Ranum

Ranum
Bagian 4


__ADS_3

Mendengar ponselnya bergetar lagi, Zaviyar langsung mengangkat wajahnya dan tanpa di komando bibirnya sudah melengkung sempurna membentuk bulan sabit melihat pesan yang tertera pada benda pipih ditangannya.


Satu chat dari Ranum mengembalikan semangat pemuda tampan itu. Sedahsyat itu cinta, yang dalam sekejap bisa membolak balikkan mood sang pecinta.


Mengetahui gadis manis itu sudah selesai, ia berpesan agar Ranum berhati-hati saat berkendara. Menanyakan pula ke mana tujuan selanjutnya dan lagi Zaviyar meminta gadis bermata tajam itu untuk memberi kabar setibanya di sekolah.


[Ini, kan deket. Cuma sepuluh menitan nyampek, kenapa juga harus ngabari?]


“Allah, Ranum. Kamu itu polos atau gimana sih? Greget aku sama kamu,” ucap Zaviyar menatap ponselnya.


Merasa tidak tahan lagi, Zaviyar memilih menekan tanda gagang telepon di pojok kanan atas. Tidak sampai tiga kali bunyi sambungan telepon, terdengar ucapan salam dari gadis di seberang sana.


“Susah, ya kasih kabar ke aku?” tanyanya usai menjawab salam.


“Ya gak susah, sih.”


“Terus?”


“Iya deh, nanti aku kabari. Sekarang aku pulang dulu.”


“Okey, Hati-hati.”


“Iya.”


Sepuluh menit waktu yang dibutuhkan Ranum untuk sampai di sekolah dari tempat foto kopi. Setibanya di sekolah, kantor sepi karena keempat guru lainnya masih mengajar di kelas. Ranum langsung mengeluarkan laporan dari dalam tasnya. Ia menyusun tiap lembar kertas yang penuh dengan tinta hitam itu sesuai urutan. Setelah semua beres dan baru duduk, tiba-tiba teringat sesuatu.


“Astaghfirullohal ‘adziim.” Ranum menepuk keningnya lalu segera mengambil ponsel yang berada di dalam tasnya. Segera ia buka aplikasi pesan dan memberi kabar sesuai janjinya tadi pada lelaki di kota Surabaya.


Di tempat lain, Zaviyar yang sudah menunggu lebih dari sepuluh menit harap-harap cemas. Dan ketika pesan diterima, entah mengapa ia merasa sedikit kesal.


[Kok lama? Kamu gak apa-apa, kan?] balas Zaviyar.


[Gak apa-apa kok, Mas. Maaf, Ranum tadi lupa, soalnya nyampek sekolah langsung nyusun laporan tadi sebelum disetor]


[Oh gitu?]


Melalui pesan, Ranum berusaha menjelaskan panjang lebar kenapa ia sampai lupa mengabari sesampainya di sekolah. Dengan hati-hati dibalasnya pesan Zaviyar. Dirinya sadar ada signal kekesalan dari pesan singkat yang diterima.


Ranum juga mengatakan bahwa akan keluar lagi untuk menyetor laporan tersebut pada pengurus kecamatan.


[Apa? Keluar lagi?] Zaviyar yang membaca pesan Ranum seperti tak rela jika gadis yang dikagumi harus bolak balik keluar seorang diri.


[Iya, Mas. Kalau aku nggak keluar emang bisa laporannya berangkat sendiri?]


Zaviyar tidak begitu saja menerima alasan yang diberikan. Dosen muda itu pun berharap untuk kali ini guru lain yang keluar dan mengantar laporan tersebut. Tapi, Ranum kembali menjelaskan jika semua itu sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Dan jika ada yang kurang atau salah, maka dirinya bisa tahu dan segera memperbaiki.


Ranum juga mengatakan, kalau memang ada beberpa data yang bisa diantar guru lain. Namum, ada juga yang memang harus dirinya sendiri.


Ada rasa bahagia di hati Ranum dengan perhatian yang Zaviyar berikan, meski ia sendiri masih bingung untuk mengartikan semuanya.


‘Apa dia mengkhawatirkanku?’ bisik Ranum dalam hati.


‘Jangan ngayal kamu, Num! Gadis desa kayak kamu nggak mungkin bisa buat lelaki seperti dia jatuh hati. Wajahmu pas-pasan, badan kamu juga nggak ideal. Mungkin dia hanya kagum sesaat, entar kalau udah lama palingan juga lupa. Toh, di Surabaya juga banyak perempuan yang jauh lebih baik, nggak usah ketinggian mimpinya.’ Ranum menghela napas panjang berusaha mengahalau perasaannya.


