
Satu pagi yang terasa indah bagi dua insan yang tengah bergejolak karena rasa yang sedang bersemayam di hati mereka. Hari itu, menjadi awal dari perjalanan kisah mereka. Kisah yang mereka harap akan berujung bahagia.
Ranum kembali pada kesibukannya di sekolah, tanpa ia tahu ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya dari lantai dua gedung MTs yang berada di sebelah sekolahnya.
[Dari tadi kok mondar mandir terus? Gak capek apa?]
Ranum menghentikan langkahnya mendapati ponsel di saku seragamnya bergetar. Ia merogoh dan matanya menyipit saat membaca pesan WhatsApp yang diterima.
[Mas Zav di mana?]
[Di hatimu]
Blush ...
Pipi Ranum merona, bibirnya menahan senyum agar tidak terlihat orang lain.
[Ternyata pinter gombal juga]
[Mas Zav nggak pulang?]
Mata Ranum mulai mencari keberadaan lelaki yang membuat jantungnya dag dig dug tak karuan.
[Masih mau ketemu calon mertua]
Kembali Ranum dibuat salah tingkah dengan pesan singkat yang dikirimkan Zaviyar. Sedangkan lelaki yang tengah berdiri di depan salah satu ruang kelas untuk melihat kegiatan mahasiswa bimbingannya, sesekali menoleh ke arah Ranum dan tak mampu lagi menyembunyikan wajah bahagia, hingga salah satu pengajar melihatnya.
"Pak Zaviyar?" tegur Bu Cici dengan dahi berkerut melihat Zaviyar yang kadang senyum-senyum sendiri.
Panggilan Bu Cici sontak membuat Zaviyar kaget dan gugup.
"Iya, Bu. Maaf saya tidak menyadari kalau Bu Cici datang."
"Iya, Pak tidak apa-apa. Sepertinya ... saya tahu siapa yang sedang Pak Zaviyar perhatikan," ucap Bu Cici seraya tersenyum.
"Bu Ranum." Suara Bu Cici cukup keras dan Ranum yang berada di bawah pun menoleh ke arah suara itu.
Zaviyar semakin gugup mendengar Bu Cici memanggil nama gadis yang sedari tadi membuat bibirnya tak henti menyunggingkan senyum.
Ranum yang sudah melihat Bu Cici dan Zaviyar di lantai dua, mengembalikan ponselnya ke dalam saku.
"Ada apa, Bu?" tanya Ranum.
"Bu Ranum mau ke mana? Kalau gak ke mana-mana dan gak sibuk, sini aja temenin Pak Zaviyar," goda Bu Cici.
"Bu Cici aja yang nemenin, saya sedang sibuk."
Bu Cici melongok dari pagar pembatas di lantai dua, melihat ke arah Ranum yang berada di bawah dengan satu tangan menempel di samping bibir.
"Nggak takut saya embat, nih?" bisik Bu Cici namun masih bisa di dengar oleh Zaviyar.
"Silakan aja kalau berani. Paling nanti diseret sama bodyguard-nya."
__ADS_1
Bu Cici yang mendengar itu terkekeh. Zaviyar yang berdiri tak jauh dari Bu Cici hanya tersenyum berusaha menguasai kegugupan yang mendera. Sedangkan Ranum, tidak ada kecanggungan saat menanggapi semua ledekan teman kerjanya itu. Bagi gadis itu, bukanlah kali pertama ia diledek dan digoda tentang hal itu. Jadi, jika hanya guyonan semacam itu tidak akan mudah membuatnya gugup.
Berbeda saat ia harus berhadapan langsung dengan Zaviyar dan hanya berdua atau mendapat pesan singkat dari dosen muda kota pahlawan yang terasa manis baginya.
Jam sekolah pun usai, Ranum yang sudah lelah setelah sholat dan makan siang langsung menuju kasur di kamarnya. Baru saja merebahkan tubuh, layar ponselnya menyala dan bergetar. Ditekan tombol telepon berwarna hijau. Suara lelaki yang tidak lagi asing di telinga.
