
Ranum melirik jam di tangannya, waktu menunjukkan pukul 09.05 WIB. Pesan yang ia terima dari orang yang dinanti membuatnya senang sekaligus kesal.
Ia kembali bepikir untuk memulai obrolan dengan sosok lelaki di seberang sana. Ranum bingung antara malu untuk memulai tapi hati masih ingin berbincang dengan sang pencuri hati, Zaviyar.
Akhirnya Ranum memberanikan diri untuk kembali memulai obrolannya dengan Zaviyar, satu pesan pun diluncurkan. Tak menunggu lama, balasan diterima dan obrolan berlanjut dengan perasaan berbunga.
[Ra?]
[Dalem, Mas?]
Beberapa saat tak ada jawaban, membuat Ranum salah tingkah sendiri.
“Aduh … Ranum, iku jawab e kok gitu se?” Ranum menepuk-nepuk kepalanya.
Ingin menghapus, tapi terlihat dua centang biru yang menandakan pesan telah dibaca.
[Minggu depan Insya Allah aku mau ke desa kamu lagi. Bisa kita ketemu?]
Jantung Ranum berdendang riang mengetahui bahwa Zaviyar akan kembali berkunjung ke desanya.
[Insya Allah]
[Kok? Kamu gak mau ketemu lagi?]
[Bukan gitu, Mas. Kita kan manusia yang hanya bisa berencana, pada akhirnya Allah juga yang menentukan. Sekarang kita bisa berencana untuk ketemu, tapi gak tahu nanti]
[Oh, iya. Kirain]
[Kirain apa?]
[Gak apa-apa]
Mereka kembali beradu dengan candaan ringan, hingga Ranum dibuat kesal lagi oleh Zaviyar.
[Gitu aja ngambek]
[Nggak. Siapa juga yang ngambek?]
[Ibu guru Ranum ....] Dengan satu emoticon berpikir.
Menyadari dirinya tak tahu nama lengkap Ranum, Zaviyar memutus pesannya dan bertanya nama lengkap gadis desa itu.
[Ranum Nasha Razita]
[Nama yang cantik]
[Namanya doang yang cantik?]
[Orangnya manis]
Pipi Ranum merona membaca pesan singkat itu, tak bisa dibayangkan bagaimana jadinya jika Zaviyar mengatakan itu langsung dihadapannya. Ia berusaha menahan senyum bahagianya, khawatir jika sampai ada orang yang melihat saat senyum-senyum sendiri.
Ranum pun balik bertanya nama lengkap Zaviyar. Tanpa basa-basi, dosen muda itu menjawabnya.
[Zaviyar Raffasya Hafis]
[Cakep]
[Apanya?]
[Ya, namanya]
[Orangnya nggak?]
Ranum menggigit bibir bawah, bingung harus menjawab apa. Kata 'cakep' yang terlanjur ia tulis dalam pesan, ternyata kembali membidik dirinya sendiri.
Gadis manis itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Mengingatkan untuk kembali mengajar.
[Okey. Nanti kita lanjut lagi ya?]
[Iya]
[Makasih]
[Nggak usah tanya kenapa dan nggak usah balas dulu, nanti aja lanjut]
Dua pesan beruntun dari Zaviyar membuat Ranum tersenyum senang tapi masih dengan tanda tanya di benaknya.
"Makasih buat apa?" gumamnya lirih.
Ranum meletakkan ponsel di meja kerja, kembali pada kesibukannya dengan tumpukan kertas yang harus diteliti satu per satu. Tak terasa waktu berlalu, jam pulang sekolah telah tiba. Satu per satu rekan gurunya masuk ke ruangan yang ia tempati.
“Bu, sepertinya kita butuh buku-buku baru untuk bahan ajar dan juga bacaan anak-anak di perpustakaan. Kalau mau cerita bukunya tetap itu-itu saja.” Suara Bu Sri, kepala sekolah, yang baru saja masuk ke dalam ruang guru.
“Iya, Bu. Buku-buku yang ada sudah cukup lama, takutnya anak-anak bosan dengan cerita dan buku itu-itu saja," sahut Bu Aini.
“Mungkin ada yang mau beli ke Malang, monggo. Nanti uangnya biar disiapkan Bu Irna." Bu Sri menawarkan.