Ranum yang masih gelisah dengan perasaan tidak jelas, dikagetkan oleh getar ponselnya. Lima pesan masuk dari Zaviyar, ternyata Ranum sudah melamun cukup lama hingga tak sadar Zaviyar membalas pesannya.


“Ya Allah,” ujar Ranum saat melihat rentetan pesan dari Zaviyar yang terkesan mengkhatirkan keadaannya.


“Ada apa, Bu?” Salah satu teman guru Ranum bertanya.


“Oh, nggak apa-apa, Bu.”


Anak-anak di sekolahnya memang sudah pulang saat Ranum larut dalam lamunannya hingga ia tidak menyadari jika kini semua guru berada di kantor, termasuk Bu Ratih, ibunya.


Ranum segera membalas pesan tersebut. Ia sampaikan bahwa dirinya masih di sekolah.


[Boleh telepon?]


“Deg!” Jantung Ranum tiba-tiba berdetak tak beraturan. Tak bisa dibayangkan jika harus bicara di telepon saat ini, chat saja dia bingung tiap kali akan membalasnya.


Berada di sekolah menjadi alasan yang tepat untuk menolak telepon Zaviyar. Dan lagi, tidak mungkin ia akan berbincang dengan dosen tampan itu di depan rekan kerja juga ibunya.


Ranum yang merasa tidak enak hati menolak permintaan telepon Zaviyar, akhirnya bertanya tentang kegiatan hari itu. Pemuda dari kota pahlawan itu pun mengatakan bahwa dirinya masih di rumah, karena hari itu jadwal ke kampus sore hari.


[Kalau gitu mending mas Zaviyar istirahat aja dulu sebelum ke kampus] saran Ranum.


Zaviyar yang memang merasa lelah, menerima saran Ranum. Namun, tetap saja ia mengingatkan gadis itu untuk berhati-hati dan tak lupa memberi kabar.


[Insya Allah]


[Kok Insya Allah, Ra?] Hanya emotikon senyum yang dikirim Ranum untuk membalas pesan Zaviyar.


Zaviyar dengan pikirannya yang sudah dipenuhi Ranum, memilih menutup laptopnya lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Bayangan Ranum terus menari-nari dalam benaknya.


Saking lelahnya, perlahan Zaviyar mulai memejamkan mata. Waktu dzuhur tiba saat ia masih terbuai dalam tidur siangnya, hingga Bu Dini menyentuh lengan dan membangunkannya.


“Jam berapa, Bun?” Zaviyar mengerjap.


“Dua belas siang. Kamu tidur kayak orang pingsan gitu.”

__ADS_1


Zaviyar tak menjawab, dia bangun dan duduk di tepi ranjang, lalu melihat ke arah bundanya dengan mengernyitkan kening.


“Zaviyar kecapekan, Bun tadi.”


“Tumben? Baru dari desa aja kecapekan, padahal perjalanannya juga gak jauh-jauh amat. Itu yang capek badannya apa hatinya?”


“Bunda, apa sih?”


“Itu juga.” Bu Dini yang berjalan keluar dari kamar Zaviyar membalikkan badan dan menunjuk ponsel di tangan putranya. “Kok tidur sambil pegang ponsel? Biasanya kalau mau tidur gak mau tuh deket-deket.” Godanya sambil tersenyum.


Zaviyar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Oh ya, Zav.” Bu Dini kembali membuka pintu kamar Zaviyar.


“Apalagi, Bun?”


“Ponsel kamu tadi bergetar, tuh. Coba cek, mungkin bisa hilangin capek kamu.” Bu Dini langsung menutup pintu dan turun meninggalkan Zaviyar dengan tawa kecil.


Zaviyar yang mendengar itu, langsung mengangkat ponsel di tangannya. Satu pesan dari Ranum dia terima, mengabarkan kalau dirinya sudah kembali ke rumah dengan selamat.


Tanpa menunggu lama, jemari tangan Zaviyar dengan cepat membalas pesan Ranum. Bertanya kembali tentang laporan yang sudah dikerjakan.


Setelah membalas pesan Ranum, Zaviyar segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri lalu melaksanakan kewajibannya. Ponsel kembali disambar usai mengerjakan shalat.


