Ranum

Ranum
Bagian 6


__ADS_3

"Astaghfirullohal ‘adziim.” Zaviyar memukul keningnya saat sadar pesan yang ia kirim tidak sampai pada tujuannya.


“Radit.”


“Ah… kena lagi besok.”


“Ya, sudahlah. Apa kata besok.”


Zaviyar tidak ambil pusing atas kesalahannya mengirim pesan tadi. Ia lalu mengetik kembali sebuah pesan dan mengirim pada orang yang memang dituju. Ponselnya bergetar, sejurus kemudian pesan kembali dikirim, lalu bergetar lagi, mengirim lagi, terus berulang entah sampai berapa kali.


Mungkin tak sedetikpun ia mengalihkan pandangan dari benda pipih di tangan, meski posisi duduk sudah berganti-ganti tapi mata teduh Zaviyar tetap saja fokus pada ponsel. Senyum terus terkembang di bibirnya, tanpa ia tahu kedua orang tuanya sedang memperhatikan dari pintu kamar.


“Lihat tuh, Yah. Anak ganteng kita udah kayak orang gila.” Bu Dini berkata.


“Namanya juga lagi kasmaran, Bunda kayak gak pernah muda aja.”


“Tapi baru kali ini Zaviyar terlihat benar-benar berbinar, Yah. Dulu, kalaupun dekat dengan seorang gadis kayaknya gak gitu-gitu amat. Bunda jadi penasaran sama gadis desa itu.”


“Emang Bunda yakin kalau Zaviyar kesemsem sama gadis desa?”


“Gimana nggak yakin, wong Zaviyar kayak gitu sepulang dari desa tempat mahasiswanya KKN.”


“Tapi, bukan desa penari kan, Bun?”


“Ih, Ayah apa-apaan sih? Serem kalau itu mah.” Bu Dini dan Pak Qosim tertawa kecil.


“Udah ah, jangan berisik di sini. Nanti ketahuan kalau kita ngintip.”


“Iya, biarin aja kalau Zaviyar tahu. Sekalian Bunda interogasi deh tuh bujang lapuk.”


“Bunda mah kejam, anak sendiri dibilang bujang lapuk. Udah, ayo balik ke kamar lagi. Bunda emang ada-ada aja, udah mau istirahat juga masih ngajakin ngintip-ngintip.”


“Biarin, habis Zaviyar gak mau cerita sih. Bunda kan pingin tahu.”


“Iya, sabar dong, Bun. Nanti kalau sudah waktunya, Zaviyar pasti cerita. Dia udah dewasa juga. Biar dia mantepin dulu hatinya, gak usah buru-buru supaya gak menyesal di kemudian hari.”


Pak Qosim akhirnya mengajak Bu Dini kembali ke kamar dengan menautkan tangan Bu Dini di lengannya. Meski usia tak lagi muda, tapi soal kemesraan, jangan ditanya. Pak Qosim dan Bu Dini tak segan melakukannya, karena menurut mereka itu adalah kunci rumah tangga agar tetap harmonis dan awet.


Zaviyar masih anteng di kamar dengan ponsel yang tetap di genggaman, hingga akhirnya ia mengakhiri chatnya begitu saja untuk sedikit menggoda Ranum. Pemuda itu juga berencana melakukan sesuatu di hari berikutnya. Sedikit tes.


***


Keesokan harinya, Zaviyar bangun tepat setelah adzan subuh berkumandang. Ia bergegas masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu, lalu melaksanakan sholat subuh bersama kedua orang tuanya di musholla rumah. Meski rumahnya tidak terbilang mewah, tapi jelas lebih luas dibanding rumah Ranum di desa.


Rumah bergaya minimalis dua lantai dengan satu kamar utama, satu kamar tamu di lantai satu, dua kamar di lantai dua, kamar mandi luar, serta dapur, mushollah dan taman kecil di belakang rumah.


Selepas sholat subuh, Zaviyar maupun kedua orang tuanya melakukan aktivitas masing-masing. Bu Dini sudah siap bergelut di dapur, Pak Qosim yang memang pekerjaannya lebih santai masih menyempatkan diri untuk membuka dan membaca beberapa ayat Al-Qur’an. Zaviyar sendiri, langsung kembali ke kamar bersiap dengan materi kuliah yang kemudian berlanjut merapikan diri untuk segera berangkat karena hari itu jadwalnya cukup padat.


