
Empat hari berlalu begitu cepat. Saat ini jam di pergelangan tangan Ranum menunjukkan pukul 06.39 waktu setempat. Ranum sedang menikmati sebatang rokok ditemani kopi paginya di halaman belakang rumahnya. Ranum melamun, dia memikirkan hal yang terjadi beberapa hari terakhir di Antipodes island.
“Hei.” Chen menyapa, memecah lamunan Ranum.
“Eh, hai.” Ranum balik menyapa, segera mematikan rokoknya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Chen bertanya.
“Tidak, aku tidak memikirkan apapun.” Ranum menyeruput kopinya.
“Sedari kamu tiba disini, kamu selalu tidak fokus dan banyak melamun. Kamu tidak perlu menutupi apapun, ceritakanlah. Aku akan mendengarkan.” Chen tersenyum menatap Ranum.
Ranum diam sejenak. “Apa yang kamu rasakan ketika seorang pria menolak cintamu berkali – kali ?” Ranum menatap Chen.
Chen tertawa. “Kamu sedang jatuh cinta? Siapa yang menolakmu? Apa kamu saat ini sedang patah hati?”
Ranum menggeleng. “Jawab pertanyaanku.”
“Itu pasti sangat menyakitkan, tidak akan ada manusia yang bisa menahan penolakan berkali – kali. Kecuali wanita itu cukup gila dalam mencintai seorang pria. Jika wanita itu berani terus terang tentang perasaannya pada seorang pria dan dia lakukan itu berulang kali, itu benar – benar kadar cinta yang luar biasa.” Chen tertawa kecil. “Aku rasa zaman sekarang sudah tidak ada wanita yang bisa mencintai seorang pria seperti itu.” Lanjut Chen berkata.
“Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu sudah lelah dengan penolakan – penolakan yang kamu terima dari seorang pria?” Ranum bertanya.
__ADS_1
“Apa kita sedang membicarakan tentang aku?” Chen menyelidik.
Ranum menggeleng. “Bukan. Jawab saja pertanyaanku.”
“Aku akan pergi dan menjauhi pria itu. Tidak peduli seberapa besar rasa cinta yang aku miliki untuknya. Pun nantinya rasa itu akan sirna dengan sendirinya.” Chen tersenyum. “Aku tidak pernah percaya dengan yang namanya cinta. Kamu pikir semua orang yang sedang memiliki pasangan bahagia dengan pasangannya? Apa kamu pikir semua orang selalu bahagia saat mereka memiliki pasangan? Kamu pikir setiap orang yang sudah menikah masih ada cinta diantara mereka?” Lanjut Chen bertanya.
Ranum mengangkat bahunya, tidak tahu.
“Cinta itu hanya omong kosong Ranum. Sejatinya, tidak ada manusia yang benar – benar mengerti arti cinta yang sebenarnya. Pada umumnya sepasang kekasih hanya bisa bahagia di awal hubungan mereka saja, sisanya hanya mencoba bertahan agar hubungan mereka tidak hancur dengan banyak pertimbangan. Untuk orang yang sudah berpacaran cukup lama, mungkin mereka sudah tidak bahagia satu sama lain, tapi mereka tidak berani memutuskan hubungan hanya karena sudah lama berpacaran, atau sudah tidak tahu bagaimana caranya menjalin hubungan baru, atau karena pertimbangan lainnya yang berlandaskan ketakutan. Bagi orang yang sudah menikah dan ketika mereka sudah tidak bahagia dengan pernikahannya mereka sangat takut bercerai dengan banyak alasan, karena sudah memiliki anak, tidak enak dengan keluarga, takut menjadi bahan omongan orang lain, merasa sudah terlalu tua dan merasa tidak akan ada lagi yang mau bersamanya, dan alasan – alasan lainnya. Sejatinya cinta itu tidak pernah ada.” Chen menjelaskan.
