Ranum

Ranum
PANTOON


__ADS_3

Ranum memesan sebuah taksi untuk membawa semua barang belanjaannya, karena mobil yang dibawa Ranum tidak memiliki ruang yang cukup untuk membawa semua barang tersebut. Kemudian Ranum membawa Claire dan Kaitlyn ke restoran Pantoon St Kilda Beach. Ranum segera keluar menemui supir taksi. “Tuan, kita akan makan terlebih dahulu, anda ikutlah makan bersama kami. Biarkan taksimeternya tetap hidup.” Ranum berbicara ke supir taksi yang membawa barang belanjaannya.


“Terima kasih banyak tuan.” Supir taksi itu tersenyum.


Ranum mengangguk, membalas senyuman supir taksi itu. Ranum kembali ke mobilnya untuk menjemput Claire dan Kaitlyn. “Kita akan makan dulu disini.” Ranum membukakan pintu untuk Claire sambil menggendong Kaitlyn dari kursi belakang.


Salah satu security menghampiri Ranum. “Selamat sore tuan, apa anda sudah memesan tempat?” Security itu bertanya ke Ranum.


“Belum.” Ranum menjawab singkat.


“Maaf anda tidak bisa makan di restoran ini tuan, karena tempat ini sudah penuh.” Lanjut security itu.


Ranum tersenyum, meraih ponsel yang ada di sakunya untuk menghubungi seseorang. Kurang dari lima menit percakapan Ranum di telepon sudah selesai. Dari pintu utama restoran terlihat seorang pria menggunakan jas berlari sangat cepat ke arah Ranum. “Nama saya Heath tuan, saya manager di restoran ini.” pria yang mengenakan jas itu menjulurkan tangannya. Ranum menjabat tangan pria tersebut.


“Maafkan karyawan kami tuan Ranum. Barusan tuan Russell sudah menghubungi dan menjelaskan kepada saya, sekali lagi maafkan kami tuan Ranum.” Heath menunduk.


“Tidak masalah.” Ranum menepuk pundak manager restoran tersebut.


“Mari saya antarkan ke meja anda tuan Ranum.” Manager itu memandu Ranum dan yang lainnya masuk ke dalam restoran.


Semua pengunjung keluar dari restoran tersebut, tidak sedikit yang marah – marah. Ranum bingung melihat keadaan tersebut. “Apa yang terjadi tuan Heath?” Ranum bertanya, bingung.


“Tuan Russell menyuruh saya untuk mengosongkan restoran ini untuk anda tuan.” Heath menjelaskan.


“Russell selalu berlebihan seperti biasanya.” Ranum tersenyum.


“Tuan Russell bilang bahwa anda adalah tamu istimewanya, jadi beliau tidak ingin mengecewakan anda.” Heath berkata.


“Kamu ingin duduk dimana tuan putri?” Ranum yang dari tadi menggendong Kaitlyn bertanya.


“Bisakah kita makan disana?” Kaitlyn menunjuk area outdoor restoran tersebut.


“Tentu saja bisa tuan putri.” Ranum tersenyum. “Tuan Heath, saya akan memakai meja yang berada di luar.” Lanjut Ranum berbicara ke Heath.


“Baik tuan Ranum, kami akan memindahkan meja besar beserta kursinya ke luar.” Heath menjawab.


Ranum menurunkan Kaitlyn. “Pilihlah tempat yang kamu suka.” Lanjut Ranum berbicara ke Kaitlyn.


Kaitlyn langsung berlari ke arah pohon kelapa.


“Letakkan disana tuan Heath.” Ranum berbicara.


“Baik tuan.” Heath mengangguk, segera menyuruh beberapa karyawan restoran tersebut untuk memindahkan meja dan kursi ke dekat pohon kelapa.


“Apa kamu ingin bermain di pantai Kaitlyn?” Ranum bertanya.


Kaitlyn mengangguk.

__ADS_1


“Ayo, aku temani.” Ranum tersenyum menggandeng tangan mungil Kaitlyn. “Pesanlah makanan yang kalian inginkan. Termasuk anda tuan, pesan apapun yang anda inginkan.” Ranum berbicara ke Claire dan supir taksi tersebut.


“Apapun tuan?” Supir taksi itu bertanya, memastikan.


Ranum mengangguk, tersenyum. “Apapun.” Ranum segera menemani Kaitlyn bermain di pinggir pantai. Ranum membakar rokoknya, duduk di dekat Kaitlyn yang sibuk bermain air dan pasir.


Setelah memesan makanan Claire menghampiri Ranum, duduk di sebelahnya. “Terima kasih.” Claire berbicara.


“Untuk apa?” Ranum bertanya, mematikan rokoknya.


“Tidak perlu kamu matikan, asap itu tidak menggangguku.” Claire tersenyum. “Untuk semua yang sudah kamu berikan kepada kami.” Lanjut Claire menjawab pertanyaan Ranum.


“Ini bukan apa – apa. Kamu tidak perlu berterima kasih.” Ranum berbicara datar, memperhatikan Kaitlyn yang sibuk berlari dari kejaran ombak.


“Kamu baru mengenal Kaitlyn, tapi perhatianmu padanya melebihi ayahnya.”


Ranum menatap Claire serius. “Jangan pernah katakan hal seperti itu. Bagaimanapun perilakunya, dia tetap ayah dari anakmu. Aku tidak lebih baik darinya. Seperti yang kamu bilang, aku baru mengenal kalian, jadi kalian tidak bisa menilaiku.”


Claire terdiam.


“Sebenarnya apa yang selalu membuat kalian bertengkar?” Ranum bertanya sambil tetap mengawasi Kaitlyn. “Kamu tidak perlu menjawab pertanyaanku jika menurutmu aku tidak perlu mengetahuinya.” Lanjut Ranum berkata.