Tugas Ranum ternyata belum selesai. Ada beberapa perubahan pada data yang telah dibuat. Mau tidak mau, ia harus merevisi laporannya.


Zaviyar tersenyum membaca pesan Ranum yang diakhiri emotikon cemberut. Ia juga senang karena gadis itu sepertinya mulai terbiasa dengan dirinya.


Ingat jika Ranum sudah di rumah, Zaviyar memilih menghubungi langsung. Tanpa membalas pesan lagi.


"Kenapa suaranya gitu?" tanya Zaviyar


"Capek! Ngulang lagi."


"Sabar, emang pasti ada saja yang begitu. Kapan deadline-nya?"


"Tiga hari lagi, Mas."


"Sanggup?"


"Harus."


"Bagus. Kalau butuh bantuan, bilang aja siapa tau aku bisa bantu."


"Gimana mau bantu, aku di sini, mas di Surabaya," ucap Ranum kesal. Sedangkan Zaviyar tersenyum lebar.


Tanpa sadar Zaviyar memanggil dirinya ‘mas’, bukan lagi ‘aku’ seperti sebelumnya.


"Mas Zaviyar kok nyebut diri sendiri mas?"


Zaviyar menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, memikirkan alasan agar Ranum tidak curiga. Dia takut Ranum akan menjauh jika Zaviyar berkata jujur, dan sebenarnya dia sendiri masih belum yakin dengan perasaannya. Belum juga Zaviyar membalas, Ranum kembali bertanya.


"Mas Zav capek, ya?"


"Gak juga, cuma baru bangun tidur aja." Zaviyar memberi alasan.


Ranum yang mendengar itu, menoleh ke arah jam dindingnya terpasang. Ia pun mengingatkan Zaviyar untuk segera ke kampus.


“Ya Allah.” Zaviyar menepuk keningnya. Cepat-cepat ia mengakhiri telepon dengan Ranum.


Zaviyar segera bersiap, berganti pakaian dan memasukkan laptop, buku dan keperluan lainnya. Waktu menunjukkan pukul 13.30, tak terasa ternyata dia menghabiskan waktu cukup lama untuk berbincang dengan Ranum.


Zaviyar segera keluar dan turun mencari sang Bunda. Ia pamit untuk segera berangkat, namun Bu Dini memintanya makan siang terlebih dahulu sebelum berangkat ke kampus. Zaviyar melahap makanannya dengan cepat kemudian bergegas menuju kampus. Bu Dini yang melihat putranya tergesa-gesa hanya geleng-geleng kepala.


Butuh waktu sekitar dua puluh menit dari rumah ke kampusnya. Tepat pukul 15.00 Zaviyar sampai di kampus. Rencana yang semula ingin berangkat lebih awal untuk menyiapkan materi kuliahnya yang tertunda, lagi-lagi gagal begitu saja karena hati dan kepala yang sudah penuh dengan Ranum.


Zaviyar berjalan menuju ruang dosen dan duduk di meja kerjanya. Iia membuka laptop melihat materi kuliah yang akan disampaikan. Masih sedikit amburadul. Namun, itu bukan masalah besar bagi dosen muda itu. Meski sedikit panik.


Bukan Zaviyar namanya jika dia tidak bisa melakukan improvisasi dalam penyampaian materi kuliahnya. Ia merupakan sosok dosen yang cukup diperhitungkan. Tegas, tapi tidak ada mahasiswa yang merasa tertekan saat Zaviyar masuk ruang kuliah. Mereka justru selalu bersemangat terutama mahasiswa perempuan.


Sore itu, Zaviyar mengisi kuliah dari pukul 16.00 hingga 17.30. Seperti biasa, Zaviyar menyampaikan materi dengan baik dan diterima baik pula oleh mahasiswanya. Sesi tanya jawab pun diberikan oleh Zaviyar kepada para mahasiswa hingga waktu perkuliahan selesai.


Zaviyar keluar dari ruang kuliah diikuti para mahasiswanya, dia berjalan menuju ruang dosen dengan senyum sapa pada semua yang dilewati. Ia juga dikenal cukup ramah, baik dikalangan sesama dosen maupun mahasiswa. Namun, hari ini, keramahannya itu terlihat berlebihan dan itu disadari oleh Radit, teman Zaviyar yang juga menjadi dosen di sana.


Dua dosen tampan itu saling tegur sapa. Kemudian Radit juga menegur Zaviyar yang nampak aneh hari itu. Ia mengingatkan kalau cara Zaviyar menyapa mahasiswa terlalu berlebihan.


