Ranum

Ranum
Bagian 17


__ADS_3

Kedatangan Aldi hari itu membuat desas desus yang sempat menghilang kembali berembus. Tentang usia Ranum yang sudah matang tapi belum juga menikah kembali menjadi perbincangan para tetangga beberapa waktu belakangan.


Ditambah lagi Zaviyar yang beberapa waktu lalu hadir di acara penutupan mahasiswa KKN yang sudah selesai dengan kegiatan di desa Ranum membuat adanya dua kubu yang mendukung Ranum untuk memilih pasangannya.


Meski Zaviyar dan Ranum sudah berusaha profesional saat bertemu. Namun, beberapa pasang mata seperti menangkap adanya kedekatan diantara mereka. Hingga angin pun berembus membawa kabar tentang hubungan keduanya. Dan kabar itu semakin kencang setelah Zaviyar mampir ke rumah Ranum untuk bertemu Bu Ratih.


Ada yang mendukung Ranum dekat dengan Zaviyar, dosen muda dari kota Pahlawan yang menjadi pembimbing mahasiswa KKN. Tapi, ada pula yang mengatakan bahwa gadis manis itu kembali dekat dengan Aldi yang dulu memang sempat dikabarkan akan menikahi Ranum karena hubungan pertemanan yang begitu akrab.


Di sekolah pun, beberapa wali murid dan juga rekan kerjanya tak luput menggodanya. Ranum hanya menanggapinya dengan senyuman. Bu Cici yang juga mendengar desas desus itu, mengajak Ranum berbicara saat ada waktu senggang.


“Bu, aku kok denger ada dua sih?”


Memang saat berdua atau di luar jam kerja, Bu Cici dan Ranum akan berbicara santai seperti saat ini.


Ranum mengernyitkan dahi.


"Pak Zaviyar dan Aldi," celetuk Bu Cici.


“Bu Cici percaya itu?” tanya Ranum.


“Kalau lihat Bu Ranum dan Pak Zaviyar, kayaknya nggak mungkin. Tapi kalau ingat Aldi ... teman Bu Ranum yang dulu itu kan?”


“Iya, emang Aldi mana lagi?”


“Bisa jadi.”


“Bisa jadi? Apanya yang bisa jadi?”


“Bisa jadi emang calonnya ada dua.”


Ranum hanya menepuk keningnya mendengar jawaban rekan kerjanya itu, lalu mengelus-elus dadanya.


“Sabar, Num. Punya teman kayak gini sabar aja," ucap Ranum pada diri sendiri.


Bu Cici yang melihat itu terkikik geli.


“Ya maaf, Bu. Makanya aku tanya.”


“Entahlah, Bu. Aku nggak tahu tentang perasaan Aldi. Nggak ngerti juga bagaimana bisa orang-orang ngomongin hal itu sedangkan aku sendiri nggak ngerasa ada apa-apa sama Aldi."


“Lalu, bagaimana kalau Aldi benar-benar suka sama Bu Ranum?”


Ranum diam, tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Bu Cici. Hingga mereka kembali dengan aktivitas masing-masing.


Waktu pulang sekolah tiba. Ranum dan Bu Ratih berjalan berdampingan menuju rumah. Sesekali menyapa orang-orang yang sedang bersantai di depan rumah mereka. Mereka memasuki gang rumah dan berpapasan dengan beberapa orang yang baru pulang dari ladang. Hingga di dekat rumahnya, Ibu dan anak itu menyapa salah satu tetangganya yang duduk santai dengan beberapa keluarganya.


“Jadi kapan nih, Bu mantunya?” ucap salah satu tetangganya.


“Do’akan saja Bu, semoga di segerakan," jawab Bu Ratih tenang.


“Terus jadi sama yang mana, nih? Pak dosen atau teman sekolahnya dulu?” sahut lainnya.


“Semoga Ranum diberi yang terbaik, siapapun nanti.”


Bu Ratih dan Ranum segera pamit pada tetangganya untuk pulang dengan alasan belum sholat dzuhur. Mereka menaiki jalan menuju rumah. Meski masih terdengar bisikan-bisikan tetangganya. Tapi, mereka memilih tak peduli dan terus berjalan.