Tak ada yang menjawab tawaran Bu Sri, hingga nama Ranum disebut.
Ranum menyanggupi, tapi tidak di hari Minggu karena telah memiliki janji dengan lelaki yang telah mencuri separuh hatinya. Ia meminta izin untuk pergi di hari efektif. Beruntung semua setuju, tidak ada yang curiga.
Bu Ratih, sebagai Ibu merasa heran karena yang diketahui tidak ada rencana apa-apa pada hari tersebut. Beliau pun akhirnya menanyakan apa ada sesuatu hari Minggu nanti. Namun, Ranum mengelak dan hanya menjawab bahwa dirinya ingin istirahat.
“Jadi, kapan Bu Ranum mau berangkat? Nanti uangnya biar bisa saya siapkan sebelumnya," ucap Bu Irna, yang menjadi bendahara sekolah.
“Mungkin antara hari Rabu sampai Jum’at."
Setelah pembicaraan berakhir dan tak ada lagi yang dikerjakan, mereka pun meninggalkan sekolah untuk kembali ke rumah masing-masing. Begitu pun dengan Ranum, kali ini ia pulang dengan wajah sumringah.
Sampai di rumah, ia dan Bu Ratih bergegas membersihkan diri dan menunaikan kewajibannya di siang hari karena waktu yang sudah cukup siang. Selepas itu, Ranum yang sudah tak bisa menahan lelah dan kantuk, segera menuju kamar tanpa makan siang terlebih dulu.
Cukup lama setelah adzan Ashar berkumandang, Bu Ratih masuk ke kamar Ranum dan membangunkan putri semata wayangnya itu.
“Nduk, bangun. Udah sore," ucapnya lembut.
__ADS_1
Ranum mengucek matadan melirik jam yang terpasang di dinding kamar. Seketika ia terperanjat melihat jam sudah menunjukkan pukul empat sore.
“Kamu makan dulu sana, tadi siang udah gak makan gitu," titah Bu Ratih yang sudah keluar dari musholla.
“Iya, Bu.”
“Kamu itu kebiasaan, kalau udah ngantuk lupa makannya.”
“Bukan lupa, Bu. Tapi gak tahan, masak
nggeh tidur sambil makan?” Ranum cengengesan.
“Iya, tapi jaga kesehatan juga. Habis kerja lembur-lembur, tidur gak teratur. Terus makan juga gak karu-karuan. Kalau sakit siapa yang repot?”
“Hehe … maaf, Bu," ucap Ranum manja.
Selesai makan, Ranum keluar rumah dan di depan rumah Bu leknya yang berada tepat di samping rumah sudah ada sepupu bersama anak-anaknya yang sering menjadi pelipur saat ia lelah.
Ranum bergabung dengan sepupu dan keponakan-keponakan kecilnya, bermain dan menggoda mereka yang menggemaskan.
Ya, Ranum yang menjadi anak tunggal kadang merasa kesepian dan keponakan-keponakan itulah yang mengisi hari-harinya lebih berwarna.
Menjelang maghrib, Ranum dan saudara-saudaranya masuk ke rumah masing-masing. Mereka bersiap menunaikan kewajiban di senja hari, kembali bersujud pada Rabbnya. Ranum yang tak lagi dikejar tugas, menyempatkan diri membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an walau tak begitu lama. Kemudian ia kembali ke kamar, yang sekaligus tempat kerjanya untuk menata berkas laporan yang tadi dielesaikan di sekolah.
Drrt … drrt …
Bunyi ponsel Ranum yang bergetar di atas meja riasnya. Tanpa menunggu lama, Ranum pun mengambil dan membuka chat yang masuk.
Benar dugaannya. Chat dari sang pujaan hati. Dengan sesungging senyum, ia membalas sekaligus bertanya balik.
[Mas Zaviyar sendiri lagi apa?]
[Lagi cek beberapa tugas mahasiswa dan beberapa hal yang sudah dikerjakan para mahasiswa KKN di desa kamu]
[Sibuk dong?]
[Nggak juga, santai aja]
[Oh, ok]
[Ra]
[Iya, Mas. Kenapa?]
[Nggak apa-apa, pingin manggil aja]
Blush …
Pipi Ranum kembali menghangat dan tentu sudah bersemu merah, seperti ada bunga bermekaran di hatinya membaca pesan dari Zaviyar.
