah” Octo tertawa, diikuti yang lainnya. “Sepertinya dokter Lesley menyukaimu. Kamu pria yang sangat beruntung. Semua tahanan dan sipir di sini sangat mengagumi dokter cantik itu, berusaha mendapatkan hati dokter Lesley. Sedangkan kamu, anak baru yang entah mengapa sangat mudah mendapatkan hati dokter cantik itu. Dan semakin aneh saat mengetahui kamu tidak tertarik dengan dokter Lesley.” Octo menggeleng, bingung.
Ranum tak acuh, tetap menikmati rokok yang ada di tangannya.
Dua sipir menghampiri Ranum. “Mark, kepala penjara ingin kamu segera datang ke ruangannya.” Salah satu sipir itu berbicara ke Ranum.
“Aku sedang merokok.” Jawab Ranum singkat.
“Kamu boleh membawa rokoknya. Ini penting.” Sipir itu kembali berbicara.
“Aku sudah tahu dia pasti akan protes dengan kejadian di ruang makan. Biar aku selesaikan rokokku dulu. Aku akan segera menemui kepala penjara kalian.”
Salah satu sipir menggeleng. “Itu tidak jadi masalah. Jemputanmu sudah tiba.”
Gerakan Ranum terhenti sejenak. “Secepat ini?”
Kedua sipir itu mengangguk.
Ranum menggeleng. Beranjak dari bangkunya. “Aku rasa kita akan berpisah mulai hari ini kawan – kawan. Aku akan merindukan kalian.” Ranum melangkah keluar dari lapangan menuju ruang kepala penjara bersama dua sipir.
Melvin menghampiri Octo. “Kemana dua sipir itu membawa Mark?”
“Ke ruang kepala penjara. Sipir itu bilang kalau jemputan Mark sudah tiba.”
“Jemputan?” Melvin bertanya, bingung.
Octo mengangguk.
Melvin berpikir. “Apa ini ada hubungannya dengan percakapanku waktu itu dengan Mark.” Melvin memegang dagu.
“Percakapan apa?” Octo menyelidik.
“Dia bilang kalau hukumannya “seharusnya” 25 tahun. Apa “seharusnya” yang dia maksud adalah penjemputan ini?”
“Maksudmu Mark tidak di penjara sesuai masa tahanannya?” salah seorang tahanan memotong.
“Aku tidak tahu, dia hanya bilang kita lihat saja nanti.” Jawab Melvin datar.
__ADS_1
“Jika jemputan yang dimaksud dua sipir itu adalah untuk membebaskan Mark, itu berarti dia bukan orang biasa. Jika kembali dilihat atas kasus yang dia lakukan. Dan kasus Mark lebih mengerikan dari kasus siapapun di penjara ini, belum lagi di dalam penjara ini dia sudah membunuh ratusan tahanan, termasuk sipir dan kepala sipir yang dia siksa.” Octo menyeka keringat di dahinya.
“Lalu siapa Mark sebenarnya?” Melvin bertanya bingung
Semua orang menggeleng, termasuk Octo.
“Apa kalian melihat Mark?” Dokter Lesley yang datang tiba – tiba.
“Eh? Dia di bawa ke ruang kepala penjara.” Melvin menjawab cepat.
“Ada masalah apa lagi?” Dokter Lesley bertanya.
Octo menggeleng. “Sipir hanya bilang jemputannya sudah tiba.”
“Apa maksudnya?” Dokter Lesley bertanya bingung. “Apa dia akan di pindahkan ke penjara lain?”
“Kami juga tidak tahu dok, tidak ada yang memberikan penjelasan lebih rinci tentang itu.” Melvin menjawab. “Kami hanya berasumsi jemputan Mark itu adalah untuk membebaskan dirinya.”
“Mark bebas?” Dokter Lesley semakin bingung.
Melvin mengangkat bahunya.
Dua sipir datang menghampiri kerumunan. “Octo dan Melvin, kalian di bebaskan. Kalian boleh berkemas sekarang. Tuan Ranum juga memberikan dua buah handphone ini untuk kalian. Tuan Ranum akan segera menghubungi kalian, setelah kalian keluar dari sini.”
“Tuan Ranum?” Dokter Lesley bingung, Melvin dan Octo juga bingung.
“Kami tidak bisa menjelaskannya lebih rinci dok, kami hanya mendapatkan perintah itu. Jika anda memiliki pertanyaan, anda bisa langsung bertanya ke kepala penjara. Pun jika kepala penjara bersedia menjawab pertanyaan yang anda ajukan” Salah satu sipir berbicara ke dokter Lesley.
“Setidaknya kita bebas Melvin!” Octo langsung berseru.
Melvin masih bingung dengan apa yang terjadi, dia hanya melihat handphone pemberian Ranum yang ada di tangannya. Melvin dan Octo sudah selesai mengemasi barangnya. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat. Melvin dan Octo sudah keluar dari penjara, dua mobil taksi sudah di siapkan untuk mereka berdua. Taksi – taksi itu mengantar mereka ke tempat tinggal masing – masing.
Ponsel milik Octo berdering. “Halo.” Belum selesai Octo menyapa, handphone yang tertempel di telinganya tiba – tiba meledak. Ledakannya tidak besar. Tapi cukup untuk membuat Octo kehilangan kepalanya. Supir taksi itu berhenti di tepi jalan, menghubungi Ranum.
“Octo sudah menjawab teleponnya Tuan Muda.”
Ranum mengangguk. “Urus sisanya.”
“Baik Tuan Muda.” Supir taksi itu segera menjauh dari taksinya. Lalu meledakkan mobil taksi itu menggunakan remot kontrol.
Kali ini ponsel Melvin berdering.
“Halo Mark.”
“Melvin.” Ranum mengangguk.
“Bagaimana kamu bisa mengeluarkan kami? Dan siapa Tuan Ranum itu? Apa dia juga yang membebaskanmu?” Melvin bertanya.
__ADS_1
“Mungkin saat ini kepalamu dipenuhi banyak pertanyaan. Tapi aku tidak memiliki waktu untuk menjawab semuanya. Aku hanya ingin kamu menjaga ponsel itu. Di ponsel itu terdapat nomor untuk menghubungiku. Jika suatu saat kamu butuh bantuanku, kamu bisa menghubungiku. Begitu juga sebaliknya. Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkan bantuan. Aku pergi dulu.”
Ranum segera mematikan sambungan telepon tersebut. Melvin tersenyum gembira menatap ponsel yang ada di genggamannya.