Setelah makanan siap, Bu Dini memanggil Zaviyar untuk segera sarapan. Di meja makan, Pak Qosim telah menunggu dengan beberapa hidangan yang telah tersaji dengan rapi. Tak lama Zaviyar tiba, bertiga makan dengan tenang dan menikmati hidangan yang telah Bu Dini siapkan tanpa sepatah kata pun.


Zaviyar yang lebih dulu menghabiskan makanannya, segera pamit untuk berangkat ke kampus.


Tiba di kampus, Zaviyar terlebih dulu menuju ruang dosen. Ketika masuk, di sana sudah beberapa dosen dan Radit yang tersenyum jahil pada Zaviyar. Salam diucap dan hampir serempak dosen lainnya menjawab.


Berkas yang dibutuhkan sudah di tangan. Zaviyar melangkah menuju ruang kuliah dengan ransel di punggungnya, yang berisikan laptop dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk mengisi kuliah. Satu per satu tugasnya mengisi kuliah diselesaikan, meski kadang sesekali membuka ponsel ingin mengirim pesan pada Ranum, tapi ia urungkan.


Akhirnya semua jam mata kuliah telah selesai dan berakhir tepat pukul 17.00 WIB. Zaviyar keluar kelas dan segera kembali menuju ruang dosen. Radit, yang memang menunggunya, segera mendekati.


“Gimana, Bro? Masih nggak mau cerita?” Tangan Radit sudah berada di pundak Zaviyar.


“Cerita apaan?” Zaviyar pura-pura tidak mengerti.


“Nggak usah pura-pura nggak ngerti deh, Pak Zaviyar itu kan dosen yang smart," ucap Radit penuh penekanan.


“Udah, aku mau pulang dulu.”


“Okey, kalau masih diem aja. Aku buat rame, nih," gertak Radit.


“Bapak, Ibu semuanya.” Radit sengaja memancing perhatian.


Semua dosen sudah melihat ke arah Radit dan memperhatikannya, menunggu dosen sangklek itu melanjutkan kalimatnya.


“Dit, makan, yuk!" sela Zaviyar.


Radit tersenyum penuh kemenangan.


“Pak Radit tadi mau ngomong apa?” Bu Dian, salah satu rekan dosen bertanya.


“Saya cuma mau bilang kalau kami pamit duluan. Assalamu’alaikum.” Radit melambaikan tangan.


“Kirain mau ngasih pengumuman atau info penting gitu," sahut Bu Tika.


Zaviyar dan Radit berjalan beriringan, tanpa suara, awalnya. Namun, bukan Radit namanya jika ia membiarkan suasana hening seperti itu.


Radit menanyakan soal pesan yang semalam nyasar ke nomornya. Dengan santai Zaviyar menjawab tidak ada apa-apa.


Sedikit jengkel Radit terus bertanya pada Zaviyar dan dengan malas pula dijawab. "Hari ini belum ada lanjutannya. Aku sengaja nggak kasih kabar ke dia, pingin tahu gimana dia.”


“Pingin tahu?”


“Iya, pingin tahu apa dia mau chat aku dulu?”

__ADS_1


“Ya elah, Zav, Zav. Otak kamu emang cerdas, Bro soal pelajaran, tapi soal hati dan cewek kamu dodol ya.”


Zaviyar melirik dan mencekik kesal. Radit pun menjelaskan maksud perkataannya. Diawali dengan menyombongkan diri karena sudah nikah lebih dulu, ia pun memberi pengertian pada sahabatnya.


Panjang dan lebar Radit menuturkan tidak mungkin dalam waktu sekejap seorang gadis akan berani menyimpulkan kedekatannya bersama lelaki. Apalagi dengan sosok yang baru dikenal. Sekalipun perhatian sudah diberikan dan mungkin sama-sama ada rasa. Namun, tidak semudah itu perempuan akan menunjukkan perasaannya. Butuh kepastian.


“Kalau mau lanjut konsultasi, makan dulu.” Alis Radit naik turun sambil tersenyum pada Zaviyar.


“Mau makan di mana?” tanya Zaviyar.


“Terserah, yang penting makan.”


Mereka akhirnya meninggalkan parkiran kampus dengan mengendarai mobil masing-masing menuju sebuah kafe.