Ranum menyeruput kopinya. “Aku cinta dengan istriku. Kami mencintai satu sama lain, selama aku menikah dengan Miranda aku tidak pernah merasa bosan sedikitpun. Aku benar – benar bahagia bersamanya. Hingga saat ini aku masih tetap mencintainya.”
Chen tersenyum lembut menatap Ranum. “Aku paham, aku juga melihat ketulusanmu itu. Tapi apa yang kamu rasakan itu sebenar – benarnya makna cinta?” Lanjut Chen bertanya.
Chen menggeleng. “Aku tidak tahu Ranum. Aku yakin manusia paling jenius di dunia juga tidak akan bisa menjelaskan sejatinya apa itu cinta.” Chen diam sejenak, berpikir. “Misalnya begini, aku melihatmu dari kejauhan kemudian aku mulai tertarik lalu mengajakmu untuk berkenalan. Setelah itu kita mulai dekat, masing – masing dari kita mulai kasmaran. Lalu kita mulai merasa “Jatuh cinta” satu sama lain, kita menyatakan perasaan satu sama lain, setelah itu kita berkomitmen untuk memiliki suatu hubungan yang di sebut “pacaran” atau jika yang lebih serius kita sebut “menikah”. Itu siklus yang normal untuk menjalin suatu hubungan bukan?” Chen bertanya ke Ranum.
Ranum mengangguk. “Mungkin.”
“Baik, sebenarnya kamu bisa terpikat saat melihat seseorang itu karena reseptor opiod di dalam otakmu sedang bekerja, sama seperti ketika tubuhmu di beri obat pereda nyeri, morfin. Sebenarnya reseptor itulah yang memutuskan kamu untuk menyukai atau tidak menyukai suatu hal. Sedangkan pada saat kamu melakukan pendekatan dengan lawan jenis, tubuhmu memicu produksi hormon dopamin, adrenalin, dan norepinefrin. Yang dimana hormon – hormon tersebut yang dapat memunculkan euforia atau perasaan gembira, antusias, tegang, gugup, sulit tidur, lebih perhatian dan lain sebagainya. Apa semua itu yang disebut “jatuh cinta”? Atau hanya proses kimiawi normal dalam tubuh? Tapi yang harus kamu tahu, seiring berjalannya waktu, setelah kamu mendapatkan lawan jenis yang kamu inginkan, semua hormon itu akan berkurang, mungkin sulit di produksi oleh tubuhmu lagi, dan mulai melihat pasangan kita menjadi tidak semenarik dulu, merasa bosan, merasa kesalahan kecil yang di perbuat pasangan kita adalah kiamat, merasa sudah tidak ada “cinta” lagi dan lain sebagainya.”
“Jadi apa maksudmu sebenarnya?” Ranum bertanya.
__ADS_1
“Ya intinya cinta itu mungkin saja memang tidak pernah ada. Cinta hanya kambing hitam dalam sebuah hubungan, saat kamu tertarik dengan seseorang kamu akan mengatakan cinta. Saat kamu sudah tidak tertarik kamu akan bilang bahwa kamu sudah tidak cinta. Padahal dibalik “tidak cinta” itu mungkin banyak faktor lain, mungkin tubuhmu sudah tidak memproduksi hormon – hormon yang aku sebutkan tadi saat bersama pasanganmu atau mungkin hormonmu itu muncul tapi untuk orang lain. Mengucapkan “cinta” itu sangat – sangat mudah dibanding mempertahankan “cinta” tersebut. Contohnya saat kamu memiliki pasangan, kemudian kamu bertemu dengan wanita lain, kamu mulai menyukai wanita tersebut, dan hormon – hormon tadi mulai kembali terbentuk. Kamu akan bilang wanita baru itu jauh lebih menarik di banding pasanganmu yang sudah lama kamu kenal. Padahal ketertarikanmu itu hanya karna kamu masih penasaran dengan wanita baru tersebut, kamu ingin mengetahui kehidupannya seperti saat kamu berkenalan dengan pasanganmu dulu. Tapi karena kamu sudah mengetahui segala hal tentang pasanganmu dan kamu sudah tidak memiliki hal untuk di gali lagi dari pasanganmu, itu membuat kamu sudah tidak tertarik dengan pasanganmu dan mencari suntikan adrenalin baru dengan berselingkuh dan lain semacamnya dengan wanita baru. Setiap orang pasti jauh lebih menyenangkan saat pertama kali bertemu, saat sedang kasmaran, saat sedang proses mendapatkan orang tersebut. Sisanya akan biasa saja mungkin juga bisa lahir kebencian.”
