
Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga, mereka duduk di kursi masing – masing.
“Cepat ceritakan tentang virus itu.” Ranum mendesak.
“Baiklah, ayah yang akan bercerita.” Bos Besar memperbaiki posisi duduknya, membakar cerutu Cohiba Behike. “Beberapa tahun yang lalu, saat kamu menghilang. Jone B. Rockafellas, salah satu keluarga black economy terbesar di dunia datang menemui ayah. Jone ingin keluarga Loshad membuat suatu virus yang bisa menyebar dengan sangat cepat hingga bisa menyebabkan sebuah epidemi di benua Amerika. Jone dengan kaki tanganya seperti Bull bates, Mars Buckerberg, Epic Ruan dan lainnya ingin membuat semua orang di benua Amerika untuk tetap dirumah, agar media konvensional dan media sosial dapat mengontrol masyarakat dunia. Sebenarnya tujuan Jone dan kaki tangannya hanya ingin mempromosikan dunia virtual, mata uang digital dan lain sebagainya ciptaan mereka. Intinya mereka ingin mengkapitalisasi dan mendigitalisasi benua Amerika serta mendapatkan database seluruh penduduk benua tersebut. Singkat cerita, ayah menerima permintaan Jone untuk membuat sebuah virus yang dapat menyebabkan sebuah epidemi, ayah meminta bantuan Dayana. Awalnya Dayana menolak, tetapi ayah terus mendesak Dayana untuk membuat virus itu hingga Dayana dengan sukarela membuat virus tersebut.” Bos besar menghisap cerutunya. “Pada akhirnya Dayana berhasil menciptakan virus tersebut dengan bantuan seorang profesor di Tiongkok. Awalnya virus ini akan kami bawa ke Amerika sesuai permintaan Jone, dan memulai menebar virus di Amerika. Tapi truk yang membawa virus ini di ledakkan di sebuah kota di Tiongkok, kami tidak sempat mencari tahu dalang yang meledakkan truk tersebut. Karena ribuan virus itu menyebar cepat di kota tersebut.” Bos Besar menghela napas.
“Satu bulan pertama aku berhasil meredam separuh virus yang menyebar di Tiongkok menggunakan vaksin yang telah aku siapkan.” Dayana tiba – tiba membuka suara. “Tapi sayangnya satu bulan bukanlah waktu yang cukup untuk meredam seluruh virus yang sudah tersebar disana. Musim berganti dengan cepat, membuat virus itu bermutasi sangat cepat. Memang aku yang membuat virus itu. Tapi aku kurang teliti memahami sifat virus yang aku ciptakan, virus itu bisa bermutasi berkali – kali setiap musim berganti, hingga menyebabkan pandemi dan membutuhkan jenis vaksin yang berbeda seiring dengan bermutasinya virus – virus tersebut.” Dayana menunduk.
“Tapi dari itu semua, tujuan Jone dan kaki tangannya berjalan dengan baik. Saat ini mata uang digital, dunia virtual, aplikasi komunikasi video dan lain sebagainya, tidak hanya menjadi tren di benua Amerika. Tetapi menjadi tren dunia. Membuat kita mendapatkan keuntungan yang fantastis dari semua itu. Di tambah lagi, Jone mempercayakan keluarga Loshad untuk membuat vaksin untuk virus yang terus bermutasi ini.” Bos Besar tersenyum lebar dengan cerutu yang berada di gigitannya. “Itu semua bisa disimpulkan bahwa seluruh uang yang ada di akun bank milik sebagian besar masyarakat dunia adalah milik kita.” Bos Besar tertawa.
Ranum meremas tangan dan mengigit bibirnya hingga berdarah. Menatap bos besar dengan sangat buas.
“Ranum.” Kripala memegang pundak Ranum. Dengan refleksnya yang sangat cepat, Ranum mencekik Kripala, berdiri. Membuat Kripala tergantung akibat cekikan Ranum, tangan kanan Ranum sudah mengepal sangat kencang, bersiap meninju wajah orang yang ada di cengkramannya. Semua orang di ruangan itu terdiam, Kayla yang melihat suaminya tercekik di udara hanya bisa menutup mata, meringkuk ketakutan. Empat body guard keluarga Loshad yang ada di ruangan itu bersiap melerai Ranum.