“Bapak Zaviyar yang memang ganteng. Untuk ukuran ramah antara dosen dan mahasiswa, ramahmu tadi kelewatan. Senyum kamu terlalu lebar kalau sekedar buat menyapa mahasiswa. Itu senyum lebih pas buat orang yang lagi kesemsem sama cewek.” Goda Radit.


“Ngaco kamu.”


Radit kembali berceramah. Dengan gamblang ia mengatakan keanehan sikap Zaviyar yang tiba-tiba merubah jadwal. Bahkan Radit juga mengecek langsung dengan menghubungi salah satu mahasiswa yang sedang KKN. Memastikan tidak ada kegiatan yang memberatkan hingga Zaviyar harus menambah waktu menginap.


Zaviyar hanya mendengarkan ocehan temannya sambil terus berjalan. Bukan ia ingin mengelak, tapi lebih tepatnya tak punya jawaban yang pas untuk menanggapi omongan teman yang sudah seperti saudara itu.


"Jadi, kalau Pak Zaviyar Raffasya Hafiz sampai menunda jadwal pulang pasti ada sesuatu. Dan itu muka yang berbunga-bunga pasti karena bunga desa yang kau temui di sana," ungkap Radit panjang dan penuh penekanan.


“Udah adzan, sholat dulu biar otak kamu bersih gak mikir ke mana-mana.” Zaviyar mengelak.


Sesampainya di ruang dosen, Zaviyar dan Radit segera mengemasi barang-barang mereka lalu menuju masjid kampus untuk menunaikan sholat maghrib sebelum nantinya pulang. Karena hari ini dua sahabat itu memang tidak ada jadwal kuliah malam, sehingga mereka bisa bergegas pulang.

__ADS_1


“Setelah ini langsung pulang, Zav?” tanya Radit.


“Iya, emang kenapa?”


“Gak mau jalan dulu? Makan kek atau apa gitu, kali aja ada yang mau diceritain.”


“Gak ada!”


“Gak usah sok cool depanku, kita temenan udah lama, Bro. Aku udah hafal banget gimana kamu, mau ditutupin pakai apapun juga, bakalan ketahuan. Terserah mau kamu cerita sekarang atau nanti, yang jelas kamu harus ingat, aku selalu mendukungmu. Udah waktunya juga kamu dapet jodoh." Radit merangkul pundak sahabatnyabitu.


"Mumpung belum karatan," tambah Radit dengan tawa yang semakin pecah.


“Kamu ngomong yang bener dong. Temen sendiri dibilang karatan.”


“Ya kalau lama-lama gak nikah, makin tua. Akhirnya karatan juga.”


Zaviyar geleng-geleng kepala mendengar ledekan Radit. Sama halnya dengan Ranum, Zaviyar merupakan dosen muda di kampusnya dan belum menikah. Berbeda dengan Radit, dia sudah menikah semenjak dua tahun yang lalu.


Dua sahabat itu berjalan menuju ruang dosen untuk mengambil barang-barang mereka kemudian keluar ke tempat parkir dan pulang ke rumah masing-masing.


Tiba di rumah, Zaviyar mendapati kedua orang tuanya sedang bersantai di ruang TV.


“Udah di rumah, Yah?” sapa Zaviyar usai mengucap salam.


“Udah, maghrib tadi sampai rumah. Kamu tadi jam berapa sampai sini?”


“Kurang lebih jam sembilan.” Zaviyar meletakkan tasnya di meja dan duduk di samping ayahnya. “Itu usaha mebel Ayah gimana? Ayah gak mau buka lebih pagi?”


“Kasian yang jaga dan pekerjanya juga kalau pagi-pagi, Zav, belum lagi yang perempuan. Mereka punya keluarga dan rumahnya juga agak jauh dari tempat kerja.. Jadi, Ayah gak mau membebani mereka lebih berat lagi. Kalau Ayah buka lebih pagi berarti harus bisa nambah gaji mereka.”


Pak Qosim memiliki usaha mebel sejak muda, dan kini usahanya itu sudah berkembang dengan baik. Satu hal yang berbeda dari ayah Zaviyar dengan kebanyakan orang yang memiliki usaha. Di saat orang lain pagi-pagi sudah berebut lebih dulu membuka tempat usahanya, beliau justru lebih memilih membukanya lebih siang dengan alasan tidak ingin membebani karyawannya. Apalagi sampai harus meninggalkan pekerjaan rumah bagi karyawan perempuan, yang menurut beliau pekerjaan rumah bagi seorang wanita jauh lebih penting.


