
“Ranum maafkan aku karena pencarian pesawat ini memakan waktu dua bulan, ada berbagai macam kendala dan masalah yang menghambat selama pencarian dan pengangkutan. Sekali lagi maafkan aku.” Suara Zo Razafindramanitra terdengar diujung telepon.
Ranum mengangguk. “Tidak apa tuan Zo, aku paham sulitnya mencari pesawat yang karam di samudra yang sangat luas. Terima kasih atas bantuanmu, aku akan menyuruh temanku untuk mengirimkan sisa uangnya.” Lanjut Ranum berkata.
“Tidak usah Ranum, aku melakukannya tidak tepat waktu. Simpan saja uangmu itu.” Zo Razafindramanitra berkata.
Ranum menggeleng. “Aku akan tetap mengirimkan sisanya, pekerjaanmu lebih dari baik tuan Zo. Sekali lagi terima kasih atas bantuanmu.” Ranum tersenyum.
“Terima kasih banyak Ranum, jika kamu butuh bantuan lainnya jangan sungkan untuk menghubungiku.” Zo Razafindramanitra berkata.
“Pasti tuan Zo.” Ranum tersenyum, mematikan ponselnya.
“Apa kamu sudah selesai sayang?” Chen bertanya ke Ranum.
Ranum mengangguk, tersenyum.
Setelah menempuh perjalanan selama tujuh menit, akhirnya Ranum dan yang lainnya tiba di toko Herrald, Collins St, Melbourne. “Silahkan, kalian bebas membeli apapun yang kalian inginkan. Jangan lupa pilih barang untuk dijadikan kado juga dan harus rahasia.” Ranum tersenyum sambil menggendong Ranum Tan.
“Kamu yakin kami boleh membeli apapun?” Ayah Chen memastikan.
“Iya pa.” Ranum tersenyum.
Ayah Chen langsung sibuk memilih barang di toko tersebut.
“Kamu yakin kami boleh membeli apapun Ranum?” Ibu Chen ikut memastikan. “Apa bonus tahunanmu cukup?” Lanjut Ibu Chen bertanya.
“Tenang ma, aku sudah mempersiapkan semuanya. Silahkan pilih apapun yang mama inginkan tanpa melihat harganya.” Ranum tersenyum. “Chen, temani mama untuk berbelanja. Jangan lupa belikan kado natal untukku.” Lanjut Ranum mengedipkan mata kirinya, tersenyum.
“Siap sayang.” Chen tersenyum, menarik tangan ibunya.
“Biar Saya yang menjaga Ranum Tan, Ranum. Anda ikut berbelanja saja.” Olivia berkata.
Ranum menggeleng. “Kamu juga harus membeli sesuatu, kamu salah satu orang yang merayakan natal.”
Olivia mengangguk. “Baiklah. Tapi lain kali jika mau terlihat seperti pegawai normal jangan pergi ke toko ini.” Lanjut Olivia tertawa kecil.
“Kenapa?” Ranum bertanya bingung.
“Pegawai normal tidak menghamburkan uangnya di toko mewah seperti ini.” Olivia tertawa, meninggalkan Ranum.
“Memang pegawai normal pergi ke toko apa?” Ranum bertanya pelan pada dirinya sendiri. “Apa aku salah kawan kecil?” Ranum bertanya ke Ranum Tan.
Ranum membeli beberapa barang dan langsung meminta bantuan pelayan toko untuk membungkus semua barang itu menggunakan kertas kado. Chen, orang tua Chen dan Olivia juga melakukan hal yang sama.
Setelah sibuk berbelanja lebih dari satu jam, semua orang selesai berbelanja. Ranum menuju kasa dan membayar semua barang yang telah dibeli. “Totalnya 237.390 dollar tuan.” Kasir itu berkata.
Ranum mengeluarkan kartu kredit J.P. Morgan Reserve card membuat pegawai toko itu menelan ludah. “Transaksinya sudah berhasil tuan, silahkan tanda tangan disini.” Suara kasir itu terdengar gemetar sambil memberikan tanda terima ke Ranum.
“Apa anda baik – baik saja nona?” Ranum bertanya.
“Iya tuan, saya baik – baik saja.” Kasir itu mengangguk, tersenyum.