"Mas Zaviyar kok gak ngomong kalau hari ini nggak pulang?"
"Kenapa? Kamu maunya aku cepet pulang?"
"Ya, nggak gitu."
"Aku masih harus cek kegiatan anak-anak di sekolah. Kemarin, kan yang di TBM. Nah, tadi di sekolah. Insya Allah sore ini balik."
Zaviyar mengatakan rencana awalnya yang ingin ke rumah Ranum dan bertemu Bu Ratih. Namun, ada hal lain yang harus dikerjakan mengenai kegiatan mahasiswanya dan mengharuskan ia segera kembali ke Surabaya.
“Iya, nggak apa-apa, Mas. Lain kali masih bisa. Lagian kayaknya terlalu cepat juga kalau Mas ketemu Ibu sekarang.”
“Ya, nggak apa-apa, kenalan aja gitu biar Ibu tahu calon mantunya," canda Zaviyar.
Obrolan yang menyenangkan, membuat kedua insan itu lupa akan rasa capeknya. Hingga adzan Ashar berkumandang, barulah mereka mengakhiri sambungan telepon itu.
“Salam sama Ibu ya.”
“Ehm …."
“Kalau nggak mau nyampein, ya udah nggak apa-apa.”
“Okey. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam. Hati-hati kalau pulang.”
Sambungan pun benar-benar terputus. Ranum bangun dan beranjak keluar kamar menuju kamar mandi yang berada di dekat dapur. Ia membersihkan diri, berganti pakaian sambil menunggu Bu Ratih yang baru bangun dari tidur siangnya bersiap untuk sholat.
Di rumah yang tak jauh dari rumah Ranum. Zaviyar tengah mempersiapkan diri untuk segera kembali ke kotanya, Surabaya. Panggilan Sang Khalik telah ditunaikan. Lelaki modis itu sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja biru gelap dan celana jeans yang juga berwana gelap. Ia terlihat merapikan barang-barang, memasukkan ke dalam tas. Setelah semua beres, segera keluar kamar dengan ransel yang sudah di punggung dan beberapa map di tangan.
Zaviyar pamit pada Pak Tomo sekeluarga, serta mahasiswanya. Ia mengenakan sepatu sneakers yang lebih santai dan nyaman untuk pulang sore itu.
Zaviyar melangkah menuju mobil dan segera melajukannya pelan keluar dari halaman rumah Pak Tomo. Saat melewati rumah Ranum, lagi-lagi tanpa ada perintah atau aba-aba, kepalanya menoleh. Dan kali ini apa yang diharap terlihat sedang duduk di teras rumah.
Senyum terkembang di bibir Zaviyar. Lelaki itu meninggalkan desa dengan hati yang penuh kebahagiaan. Meski belum bisa sepenuhnya dimiliki, tapi ia tahu bahwa hatinya dan hati gadis pujaan memiliki rasa yang sama.
***
Waktu terus bergulir. Zaviyar dan Ranum hampir setiap hari bertukar kabar, baik melalui pesan whatsapp maupun panggilan telepon. Mereka pun semakin dekat, meski jarang bertemu. Tapi intensitas komunikasi yang mereka jalin membuat keduanya semakin mengenal satu sama lain.
Tak jarang orang tua Zaviyar ikut berbincang dengan Ranum melalui telepon. Bahkan kadang mereka meminta panggilan video agar bisa melihat wajah gadis yang telah menaklukkan hati putranya itu. Begitupun sebaliknya, terkadang Zaviyar meminta bicara pada Bu Ratih. Meski mulanya canggung dan tentu deg degan bagi keduanya, tapi lama-lama hal itu cukup menyenangkan dan menimbulkan rasa rindu.
Malam itu, selepas Ranum berbincang dengan Zaviyar melalui telepon. Satu pesan masuk melalui whatsappnya dari teman SMA yang sempat hilang kabar dan belum lama ini bertemu kembali. Ya, Aldi.
“Assalamu’alaikum. Besok sore kalau nggak ada acara, aku mau ke rumah kamu.”