[Ra?]
[Apa? Manggil lagi?]
[Boleh telepon gak?]
[Nggak boleh ya?]
Lagi, Ranum membiarkan beberapa menit berlalu sebelum ia menjawab pesan Zaviyar.
[Silakan kalau mau telepon] Ranum memutuskan.
Tak sampai hitungan menit, ponsel Ranum bergetar. Nama dan foto Zaviyar terpampang jelas di panggilan whatsapp itu. Gadis manis itu sedikit gugup, tak langsung menerima panggilannya. Ia mengambil napas panjang lalu mengembuskan pelan-pelan.
“Assalamu’alaikum.” Suara Zaviyar dari seberang telepon.
“Wa’alaikumussalam.”
“Belum selesai beresin laporannya?”
“Tinggal dikit, Mas.”
“Ganggu ya?”
“Enggak kok, orang nggak sibuk juga. Ya, nggak ganggu. Mas Zaviyar tuh yang sibuk, malah buang-buang waktu dengan telepon.”
“Kok buang-buang waktu? Ya, nggaklah. Ini Refresh, biar nggak jenuh sama tugas.”
“Refresh tuh jalan-jalan sana, Mas. Ke pantai kek atau ke gunung biar bener-bener fresh kena udara segar pegunungan.”
“Iya, minggu depan 'kan ke tempat kamu lagi, sekalian refresh. Pas tuh di daerah gunung juga.”
“Emang harus, ya dosen nengokin mahasiswanya yang KKN?”
“Nggak harus juga, tapi kita pantau kegiatan mereka sudah sejauh mana dan bagaimana progressnya. Sekalian juga, kan ketemu kamu.
“Ketemu aku? Emang mau ngapain kalau ketemu?”
“Lah, kamu mau diapain?”
“Ih, Mas Zaviyar ngomongnya apaan, sih?”
Zaviyar tertawa mendengar Ranum. “Iya kamu juga nanya gitu. Ya, nggak mau ngapa-ngapain, mau ketemu aja. Nggak mau atau nggak suka?”
“Siapa juga yang bilang nggak suka? Eh … maksudku, ya nggak apa-apa kita ketemu, nggak ada yang ngelarang juga.” Ranum yang keceplosan, bingung mencari alasan.
Zaviyar yang mendengar itu tentu saja tak dapat menahan rasa senangnya dan ia pun terkekeh.
“Berarti suka, ya ketemu aku lagi?” Goda Zaviyar.
“Nggak, bukan gitu maksudku.” Ranum menepuk-nepuk keningnya dengan wajah yang memerah karena malu.
‘Ranum ... Ranum, kok bisa keceplosan sih? Muka kamu mau ditaruh di mana nanti kalau ketemu?’ rutuk Ranum dalam hati.
“Kalau libur hari Minggu kamu biasanya ngapain, Ra?” Sadar akan kegugupan Ranum, Zaviyar mengalihkan pembicaraan. Biar saja Ranum tak menjawab, tapi Zaviyar sudah cukup mengerti isi hati gadis itu.
__ADS_1
“Nggak tentu, Mas. Kadang di rumah aja, kadang keluar sama teman atau main ke rumah teman, kadang juga jalan ke Malang.”
“Kalau Minggu besok?”
“Mungkin di rumah aja, pingin istirahat.”
“Nggak pingin jalan-jalan ke Surabaya?”
“Nggak berani, takut nyasar.”
“Kapan-kapan, Insya Allah aku ajak jalan-jalan ke Surabaya.”
“Hmm?"
“Udah ngantuk, Ra?”
“Belumlah, Mas. Baru juga Isya.”
“Mas Zav, udah makan?” Ranum berusaha mencari bahan obrolan.
“Udah tadi sama Bunda dan Ayah.”
“Enak ya masih bisa makan bareng orang tua lengkap.”
“Alhamdulillah, Insya Allah nanti kamu juga bisa. Kamu sendiri udah makan belum?”
“Udah tadi sore, Mas. Makan siang plus makan malam.”
“Loh, kok plus plus gitu?”
“Iya, tadi siangnya nggak sempat makan jadi makannya di gabung sekalian," ucap Ranum dengan gaya cengengesannya.