“Ranum, aku sulit bernapas.” Kripala tersengal akibat lehernya yang tercekik sangat kencang. Ranum melempar tubuh Kripala. Ranum berlari ke arah Bos Besar. Empat body guard yang ada di ruangan itu segera mengejar Ranum, memegangi Ranum dengan kuat.
Tapi empat orang tidak cukup untuk menahan seorang Ranum. Ranum menarik tangan kanannya, membuat tangan salah satu body guard yang memeganginya terlepas. Ranum gesit menghantamkan sikunya ke wajah body guard tersebut, membuat body guard itu terjatuh ke lantai. Ranum kembali melayangkan tinju kanan ke wajah body guard yang berada di kirinya. Ranum menyepak dua body guard yang sedang menahan kakinya. Ranum mencengkram leher salah satu body guard, mengangkat tubuh body guard itu dengan tangan kirinya. Tangan kanan Ranum melesat cepat meninju wajah body guard yang ada di cengkramannya berkali – kali hingga wajah body guard itu hancur. Ranum melempar tubuh body guard itu kemudian berlari ke salah satu body guard yang tergeletak di lantai. Ranum menendang dagu body guard itu dengan sangat kuat, membuat body guard itu tewas seketika.
Dua body guard yang tersisa sudah kembali berdiri, siap menyerang Ranum. Tanpa banyak berpikir, Ranum berlari ke arah dua body guard itu. Ranum menyerang mereka membabi buta, membuat dua body guard itu terkapar di lantai marmer ruangan tersebut. Karena pertarungan Ranum dengan empat body guard itu memakan waktu, membuat Bos Besar memiliki kesempatan untuk menekan tombol darurat yang ada di bawah mejanya. Puluhan body guard masuk ke ruangan itu membawa senjata lengkap. Membidikkan senjata ke arah Ranum.
Ranum menatap Bos Besar dengan tajam, menaruh tangannya di atas kepala. Semua orang menatap Ranum jeri, terutama Nyonya Besar dan Kayla. Empat body guard mendekati Ranum, dua diantaranya membawa borgol. Saat salah satu body guard memegang tangan Ranum, Ranum dengan cepat memutar badannya menarik tangan body guard tersebut, meraih AK-103 yang ada di tangan body guard tersebut. Ranum segera menembakkan peluru ke seluruh body guard yang ada di hadapannya sambil berlindung di balik tubuh body guard yang ada di genggamannya.
__ADS_1
Puluhan peluru melesat ke arah Ranum, mayat body guard yang ada di depannya berhasil menahan laju peluru. Semua orang bersembunyi di bawah meja kecuali Bos Besar. Kurang dari delapan menit Ranum berhasil menghabisi puluhan body guard yang ada di hadapannya. Ruangan yang sebelumnya riuh dengan suara tembakan, kembali hening sejenak. Puluhan mayat body guard tergeletak di ruang keluarga milik keluarga Loshad.
Ranum membuka jasnya yang dipenuhi peluru. Banyak luka memar bekas hantaman peluru di tubuhnya. Ranum tertatih mendekati Bos Besar yang masih duduk di kursinya. Ranum menghantam wajah pria berusia 65 tahun tersebut hingga terlempar dari kursinya. Nyonya Besar berteriak histeris.
“Aku rasa ini akhir hidupku.” Bos Besar menyeringai. “Dihabisi oleh anakku sendiri.”
Ranum mencengkram leher ayahnya tersebut di lantai. Ranum menatap orang tua itu dengan sangat buas. Kepalan tangan Ranum teracung ke langit, bersiap menghantam wajah Bos Besar. Tiba – tiba tangan seseorang menahan kepalan tangan Ranum. Ranum menoleh ke arah orang yang menahan tangannya. Alexa lah yang sedang menahan tangan Ranum, Alexa tersenyum lembut ke arah Ranum.
“Sudah ya, kamu tidak perlu melanjutkannya. Kamu kuat, malah sangat kuat. Tapi apa yang kamu lakukan saat ini tidak akan memperbaiki keadaan. Aku yakin kekuatanmu untuk menahan amarah jauh lebih besar dari kekuatanmu membunuh seseorang.” Alexa masih tersenyum lembut ke arah Ranum.
Perlahan Ranum mengendurkan cengkramannya.
Ranum berdiri. “Berikan aku kunci mobil vulcanmu Arsya.” Ranum berkata.