__ADS_1
“Wa’alaikumussalam. Kok, mendadak sih?”
“Ya Allah, beneran ya emang. Sekarang kalau mau telepon, mau ke rumah kamu harus buat janji dulu gitu?”
“Bukan gitu, Al. Katanya kangen masakan Ibu, kalau mendadak ya masaknya seadanya.”
“Nggak masalah yang penting ketemu Ibu dan … kamu.”
“Okelah. Ditunggu.”
***
Hari berikutnya, Ranum menyampaikan pada Bu Ratih jika Aldi akan datang di sore hari dan beliau tidak keberatan dengan kedatangan teman putrinya itu yang memang sudah dikenal sejak lama.
Sepulang sekolah, Ibu dan anak itu menyiapkan beberapa makanan ala kadarnya untuk Aldi yang sedari awal sudah mengatakan bahwa ia rindu akan masakan Bu Ratih.
Waktu menunjukkan pukul 15.30 saat terdengar suara motor memasuki halaman rumah Ranum. Tak lama terdengar suara salam dari seseorang. Ranum dan Bu ratih pun menjawabnya dan keluar beriringan.
“Sehat, Bu?” Tangan Aldi terulur untuk mencium tangan Bu Ratih.
“Alhamdulillah sehat. Kamu tambah ganteng aja, Al," ucap Bu Ratih seraya tersenyum.
“Ibu bisa aja.”
“Ganteng-ganteng tapi masih aja jomblo” sahut Ranum sambil menahan tawa.
“Num.” Bu Ratih menatap Ranum.
“Iya, Bu.”
Obrolan basa basi pun dimulai antara Bu Ratih dan Aldi. Ranum yang berada di dapur menyiapkan minum dan sesekali mendengarkan obrolan Ibu dan tamunya itu. Ia segera membawa segelas teh dan beberapa camilan pada nampan ke ruang tamu dan meletakkan di atas meja. Gadis itu kemudian ikut duduk dan masuk ke dalam obrolan.
“Kerja di mana sekarang?” tanya Ranum.
“Nggak jauh dari rumah, buruh pabrik aja.”
Rumah Aldi yang memang masih satu kota dengan Ranum tapi lebih padat penduduk dan pabrik yang semakin hari semakin banyak dibangun, membuatnya tidak kesulitan mencari kerja yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Berbeda dengan tempat tinggal Ranum yang di desa.
“Gaya bilang buruh pabrik. Lulusan teknik pasti banyak dibutuhkan. Paling posisinya juga udah mapan,” sindir Ranum.
Obrolan terus mengalir. Saling bertukar cerita bagaimana saja kehidupan masing-masing selama beberapa tahun tidak bertemu dan hanya tiga kali Aldi memberi kabar. Aldi ternyata sempat meninggalkan tanah air untuk mencari peruntungan di negeri orang.
Baru dua tahun menjajah negeri orang, Aldi memutuskan kembali ke Indonesia tapi tak kembali ke kotanya. Ia masih saja merantau di luar kota, dan baru satu tahun terakhir kembali ke Pasuruan.
Sesekali Bu Ratih meninggalkan dua sahabat lama untuk menyiapkan makanan. Setelah makanan tersedia di meja makan, Bu Ratih memanggil Ranum untuk mengajak Aldi makan meski seadanya. Makan sore bersama pun usai, dan sang tamu kembali ke ruang tamu. Sedangkan Bu Ratih dan Ranum masih membereskan meja makan.
Tak terasa jarum jam berputar begitu cepat. Matahari mulai masuk ke peraduan dan senja menggantikannya. Aldi bersiap pamit sebelum adzan maghrib berkumandang. Ia yang tengah mengenakan jaket untuk segera pulang sesekali menjawab nasehat Bu Ratih agar berhati-hati saat berkendara. Dan satu pertanyaan Bu Ratih yang membuatnya berhenti sejenak lalu menatap Ranum.
“Udah mapan lahir batin, nunggu apa lagi, Al? Kok belum ada yang dihalalin," ucap Bu Ratih.
“Nunggu Ranum, Bu.”
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