“Sebenarnya dia mulai sibuk dan menjadi kasar setelah pindah kerja di perusahaan barunya. Dia selalu pulang ke rumah dengan wajah masam, semua masalah sepele bisa membangkitkan amarahnya. Dia tidak pernah lagi memiliki waktu untuk keluarganya dan tidak pernah mau mendengarkan ucapanku. Setiap aku mencoba untuk menjelaskan atau menceritakan sesuatu selalu bisa memancing amarahnya, walaupun alasanku bercerita untuk menghiburnya.” Claire menunduk.


“Apa kamu sudah menyuruhnya untuk mencari pekerjaan lain?” Ranum kembali bertanya.


“Apa alasan perusahaan – perusahaan itu tidak menerima suamimu?” Ranum bertanya.


“Suamiku hanya tamatan sekolah menengah atas, jadi cukup sulit untuk bekerja di perusahaan yang diinginkannya.” Claire menjelaskan.


Ranum hanya diam mendengar penjelasan Claire. “Aku harus kesana sebentar.” Ranum menunjuk sisi lain pantai. Claire mengangguk.


Ranum menghubungi Gabriel.


“Ada yang bisa saya bantu Tuan Muda?” Suara Gabriel terdengar di ujung telepon.


“Apa perusahaan tambang kita masih memiliki tempat kosong untuk karyawan baru?”


“Masih ada Tuan Muda, tapi hanya di pertambangan minyak bumi dan gas.”


“Itu lebih baik. Tolong kalian cari data keluarga Langford yang tinggal di komplek perumahan swinton avenue. Nama istrinya Claire Langford. Berikan pekerjaan di tambang itu untuk suaminya.”


“Siap, akan saya laksanakan Tuan Muda.”


“Semua prosedur penerimaan karyawan tetap dijalankan untuk formalitas. Yang penting pria ini harus bekerja di perusahaan kita.” Lanjut Ranum menegaskan.


“Baik Tuan Muda.”

__ADS_1


Ranum mengangguk, mematikan ponselnya.


Ranum menghampiri Claire. “Sebaiknya kita kembali, aku rasa makanan kita sudah siap.” Lanjut Ranum berbicara ke Caire.


Claire mengangguk. Ranum segera menghampiri Kaitlyn. “Ayo kita harus cepat menghabiskan makanan kita sebelum burung – burung itu memakan makanan kita.” Ranum menunjuk burung camar yang terbang di pantai.


“Ayo cepat.” Kaitlyn heboh berlari ke arah restoran, Ranum mengikuti dari belakang.


Mereka menyantap semua hidangan dengan lahap. Ranum memangku Kaitlyn sambil menyuapi anak kecil itu. Mereka melakukan obrolan ringan, sesekali menghadirkan tawa.


Dua puluh menit telah berlalu, mereka sudah selesai menyantap sebagian hidangan. “Bagaimana Kaitlyn, apa kamu suka makanan disini?” Ranum bertanya.


Kaitlyn tersenyum lebar, mengangguk – angguk.


“Mana saja yang kamu suka?” Ranum kembali bertanya.


Kaitlyn menunjuk piring bekas ice cream, chocolate mousse dan apple & rhubarb crumble.


“Apa kamu mau lagi?” Ranum bertanya.


Kaitlyn mengangguk.


“Baiklah kita akan pesan untuk dibawa pulang oke?”


“Oke.” Kaitlyn tersenyum hingga gigi mungilnya terlihat sambil mengacungkan jempol.


Ranum menemui pelayan dan memesan beberapa hidangan untuk di bawa pulang. Lima belas menit berlalu, semua pesanan Ranum sudah siap. Ranum membayar semuanya, termasuk membayar kerugian yang dia ciptakan akibat mengusir seluruh pengunjung restoran tersebut. Setelah semuanya beres, Ranum segera mengantar Claire dan Kaitlyn pulang. Ranum turun dari mobilnya, melangkah menuju taksi yang ada di belakang mobilnya sambil membawa beberapa paper bag yang berisi makanan. “Ini untuk keluargamu tuan dan ini untuk uang taksinya.” Ranum memberi paper bag yang berisi makanan tersebut dan sejumlah uang. “Ambil saja sisanya. Terima kasih sudah menemani kami hari ini.” Ranum tersenyum.


“Terima kasih banyak tuan.” Supir taksi itu segera membawa barang – barang milik Claire dan Kaitlyn ke depan pintu rumah mereka.


Ranum berpamitan dengan Claire dan Kaitlyn. “Aku harus segera pulang, ini sedikit makan malam untuk kalian.” Ranum memberikan beberapa paper bag berisi makanan ke Claire. “Aku pulang dulu ya tuan putri.” Lanjut Ranum mencubit pipi Kaitlyn.


“Terima kasih banyak Ranum.” Claire tersenyum.


“Tidak masalah.” Ranum menjawab datar.


“Kapan kita bisa bertemu lagi Ranum?” Kaitlyn bertanya.


“Kamu tahu kan kalau aku orang sibuk?” Ranum tertawa kecil menatap Kaitlyn.


Kaitlyn mengangguk, wajahnya terlihat sedih.


“Aku tidak bisa menjanjikan apapun, tapi aku akan mengirimkan bunga gerbera baru untukmu. Jadi setiap kamu merindukanku, tataplah bunga – bunga itu. Oke?” Ranum mengedipkan mata kanannya.


“Oke.” Kaitlyn tersenyum lebar, gigi mungilnya terlihat.


Ranum mengangguk, tersenyum. Segera masuk ke mobilnya, memacu mobil itu ke rumahnya yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah Claire.

__ADS_1


__ADS_2