“Kenapa tadi nggak makan siang?”
“Nggak sempat, Mas.”
“Segitu sibuknya sampek nggak sempat makan siang?”
“Bukan segitu sibuknya, tapi begitu ngantuknya udah nggak tahan banget.”
“Jangan dibiasain kayak gitu, usahakan makan teratur biar nggak gampang sakit. Apalagi kamu sering lembur.”
“Insya Allah, Mas.”
“Usahakan, jangan cuma Insya Allah aja.”
“Iya, iya. Mas Zaviyar kok jadi cerewet kayak Ibu sih.”
“Iya itu karena sayang sama kamu.”
“Apa, Mas?” Jantung Ranum mencelos mendengar kalimat yang baru terucap dari mulut Zaviyar.
Meski tak bertatap muka, tapi ucapan Zaviyar sukses membuat Ranum melayang. Pipinya merona merah. 'Untung saja bukan video call," batin Ranum.
“Maksudku, itu karena Ibu kamu sayang sama kamu, makanya beliau cerewet gitu karena nggak mau kamu kenapa-kenapa.” Zaviyar berkilah.
Sama halnya dengan Ranum, Zaviyar pun merutuki dirinya sendiri yang keceplosan dalam bicara.
“Oh … begitu," ucap Ranum sedikit kecewa.
Baru saja Ranum seperti melayang. Namun, sesaat kemudian hatinya merasa kecewa dengan jawaban Zaviyar.
“Mas, nggak lanjutin kerjanya?”
“Iya, ini sambil ngerjain kok.”
“Nggak repot kerja sambil teleponan?”
“Nggak, kok.”
“Mending tutup aja dulu, Mas. Selesaikan kerjanya biar nggak repot.”
“Udah capek, ya?”
“Bukan aku yang capek, Mas Zaviyar tuh nanti yang capek.” Suara Ranum sedikit ketus. Entah kenapa setelah jawaban Zaviyar tadi, hati Ranum menjadi kesal pada sosok lelaki yang telah membuatnya berbunga. Mungkin ia terlalu berharap.
“Kok, jadi ketus? Kamu marah?”
“Enggak. Udah, Mas selesaikan aja dulu kerjaannya biar nggak terbengkalai.”
“Okey, kalau gitu aku tutup dulu teleponnya.”
“Iya.”
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam.”
Sambungan telepon pun terputus. Kedua insan itu segera beranjak menunaikan kewajiban masing-masing di tempat yang berbeda dan berdo’a untuk menenangkan hati yang sama-sama bingung dengan pikiran masing-masing.
***
Minggu pagi yang cerah menyambut, selepas subuh Zaviyar keluar rumah untuk sekedar menghirup udara segar pagi hari sebelum kepulan asap kendaraan dan pabrik-pabrik mengotorinya. Ia merogoh ponsel di saku celana olahraga yang dikenakan, membuka chat whatsapp dan tentu saja nama Ranum yang menjadi tujuan utama. Satu pesan terkirim, terlihat hanya centang satu. Mungkin masih belum aktif atau sedang di charge ponselnya, pikir Zaviyar.
Mentari mulai meninggi, Zaviyar kembali ke rumah. Menuju kamar dan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesainya, ia segera keluar menuju ruang makan. Di sana, Pak Qosim dan Bunda Dini sudah menunggu.
Usai sarapan, Zaviyar pamit untuk pergi ke toko buku mencari beberapa buku sebagai bahan mengajar. Cukup lama ia berada di toko buku, membolak balik dan membaca buku-buku di sana, mencari mana yang pas untuk dibeli.
Waktu sudah siang saat Zaviyar menyelesaikan pembayaran bukunya di kasir. Saat menuju mobil, mengambil ponselnya dan melihat chat yang tadi pagi ia kirim pada Ranum. Namun, masih saja sama, centang satu.
Waktu berlalu, matahari terus bergerak dari timur ke barat. Hingga waktu malam tiba, tak ada pesan masuk dari Ranum. kembali Zaviyar mengecek chatnya, dan tak ada yang berubah, tetap saja sejak tadi pagi.
“Kamu ke mana, Ra? Apa kamu baik-baik saja?”
“Kenapa aku nggak ngomong jujur saja kemarin?”
__ADS_1
🌷🌷🌷