Ranum tersenyum, membawa semua barang belanjaannya. Chen, ayah Chen dan Olivia juga membawa belanjaan masing – masing, ibu Chen menggendong Ranum Tan.
“Bagaimana kamu mampu membayar semua barang ini?” Ayah Chen berbisik ke Ranum.
“Saya sudah menabung dari jauh – jauh hari pa.” Ranum tersenyum.
__ADS_1
Ponsel Ranum berdering, Alexa menghubungi Ranum. “Maaf Tuan Muda, saya tidak bisa menghubungi anda lewat jaringan pribadi.” Suara Alexa terdengar di ujung telepon.
Ranum mengangguk. “Aku lupa membawa earpodsku.”
“Anda harus segera terbang ke Miami beach Tuan Muda.” Alexa berkata.
“Apa yang terjadi disana?” Ranum bertanya.
“Seluruh berlian dan emas batangan keluarga Loshad yang disimpan di mansion 22 E Star Island Drive hilang.” Alexa menjelaskan.
“Apa tidak bisa meminta bantuan orang lain?” Ranum bertanya.
“Maaf Tuan Muda, ini perintah langsung dari Bos Besar.” Alexa menjawab.
Ranum mengangguk. “Dalam tujuh belas menit aku akan tiba di pacuan kuda.” Lanjut Ranum berkata.
“Hati – hati Tuan Muda.” Alexa berkata.
Ranum mengangguk, mematikan ponselnya. “Maaf ma, pa. Aku dapat kerjaan mendadak, mungkin aku akan pergi untuk beberapa hari. Apa kalian tidak keberatan?” Lanjut Ranum bertanya ke orang tua Chen.
“Kamu mau kemana Ranum?” Ibu Chen bertanya.
“Aku ada pekerjaan di Miami Beach ma.” Ranum menjawab.
“Kenapa tiba – tiba sekali?” Ibu Chen kembali bertanya.
“Ranum memang begitu ma, selalu jadi andalan perusahaannya. Aku harap mama bisa memaklumi kesibukannya, ini semua dia lakukan juga untukku dan Ranum Tan.” Chen menjawab.
Ranum mengangguk, tersenyum. “Maafkan aku ma.”
“Tenang pa, Olivia akan mengurus kalian dengan baik. Apapun keperluan dan keinginan kalian, Olivia bisa memenuhi semuanya.” Ranum menjelaskan.
“Okelah kalau begitu.” Ayah Chen mengangguk.
Ranum mengangguk. “Olivia, jika semua barang ini tidak muat di mobilmu sebaiknya kamu memesan taksi.” Lanjut Ranum berbicara ke Olivia.
“Baik Ranum.” Olivia mengangguk.
“Maafkan aku semuanya.” Ranum mencium Chen dan Ranum Tan, juga berpamitan dengan kedua orang tua Chen. “Sampai jumpa lagi.” Ranum melambaikan tangannya, lalu berlari kecil ke parkiran.
Sesuai janjinya, dalam tujuh belas menit Ranum sudah tiba di pacuan kuda. “Mad.” Ranum mengangguk, masuk ke dalam Pilatus PC-24.
“Wajahmu terlihat lebih kusut dari biasanya.” Muhammad tertawa kecil.
Ranum mengangguk. “Entahlah, badanku terasa sedikit kurang enak.” Ranum menuang whiskey ke dalam gelas.
“Semoga whiskey itu bisa menyembuhkanmu.” Muhammad tertawa.
“Biasanya ampuh.” Ranum tertawa kecil.
“Baiklah, kita akan langsung berangkat ke Miami Beach.” Muhammad masuk ke dalam ruang pilot.
Ranum merebahkan tubuhnya sambil menikmati rokok dan whiskeynya.
***
Di dalam mobil Olivia.
__ADS_1
“Apa sebenarnya pekerjaan Ranum, aku tidak percaya dia bisa membelikan kita barang sebanyak dan semahal ini.” Ayah Chen berbicara menggunakan bahasa Mandarin agar Olivia tidak mengetahui ucapannya.
“Apa anda ingin mengetahui siapa Tuan Muda Ranum sebenarnya tuan?” Olivia bertanya menggunakan bahasa Mandarin.
“Bagaimana kamu bisa berbahasa Mandarin?” Chen bertanya.