“Benar juga kata Ayah. Inget Zaviyar sendiri kalau harus berangkat ke kampus pagi-pagi, kalang kabut.”


“Kamu udah makan, Nak?” sela Bu Dini.


“Belum, Bun.”


“Ya udah, bunda siapkan dulu, kamu bersihkan badan dan ganti baju. Setelah ini kita makan sama-sama.” Bu Dini segera berdiri dan pergi ke dapur menyiapkan makan malam. Pak Qosim, Ayah Zaviyar meminta Zaviyar ke kamar terlebih dulu.


Zaviyar mengangguk, ia bergegas pergi ke kamar. Tak lama, Zaviyar turun dan langsung menuju meja makan. Di sana Pak Qosim dan Bu Dini sudah menunggunya untuk makan malam. Selama makan malam berlangsung tidak ada yang bersuara, hanya denting sendok dan piring yang terdengar. Namun, netra Pak Qosim dan Bu Dini beberapa kali menangkap keanehan dari wajah putra tunggalnya itu. Pak Qosim yang merasa aneh dengan putranya itu, menatap Bu Dini dengan penuh tanya, tapi sang istri hanya membalas dengan senyum.


Kebiasaan keluarga kecil ini berkumpul di depan TV sejenak, usai makan malam. Meski kadang tidak ada yang menarik, mereka selalu menyempatkan waktu untuk berkumpul bersama sekedar ngobrol atau bercanda. Namun, kali ini Zaviyar memilih untuk langsung kembali ke kamar.


“Mau ke mana, Zav?” tanya Pak Qosim.


“Ke kamar, Yah.”


“Lho, gak di sini dulu seperti biasa?” ucap Pak Qosim yang sudah duduk di depan TV.


Zaviyar menjawabnya dengan senyuman. Kemudian melangkah menapaki anak tangga menuju kamar. Persis abege yang dimabuk cinta.


Pak Qosim yang heran, kembali menatap Bu Dini. Berharap mendapat jawaban atas sikap aneh sang putra.


“Zaviyar baik-baik aja, malah jauh lebih baik sejak pulang dari desa," ujar Bu Dini yang baru berjalan dari dapur. “Jadi, biarkan dulu, Yah. Anak kita udah dewasa," pungkas Bu Dini pada Pak Qosim sambil mengedip-ngedipkan mata.


“Maksud bunda apa? Yakin Zaviyar gak apa-apa? Gak biasanya tuh.”


“Ayah gak ngerti juga setelah lihat raut bahagia di wajah Zaviyar sejak makan tadi?”


Pak Qosim mengerutkan kening. “Nah, itu juga yang buat Ayah bingung. Dari tadi kok kelihatan seneng banget tuh anak kayak orang baru dapat arisan," ujarnya.


“Kalau itu mah, Bunda yang seneng, Yah.”


“Lah, terus? Ada apa sama anak lanang kita satu-satunya itu?”


“Mungkin sebentar lagi anggota keluarga kita bakal nambah, Yah.”


“Maksud bunda?”


“Mantu, Yah. Mantu. Duh, gitu aja gak ngerti. Dasar emang laki-laki.” Bu Dini beranjak meninggalkan Pak Qosim di depan TV.


“Bener, Bun? Bun, jangan tinggalin Ayah sendiri dong.”


Tanpa menjawab, Bu Dini terus saja berjalan masuk kek kamar.


***


Di dalam kamar, Zaviyar yang sedari tadi sudah terbayang wajah Ranum cepat-cepat meraih ponselnya.


[Assalamu’alaikum. Maaf baru hubungi, tadi setelah pulang makan malam dulu sama Ayah dan Bunda] Satu pesan dikirim.


Beberapa menit berlalu, sambil menunggu balasan, Zaviyar terlebih dulu melakukan sholat Isya’. Selesai sholat dan berdo’a, Zaviyar menuju nakas mengambil ponsel dan membukanya sembari berjalan ke meja kerjanya. Saat membuka pesan yang ia terima, Zaviyar merasa aneh.


[Gak nanya!] Pesan balasan yang Zaviyar terima.


“Astaghfirullohal ‘adziim.” Zaviyar memukul keningnya melihat nama pengirim pesan tersebut. Radit, nama yang tertera di layar ponselnya.


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2