Ranum mengangguk pelan, mulai mengerti maksud Chen. “Lalu sebenarnya apa yang aku rasakan ke Miranda?” Lanjut Ranum bertanya.
“Simpel.” Chen tersenyum. “Kamu selalu mencoba hal baru, selalu mencoba cara baru, selalu mencoba untuk menemukan sesuatu yang selalu bisa menjaga dan mempertahankan hormon - hormon itu selalu ada untuk Miranda. Apa saja yang dulu sering kamu lakukan bersama Miranda atau untuk mempertahankan hubungan kalian?” Lanjut Chen bertanya.
“Semuanya, aku melakukan segala hal bersama istriku. Aku sering menonton film dan serial romantis walaupun aku membencinya, aku selalu meluangkan waktu untuknya sesibuk apapun aku, aku selalu berusaha memiliki waktu bersama Miranda di akhir pekan untuk liburan ke suatu tempat, mandi bersama, tidur bersama, makan bersama, membersihkan rumah bersama, selalu bercinta minimal sekali dalam satu minggu, selalu menciumnya, selalu memeluknya, selalu menghubunginya walaupun sedang bekerja, selalu mencari hal baru untuk dilakukan seperti yang kamu bilang, tidak jarang aku berseluncur diinternet untuk menemukan hal – hal menarik yang bisa aku lakukan bersama istriku, aku selalu memandanginya saat dia tertidur, ini adalah bagian kesukaanku, Miranda semakin cantik ketika tidur. Dan lain sebagainya, selama aku bisa melakukannya untuk mempertahankan hubungan kami.” Ranum menjelaskan.
Chen menjentikkan jari. “Itu jawabannya kenapa kamu selalu setia dengan istrimu. Kamu selalu berusaha agar hubungan kalian tetap ada. Dimanapun kalian berada, kapanpun waktunya, bagaimanapun kondisi kalian, apapun situasinya kamu tetap mempertahankan hubungan kalian. Itu yang membuat kamu sangat “mencintai” Miranda. Mungkin arti “cinta” sesungguhnya adalah untuk orang – orang sepertimu. Walaupun terkadang di beberapa hubungan ada yang sudah berjuang mati – matian tapi tetap bertepuk sebelah tangan.” Chen tersenyum. “Miranda sangat beruntung bisa memilikimu. Sangat jarang pria sepertimu. Normalnya manusia akan mudah tertarik saat menemukan orang baru. Dan jujur kamu adalah orang pertama yang menolakku. Berkali - kali.” Chen tersenyum menatap bunga – bunga di halaman tersebut. “Miranda pasti sangat bangga melihatmu dari surga.”
Halaman belakang itu lengan sejenak. “Oh iya malam ini jadwal untuk mengecek kandunganmu kan?” Ranum bertanya, memecah lengang.
Chen mengangguk.
“Aku akan keluar sebentar untuk mengisi bensin, aku lupa mengisi bensin saat kembali kesini.” Ranum beranjak dari kursinya.
“Pom bensin searah dengan rumah sakit, sebaiknya kita beli saat perjalanan menuju rumah sakit saja.”
“Aku juga harus membeli rokok.” Ranum menunjuk rokoknya yang ada di asbak.
“Kalau begitu aku ikut.” Chen berdiri perlahan sambil memegang tangan Ranum.
__ADS_1
“Jangan merepotkan.” Ranum berbicara datar.
Chen mengangguk, tersenyum.