Olivia tertawa kecil. “Aku pernah mengikuti kelas bahasa Mandarin.”
“Memang siapa sebenarnya Ranum ini?” Ayah Chen bertanya.
Olivia tersenyum. “Salah satu anak dari keluarga paling kaya di muka bumi.”
“Memang dia siapa? Aku tidak pernah melihat namanya terpampang sebagai orang paling kaya. Jangankan di dunia, di Melbourne ini saja belum tentu.” Ayah Chen berkata.
“Papa memang tidak akan bisa melihat namanya dimana – mana, karena dia tidak ingin dirinya terkspos oleh media.”
“Jadi kamu juga tahu kalau suamimu itu orang kaya?” Ayah Chen bertanya.
Chen mengangguk. “Jelas aku tahu. Dia hanya tidak ingin terlihat sombong di depan kalian.”
“Memang kenapa?” Ayah Chen bertanya.
“Entahlah, dia memang pria yang terlalu sulit untuk ditebak.” Chen mengangkat bahunya.
“Jangan bilang kamu mau menikah dengannya karena harta yang dia miliki?” Ibu Chen berkata.
“Tentu tidak ma. Pertama kali bertemu dengan Ranum, aku sama sekali tidak pernah berpikir bahwa dia memiliki banyak harta. Karena tidak mencolok memang sudah sifatnya.” Lanjut Chen menjelaskan.
“Apanya yang tidak mencolok? Dia memakai mobil sport itu kemana – mana. Menggunakan jas mewah kemana – mana.” Ayah Chen bersungut – sungut.
Olivia menggeleng. “Lebih tepatnya memang hanya itu yang dimilikinya, pakaian, kendaraan, tempat tinggal dan lain sebagainya sudah disiapkan oleh para pelayannya atas perintah ayah Ranum. Ranum hanya menggunakan fasilitas yang sudah disediakan dan menurutnya apa yang dia kenakan adalah hal wajar dan umum, bukan maksud bergaya atau semacamnya.” Olivia menjelaskan. “Aku akan mengajak kalian ke mansion dengan fasilitas terlengkap milik keluarganya Ranum.” Olivia tersenyum.
Olivia memacu mobilnya ke salah satu mansion milik keluarga Loshad di Point Nepean Road, Portsea.
1 jam 20 menit kemudian, honda CRV yang di kendarai Olivia tiba di mansion milik keluarga Loshad di Point Nepean Road, Portsea. Mansion itu berada tepat di tepi pantai, laut lepas menjadi pemandangan yang disajikan dari bagian belakang mansion tersebut.
“Apa mansion ini milik Ranum?” Ayah Chen bertanya.
Olivia mengangguk.
“Berapa luas mansion ini?” Ayah Chen kembali bertanya.
“Sekitar 8000 meter persegi tuan untuk luas tanahnya. Mansion ini juga memiliki banyak fasilitas, ada spa, bath house, lapangan basket, lapangan tennis, massage, body treatments, facials, salon, jacuzzi, billiard dan lain sebagainya.” Olivia menjelaskan. “Anda bisa menggunakan golf cart yang ada di garasi untuk menjelajahi mansion ini.” Lanjut Olivia menjelaskan.
“Apa semua fasilitas tersebut bisa digunakan secara cuma – cuma?” Ayah Chen kembali bertanya.
“Tentu saja, semua yang ada di dalam pagar bisa kalian gunakan sesuka hati kalian. Kalian juga bisa memesan makanan apapun pada koki yang ada disini.” Olivia tersenyum.
Ayah Chen langsung menarik tangan istrinya, menuju garasi untuk mengambil golf cart. Mengelilingi mansion dan menikmati fasilitas yang ada.
“Apa yang akan kita lakukan?” Chen bertanya.
“Lebih baik kita ke bath house agar Ranum Tan juga bisa menikmati fasilitas di tempat ini.” Olivia berkata.
Chen mengangguk. “Apa bath house disini seperti yang ada di Pesisnula Hot Springs?” Lanjut Chen bertanya.
Olivia menggeleng. “Disini lebih modern. Mari ikut aku.” Olivia berjalan menuju bath house sambil menggendong Ranum Tan, Chen menyejajari langkah Olivia.
__ADS_1