Saat baru memasuki rumah, Ranum langsung duduk di kursi yang berada di ruang tengah. Ia sandarkan tubuhnya pada badan kursi dengan mengembuskan napas kasar. Ranum berusaha tak mempedulikan kata-kata orang, yang ia pikirkan Bu Ratih, Ibunya.


Sore menjelang, Ranum dan Ibunya ikut berkumpul dengan sanak saudara di salah satu rumah saudaranya yang berjajar dengan rumah Ranum. Mereka bercanda bersama dengan keponakan yang lucu-lucu. Hingga ada beberapa tetangga dari depan rumah mereka ikut bergabung dan mulai berbicara tentang gadis bermata tajam itu.


"Mbak Ranum, gimana ini? Pasti seneng ya direbutin dua cowok ganteng," celetuk salah satu tetangganya.

__ADS_1


Tak ada yang menyahut. Baik Ranum, Bu Ratih, maupun saudaranya yang lain. Hanya tersenyum tipis menanggapi omongan tetangganya.


"Nunggu apa sih, Mbak? Umur udah cukup juga."


"Jangan terlalu pilih-pilih, Mbak. Nanti yang ada jadi perawan tua lho," sahut lainnya.


Ranum kembali tersenyum, hanya saja kali ini senyumnya terlihat berbeda, getir. Kata demi kata yang terlontar dari bibir tetangganya cukup menyayat hati. Meski bagi mereka itu sebuah candaan, tapi berbeda bagi Ranum. Kalimat-kalimat itu begitu tajam.


Ranum melirik Bu Ratih, ia tahu Ibunya pun pasti merasa sakit mendengar dirinya menjadi bahan pembicaraan.


"Iya, mumpung ada yang mau terima aja, Mbak. Pilih aja satu, toh cakep semua. Jarang-jarang lho, Mbak Ranum gitu," timpal lainnya tak kalah menyakitkan.


***


Saat malam datang, dan keduanya bersantai di ruang tengah. Ranum berencana mengatakan tentang kegelisahannya atas omongan orang akan dirinya pada Bu Ratih. Tapi, sebelum niatnya terlaksana, dering ponsel membuatnya beranjak dari duduknya dan mengangkat telepon.


Ucapan salam dan saling sapa terucap dari bibir keduanya. Mungkin karena hati yang terlanjur bertaut dan seringnya komunikasi di antara keduanya membuat Zaviyar menyadari adanya perubahan dari suara Ranum.


"Kamu kenapa, Ra?" tanya Zaviyar.


"Nggak apa-apa, Mas."


"Beneran?"


"Iya."


"Jangan bohong, Ra. Kita emang jarang ketemu, tapi aku tahu kali ini ada yang berbeda sama kamu."


Hening. Ranum tak menimpali ucapan Zaviyar.


"Ra, cerita."


Zaviyar tetap tenang menanggapi cerita Ranum, ia masih yakin dengan hati gadis itu. Meski ada rasa khawatir yang tak bisa ia hindari.


"Kamu sendiri gimana, Ra?"


"Apanya, Mas?"


"Aku yakin kamu ngerti maksudku."


Terdengar embusan napas dari seberang telepon.


"Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar yakin," ucap Zaviyar.


"Mas ... maaf."


"Nggak apa-apa. Tapi, saat itu tiba tolong segera katakan padaku. Secepatnya aku akan melamarmu," tegas Zaviyar.


Kalimat terakhir Zaviyar benar-benar membuat dada Ranum terasa sesak. Harusnya bahagia yang ia rasa saat lelaki yang disayang mengucapkan kalimat tersebut. Namun, saat ini justru merasa begitu sakit mendapati dirinya yang belum juga memberi keputusan pada lelaki berwajah teduh nan rupawan itu.


Bulir-bulir bening mulai menggenang di sudut matanya, meski tak terlihat. Tapi, lelaki di seberang telepon sepertinya sudah paham betul bagaimana Ranum.


"Mas ...." Suara Ranum tercekat.


"Jangan nangis, Ra. Aku nggak apa-apa," ucap Zaviyar menenangkan.