Ranum berjalan keluar dari mansion tersebut. Alexa mengikuti Ranum dari belakang. “Kamu ingin menghilang lagi?” Alexa bertanya ke Ranum yang sedang membuka mobilnya. Ranum tidak menjawab sepatah katapun.
“Boleh aku ikut denganmu?” Alexa kembali bertanya dari jendela mobil.
Ranum membuka pintu mobilnya. Alexa tersenyum, lalu masuk ke mobil tersebut.
Di ruang keluarga, semua orang kembali duduk di kursi masing – masing. Bos Besar menghubungi anggota keluarga lainnya untuk membersihkan mayat yang ada di ruang keluarga.
__ADS_1
“Ada apa dengan Ranum?” Arsyanendra bertanya.
Semua orang menggeleng. “Mungkin ada hubungannya dengan masa lalunya, saat dia menghilang.” Dayana menjawab pertanyaan Arsyanendra.
“Dia semakin gila! Dia menghabisi semua body guard kita seperti membunuh semut. Aku tidak percaya dengan perkembangannya selama beberapa tahun terakhir. Menghilangnya dia membuat dirinya menjadi monster semengerikan itu.” Arsyanendra berbicara jeri.
Dayana mengangguk. “Dia memang melewati kehidupan yang sulit saat menghilang. Dia menghilang selama 3 tahun lebih untuk menjauh dari dunia kita. Ranum ingin membangun keluarga kecil bersama istrinya yang bernama Miranda. Tetapi Aiguo Wu menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Ranum, dan Miranda terkena dampaknya. Miranda terbunuh di rumahnya. Ranum yang tahu tentang pembunuh Miranda, langsung menyerang Krowned Towers untuk kedua kalinya. Karena tidak menemukan Aiguo Wu disana, Ranum segera mempersiapkan diri untuk ke Singapura, sesuai informasi yang diberikan pembunuh bayaran yang membunuh Miranda. Alexa berhasil menemukan Ranum di makam Miranda. Mereka berdua pergi ke sebuah bar, dan Alexa berhasil membujuk Ranum untuk menunda penerbangan ke Singapura. Tapi sayangnya kepolisian Australia yang bekerjasama dengan ASIS berhasil menemukan Ranum di bar tersebut. Mereka menangkap Ranum, walaupun Ranum berhasil memberikan perlawanan, pada akhirnya Ranum menyerahkan diri. Di penjara dia membantai ratusan tahanan lainnya hanya dalam kurun waktu kurang dari satu minggu. Ranum berhasil dibebaskan berkat Alexa menghubungi keluarga kita, Alexa harus melanggar perintah Ranum yang melarangnya untuk memberitahu keluarga kita. Kemudian Ranum menyerang villa keluarga Wu di Violin Island. Tapi Ranum meminta Muhammad untuk meninggalkannya sendirian disana, dan membawa Alexa kembali kesini. Tapi Alexa memohon ke Muhammad untuk kembali ke Australia bukan ke Indonesia sesuai perintah Ranum. Muhammad akhirnya membawa Miranda kembali ke pacuan kuda.” Dayana menyeka ujung matanya. Semua orang terkejut mendengar cerita Dayana.
“Ibu memiliki menantu yang sudah wafat?” Nyonya Besar bertanya.
Dayana mengangguk. “Dan seorang bayi yang juga tertembak di dalam kandungan Miranda.” Dayana menyeka ujung matanya.
“Seharusnya ibu juga memiliki seorang cucu?” Nyonya besar kembali terkejut.
Dayana mengangguk pelan.
“Lalu kenapa dia menyerang ayah? Kematian Miranda dan bayi itu tidak ada hubungannya dengan ayah.” Bos Besar bingung.
“Kalian tahu setelah penyerangan itu Ranum tinggal di Melbourne, terkadang menerima beberapa tugas keluarga. Tapi diluar itu, Ranum memiliki kehidupan lain. Chen Xiuhuan dan bayinya yang diberi nama Ranum Tan meninggal akibat virus yang Dayana ciptakan.” Kripala akhirnya berbicara.
“Ranum menikah lagi?” Dayana berseru terkejut.
__ADS_1
“Ranum memiliki anak?” Arsyanendra berseru terkejut bersamaan dengan Dayana.
Kripala tersenyum, menggeleng.