“Terus?” tanya Zaviyar setelah duduk di sebuah kursi kafe.


“Elah, gak sabaran amat. Bentar napa.”


Radit menarik kursi di hadapan Zaviyar, lalu duduk.


“Okey, gini.” Radit berpikir. “Sampek mana tadi aku ngomong?”


“Hadeeeh….. nih orang masih aja penyakitnya. Cewek peka juga gak bakal berani …”


“Ah iya, aku ingat.” Radit menyela.


“Jadi gini, kamu sebagai cowok gimanapun harus berani mulai lebih dulu kalau emang niat serius. Nggak usah jaim deh atau sok sok ngambek, apalagi nggak peduli. Kecuali kamu emang nggak ada niat serius dan sekedar berteman, yah terserah.”


“Sekarang kamu sok sok nggak peduli, diem, nggak nanya atau ngasih kabar. Padahal hati kamu was-was gak karuan, iya 'kan?” tebak Radit.


Zaviyar hanya bergumam.


“Kalau besok kamu masih seperti ini, jangan salahkan dia kalau ternyata ada laki-laki lain yang deketin.”


Zaviyar hanya menghela napas, lalu meneguk minuman yang telah tersedia di mejanya. Makanan pesanan mereka telah siap, dan sejenak hening sama-sama menikmati hidangan di hadapan mereka. Setelah semua makanan tandas, obrolan pun kembali ke topik awal.


“Lalu, aku harus gimana?” tanya Zaviyar serius.


“Pepet aja, Bro.”


“Katanya nggak boleh deket-deket kalau belum halal.”


“Hadeeeh… ini nih, antara polos sama **** beda tipis.”


“Terus aja ngatain, nggak bakal aku bayarin makanan kamu.”


“Eits… oke, oke. Maksudnya pepet bukan berarti kamu harus terus deket-deket sama dia. Tapi tunjukin kalau kamu emang perhatian dan menginginkan dia. Dan kalau emang udah yakin, ya langsung aja lamar biar nggak kelamaan.”


“Ya itu terserah kamu, tapi yang jelas nggak ada cewek yang mau nunggu lama-lama tanpa kejelasan, apalagi kalau umur mereka emang udah siap ke jenjang yang lebih serius. Jangan sampek kamu nyesel karena keduluan sama orang lain.”


Obrolan pun berakhir, Zaviyar membayar makan malam itu lalu keluar dari cafe diikuti Radit yang berjalan mengekor di belakang Zaviyar dengan serius menatap layar ponselnya.


“Ada apa, Dit?” Zaviyar bertanya.


“Ini istri, tadi lupa gak bilang mau jalan sama kamu. Jadi dia nanya aku di mana.”


“Oh… ya udah, kamu pulang duluan aja.”


“Oke, Bro. Makasih makan malamnya.”


Zaviyar mengacungkan jempol.


Radit segera meninggalkan Zaviyar yang masih berdiri bersandar pada mobilnya. Ia menatap langit, yang kebetulan malam itu nampak cerah dengan banyak bertabur bintang serta rembulan yang tak kalah indah. Beberapa menit dihabiskan hanya menatap langit, menerawang jauh pada sosok gadis di kota lain. Setelah merasa cukup puas memandang gugusan bintang, pemuda tampan itu masuk ke dalam mobil. Kemudian memacunya dengan kecepatan sedang.


Tiba di rumah, Zaviyar mencium tangan kedua orang tuanya lalu pamit ke dalam kamar karena makan malam pun sudah ia lakukan bersama Radit. Hatinya masih bimbang antara ingin tahu kabar gadis yang tengah mencuri perhatiannya, tapi ragu untuk menghubungi karena ingin si gadislah yang memulai terlebih dulu. Mengambil ponsel, lalu meletakkan, kembali diambil, kemudian disimpan lagi.


“Tahan, Zav. Besok aja hubungi Ranum dan lihat bagaimana responnya," ujar Zaviyar pada diri sendiri.


Akhirnya, Zaviyar memutuskan melakukan sholat Isya dan berdo’a pada Sang Pemilik hati yang sebenarnya. Usai sholat, Zaviyar yang diliputi kegelisahan dengan rasa yang tengah bersemayam di hati, memilih membuka Al-Qur’an dan melantunkan ayat-ayatnya.