Sambungan telepon pun akhirnya terputus dengan hati Ranum yang semakin tak tenang. Ada rasa bersalah menggelayut di hatinya, ia sadar ketulusan Zaviyar yang begitu besar. Tapi, entah kenapa belum juga berani mengatakan yang sebenarnya.


Bu Ratih masih duduk di ruang tengah menonton TV saat Ranum kembali dari kamarnya. Ia mendekati Bu Ratih dengan mata yang sudah sedikit memerah karena obrolannya dengan Zaviyar sebelumnya. Ranum pun mengungkapkan segala gundah dalam hatinya.


“Bu, Ibu nggak apa-apa Ranum jadi bahan perbincangan lagi?”

__ADS_1


“Udah biasa, Num. Biarkan saja.”


“Maafin Ranum, Bu.”


“Untuk apa?”


“Ranum belum bisa bahagiakan Ibu. Ranum bisanya kasih beban terus.”


“Hidup, mati, rezeki, dan jodoh kan Allah yang atur. Kita nggak bisa paksain sesuai kehendak kita.”


“Iya, tapi …” Ranum menunduk lesu, menyembunyikan matanya yang kembali dipenuhi bulir-bulir bening.


“Sudah, nggak usah dipikir omongan orang. Ibu mau tanya boleh?”


Bu Ratih memberi Ranum banyak nasehat sebelum menanyakan apa yang menjadi uneg-unegnya dari beberapa hari belakangan.


“Hati kamu gimana? Apa sudah yakin sama Zaviyar?”


Ranum menghela napas mendapat pertanyaan dari Bu Ratih tentang hal itu. Baru saja ia berbincang dengan lelaki itu di telepon, yang tentu membuatnya semakin bingung. Rasa sayang terlanjur bersemi di hatinya, tapi ketakutan yang tak jelas dari mana asalnya pun ikut bersemayam di sana.


“Ranum memang nyaman sama Mas Zav, Bu dan seperti yang pernah Ranum bilang. Kalau Ranum jatuh hati padanya.”


"Lalu?"


Ranum geming. Ia tak berani menatap mata Bu Ratih karena lagi-lagi butiran bening sudah memenuhi kedua matanya.


“Num, jangan mainin perasaan orang. Nggak baik, Nak.”


“Ranum nggak berniat mainin perasaan Mas Zav, Bu. Tapi, justru karena hal itu Ranum semakin takut untuk melangkah.”


Bu Ratih mengernyitkan dahi.


“Ranum takut pada akhirnya ... hanya akan menyakiti Mas Zav dan Ranum kehilangan sosoknya," lirih suara Ranum di penghujung kalimatnya.


“Insya Allah nggak. Justru kalau kamu seperti ini, itu yang membuat dia sakit.”


Bu Ratih mengusap lembut kepala Ranum penuh kasih sayang. Ia tahu kerisauan putrinya itu.


"Dia laki-laki baik. Dia serius sama kamu, Nduk. Jangan lama-lama buat dia menunggu."


Ranum tak menjawab. Ia hanya menunduk, logikanya membenarkan kata-kata sang Ibu. Tapi rasa takut di hati akan kehilangan Zaviyar, sosok yang kini benar-benar telah menjerat hatinya justru membuatnya semakin bimbang.


Ranum sadar dia hanya gadis desa biasa, yang jika dibandingkan dengan gadis Surabaya, jelas tidak ada apa-apanya.


“Sampai kapan kamu akan terus seperti ini, Num?”


“Sekarang Aldi pun kembali dan dia juga mengharapkanmu.” Bu Ratih berkata.


“Enggaklah, Bu. Dia cuma bercanda.”


“Kamu nggak bisa lihat matanya yang tulus waktu itu? Dia terus memperhatikanmu, Nduk."


Ranum tertegun mendengar ucapan Ibunya. Kebimbangan di hatinya semakin bertambah. Perasaan was was pun muncul akan sosok Aldi yang kembali hadir dalam hidupnya.


Ranum menerawang kembali memorinya beberapa tahun silam, sebelum Aldi menghilang.


‘Apa kamu benar-benar menungguku karena ucapanku dulu, Al?’ Ranum membatin.


“Ah … gak mungkin, itu sudah lama dan aku tidak sedang serius saat itu.”


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2