Setelah beberapa menit, ditutuplah Al-Qur’annya dan ia simpan di tempat semula. Lalu berganti pakaian untuk segera mengistirahatkan badan serta hati dan juga pikiran.


***


Zaviyar menggeliat saat terdengar sayup-sayup kumandang adzan dari masjid-masjid. Mencoba membuka mata, duduk di tepi ranjang lalu beranjak masuk ke kamar mandi. Tak lama berselang, Zaviyar keluar dari kamar mandi kemudian memakai baju koko untuk melaksanakan kewajibannya bersama kedua orang tua. Kegiatan pagi dilakukan seperti biasa oleh keluarga kecil itu.


Zaviyar yang memiliki jadwal mengajar pagi, segera bergegas, sarapan dan pamit untuk berangkat ke kampus. Satu jam kuliah berakhir, Zaviyar memiliki waktu satu jam kosong. Ia kembali ke ruang dosen, duduk di balik meja kerjanya, merogoh ponselnya.


[Assalamu’alaikum] Zaviyar mengirim pesan pada Ranum.


[Nungguin ya?] Dengan tiga emoticon senyum yang nampak giginya, Zaviyar mengirim kembali satu pesan.


Hati Zaviyar gelisah menunggu balasan pesannya.


[Nggak] Satu pesan singkat membuat Zaviyar tak mampu menahan senyum.


[Masa?]


[Iya]


[Itu kok sampai lupa jawab salam?] Kali ini emotikon tertawa diluncurkan Zaviyar pada pesannya.

__ADS_1


Tak langsung ada balasan. Butuh beberapa detik bagi Ranum membalasnya, tak secepat sebelumnya.


[Iya, lagian Mas Zaviyar. Pesan satu belum dijawab, udah kirim lagi pesan lain]


“Ra, Ra, ngaku aja kenapa sih? Makin greget tau nggak?” Senyum Zaviyar makin lebar membaca balasan Ranum.


[Gitu ya?]


[Hmmm]


[Bener nggak nungguin?]


[Iya]


[Oh, ya udah]


Kembali Zaviyar ingin menggoda Ranum. Hening, beberapa saat tak ada lagi balasan. Zaviyar menunggu, bingung untuk kembali memulai obrolan.


[Gitu aja, Mas?] Akhirnya satu pesan ia terima. Zaviyar mengulum senyum.


[Kamu mau gimana?]


[Ya, nggak gimana-gimana]


[Yakin?]


[Iya, udah kalau gitu. Assalamu’alaikum]


[Ra?]


[Ada orang salam gak dijawab]


[Wa’alaikumussalam] balas Zaviyar.


[Tapi tunggu, Ra. Jangan ngambek dan jangan putus obrolan kita sampai sini] Pesan Zaviyar selanjutnya.


[Ada apa, Mas?]


[Pingin ngobrol aja sama kamu, nggak boleh ya?]


[Kalau nggak boleh, dari tadi nggak bakal aku balas]


[Ketus amat, Neng?]


[Biarin]


[Pe em es, ya?]


[Nggak!]


[Terus?]


[Nubruk, Mas kalau terus aja. Belok napa kalau nggak mau berhenti]


Zaviyar terkekeh melihat pesan Ranum, membuat dosen lain yang juga berada di sana langsung menoleh ke arahnya.


“Pak Zaviyar kenapa?” tanya Bu Tika.


“Oh, maaf. Nggk apa-apa, Bu. Ini lho teman saya ngirim pesan lucu.” Zaviyar beralasan.


Zaviyar kembali fokus pada ponselnya.


[Nggak bakalan nubruk, remnya cakram kok]


[Mas Zaviyar nggak ngisi kuliah?]


[Udah tadi, nanti lagi. Ini ada satu jam kuliah kosong]


[Oh…]


[Kamu?]


[Ini baru selesai cetak laporan kemarin]


[Yang revisi itu?]


[Iya]


[Udah beres?]


[Ini masih aku cek lagi sebelum disetor]


[Teliti, biar nggak bolak balik dan nggak kerja berkali-kali]


[Siap, Pak!]


[Ra?]


[Dalem, Mas?] Jantung Zaviyar yang semula berdetak normal, kini seperti sedang berlari begitu kencang. Balasan singkat tapi terasa spesial baginya


🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2